Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Darurat Toleransi, Alumni TBS Gelar Halaqah Bertema "Indonesia Membaca Santri Menara"

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Sabtu, 24 Juni 2017
    A- A+

    DutaIslam.Com - Sebanyak 2500-an alumni Madrasah TBS Kudus lintas angkatan dan profesi direncanakan hadir dalam acara Halaqah Kubro yang akan digelar di halaman Madrasah TBS, Jl Turaichan Adjhuri Kudus Kota pada Rabu-Kamis, 5-6 Juli 2017/11-12 Syawwal 1438 H. Grand tema yang menyatukan para alumni TBS untuk menggelar halaqah adalah “Indonesia Membaca Santri Menara”.

    Menurut  ketua panitia, Baihaqi, tema tersebut nantinya akan diwujudkan dalam empat kegiatan, “bahtsul masail, seminar kebangsaan bertama “Islam Tasamuh dalam Pusaran Radikalisme”, Halal bi Halal bertema “NU dan Obor Sejarah Madrasah TBS” serta Ngober (ngopi bersama) dengan makan soto kerbau Kudus,” ujarnya saat menghadiri diskusi terbatas peluncuran buletin Jumat “Aulawi” di Bascamp Santri Menara, Bae, Kudus, Sabtu (23/06/2017).

    Baihaqi menjelaskan, Indonesia harus kembali membaca sejarah toleransi yang pernah dipraktikkan Sunan Kudus Sayyid Jafar Shadiq jika NKRI bisa tetap aman dan nyaman dijadikan negara persatuan semua komunitas bangsa yang ada.

    “Mbah Sunan Kudus popular dengan simbol menara di Masjid Al-Aqsha, karena itu, semua santri yang pernah ngaji di wilayah Kudus disebut santri menara. Para santri Sunan Kudus telah lama mewarisi karakter toleran Jafar Shadiq, karena itulah, Indonesia harus membincang para santri Sunan Kudus juga,” jelas Baihaqi.

    Ia kemudian memaparkan kajian beberapa survei lembaga penelitian soal angka toleransi yang sudah makin memprihatinkan. “Masak hanya karena beda agama, ada warga negara Indonesia yang tidak mau bertetangga, kata Wahid Foundation, ada 82 persen yang bersikap begitu, ” ungkap Baihaqi.

    Ikatan Siswa Abiturien TBS Kudus (IKSAB) sebagai wadah alumni yang pernah belajar di TBS, telah mengkaji secara maraton tentang perlunya menebar kembali semangat toleransi Sunan Kudus melalui diskusi selapanan yang digelar bergilir sejak setahun terakhir.

    Pengalaman para alumni TBS menyatakan, ada seorang anak laki-laki yang punya cita-cita jihad qital dan juga menyimpan motivasi kuat merusak tempat ibadah pemeluk agama lain, adalah krisis kebangsaan yang perlu diwaspadai.

    “Kami mengamini temuan yang menyebut kalau ada 11,5 juta masyarakat kita potensial melakukan tindakan-tindakan intoleran,” tambahnya.

    “Ini belum ditambah dengan temuan lembaga survei yang menyebutkan kalau angka intoleransi masyarakat kita sudah di angka yang akut 45 persen. Tempo malah pernah menyebut 7,7 persen tertarik bergabung ISIS. Ini kan naudzubillah,” terangnya.

    Halaqah yang disambung Halal bi Halal adalah upaya para santri di Kudus untuk kembali meniru semangat dan teladan Sunan Kudus.

    “Jika saat warga Kristen Tolikara Papua berdamai dengan mengadakan kenduri sembelih babi, lalu diganti dengan sembelih sapi karena toleransi, Sunan Kudus tidak sekadar mengganti babi jadi sapi, tapi melarang menyembihnya. Dan dijalankan hingga sekarang oleh warga Kudus. Mereka adalah santri menara,” pesan Baihaqi. [dutaislam.com/ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: