Selasa, 01 Agustus 2017

Hubbul Wathon dan HTI [Sebuah Refleksi oleh Kader IPPNU]


Oleh Vinanda Febriani

DutaIslam.Com - Bagi warga Nahdliyyin mungkin sudah lekat dan sangat akrab dengan lagu mars NU, yakni lagu mars Ya Lal Wathon (Syubbanul Wathon). Lagu ini dikarang oleh KH Wahhab Hasbulloh, tokoh pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama. Lagu ini diciptakan pada tahun 1916, 10 tahun sebelum deklarasi berdirinya Nahdlatul Ulama secara resmi. KH Wahhab Hasbulloh dikala itu telah mendirikan sebuah organisasi kepemudaan yang bernama Nahdlatul Wathon. Kemudian pada tahun 1926 berdirilah organisasi Islam Ahlussunnah Wal Jamaah terbesar di Indonesia yang bernama Nahdlatul Ulama.

Salah satu latar belakang berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) adalah karena pada saat itu para ulama Indonesia merasa cemas terhadap muncul dan adanya penyebaran sebuah ideologi aluran Islam garis keras yang bertentangan dengan Ahlussunnah Wal Jamaah. Aliran itu disebut aliran Wahabbi diambil dari nama seorang pencetusnya, yakni Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab. Faham aliran ini sangat mencemaskan, sebab aliran ini begitu gempar menyerang amalan-amalan Ahlussunnah Wal Jamaah terutama NU yang memperbolehkan para pengikutnya untuk bersholawat, tahlilan, istighotsah, ziarah kubur dan lain sebagainya.

Aliran ini seringkali mengkafirkan, memusyrikkan amalan-amalan Ahlussunnah Wal Jamaah. Sebab itulah para Ulama mencetuskan nama Nahdlatul Ulama yang bermakna kebangkitan para ulama. Bangkit untuk terus berjuang di jalan Ahlussunnah Wal Jamaah, menjaga, melindungi serta melestarikan amalan Ahlussunnah Wal Jamaah sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW, para sahabat Nabi, para Auliya’, para ulama sepuh di NKRI ini.

Menyusul pada tahun 1945 Indonesia merdeka tak luput dari peran besar para ulama dan para santri Nahdliyyin yang ikut serta memerangi pasukan kolonial Belanda hingga titik darah penghabisan mereka. Sebelum ditetapkannya nama negara ini menjadi negara Indonesia, 29 tahun sebelum itu KH Wahhab Hasbullah sudah mencantumkan nama "Indonesia" pada syair lagunya yang berjudul Hubbul Wathon Minal Iman. Adapun bunyi dari syair tersebut adalah "Indonesia Biladi" (Indonesia negeriku). Kemudian pada saat deklarasi kemerdekaan, dengan melalui berbagai macam proses pengambilan gagasan dan pendapat, maka sepakatlah para founding fathers menetapkan Indonesia sebagai nama Negaranya, NKRI (Kesatuan) bentuk Negaranya, sedangkan Negara ini menganut kesepakatan 4 Pilar Bernegara, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945 dan juga NKRI.

Munculnya Mimpi Negara Khilafah
Sudah lama Indonesia disusupi aliran Islam radikal yang sangat menginginkan Indonesia supaya dapat berbaiat (berjanji setia/sumpah) untuk medeklarasikan negara penganut sistem khilafah. Namun hal itu selalu saja gagal, karena selalu saja ada yang menjadi penghalangnya, salah satu penghalang terbesarnya adalah NU yang memiliki ghiroh keislaman, kebhinekaan, kebangsaannya yang sangat tinggi. Sehingga, pada saat itu, organisasi masyarakat Islam yang kita kenal dengan DI-TII tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Begitu pula dengan jejak PKI, Masyumi dan lain-lain. Seperti kata al-Habib Luthfi Bin Yahya: "Banyak yang kualat dengan NU".

Dan begitulah, biarkan fakta dan hukum karma Allah SWT yang berbicara. Banyak ormas-ormas menghilang tanpa jejak sebab telah berkhianat terhadap NU dan NKRI. Dan saya disini mengambil kesimpulan bahwa NU dan NKRI sangat berketerkaitan. Sebab, NU berdiri di NKRI jauh hari sebelum Indonesia ditetapkan sebagai negara yang merdeka dari jajahan kolonial Belanda, sedangkan perjuangan kemerdekaan NKRI tak lepas dari perjuangan para ulama dan juga santri-santri Nahdliyyin pada waktu itu.

Mulai pada sekitar tahun 2010, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang berartikan "partai pembebasan Indonesia" menggelar konferensi khilafah besar-besaran di lapangan Gelora Bung Karno. Inilah awal mula dimana action Hizbut Tahrir untuk merongrong keutuhan, persatuan dan kesatuan NKRI.

Pemahaman ala Islam Hizbut Tahrir ini sangat sesat dan menyesatkan. Sebab, mereka seringkali meneriaki sesuatu yang dianggapnya tidak sama dengan pemahaman syari’at Islam ala islam yang mereka pelajari, maka ini, itu, semua dianggap kafir, musyrik, thogut dan lain sebagainya. Bahkan Hizbut Tahrir mengklaim bahwasanya NKRI merupakan Negara Kafir yang dibentuk oleh para pahlawan yang musyrik. Mereka juga mengatakan bahwasanya hormat bendera merupakan perbuatan syirik. Pemahaman semacam itu tentunya sangat berbahaya bagi masa depan Indonesia. Sebab hal ini hanya dapat menimbulkan berbagai konflik, yang berujung pada makar dan juga perpecahan.

Oleh sebab itu, mari kita tanamkan "Hubbul Wathon" cinta tanah air, di dalam hati kita, di setiap perbuatan kita, di setiap tindakan, perlakuan, ucapan bahkan juga pada tulisan-tulisan kita supaya orang-orang tertarik dan sukarela untuk bergabung dalam forum perjuangan prcinta tanah air ini.

Maka dengan ditetapkannya Perppu ormas no.2 tahun 2017, ini merupakan salah satu langkah pemerintah yang patut diapresiasi, karena telah berhasil membubarkan salah satu ormas radikal intoleran di Indonesia ini. Namun, perjuangan belum usai hingga saat ini. Kita memiliki masih kewajiban yang lebih besar. Kewajiban bagaimana cara untuk mengembalikan faham dan pemikiran para pengikut ormas radikal tersebut kepada alam kesadarannya, kepada jati dirinya sebagai "manusia utuh", yakni manusia yang penuh kasih sayang, toleran, manusia yang -mengutip Gus Mus- "memanusiakan manusia".

Sebagai seorang pelajar, saya ikut berbahagia atas keberhasilan pemerintah pusat untuk menyatakan bahwasanya Hizbut Tahrir sudah dibubarkan dan kini menjadi Ormas terlarang, terlarang bukan karena nama "Islam" yang dia bawa. Namun karena nama "Islam" yang ia bawa hanya sebagai "bumbu penyedap rasa", aksinya supaya dapat merebut seluruh alih kekuasaan dalam negeri. Hal ini dilakukannya mungkin supaya mereka dapat menguasai NKRI, kemudian dapat mendeklarasikannya menjadi Negara Khilafah Islamiyah.

Ambiguitas HTI
Bagaimana mungkin HTI hendak mendeklarasikan negara khilafah sedangkan organisasi ini masih sangat ambigu terhadap siapa pemimpin yang akan dijadikan panutan (imam) pada negara yang dibentuknya tersebut. Dan, apakah kemudian seluruh rakyat Indonesia di islamkan begitu saja? Padahal warga Indonesia tidak seluruhnya beragama Islam, ada sebagian beragama non muslim, namun kita wajib menghargai semua itu. Sebab Tuhan menciptakan manusia dengan beranekaragam bentuk, rupa, fisik, suku, ras, budaya, bahasa dan juga agama.

Ketika orang beragama non islam kemudian dipaksakan untuk masuk ke dalam Islam, menurut saya itu adalah suatu pemahaman yang salah. Sebab, Islam itu ramah, tanpa paksaan, sesuai hati nurani tiap individu. Dan yang berhak untuk memberikan hidayah Islam kepada manusia itu hanyalah Tuhan. Manusia hanya bisa membantu menemukan hidayah yang selama ini dicarinya. Hanya Tuhan-lah yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu yang dikehendakinya. Jadi, sampai kapan mau berlagak sok suci membela Islam namun akhlaknya tak sesuai akhlak Islam, tak sesuai ajaran Islam yang ramah tamah, mengedepankan cinta kasih, berbagi karunia, mengedepankan toleransi dalam berpendapat dan berkeyakinan.

Baiknya sebelum kita melakukan segala sesuatu hal yang ada sangkut-pautnya dengan orang lain, berkacalah kepada diri kita sendiri, apakah diri kita sudah sebaik apa yang telah kita utarakan kepada kawan kita tersebut. Apakah sesuai dengan diri kita dan apakah sesuai di diri  kawan kita, apakah perkataan kita tersebut menyinggung, menyakiti atau bahkan hingga menfitnah kawan kita atau saudara kita sendiri.

Ingatlah bahwa perbedaan itu bukanlah sebuah laknat. Perbedaan itu merupakan sebuah rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. "Dia yang bukan saudaramu dalam iman, dia merupakan saudaramu dalam kemanusiaan." Begitu dawuh sahabat Ali Karromallahu Wajhah.

Aku sangat mencintai orang-orang muslim. Aku juga sangat mencintai orang-orang non muslim. Aku sangat menghargai segala kepercayaan, pendapat dan argumentasi mereka. Karena aku tau dan aku sangat faham bahwasanya aku, kamu, dia juga mereka adalah sama, kita sama-sama berwujud "manusia" berlumur dosa yang masih menghamba kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mungkin aku tidak akan sama dalam hal beragama dengan mereka, namun aku akan tetap sama dengannya dalam hal mencintai Negara Indonesia dengan penuh ketulusan hati. Karena aku sangat bersyukur kepada Tuhan, dan caraku bersyukur adalah dengan mencintai keberagaman di NKRI ini. [dutaislam.com/gg].

Vinanda Febriani, Kader IPPNU Magelang.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini