Minggu, 23 Juli 2017

Madin Sebagai Benteng Pertahanan

Suasana pembelajaran di Madin. (Foto: http://wacana.siap.web.id/)
Oleh KH Ubaidillah Shodaqoh

DutaIslam.Com - Pelajaran Madrasah Diniyyah itu sebagai dasar pengetahuan siswa untuk masuk ke Pondok Pesantren yang hanya mengkaji ilmu keagamaan. Kemauan mereka mondok semisal ke Lirboyo, Sarang, Ploso, API Tegalrejo yang lama dan pondok-pondok yang mengajarkan turost kutub shofro' yang lain, karena mereka terpengaruh dan dikenalkan oleh guru-guru mereka di Madin. Atau karena menauladani guru-guru tersebut.

Dari pondok-pondok semisal inilah langgar, musholla dan pengajian-pengajian kampung hidup. Bahkan diantara alumni bertekad hijrah ke daerah minus agama. Setelah pengajian di musholla-musholla dapat mereka selenggarakan, tahap selanjutnya mengadakan madrasah diniah untuk menjaring anak-anak dan remaja. Dari proses ini terjadi dialog antara teks dan konteks, antara ide dan realitas. Kegagalan mengkompromikan tek dengan konteks, ide dan realita adalah akar keresahan beragama dan titik tolak radikalisme.

Ya.. seminim apapun, ballighu anni walau ayah, tapi sebagai guru Madin adalah guru seumur hidup. Alumni Madin meskipun mereka sudah dimana saja, gurunya masih mentolo negur jika "murid dengan nadloman Alloh Wujud Qidam Baqo' dan seterusnya" menyimpang. Bahkan guru Madin sebagai bapak pembimbing.

Terus bagaimana kita mengarahkan anak pondok "mligi". Mereka harus terlibat full day setamat dari pondok? Atau mereka langsung magang sebagai kyai dan mendeklairkan diri sebagaimana banyak ulama dadakan saat ini yang kosong mlompong kecuali penampilan? Yakin tidak ada syarat formalitas ini itu?

Terus mampukah dan sanggupkah guru-guru sekolah formal membimbing keagamaan anak didik full day siang malam di kampung dan gang-gang kota. Pengalaman saya, saya bersentuhan dengan radikalisme semasa sekolah di SMS Negeri yang dapat dikatakan favorit. Bersentuhan dengan dunia liberal ketika berada di fakultas ilmu non eksak dan kembali ke tawassut tawazun ketika di Madin dan Ponpes tradisional yang penuh kebijakan terutama local wisdomnya yang telah teruji.

Saya yang berbasis di Pondok dengan yayasan yang sudah berjalan tentu takkan risau bagaimana kelanjutan pendidikan keagamaan lembaga kami. Tapi berapa jumlah diantara anak-anak kita yang sempat mondok. Existensi Madin di kampung-kampung meskipun kecil tapi memiliki konstribusi besar bagi anak-anak yang tidak sempat mondok karena harus membantu kerja orang tua.

Saya pikir kamipun tak perlu mendirikan Pondok Pesantren model kombinasi dengan sekolahan jika madin-madin kampung eksis. Berapa jumlah dan kemampuan Pondok Pesantren menampung anak didik sih? Saya yakin tak sebanyak mereka yg belajar di Madin yang menyebar di kampung-kampung.

Ya.. Madin sebagai benteng pertahanan pembumian Islam jangan sampai runtuh. Jika runtuh paling lambat 5 tahun lagi akan kita lihat dampaknya, kemudian kita menyesal lima tahun, kemudian kita memperbaikinya dan terseok-seok sampai entah kapan.⁠⁠ [dutaislam.com/gg]

KH Ubaidillah Shodaqoh, Rais PWNU Jateng

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini