Dutaislam.com mengapresiasi batalnya Permendikbud 23/2017 dan Mengutuk Keras Situs Adudomba Milik Kader Muhammadiyah Sangpencerah.id!

  • Ini Fakta Sejarah Bangsa Indonesia yang Tersembunyi

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Minggu, 20 Agustus 2017
    A- A+

    DutaIslam.Com - Hari Jum’at 9 Ramadlann 1364 H bertepatan dengan 17 Agustus 1945 M, Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi mengumumkan kepada Jamaah yang hadir pada Sholat Jum’at di Masjid Kwitang bahwa negara ini telah diproklamirkan Kemerdekaannya. 

    Habib Ali memerintahkan agar seluruh umat Islam memasang bendera negara Indonesia yang berwarna merah dan putih di rumah dan kampungnya masing masing dan Habib Ali menegaskan agar apa yang di umumkannya pada hari ini diberitahukan kepada yang tidak mengetahuinya.

    Kabar tentang pengumuman oleh Habib Ali Kwitang cepat menyebar dikalangan masyarakat Jakarta khususnya para Ulama dan Habaib. Guru Mansur dari Jembatan Lima yang mendengar akan Ma’lumat dari sang guru langsung membuat bendera Merah putih dan langsung dipasang diatas menara Masjidnya. Al Habib Ali bin Husein Al Athas pula tidak ketinggalan ikut memasang bendera merah dan putih di depan kediamannya. 

    Begitu pula Al Habib Salim bin Jindan memasang bendera di depan rumahnya, sampai-sampai banyak masyarakat yang bertanya kepada Habib Salim, ”Ya Habib Salim gerangan apa dan kenapa bendera warna merah putih kau kibarkan di depan rumahmu ?”

    ”Apa kalian tak dengar kabar bahwa ini negeri telah merdeka, ketahuilah ini negeri telah merdeka dan lambang dari kemerdekaannya adalah bendera Merah putih ini, sudah kalian jangan banyak tanya lagi, lekas kalian buat bendera merah dan putih lalu pasang dirumah kalian, kalau ada yang tanya, bilang kalau negeri ini sudah Merdeka,“  Habib Salim menjawab.

    Karena banyaknya masyarakat Jakarta yang tiba-tiba memasang bendera Merah Putih di rumahnya, membut gusar penjajah Jepang yang masih belum rela menerima kemerdekaan Indonesia. Para tentara Jepang pun diturunkan untuk mengambil bendera Merah Putih dari masyarakat khususnya di kediaman para tokoh. 

    Tidak ketinggalan penggeledahan dilakukan dirumah Habib Ali Kwitang dan Habib Ali enggan untuk menurunkannya hingga Habib Ali pun ditahan. Begitu Juga kepada Guru Mansur yang diminta menurunkan bendera dari menara Masjid akan tetapi Guru Mansur mempertahankannya hingga diberondongkannya peluru ke menara Masjid, tapi Guru Mansur tetap pada pendiriannya yang pada akhirnya Guru Mansur pun ikut ditahan oleh Jepang.

    Pihak Jepang pun kewalahan karena makin banyaknya orang yang ditahan, mengakibatkan tidak cukupnya ruang tahanan, lalu dengan sangat terpakasa pihak Jepang membebaskan masyarakat yang di dalamnya ada juga para Alim Ulama dan Habaibnya.

    Pada akhirnya Jepang pun hanya bisa pasrah dengan masyarakat Jakarta yang mendukung Kemerdekaan Negara Indonesia. [dutaislam.com/gg]

    Sumber: Anto Djibril

    Rubrik:

    sejarah
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: