Kamis, 20 Juli 2017

Ke Pesantren

Foto: huseinmuhammad.net
Oleh: KH. Husein Muhammad

DutaIslam.Com - Kemarin, 17.07.17, aku mengantarkan anak, keponakan dan tetangga, mondok, atau melanjutkan belajar di Pondok Pesantren. Dan kami memilih pesantren Lirboyo, Kediri yang Salaf, tempat dahulu kala, tahun 1970, saya belajar.

Apakah yang menarik dari pesantren? Ketika saya belajar di Pesantren, banyak Kyai mengatakan: “Belajar dan mengaji di pesantren itu untuk menghilangkan kebodohan.”

Kalimat ini tampak amat sederhana memang, tetapi ia memiliki arti yang mendasar, prinsipal. Kebodohan adalah kegelapan. Permusuhan atau kebencian terhadap orang lain lebih sering akibat dari kebodohan atau ketidakmengertian diri tentang orang lain itu. Jadi kebodohan berpotensi untuk bertindak zalim, menganiaya, tidak adil. Itulah sebabnya mengapa ayat Al-Qur'an yg pertama diturunkan adalah Iqra', bukan Qulhu (surah al-Ikhlas). Ilmu Pengetahuan adalah  nur, cahaya yang menerangi jalan hidup manusia. Tanpa cahaya orang bisa sesat. Ia adalah sumber peradaban. Semakin baik kualitas pengetahuan/pendidikan masyarakat, semakin baiklah keadaan bangsa dan negara. Dan semakin buruk mutu pengetahuan/pendidikan masyarakat, semakin buruk keadaan bangsa dan negara.

Lalu seorang kyai pengasuh pesantren di Cirebon, saat ditanya apa tujuan pesantren, beliau menjawab singkat : "agar para santri menjadi orang bener". Jawaban ini juga sederhana. Ia ingin menekankan visi kejujuran dan bertindak benar, dibanding menjadi  pintar. Banyak orang pintar, bergelar sarjana, doktor dan profesor, tapi suka menipu dan korupsi. Dan betapa banyak orang berpendidikan rendah, tamat sekolah dasar dan menengah, yang jujur dan tidak korupsi.  Menurutnya meskipun sedikit ilmu tapi diamalkan itu lebih utama daripada  banyak ilmu tapi tidak diamalkan, apalagi dilanggar".
Ini mengingatkan saya pada pengertian awal kata Fiqh, atau Tafaqquh fi al-Din, sebagaimana dikemukakan dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim :

الفقه معرفة النفس ما لها وما عليها

"Fiqh adalah mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk bagi jiwa." Atau mengetahui apa yang bermanfaat bagi jiwa dan apa yang merugikannya. Ada juga yang menerjemahkan: mengetahui hak dan kewajiban.

Jombang, 19.07.17.

Sumber: Facebook Husein Muhammad
[dutaislam.com/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini