Dutaislam.com mendoakan sukses HUT RI ke-72 pada Kamis Wage, 17 Agustus 2017. NKRI Harga Hidup Dunia Akhirat!

  • Siapakah Ulama Abad Ini yang Hafal 100 Ribu Hadits?

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Senin, 31 Juli 2017
    A- A+
    Habib Umar bin Hafidz Al Hafidz
    DutaIslam.Com - Jika Anda ingin tahu jawabannya, beliau adalah guru mulia Al Habib Umar bin Hafizd (Yaman), sehingga mendapat gelar al-Hafidz? Al Hafidz adalah sebuah gelar agung diperuntukkan bagi ulama yang hapal 100.000 ribu hadist beserta sanad dan matannya.

    Di zaman dahulu ada banyak ulama yang mencapai derajat ini. Namun dijaman sekarang sudah sangat langka. Perlu diketahui, yang dimaksud hapal hadits di sini bukanlah hanya hapal matannya saja (Rasulullah saw bersabda :…). Bukan, bukan dari situ ukurannya. 

    Al-Hafidz juga harus mampu hapal dengan nama-nama perawi di rantai sanadnya (dari fulan yang mengabarkan dari fulan, dari fulan, dari fulan, dst sampai kepada Rasulullah), juga hapal tahun lahir perawinya, keadaan hidupnya, asalnya dan lain sebagainya.

    Itu sangat tidak mudah mengingat satu hadits yang pendek saja misalnya, bisa menjadi dua halaman bila disertai hukum sanad dan hukum matannya.

    Al Habib Umar bin Hafidh, beliau adalah salah satu ulama yang mampu mencapai derajat Al-Hafidh di abad ini. Beliau hapal 100.000 hadits lebih beserta hukum-hukum sanad dan matannya secara keseluruhan.

    Untuk mencapai derajat Al hafidh di abad 21 ini bukanlah perkara gampang. Mengapa? Jumlah hadits di atas muka bumi dan yang bertebaran di kitab-kitab itu, jika dikumpulkan, tidak mencapai 100.000 hadits.

    Artinya jika kita berusaha mengumpulkan seluruh buku hadits yang ada sekarang, jumlah keseluruhan haditsnya hanya sedikit. Kita lihat misalnya Kitab Shahih Bukhari, haditsnya berakhir di nomor 7.124 (jika ada pendapat lain pun jumlahnya tidak akan jauh dari angka tersebut).

    Kitab Shahih Muslim berakhir di hadits no 3.033 (sebagian pendapat mengatakan sekitar 5000-an). Demikian juga dengan Sunan Abu Daud yang hanya memuat sekitar 5.000-an hadits. Sunan Tirmidzi memuat sekitar 4000-an hadits, Sunan An Nasa’i memuat 5000-an hadits juga. 

    Sunan Ibnu Majah sekitar hanya 4.300an hadits dan Shahih Ibnu Hibban ada 3.000an hadits. Al Muwatha’ Imam Malik sekitar 1.600-an hadits, Musnad Ahmad bin Hanbal sekitar 27.000-an hadits.

    Mungkin masih terdapat puluhan kitab hadits lainnya. Namun jika dikumpulkan semua, InsyaAllah tidak mencapai 100.000 ribu hadits. Lalu, bagaimana caranya seseorang bisa menghapal sebanyak 100.000 hadits di zaman ini? Sedangkan jumlah semua hadits di kitab-kitab tidak sampai 100.000 hadits?.

    Selain menghapal semua hadits yang sudah tertulis di kitab, tentu saja harus diteruskan untuk menghapal hadits yang belum dibukukan. Cara ini hanya bisa di dapatkan dengan jalan berguru kepada ulama hadits yang menyimpan hadits yang mungkin didapatkan dari guru-gurunya. Gurunya dapat dari guru dari gurunya, dan sseterusnya hingga sampai sanadnya kepada Rasulullah saw. 

    Demikianlah Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidh. Beliau mampu mencapai derajat Al Hafidh di zaman ini. Dalam kehidupan sehari-hari, hampir disemua gerak-gerik dan penampilan beliau berdasarkan sunnah dan ada landasan haditsnya.

    Mulai dari cara berpakaian, cara duduk, cara berjalan, cara makan, cara tidur, cara minum, cara berbicara, sampai kepada kegiatan sehari-hari beliau hampir sama dengan cara Rasulullah saw. Jadi, jika kita misalnya suatu kali melihat cara duduk beliau dengan gaya A, lalu kita cari-cari di hadits apakah Rasulullah pernah duduk dengan gaya semacam itu? Pasti kita akan menemukannya, ternyata ada, dan memang Rasulullah pernah melakukan duduk dengan gaya seperti itu.

    Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa beliau adalah kitab hadits yang berjalan, karena hampir dari semua gerakan dan kegiatan yang beliau lakukan selalu berdasarkan sunnah, ada landasannya.
    Tapi lihatlah bagaimana ahlak beliau? Bagaimana tawadlu'nya beliau?

    Beliau pernah berkata: “Tidaklah aku berdiri di hadapan orang-orang untuk mendakwahi mereka kecuali aku meyakini bahwa mereka lebih baik dan lebih mulia dariku. Dan tidaklah aku berdiri dihadapan mereka kecuali aku mengharapkan berkah pandangan mereka dan berkah doa-doa mereka”.  Subhanallah.

    Semoga kita semua bisa meneladani amalan-amalan beliau, sebagaimana beliau meneladani Baginda Nabi Muhammad Saw. [dutaislam.com/ab]


    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: