Rabu, 23 Agustus 2017

Gus Mik Berkahi Semut Ireng Jadi Obat Lumpuh


DutaIslam.Com - Di Desa Ploso Kec. Mojo Kediri Jatim ada seorang faqir biasa dipanggil pak Adnan, dia membuat makanan yg dititipkan di kantin pondok pesantren ploso. Pak Adnan punya seorang keponakan yg sampai umur 9 tahun belum bisa jalan. Ikhtiyar ke dokter, tabib, kyai semua sudah dilakukan. Hanya satu yg belum yaitu Gus Miek (KH. Hamim Djazuli), karena memang susah mencarinya.

Suatu ketika setelah selesai jamaah di masjid pondok pesantren ploso, pak Adnan melihat Gus Miek sedang duduk santai tanpa pakai baju atasan di teras madrasah depan masjid. Pak Adnan langsung buru-buru mendekat dan menceritakan perihal keponakannya kepada Gus Miek. Kemudian Gus Miek dawuh:

"La opo bok kiro aku dukun. (Kenapa? Kamu kira saya ini dukun). "
Pak Adnan langsung menjawab :
"Geh mboten Gus, kulo nyuwun barokah dungo njenengan...."

Gus Miek diam sebentar lalu dawuh: 

"Yo wes aku gelem njalukne nyang pengeran tombo ponakanmu tapi syarate 1, ojo bok critokne sopo-sopo.... Lek bok critokne, ponakanmu waras awakmu sing mati..  Kecuali aku wes mati gak popo bok critakne. (Ya sudah, aku mau memohonkan sama Tuhan untuk kesembuhan keponakanmu, tapi ada syaratnya, yaitu jangan pernah menceritakan hal ini kepada siapapun. Kalau kamu menceritakan hal ini, memang keponakanmu akan sembuh tetapi kamu yg akan mati. Kecuali kalau aku sudah meninggal, silahkan kamu ceritakan hal ini). "

Pak Adnan menjawab:  "inggih Gus.. "

Gus miek kemudian dawuh: 

"Saiki muliho golek o semut sing rupane ireng trus dulang no nyang ponakanmu.... (Sekarang pulanglah, carilah semut yg berwarna hitam kemudian suapilah keponakanmu dengan semut itu)."

Dengan mantap Pak Adnan pulang dan mencari semut hitam dan disuapkan ke ponakannya yg 9 tahun di kasur saja. Lalu Pak Adnan keluar, kembali 1 jam kemudian. Ditengoklah si keponakan ternyata tidak ada di kasurnya, dicari-cari ternyata ada di sumur sedang menimba air. 

Pak Adnan langsung menangis syukur atas kesembuhan si keponakan. Tapi Pak Adnan gak berani cerita karena kalau cerita resikonya dia yg akan mati. Sampai Gus Miek wafat tahun 93, baru dia cerita ke seseorang yg punya masalah yg sama, anaknya belum bisa berjalan. Dicarilah semut hitam, menirukan apa yg dikatakan Gus Miek dengan harapan anaknya bisa sembuh. Sampai habis semut berkilo-kilo si anak belum bisa berjalan juga. (Jelas bukan faktor semut, tapi faktor doa dari sang kekasih Tuhan). [dutaislam.com/gg]

Source: IG pondokmayan

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini