Jumat, 18 Agustus 2017

Ini yang Berbahaya dari Wahabi


Oleh Ayah Enha

DutaIslam.Com - Saya tidak khawatir dengan Salafi Jihadis karena ciri dan karakteristiknya mudah dikenali, yang sayang takutkan adalah sekelompok umat yang amaliyahnya Nahdhiyyah namun fikroh keagamaannya Wahabiyah.

Saya rasa ini bermula dari pandangan keagamaan yang sempit yang menjalar pada kaum nahdhiyyin sekalipun. Jadi ukurannya bukan sekedar amaliyah yang nahdhiyyah tetapi fikroh atau mindframe keagamaan yang jumud, literal, eksklusif, jumawa dalam busana kesalehan dan pada umumnya menyenangi dan atau memaklumi tindak kekerasan (atas nama agama). Pada titik inilah pertemuan mereka!

Kalangan Salafi Jihadis sepertinya melihat betul peluang ini, menghancurkan NKRI tidak perlu lewat peperangan terbuka, tapi hancurkan dulu NU-nya. Menghancurkan NU tidak perlu dengan tabligh atau unjuk rasa (ingat, rata-rata kelompok salafi justru berulang-ulang menampilkan video larangan demo, bahkan mereka mengatakan yang ikut demo 212 bukan ilhwan salaf).

Menghancurkan NU itu cukup membenturkan antara mereka yang sempit cara berfikirnya (literalis) dengan mereka yang berpikiran moderat (lalu mereka sebut dengan istilah liberal), coba perhatikan dakwah kalangan FPI dan sejenisnya; mereka secara amaliyah itu sangat NU tetapi sejak dulu aktif menyebut lawan dan musuh mereka orang-orang NU yang berfaham Sepilis (sekularis, Pluralis dan Liberalis), meskipun sampai sekarang definisi "sepilis" sangat dipaksakan sesuai kepentingan mereka, belakangan mereka bahkan lebih paranoid; siapa saja yang tidak mendukung aksi bela agama berarti kaum munafik dan pasti pendukung penista agama.

Jujur, saya khawatir banget dengan gejala mengerikan ini; amaliyah mereka sama dengan orang NU pada umumnya, tetapi cara berpikir yang rasis dan merasa paling benar serta memaklumi tindakan kekerasan atas nama agama.

Mohon, kabarkan kegelisahanku ini kepada PBNU dan juga kepada poro Kyai sepuh. Orang-orang NU Jakarta, Tangerang, Depok dan Bekasi itu berbeda dengan orang NU Jawa Timur. Setidaknya karena dua hal; Pertama basis agama di Jakarta dan sekitarnya bukan Pesantren tetapi Majelis Ta'lim. Kedua, ada darah masyumi dalam pemikiran politik keagamaannya. Itu kenapa kita bisa mengerti mengapa  perguruan asy-syafi'iyah (jatiwaringin) dan at-taqwa (bekasi) memiliki kedekatan dengan aksi-aksi bela agama yang heboh beberapa waktu yang lalu.

Saya berharap analisa saya keliru, tetapi entah mengapa kegelisahan ini semakin menjadi-jadi apalagi setelah membaca berita Omar maute, Radikalis ISIS Di Filipina yang beristrikan orang Bekasi, keluarga dari pesantren yang sangat dihormati. [dutaislam.com/gg]

Source: enhamotivator.com

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini