Sabtu, 22 Juli 2017

Soal 1,5 Triliun, Cak Nun Salah [Baca Ini Biar Tidak Salah Paham!]


Oleh: Masyamsul Huda

DutaIslam.Com - Dipenghujung tahun 1999 hingga pertengahan tahun 2000. Kami setiap jum'at malam selalu kumpul di studio Indosiar-Daan Mogot. Kami punya kerja bareng selaku produser Gardu Indosiar.

Gardu Indosiar kala itu menjadi tempat curhat segala uneg-uneg masalah yang berkembang saat pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kecerdasan Cak Nun selalu menjadikan acara ini digemari. Acara ini tidak pakai naskah yang terencana seperti acara-acara lainnya. Semua lahir diruang make up ketika sambil Cak Nun di make up.

"Piye sul temane dino iki?" Kata-kata ini yang selalu saya dengar ketika obrolan kita mulai mengarah kepokok acara Gardu. Saya selalu membeberkan detail acara yang sudah kita bahas dengan team Indosiar yang terdiri dari; Muslikhin, Azwan Syahril, Wisnutama, dan lain-lain. Begitulah rutinitas kita tiap Jum'at. Kita selalu berdiskusi diwaktu yang sempit dengan Cak Nun dan Gus Wahid Azis Bisri almarhum sebelum mengawali acara Gardu Indosiar.

Sudah lama saya tidak ketemu Cak Nun, meski setiap bulan ada acara Kenduri Cinta di Plaza Taman Ismail Marzuki, dan kantor saya di PBNU. Tetap saja jarang ketemu. Bukan saya sombong dan tidak mau ketemu Cak Nun, tetapi lebih karena saya tidak kuat begadang sampai subuh. Sebab, biasanya setelah acara Kenduri Cinta selanjutnya bergeser ke Hotel Alia atau tempat lain, ngobrol sampai pagi. Itu pekerjaaan berat yang tidak bisa saya lakoni.

Dari rutinitas yang terjadi beberapa tahun lalu, sedikit banyak saya mengenal baik sosok Cak Nun. Demikian sebaliknya, Cak Nun juga sangat mengenal saya. Cak Nun adalah salah satu orang yang saya apresiasi sangat tinggi. Cak Nun ini tokoh muslim paling cerdas sak Indonesia. Saya yakin belum ada yang bisa menandingi Cak Nun untuk berdebat soal agama Islam. Otaknya encer, logikanya sangat mudah dimengerti.

Dana 1,5T untuk PBNU?

"Cak Nun, sampeyan salah informasi soal dana 1,5T. Informasi yang disampaikan ke sampeyan iku basi. Sebab apa yang disampaikan Bu Sri Mulyani selaku Menkeu dan menteri Koperasi dan UMKM Pak Puspa Yoga saat itu, baru sekedar komitmen untuk warga NU sak Indonesia. Maksudnya jelas, warga NU, bukan pengurus PBNU."

15 menit sebelum acara dimulai, saya bersama pengurus LPNU salah satunya Mas Sadar Subagyo pengurus pusat Partai Gerindra. Di ruang tunggu VIP PBNU, kami bicara panjang lebar bagaimana mekanisme penyaluran kredit mikro dari Menteri Koperasi UMKM. Kesimpulannya, kita trauma dengan kasus Kredit Usaha Tani jaman Menterinya Adi Sasono.

Dan dalam pertemuan itu saya coba  menawarkan model pemberdayaan melalui Lazisnu. "Bagaimana kalau penyalurannya lewat Lembaga Zakat NU, Pak?" Pak Menteri setuju seratus persen dengan konsep saya. Bahkan disampaikan oleh Pak Menteri saat memberi sambutan. "Nanti, kredit mikro itu akan kita salurkan melalui lembaga zakat NU (Lazisnu)," kata Pak Menteri.

Namun esoknya saya berdiskusi lagi sama Sekjend PBNU Mas Helmy Faishal Zaini. Keputusannya, "Kang, kita timbang-timbang saja dulu sampai ketemu konsep yang matang. Jangan sampai kasus KUT terulang lagi. Bisa bahaya kita," ucap Mas Faishal kala itu.

"Siap, Pak Sekjend. Memang itu tidak mudah, butuh studi dan pendalaman yang matang. Lagian SDM kita juga belum siap," kata saya kepada Pak Sekjend.

Nah, ketika ramai soal HTI dibubarkan. Dan NU yang menjadi penyokong utama pemerintah dalam menegakkan Pancasila sebagai dasar negara, NU dicari-cari kesalahannya. Berita bulan februari itu sengaja diframe untuk menempatkan NU sebagai pihak yang matre. Sekilas orang awam mencerna, yang kata orang jawa timur, " eaaaalah, tibak e NU ono pamrihe mbelani pembubaran HTI???"

Buat yang tidak paham, bahkan orang sekelas Cak Nun pun ikut menyangka, bahwa kita di PBNU sedang pesta pora  dengan dana 1,5T. "Ojok maneh 1,5T, Cak. Aku dolek silihan 1,5M gawe mbangun kampung wisata ndek Bogor ae, angel."

Dana 1,5 T sampai hari ini belum pernah dibahas lagi di PBNU, itu sepengetahuan saya selaku Ketua/Direktur Eksekutif NU Care-Lazisnu. Inilah bahaya katanya-katanya..., mendengar tanpa menelaah dengan cermat. Terlebih tidak tabayun terhadap yang bersangkutan, akhirnya jadi viral fitnah.

"Mosok sekelas sampeyan iso dipengaruhi arek-arek, Cak?" Saya yakin sampeyan akan arif setelah membaca, minimal mendengar kalau saya menulis di fb kayak gini.

Salam ta'dzim  Cak, sampeyan  selalu ada dihati saya. Sampeyan selalu saya tempatkan sampeyan ditempat terhormat sesudah Bapak dan Ibu saya. [dutaislam.com/gg]


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini