Senin, 10 Juli 2017

Indonesia Perlu Membincang Santri Menara Kudus Soal Toleransi


Oleh M Abdullah Badri

DutaIslam.Com - Tahun 2016 lalu, ditemukan angka mencengangkan tentang perilaku masyarakat Indonesia yang intoleran. Bangsa yang dulu disebut-sebut sangat menghormati perbedaan, kini 45 persen di antaranya justru memendam kebencian terhadap kelompok lain. Bahkan 7,7 dari angka tersebut mendukung gerakan ISIS. Naudzubillah.

Bentuk intoleransi yang paling tinggi di Indonesia, menurut penelitian Wahid Foundation adalah pernyataan dan penyebaran kebencian kepada kelompok lain, menyusul pembakaran dan perusakan properti orang lain serta diskriminasi atas dasar agama dan keyakinan. Kebencian muslim kepada non muslim, etnis Tionghoa serta kelompok lain, angkanya mencapai 59 persen. Jawa Tengah menempati urutan ketiga tertinggi kasus intoleransi setelah Jawa Barat dan Jawa Timur.

Bagi kelompok laki-laki muda, kebecian kepada kelompok lain menumbuhkan semangat jihad qital dan ingin merusak tempat ibadah (radikalisme). Sementara bagi kaum perempuan, kebencian mereka memicu sikap tidak mau bertetangga dengan kelompok yang tidak disukainya. Ada 9 kelompok yang cenderung dibenci oleh kalangan perempuan muda, antara lain pemeluk Yahudi, Kristen, Komunis dan Wahabi.

Ironisnya, temuan penelitian yang sudah diambang kritis itu bukannya menurun malah meningkat siiring banjirnya informasi yang tidak bisa dibendung berkah bebasnya akses media sosial yang makin menyerang ruang-ruang privat, dari Facebook (lebih terbuka) ke WhatsApp (lebih tertutup). Kini, ada 11,5 juta orang yang hidup di Indonesia ini berpotensi melakukan tindakan-tindakan radikal.

Kebencian kepada kelompok lain karena dia memiliki keyakinan yang berbeda adalah egoisme sosial yang dapat merusak keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Padahal ribuan tahun lalu, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sudah menyampaikan pesan Allah subhanahu wa ta'ala agar umat manusia saling menghormati sejak dari kemanusiaannya.

Dalam hadits shahih, -sebagaimana sering dikutip Habib Ali Al-Jufri,- di depan Rasulullah Saw. pernah lewat jenazah seorang Yahudi. Lalu Beliau berdiri. Melihat tindakan menghormat tersebut, salah seorang sahabat berkata: "Ya Rasulallah, itu adalah jenazah seorang Yahudi". Rasulullah Saw. menjawab: "Bukankah ia (juga) seorang manusia?".

Hanya karena beda agama, Rasulullah tidak menghinakan jenazah orang Yahudi tersebut. Nabi tidak membenci orang lain karena keyakinan agamanya. Bencilah kekafirannya, bukan sosoknya. Itu teladan dalam bergaul. Benci karena keyahudiaannya, kanasraniannya, dan lainnya adalah bid'ah. Dalam Al Qur'an, Allah menegaskan "Kami telah memuliakan anak-anak Adam" (QS. Al-Isra': 70).

Rekaman akhlak Nabi itulah yang kemudian dicontohkan pula oleh Sayyid Jafar Shadiq atau populer dengan sebutan Sunan Kudus. Larangan menyembelih sapi, menjamurnya soto kerbau (karena dilarang menyemeblih sapi) adalah jejak dakwah Mbah Jafar Shadiq di Kudus masih bisa dirasakan hingga sekarang.

Justru karena menghormati keyakinan orang lain, banyak yang simpati dan merasa nyaman. Larangan menyembelih sapi bagi warga Kudus adalah cara Mbah Sunan Kudus menghormati anak adam karena kemanusiannya. Dari kemanusiaan itulah, muncul cahaya iman.

Kini, kita patut prihatin. Atas dasar kebencian yang membuncah dan membabi buta, naluri rahmat umat Islam hampir hilang. Yang muslim dikomuniskan, atau dituduh kafir. Yang beriman dimurtad-murtadkan. Padahal dia baru belajar beberapa hadits, lalu tidak mengaca sejarah betapa susahnya para wali dan ulama zaman dahulu menjalin silaturrahim dengan komunitas lain li i'la'i kalimatillah.

Ketika Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an (PPMQ) di Papua Barat akan dibakar karena dianggap mengancam keyakinan mayoritas masyarakat Katolik, Ustadz Darto Syafuddin sangat berterimakasih kepada Mbah Hasyim dan Gus Dur. Kedua foto kiai NU yang dipajang di aula ponpes tiba-tiba menyetop aksi.

Kepala suku yang akan membakar bertanya kepada Ustad Darto Syaifuddin. "Berhenti, kau punya pesantren ada hubungan apa dengan Tebuireng dan foto-foto ini?" Ia tidak bisa menjawab, suasana mencekam. Pedang sudah terhunus semua.

Namun, tiba-tiba mereka meletakkan senjata tanpa kecuali, duduk dengan hormat mengikuti kepala suku besarnya. Mereka berteriak, "Gus Dur... Gus Dur,.. kita punya orang tua... NU kita punya saudara...".

Mereka masih ingat ketika Gus Dur memberikan kebebasan bagi warga Papua untuk mengibarkan bendera Kejora disamping bendera merah-putih asal tidak lebih tinggi. Mereka juga ingat, Gus Dur lah yang mengembalikan nama Irian Jaya kembali ke Papua. Mereka menganggap Gus Dur sebagai orang bijak dan orang suci karena sikapnya yang humanis, menghargai perbedaan karena kemanusiaan, meski posisinya sebagai presiden yang harus menjaga keutuhan wilayah NKRI.

"Pak ustadz, mulai detik ini kami yang menjaga pesantren ini, kami yang jaga," begitu ikrar mereka. Lalu berteriak bersama-sama tanda mendukung eksistensi pesantren, hingga kini. Jika cara yang digunakan Gus Dur hanya atas dasar politik, tentu kejadiannya tidak akan seperti itu.

Gus Dur hanya salah satu ikon santri, penerus perjuangan NU, ormas pengganti Majelis Dakwah Walisongo (Madawis), dimana Mbah Sunan Kudus menjadi tokoh pentingnya. Jika Sunan Kudus melarang menyembelih sapi atas nama toleransi, maka pengamal nya hingga kini adalah santrinya. Warga Kudus, mereka yang pernah nyantri di Kudus adalah santri menara.

Indonesia perlu membuka sejarah santri menara yang hingga kini masih meneruskan pesan toleransi Sunan Kudus, agar mau bertetangga dengan liyan, atas nama kemanusiaan, bukan kebencian. 59 persen kebencian sangat menggemaskan! [dutaislam.com/ab]

M Abdullah Badri, alumnus Madrasah TBS Kudus,
dimuat di Buletin Aulawi edisi 7 Juli 2017

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini