Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

Browsing "Judul lain"

  • Titip Pesan Damai, Para Santri TBS Ngober dengan Semangkok Soto Kerbau Kudus

    Admin: Duta Islam → Sabtu, 24 Juni 2017

    DutaIslam.Com - Dalam semangkok soto kerbau Kudus, ada pesan dan semangat toleransi yang dititipkan Sunan Kudus kepada seluruh umat manusia. Suatu kali, kala Sunan Kudus dahaga, ada seorang pendeta Hindu yang menolongnya dengan air susu sapi, hewan yang sangat disucikan pemeluk Hindu karena memberi kesejahteraan rakyat dan menghidupinya.

    Sebagai ungkapan terimakasih, Sunan Kudus meminta umat Islam agar tidak menyembelih sapi. Bukan karena haram dimakan, namun untuk menghormati. Sebagai gantinya adalah kerbau. Hingga kini masyarakat Kudus lebih memilih sajian soto daging kerbau daripada sapi.

    Itulah yang terekam dalam diskusi pra Halaqah Kubro alumni Madrasah TBS bertema “Indonesia Membincang Santri Menara” di Estu Kafe, perempatan Panjang Kudus, Jumat malam (23/06/2017).

    Hadir dalam kesempatan itu peneliti Filsafat dan Budaya STAIN Kudus, Nur Said, M.Ag dan juga Dr. Ahmad Tajuddin Arafat, pakar Ilmu Hadits UIN Walisongo Semarang. Keduanya adalah alumni TBS Kudus yang berkarir di dunia akademis.

    Acara yang dihadiri puluhan santri TBS tersebut sengaja digelar oleh Pengurus Pusat  Ikatan Siswa Abiturien Madrasah TBS Kudus (IKSAB) sebagai langkah awal titip pesan damai melalui sejarah toleransi Sunan Kudus.

    “Umat Islam Indonesia itu mayoritas, tapi angka radikalisme malah cenderung mayoritas juga. Apa mereka tidak melek sejarah Sunan Kudus?” tutur Said, yang juga ketua PP IKSAB itu.

    Menurut Said, sikap radikal itu akibat kita tidak paham sejarah. Tidak ada pertimbangan politik dan sosial ketika memilih sudut pandang agama. Di beberapa kota, lanjutnya, takbir Idul Fitri saja kini sudah mengarah kepada unjuk kekuatan mayoritas, “unsur dakwahnya tergerus karena sikap adigung mayoritas masih jadi pandangan bersosial,” ungkap Said.


    “Sikap mudah gumunan (terkejut), tanpa pertimbangan pilihan syariat (mizanus syar’i) sangat bertentangan dengan orientasi pembangunan karakter Sunan Kudus yang selalu menekankan bagus akhlak dan rajin ngaji (gusji),” terangnya.

    Sikap takfiri -lalu mudah menuduh orang lain sesat karena mudah terkejut,- jika tidak didasari ngaji dan menyempatkan ngaji, dominasi otak akan penuh dengan kebencian kepada sesama. “Aneh, ada orang Indonesia yang tidak mau bertetangga dengan non muslim hanya karena beda agama, bukan karena yang lain,” imbuh Said melontar tanya.

    Tajudin Arafat menambahkan Said soal phobia hadits dhoif (lemah) di kalangan komunitas Islam radikal. Kebencian terhadap hadits dhoif ternyata berakibat pada kemudahan menyimpulkan amalan ubudiyah orang lain sebagai bid’ah dan sesat.

    Padahal, menurut Tajuddin, mata rantai para perawi hadits (periwayat hadits) yang disebut lemah itu tercatat semua di kutubus tis’ah (sembilan kitab popular kumpulan hadits).

    “Mereka bersikap begitu karena membenci para sufi yang meriwatkan hadits, tidak meneliti the living sunnah dibaliknya. Bahkan ada yang lucu, kini bertebaran istilah ustadz sunnah, yang lain apa ustadz bid’ah?” tuturnya disambut tawa hadirin.


    Acara ngopi bersama (ngober) lengkap dengan suguhan makan bareng soto kerbau yang rencananya akan digelar santri TBS pada Rabu malam, 6 Juli 2017 yang masih dalam rangkaian agenda Halaqah Kubro, adalah bagian dari unjuk aksi para santri alumni Madrasah TBS titip pesan damai kepada Indonesia.

    Menurut Ketua panitia Halaqah Kubro, Baihaqi (alumnus TBS 2015), acara itu akan dihadiri 2500-an peserta dari seluruh alumni di Nusantara.

    Ngober itu dari kata “kober”, yang dalam bahasa Jawa artinya menyempatkan diri. Tujuannya agar tidak mudah gumunan, sesuai dawuh masyayikh TBS, KH Tiraichan Adjhuri “ojo gumuman, kabeh kudu ditimbang nganggo mizanus syar’i”,” jelasnya. [dutaislam.com/ab]

  • Darurat Toleransi, Alumni TBS Gelar Halaqah Bertema "Indonesia Membaca Santri Menara"

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Sebanyak 2500-an alumni Madrasah TBS Kudus lintas angkatan dan profesi direncanakan hadir dalam acara Halaqah Kubro yang akan digelar di halaman Madrasah TBS, Jl Turaichan Adjhuri Kudus Kota pada Rabu-Kamis, 5-6 Juli 2017/11-12 Syawwal 1438 H. Grand tema yang menyatukan para alumni TBS untuk menggelar halaqah adalah “Indonesia Membaca Santri Menara”.

    Menurut  ketua panitia, Baihaqi, tema tersebut nantinya akan diwujudkan dalam empat kegiatan, “bahtsul masail, seminar kebangsaan bertama “Islam Tasamuh dalam Pusaran Radikalisme”, Halal bi Halal bertema “NU dan Obor Sejarah Madrasah TBS” serta Ngober (ngopi bersama) dengan makan soto kerbau Kudus,” ujarnya saat menghadiri diskusi terbatas peluncuran buletin Jumat “Aulawi” di Bascamp Santri Menara, Bae, Kudus, Sabtu (23/06/2017).

    Baihaqi menjelaskan, Indonesia harus kembali membaca sejarah toleransi yang pernah dipraktikkan Sunan Kudus Sayyid Jafar Shadiq jika NKRI bisa tetap aman dan nyaman dijadikan negara persatuan semua komunitas bangsa yang ada.

    “Mbah Sunan Kudus popular dengan simbol menara di Masjid Al-Aqsha, karena itu, semua santri yang pernah ngaji di wilayah Kudus disebut santri menara. Para santri Sunan Kudus telah lama mewarisi karakter toleran Jafar Shadiq, karena itulah, Indonesia harus membincang para santri Sunan Kudus juga,” jelas Baihaqi.

    Ia kemudian memaparkan kajian beberapa survei lembaga penelitian soal angka toleransi yang sudah makin memprihatinkan. “Masak hanya karena beda agama, ada warga negara Indonesia yang tidak mau bertetangga, kata Wahid Foundation, ada 82 persen yang bersikap begitu, ” ungkap Baihaqi.

    Ikatan Siswa Abiturien TBS Kudus (IKSAB) sebagai wadah alumni yang pernah belajar di TBS, telah mengkaji secara maraton tentang perlunya menebar kembali semangat toleransi Sunan Kudus melalui diskusi selapanan yang digelar bergilir sejak setahun terakhir.

    Pengalaman para alumni TBS menyatakan, ada seorang anak laki-laki yang punya cita-cita jihad qital dan juga menyimpan motivasi kuat merusak tempat ibadah pemeluk agama lain, adalah krisis kebangsaan yang perlu diwaspadai.

    “Kami mengamini temuan yang menyebut kalau ada 11,5 juta masyarakat kita potensial melakukan tindakan-tindakan intoleran,” tambahnya.

    “Ini belum ditambah dengan temuan lembaga survei yang menyebutkan kalau angka intoleransi masyarakat kita sudah di angka yang akut 45 persen. Tempo malah pernah menyebut 7,7 persen tertarik bergabung ISIS. Ini kan naudzubillah,” terangnya.

    Halaqah yang disambung Halal bi Halal adalah upaya para santri di Kudus untuk kembali meniru semangat dan teladan Sunan Kudus.

    “Jika saat warga Kristen Tolikara Papua berdamai dengan mengadakan kenduri sembelih babi, lalu diganti dengan sembelih sapi karena toleransi, Sunan Kudus tidak sekadar mengganti babi jadi sapi, tapi melarang menyembihnya. Dan dijalankan hingga sekarang oleh warga Kudus. Mereka adalah santri menara,” pesan Baihaqi. [dutaislam.com/ab]

  • Membongkar Manuver Busuk Saudi Arabia Mengubah Indonesia Jadi Sarang Wahabi Radikal

    Admin: Duta Islam → Rabu, 14 Juni 2017
    Sumber foto: SINDOnews
    Oleh Stephen Kinzer

    DutaIslam.Com - Beberapa bulan yang lalu, gubernur kota terbesar di Indonesia, Jakarta, sepertinya akan terpilih kembali dengan mulus meski dia adalah seorang Kristiani di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

    Namun tiba-tiba segalanya berubah menjadi runyam. Berdalih ucapan yang dibuat oleh gubernur tentang Al-Quran, massa yang merupakan orang-orang muslim yang dipenuhi emosi turun ke jalan untuk mengutuk sang gubernur. Dalam waktu yang singkat, dia kalah dalam pemilihan, ditangkap polisi, dituduh melakukan penghinaan, dan dijatuhi hukuman dua tahun penjara.

    Peristiwa ini sangat mengkhawatirkan karena Indonesia, sebagai negara muslim terbesar di dunia, telah lama menjadi salah satu negara dengan karakteristik paling toleran. Islam Indonesia, seperti halnya tercermin dalam beragam sistem kepercayaan yang ada di kepulauan (Indonesia) yang luas itu, bersifat sinkretis, lembut, dan berpikiran terbuka.

    Lengsernya Gubernur DKI Jakarta yang mengagetkan itu mencerminkan hal yang paradoks, yakni intoleransi, kebencian sektarian, dan penghinaan terhadap demokrasi. Fundamentalisme sedang menemukan momentumnya untuk tumbuh subur di Indonesia. Hal ini tentunya tidak terjadi secara alami.

    Arab Saudi telah berusaha keras selama puluhan tahun untuk menjadikan Indonesia jauh dari pendulum Islam moderat untuk menuju pendulum Wahabisme yang keras, yaitu agama negara di Arab Saudi. Kampanye Saudi untuk mengantarkan indonesia kepada titik itu dilakukan dengan sabar, beragam cara ditempuh dan (tentu) berhamburan dengan uang. Ini menjadi cerminan negara yang lain bahwa Saudi telah berhasil melaksanakan manuver politiknya di negara-negara Muslim di Asia dan Afrika.

    Presiden-presiden Amerika secara turun temurun telah membuat kita merasa yakin dan mantap bahwa Arab Saudi adalah teman kita (Amerika, red) dan yang selalu berharap baik atas kondisi kita. Padahal kita tahu bahwa Osama bin Laden dan sebagian besar pembajak kejadian 9/11 adalah orang-orang Saudi, dan bahwa, seperti halnya yang ditulis oleh Sekretaris Negara Hillary Clinton dalam sebuah telegram diplomatik sekitar delapan tahun yang lalu, "para pendonor dana di Arab Saudi merupakan sumber pendanaan paling signifikan bagi terbentuknya kelompok-kelompok teroris Sunni di seluruh dunia".⁠⁠⁠⁠

    Peristiwa-peristiwa terkini di Indonesia memberikan titik terang mengenai proyek Saudi yang ternyata lebih berbahaya daripada sekedar mendanai para teroris. Arab Saudi menggunakan kekayaannya, yang sebagian besar juga berasal dari Amerika Serikat, untuk mengubah seluruh negara-negara di dunia ini menjadi sarang sarang Islam radikal. Dengan menolak untuk memprotes atau bahkan secara resmi mengakui proyek yang luas jangkauannya ini, kita membiayai sendiri para pembunuh - dan teror global ini.

    Pusat kampanye Arab Saudi untuk mengubah orang-orang Indonesia menjadi Islam Wahabi adalah universitas yang memberikan bebas biaya kuliah di Jakarta yang dikenal dengan singkatan LIPIA. Seluruh bahasa pengantar menggunakan bahasa Arab, yang diberikan oleh para penceramah dari Arab Saudi dan negara-negara terdekat.

    Perbedaan Gender dipisahkan; cara berpakaian yang sangat tegas diberlakukan. Musik, televisi, serta "tertawa keras", dilarang. Para mahasiswa belajar dengan cara yang sangat konservatif dari ajaran Islam; mendukung amputasi tangan untuk pencuri, rajam untuk pezina, dan hukuman mati bagi kaum gay serta para penghujat (agama).

    Banyak mahasiswa yang datang dari berbagai pondok yang jumlahnya lebih dari 100 pondok yang didanai Arab Saudi di Indonesia, atau paling tidak mereka pernah mendatangi satu dari 150 masjid yang dibangun oleh Saudi di Indonesia. Hal yang paling menjanjikan adalah pemberian beasiswa untuk belajar di Arab Saudi, yang setelah lulus mereka sepenuhnya siap untuk menimbulkan malapetaka sosial, politik, dan agama di tanah air mereka. Beberapa dari mereka mempromosikan kelompok teror seperti Hamas Indonesia dan Front Pembela Islam, yang belum pernah ada sebelum orang-orang Saudi tiba.

    Karena menggebu ingin memanfaatkan kesempatan, Raja Salman dari Arab Saudi melakukan kunjungan sembilan hari ke Indonesia pada bulan Maret, disertai rombongan yang berjumlah 1.500 orang. Saudi setuju untuk mengizinkan lebih dari 200.000 orang Indonesia melakukan ziarah ke Mekkah setiap tahun -jumlah yang lebih banyak dibandingkan dari negara-negara lain-, dan Saudi meminta izin untuk membuka cabang-cabang baru universitas LIPIA mereka.

    Beberapa orang Indonesia berusaha untuk menyerang melawan serangan Saudi terhadap nilai-nilai ajaran tradisional, namun sulit kiranya untuk menolak izin pendirian universitas/sekolah agama baru ketika Indonesia tidak dapat memberikan alternatif model pendidikan sekuler yang layak.

    Di Indonesia, sebagaimana halnya di negara-negara lain yang didalamnya orang-orang Saudi aktif mempromosikan Wahabisme -termasuk di Pakistan, Afghanistan, dan Bosnia- kelemahan dan korupsi pemerintahan pusat menciptakan kaum pengangguran yang  tidak terelakkan dan mudah tergoda oleh iming-iming janji makanan gratis dan sebuah tempat bagi para tentara Tuhan (syahid).

    Tumbuh suburnya fundamentalisme yang sedang dalam proses mengubah Indonesia, mengajarkan beberapa hal. Pertama adalah hal yang sudah sangat lazim kita ketahui, tentang tabiat pemerintah Saudi. Saudi adalah kerajaan monarki absolut yang didukung oleh salah satu sekte keagamaan paling reaksioner di dunia.

    Hal ini memberi angin segar bagi para pemuka agama untuk mempromosikan merek anti-Barat, anti-Kristen, anti-Semit, tentang militansi agama di luar negeri. Sebagai gantinya, para pemuka agama tersebut menahan diri untuk tidak mengkritik monarki Saudi atau ribuan pangeran yang bergaya hidup mewah.

    Orang-orang Saudi yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga yang berkuasa untuk memberikan dukungan penting kepada kelompok-kelompok seperti Al Qaeda, Taliban, dan ISIS. Fakta ini harus berada di garda depan pikiran kita setiap kali kita mempertimbangkan kebijakan kita terhadap Timur Tengah - termasuk saat kita memutuskan apakah akan berpihak pada orang Saudi dalam perselisihan baru mereka dengan negara tetangga Qatar.

    Keberhasilan Arab Saudi dalam mengatur kembali Indonesia menunjukkan betapa pentingnya pertempuran global atas ide-ide besar. Banyak para pelaku kebijakan di Washington yang mempertimbangkan bahwa pengeluaran (budget) untuk proyek budaya dan "soft power" lainnya sebagai bentuk pemborosan. Saudi tidak berpikir demikian. Mereka mengucurkan uang dan sumber daya untuk mempromosikan pandangan dunia (worldview) mereka. Kita semestinya harus melakukan hal yang sama.

    Pelajaran ketiga yang Indonesia ajarkan saat ini adalah tentang kerentanan demokrasi. Pada tahun 1998, kediktatoran militer Indonesia yang represif memberi jalan pada suatu sistem baru, berdasarkan pemilu bebas, yang menjanjikan hak sipil dan politik untuk semua orang. Para penceramah radikal yang sebelumnya telah dipenjara karena telah menumbuhkan kebencian keagamaan, merasa diri mereka bebas menyebarkan racun mereka.

    Demokrasi memungkinkan mereka menempa massa secara besar-besaran yang menuntut kematian bagi orang murtad dan pembangkang. Partai politik mereka berkampanye dalam pemilu yang demokratis sebagai hak untuk berkuasa dan menghancurkan demokrasi. Ini adalah kenyataan yang menyedihkan bagi mereka yang meyakini bahwa satu sistem politik adalah yang terbaik dan paling cocok untuk semua negara dalam segala situasinya.

    Kampanye Saudi untuk usaha radikalisasi Islam global juga membuktikan bahwa sekian peristiwa yang membuat bumi terguncang sering terjadi secara perlahan dan tidak frontal. Media pers, yang dengan penuh perhatian memfokuskan diri untuk menyuguhkan berita hari ini, sering kali menghilangkan sisi cerita yang lebih dalam dan lebih penting.

    Para sejarawan jurnalistik terkadang menunjuk ke arah utara "migrasi besar" Afrika-Amerika setelah Perang Dunia II sebagai cerita penting yang oleh beberapa jurnalis diperhatikan dikarenaan peristiwa ini merupakan sebuah proses yang lamban dibandingkan dengan berita acara satu hari.

    Hal yang sama berlaku dalam kampanye panjang Arab Saudi untuk mengajak 1,8 miliar muslim di dunia kembali ke abad ke-7. Kita hampir tidak menyadarinya, tapi setiap hari, dari Mumbai ke Manchester, kita bisa merasakan efeknya. [dutaislam.com/ab]

    Stephen Kinzer, anggota senior Watson Institute for International and Public Affairs di Brown University, diterjemahkan oleh Luthfi Rahman (tim Dutaislam.com) dari situs Bostonglobe.com.

  • Sembilan Mafsadat (Kerusakan) Sekolah Lima Hari (FDS)

    Admin: Duta Islam →

    Oleh H.A. Helmy Faishal Zaini

    DutaIslam.Com - Rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menerapkan kebijakan kegiatan belajar mengajar lima hari harus dikaji ulang. Berbagai penolakan dan resistensi masyarakat yang terus menguat adalah early warning bagi masa depan sistem pendidikan nasional kita. Setelah mencermati secara seksama poin-poin kebijakan ini, kami melihat ada lebih banyak potensi kerugian (mafsadat) dibanding kebaikan (maslahat)-nya.

    Kami mencatat sedikitnya ada 9 (sembilan) potensi kerugian yang bisa diastikan terjadi jika penerapan proses belajar mengajar lima hari ini terus dipaksakan.

    Pertama, terkait beban belajar yang akan makin memberatkan siswa. Hasil jajak pendapat dengan sejumlah pakar psikologi di Jawa Tengah beberapa waktu lalu menyimpulkan, bahwa anak usia SD setelah jam 13.00 daya serap ilmunya cenderung menurun. Ini artinya jika kegiatan belajar mengajar ditambah sampai jam 16.00 maka keterserapan pendidikan pada anak usia dini tidak akan maksimal.

    Kedua, terkait aspek mental spiritual. Fakta dunia pendidikan dasar kita selain SD dan MI juga terdapat pendidikan pesantren dan Madrasah Diniyah (Madin) yang berfungsi memberikan penguatan pelajaran di bidang agama, terutama terkait praktik muamalah dan ubudiyyah sehari-hari.

    Keberadaan lembaga pendidikan pesantren dan Madin ini telah banyak memberikan kontribusi pada pembentukan kepribadian dan watak mental spiritual anak. Di banyak tempat, Madin biasanya dilaksanakan sore hari. Jika sekolah diberlakukan sampai sore hari maka praktis mereka tak bisa mengikutinya. Sebagai gambaran, di Jawa Tengah saja saat ini terdapat 10.127 Madin dan TPQ, dimana 90 persen siswanya adalah anak usia SD dan SMP.

    Ketiga, terkait aspek akademik. Aturan belajar mengajar lima hari tentu harus diikuti oleh pembenahan kurikulum sekolah. Sementara mengubah kurikulum lama yang sudah secara sistematik diterapkan di sekolah tentu tidak semudah membalikkan tangan. Sebab skema kurikulum juga berkait erat dengan tingkat kemampuan rata-rata siswa dalam menyerap materi pelajaran di sekolah.

    Keempat, terkait aspek kompetensi non akademik. Konsep lima hari sekolah, akan memutus kreatifitas anak dalam penguatan ilmu non akademik. Semisal, anak yang memiliki keunggulan bidang seni, budaya, olahraga, tentu harus ikut kegiatan les sore hari. Saat kebijakan ini diterapkan tentu akan memakan habis waktu mereka untuk penguatan ilmu non akademik.

    Kelima, terkait hak atas dunia sosial anak. Penambahan jam belajar mengajar selain mengambil jam belajar di luar sekolah, pada saat yang sama juga merampas jam bermain anak. Kesempatan mereka untuk membangun dunia sosial dengan sesama umurnya dengan demikian akan hilang. Bukankah ini bentuk pelanggaran serius terhadap hak asasi anak untuk mengembangkan psikomotorik dan afektif mereka sebagai calon generasi bangsa?

    Keenam, terkait aspek ekonomi. Penambahan jam belajar sekolah praktiknya juga berhubungan dengan penambahan uang saku anak di sekolah. Dan ini tentu saja menambah beban finansial orang tua. Kalau jam makan siang tidak bisa dilakukan dirumah alias harus membeli di sekolah, budget uang saku bisa-bisa tiga kali lipat dari biasanya.

    Ketujuh, terkait aspek keamananan. Ketika siswa harus pulang sore hari tentu juga harus dipikirkan ulang jaminan terhadap keselamatan dan keamanan jiwanya. Siswa yang jarak perjalanan dari rumah ke sekolahnya membutuhkan waktu 1 jam misalnya, kalau jam pulang sekolah pukul 16.00 akan sulit pulang tepat waktu karena harus bertaruh dengan kepadatan arus di jalan raya. Di mayoritas kota besar, jam 16.00-17.00 adalah jam-jam macet karena bersamaan dengan jam karyawan pulang kerja. Dari sisi keamanan akan sangat rawan kalau anak setiap hari harus pulang sekolah kelewat petang.

    Kedelapan, dari aspek sarana prasarana penunjang. Seperti diketahui untuk sekolah di daerah-daerah tertentu masih sulit terakses sarana transportasi umum. Ini menjadi masalah lanjutan kalau jam pulang sekolah berubah. Masalah lain terkait keterbatasan ruang kelas. Di Lombok Barat misalnya, kami kerap mendapat keluhan dari beberapa Kepala Sekolah karena ruang-ruang kelas di sekolah mereka sudah lama dibagi penggunaannya. Pagi digunakan sekolah formal dan sore Madrasah Diniyah. Jadi mereka tidak mungkin melaksanakan sekolah sampai sore hari.

    Kesembilan, aspek ketahanan keluarga. Siswa yang berasal dari keluarga tak mampu, biasanya usai pulang sekolah selalu membantu orangtua, ada yang menjadi buruh tani, berdagang, nelayan, dan sebagainya. Jika anak-anak ini harus bersekolah hingga sore hari maka dua hal sekaligus membebani orang tua. Pertama, bertambahnya kebutuhan uang saku sekolah, kedua berkurangnya penghasilan lantaran berkurangnya tenaga dalam mencari nafkah.

    Dengan berbagai pertimbangan tersebut di atas, kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Muhadjir Effendi, kami dengan hormat meminta agar dikaji ulang dan dibatalkan. Ketegasan dan kearifan sikap pemerintah penting dan harus segera ditunjukkan untuk menghentikan kegaduhan dan menjaga kondusifitas penyelenggaraan pendidikan nasional kita. Kami siap duduk bersama untuk memberikan masukan dan menemukan solusi terbaik bagi kebijakan kontroversial ini. [dutaislam.com/ab]

    H.A. Helmy Faishal Zaini, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

  • Doa Niat Puasa Wajib, Romadhona atau Romadhoni?

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Sering kali kita mendengar niat puasa itu dilantunkan dalam bentuk pujian sebelum shalat. Namun kita sering dibingungkan sebab beberapa komunitas masyarakat khususnya warga NU membacanya dengan beberapa versi. Berikut niat puasa dalam bahasa Arab yang paling umum digunakan:

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَداَءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضاَنِ هَذِهِ سَنَةِ فََرْضاً ِللهِ تَعاَلىَ

    Artinya: Saya niat puasa esok pagi menunaikan fardu puasa bulan Ramadhan tahun ini, Fardu karena Allah Swt. 

    Baca: Bacaan Niat Puasa Sebulan dalam Lima Bahasa

    Ada yang membacanya Romadlona, ada yang membacanya Romadloni. Lantas manakah yang benar?

    Lafal "Romadlon" dalam kajian ilmu Nahwu merupakan bentuk kategori isim ghair munsharif karena mempunyai akhiran huruf alif dan nun. Dalam ilmu Nahwu, isim ghair munsharif mempunyai pembahasan dan hukum yang berbeda dengan isim-isim yang lain.

    Selain tidak bisa menerima tanwin, tanda baca untuk isim ini ketika berkedudukan ‘jer/khafadl’ itu dibaca fathah. Sebagaimana yang diterangkan dalam satu bait alfiyah karangan Ibn Malik:

    و جر بالفتحة مالا ينصرف مالم يضف او يك بعد ال ردف

    Artinya: setiap isim yang tidak munsharif dijerkan dengan harakat fathah, selama tidak mudlof (diidlofahkan) atau tidak jatuh sesudah al.

    Jika melihat kedudukan lafad ‘Romadlon’ dalam lafal niat di atas, maka ia berkedudukan sebagai mudlof ilahi dari lafad Syahr. Tetapi ia juga menjadi mudlof pada lafad Hadzihis Sanati.

    Secara kaidah Nahwu, seharusnya lafad "Romadlon" dibaca menggunakan harakat kasrah (harakat asli jer) menjadi Romadloni bukan Romadlona. Sehingga untuk kasus ini, jernya isim ghair munsharif (lafal Romadlon) yang menggunakan fathah tidak berlaku lagi karena lafad Romadlon menjadi mudlof terhadap lafad hadzihis sanati.

    Dalam kitab-kitab fiqh juga diterangkan cara membacanya dengan harakat kasrah (Romadloni, di antaranya dalam kitab I’anatut Tholibin, Juz 2 hlm. 253). Ketika menerangkan lafal niat puasa Ramadlan, ada penjelasan sebagai berikut:

    …(قوله: بالجر لإضافته لما بعده) أي يقرأ رمضان بالجر بالكسرة، لكونه مضافا إلى ما بعده، وهو اسم الإشارة.

    Artinya: … (ucapan penulis: dengan jer, karena idlofahnya lafad Romadlon terhadap lafad setelahnya) maksudnya lafad Romadlon dibaca jer dengan kasrah, karena kedudukannya sebagai mudlof terhadap lafad setelahnya yaitu isim isyarah.

    Akan tetapi bisa saja lafad Romadlon dibaca menggunakan fathah dengan memberhentikan kedudukannya sebagai mudlof ilahi dari lafad syahr. Dengan syarat, lafal sesudah hadzihis sanah dibaca nashab dengan harakat fathah karena berkedudukan menjadi dharaf zaman (menunjukkan waktu).

    Dengan begitu, maka cara membacanya adalah ‘An ada’i fardli syahri Ramadlona hadzihis Sanata. Namun, yang demikian jarang digunakan oleh kitab-kitab fiqh sebab mayoritas kitab memudlofkan lafal Romadlon pada lafal hadzihis sanati untuk menunjukkan kekhususannya. [dutaislam.com/ahna]

    Source: Imam Turmudzi

  • Niat Zakat Fitrah Untuk Diri Sendiri dan Keluarga Serta Juga Suami

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Karena zakat merupakan ibadah wajib untuk semua umat Islam, sebagaimana kesepakatan empat imam madzhab, maka niat zakat fitrah (baik untuk suami, istri atau anak) diperlukan dalam bentuk lafal atau teks lisan untuk menunjukkannya.

    Begitu pula ketika mengeluarkan akat mal atau zakat penghasilan, ada niat yang perlu diucapkan. Beikut ini adalah niat zakat fitrah dalam bahasa Arab yang disajikan Dutaislam.com kepada umat Islam di Indonesia, sesuai pemahaman ahlus sunnah wal jamaah.

    Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri:

    ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺍَﻥْ ﺍُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻰْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

    Niat Zakat Fitrah untuk Istri:

    ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﺯَﻭْﺟَﺘِﻲْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

    Niat Zakat Fitrah untuk Anak Laki-laki:

    ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻭَﻟَﺪِﻱْ ... ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

    Niat Zakat Fitrah untuk Anak Perempuan:

    ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﺑِﻨْﺘِﻲْ ... ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

    Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga:

    ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻨِّﻰْ ﻭَﻋَﻦْ ﺟَﻤِﻴْﻊِ ﻣَﺎ ﻳَﻠْﺰَﻣُﻨِﻰْ ﻧَﻔَﻘَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺷَﺮْﻋًﺎ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

    Niat Zakat Fitrah untuk Orang yang Diwakilkan:

    ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ..…) ) ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

    Bacaan Doa Ketika Menerima Zakat:

    ﺁﺟَﺮَﻙ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﻋْﻄَﻴْﺖَ، ﻭَﺑَﺎﺭَﻙَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﺑْﻘَﻴْﺖَ ﻭَﺟَﻌَﻠَﻪُ ﻟَﻚَ ﻃَﻬُﻮْﺭًﺍ

    Soal siapa yang wajib membayar zakat, berikut ini keterangannya menurut Imam Madzhab Empat:

    1. Imam Hanafi: Kepala keluarga (ayah)
    2. Imam Maliki: Dirinya sendiri dan juga membayar untuk orang yang menjadi tanggung jawabnya
    3. Imam Syafi'i: Dirinya sendiri dan juga membayar untuk orang yang menjadi tanggung jawabnya
    4. Imam Hanbali: Dirinya sendiri dan juga membayar untuk orang yang menjadi tanggung jawabnya
    Kapan zakat fitrah wajib dibayar?

    1. Imam Hanafi: Dari sebelum Ramadlan hingga sebelum Shalat Idul Fitri (1 Syawal)
    2. Imam Maliki: Dari 2 hari sebelum hari raya hingga sebelum Shalat Ied
    3. Imam Syafi'i: Dari 1 Ramadlan hingga sebelum Shalat Idul Fitri (1 Syawal). Afdlalnya sebelum Shalat Id didirikan.
    4. Imam Hanbali: Dari 2 hari sebelum hari raya hingga sebelum Shalat Idul Fitri.
    Dibayar dengan makanan pokok atau uang tunai?

    1. Imam Hanafi: Boleh dengan uang tunai atau makanan pokok
    2. Imam Maliki: Makruh dibayar dengan uang tunai
    3. Imam Syafi'i: harus dengan makanan pokok, Tidak boleh dengan uang tunai (al-Bulqini membolehkan)
    4. Imam Hanbali: tidak boleh dengan uang tunai.
    Jika dirasa bermanfaat, silakan share rincian anturan zakat fitrah sesuai uraian madhzab ahlus sunnah wal jamaah di atas, Jazakumullah bagi yang mau menyebarkannya. Terimakasih. [dutaislam.com/ab]

  • Bolehkah Membayar Zakat Fitrah Dengan Uang? Berapa?

    Admin: Duta Islam →

    Oleh Syahir Mumtaz Alawy

    DutaIslam.Com - Bolehkah membayar zakat fitrah dengan uang? Kalau boleh, zakat fitrah dengan uang berapa? Pertanyaan itu sering muncul menjelang akhir Ramadhan. Hukum membayar zakat fitrah dengan uang itu bermula dari hadits di bawah ini.

    فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - زَكَاةَ الْفِطْرِ, صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ: عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ, وَالذَّكَرِ, وَالْأُنْثَى, وَالصَّغِيرِ, وَالْكَبِيرِ, مِنَ الْمُسْلِمِينَ, وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

    Artinya: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha' kurma atau satu sha' gandum, atas budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang besar dari kalangan orang Islam. Dan beliau memerintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang pergi menunaikan shalat ". (HR. Bukhari dan Muslim)

    Pengertian tentang zakat fitrah menurut hadist di atas adalah ketentuan wajib bagi setiap muslim untuk membayar zakat; tidak memandang jenis kelamin dan usia. Perhitungan-nya, besar zakat fitrah yang dibayarkan adalah 1 sha' makanan pokok.

    Satu sha' menurut mazhab Maliki setara dengan empat mudm dimana satu mud sama dengan sebanyak isi telapak tangan sedang jika mengisi keduanya dan lalu membentangkannya (lihat Subulus Salam, hlm. 111) atau sama dengan 675 Gram. Satu Sha 'sama dengan 2.700 gram (2,7 kg). (lihat Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Beirut, Dar al-Fikr, Tt, Juz II, hlm. 910).

    Menurut mazhab Syafi'i, satu sha' sama dengan 693 1/3 dirham (lihat Al-Syarqawi, Op cit, Juz I, hlm. 371. Lihat juga Al-Husaini, Kifayat al-Akhyar, Dar al-Fikr, Juz I, hlm. 295; Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, Dar al-Fikr, Juz II, hlm. 141) yang setara dengan 4 mud (lihat Lisaanul Arab 3/400), atau 2.751 gram (2,75 kg). (lihat Wahbah Al-Zuhaili, Al-Fiq al Islami Wa Adilatuhu, Dar al-Fikr, Juz II hlm. 911).

    Takaran atau ukuran di atas sependapat dengan kalangan mazhab Hambali yang menyatakan bahwa satu sha' sama dengan 2.751 gram (2,75 kg).

    Sementara itu, Imam Hanafi memiliki berpendapat berbeda. Menurutnya, satu sha' adalah 8 rithl ukuran Irak. Satu rithl Irak sama dengan 130 dirham atau sama dengan 3.800 gram (3,8 kg) (lihat Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Wahbah Zuhailli Juz II, hlm. 909).

    Madzhab Hanafi memperbolehkan membayar zakat fitrah dengan harga atau uang yang senilai dengan bahan makanan pokok yang dibayarkan. Sedangkan madzhab Syafi'i, Maliki dan Hambali tidak memperbolehkan.

    Ketiga imam madzhab tersebut hanya mewajibkan menunaikan zakat fitrah dengan makanan pokok seperti kurma dan gandum atau bahan pokok lain yang biasa dikonsumsi sehari-hari oleh penduduk suatu negeri, contohnya beras untuk di penduduk Indonesia.

    Jadi, kalau zakat dengan uang, maka ukurannya harus ikut Imam Hanafi, yakni 3,8 kg, karena yang membolehkan mengganti zakat dengan uang hanya Imam Hanafi saja. Kalau zakat dengan uang dan ukurannya menggunakan standar madhzab Imam Syafi'i, maka amil harus membelikannya dengan beras sesuai harga. [dutaislam.com/ab]

  • Full Day School, Strategi Membunuh Pesantren yang Menyemai Radikalisme

    Admin: Duta Islam →

    Oleh M Abdullah Badri

    DutaIslam.Com - Setelah melalui jalan buntu pada tahun lalu, kini, melalui aturan yang tertuang dalam PP No 19 Tahun 2005, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy kembali membuat polemik dan memutuskan kegiatan belajar-mengajar di semua tingkatan sekolah hanya akan berlangsung selama lima hari, Senin sampai Jumat. Sistem sekolah lima hari dalam sepekan itu mulai berlaku pada tahun ajaran 2017-2018. Disebut dengan Full Day School (FDS).

    Kebijakan baru itu secara otomatis meliburkan hari Sabtu. Keputusan berlaku bagi para siswa yang bersekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK), dan/atau sekolah yang sederajat. Waktu kerja guru dan kepala sekolah mencapai 40 jam per pekan dengan waktu istirahat sekitar 30 menit per hari, atau waktu kerja aktif 37,5 jam per pekan.

    Hari Sabtu diliburkan karena sistem kegiatan belajar-mengajar saat ini berlaku hingga minimal delapan jam sehari. Sementara itu, standar kerja aparat sipil negara, termasuk guru, ialah 40 jam per pekan. Dasar inilah yang dijadikan menteri dari Muhammadiyah itu bersikukuh menerapkan Full Day School di sekolah-sekolah. (sumber: Cnnindonesia.com)

    Reaksi pun bermunculan. Jika pada tahun 2016 lalu saat Muhajir baru diangkat menteri langsung dibully karena mewacanakan kebijakan tersebut, kini, ramai-ramai muncul penolakan terutama dari kalangan Nahdliyyin yang sangat dirugikan jika FDS harus dipaksa berlaku.

    Sebanyak 12.780 (dua belas ribu tujuh ratus delapan puluh) sekolah dan madrasah di seluruh Indonesia yang ada di bawah naungan LP Ma'arif NU terancam jadi korban kebijakan yang disebut Kiai Sulthon Fathoni dari PBNU sebagai tidak aspiratif, menang-menangan, sekehendaknya sendiri. (Sumber: Detikcom).

    Komunitas pesantren, partai politik (PPP), Ansor, LP Ma'arif dan bahkan PBNU sudah mengkritik keras kebijakan tersebut. Tidak ada kalangan pengelola pesantren kanan Islam radikal yang ikut memprotes. Padahal, MUI sudah mengeluarkan surat penolakan kebijakan Menteri Muhajir. Kali ini, tidak ada gelora mengawal fatwa MUI sebagaimana aksi demo-demo kalangan Islam radikal dulu.

    Jika Muhajir tidak menghentikan FDS, pesantren sebagai komunitas pendidikan non formal jelas akan dirugikan. Madin hanyalah efek samping. Tujuan utama adalah pembunuhan terhadap pesantren salaf. Kenapa bisa begitu? Mendikbud sendiri mengeluarkan pernyataan bahwa dalam FDS, ia akan menggandeng guru-guru Madin untuk turut mengajar (ekstra kulikuler) di sekolah yang menerapkan FDS.

    Sepertinya, ini menjadi win-win solution. Tapi awas, seleksi oleh siapa dan sistemnya bagaimana? Lalu independesinya pasti terikat dengan kebijakan kepegawaian, yang pada akhirnya menghambat promosi langsung gerakan Ayo Mondok yang selama ini berhasil menyedot masyarakat untuk ramai-ramai memondokkan putra putrinya ke pesantren.

    Guru madin ini adalah salah satu ujung tombak promosi pesantren salaf di Indonesia yang notabene menjadi domain NU. Efeknya, semakin larisnya pesantren modern yang banyak diaplikasikan oleh pesantren kanan dan Muhammadiyah. Karena pada akhirnya mereka sadar, kekuatan utama NU adalah pondok pesantren salaf NU. Sebuah strategi sistematis untuk membunuh pesantren NU dan lalu menghidupkan lembaga pendidikan yang serius mengembangkan Islam radikal Indonesia. (tiga paragraf terakhir ini saya kutip dari dari Kang Syauqi)

    Ingat juga, Muhajir mengeluarkan tangan saktinya tersebut di tengah kasus yang makin memanas soal Amin Rais beberapa pekan terakhir. Gara-gara kebijakan FDS yang dimunculkan Muhajir, kini. isu AR tidak tenggelam diingat publik soal 600 jutanya itu. Apakah Muhajir yang mewakili Muhammadiyah di kabinet Jokowi didesak untuk menyelamatkan "sengkuni" dengan "politik balas budi" dan "balas dendam"?

    Kita ingat, dari sejak Orba, Mendikbud selalu dipegang kader Muhammadiyah hingga lembaga pendidikan pesantren selalu terdesak dan dipinggirkan sampai sekarang. Namun, sejak Muhammad Nuh menjabat Mendikbud, lembaga pendidikan berbasis komunitas (pesantren) tumbuh subur seiring didirikannya 900-an SMK selama 5 tahun memegang kebijakan pendidikan.

    FDS, bagi saya, hanya akan menghidupkan lembaga pendidikan yang tidak serius melakukan deradikalisi milik kalangan Islam kanan. Tumbuh suburlah sel-sel pendukung khilafah. Sore hari yang dijadikan interaksi etika dan moral, diganti dengan kurikulum ekstra yang menyibukkan peserta didik.

    Kebutuhan ngaji agama cenderung tidak ada. Kalaupun ada, mereka tidak melalui guru yang mumpuni, yang tiap hari mewakafkan dirinya sebagaimana di pesantren, madin dan juga komunitas pengajian dan majelis ilmu. Sibuk, alternatif ngaji ya ke Youtube, Google dan juga Medsos.

    Jadi, jangan salahkan jika angka radikalisme kelak tambah tinggi dengan kebijakan sak kerepe dewe Om Mendikbud Muhajir. Selamat tinggal pesantren! Silakan berjuang sendiri. Menteri tidak memihak kepadamu. Dia sedang perlahan ingin membunuhmu. [dutaislam.com/ab]

    M Abdullah Badri, guru ngaji kampung

  • [Surat Sakti Kepada Mendikbud] Harga Mati Menolak Full Day School

    Admin: Duta Islam →

    Oleh Kiai Zahro Wardi

    DutaIslam.Com - To the point dan bil iktifa' wal ikhtishor Pak Menteri! Tolong rencana Full Day School dan hari sekolah 5 kali dalam seminggu diurungkan. Ini harga mati!

    Sadarilah, kebijakan Anda ini akan meniadakan ratusan ribu -sekali lagi- ratusan ribu lembaga Pendidikan TPQ/TPA dan Madin (Madrasah Diniyah) di seluruh Indonesia. Akan mbubrahi tatanan pendidikan Pondok pesantren yang santrinya ndobel dengan sekolah umum. Ingat, lembaga-lembaga ini sudah ada jauh sebelum Anda lahir bahkan sebelum RI merdeka.

    Sadarlah, kebijakan Anda ini akan menyulut api permusuhan, atau paling tidak akan memantik kecurigaan antar ormas. Ini bahaya. Semua tahu, ratusan ribu lembaga yang akan gulung tikar itu mayoritas milik NU. Dan Anda ini orang Muhamadiyah.

    Dari sisi kemaslahatan kebijakan, apa yang salah dengan lembaga-lembaga TPQ dan Madin yang ingin Anda hilangkan? Tatanan Ponpes yang akan bubrah? Soal karakter Bangsa? Ayo silahkan di survei.. Dari jutaan narapidana, baik kasus korupsi, kriminal maupun yang lain, hanya berapa persen yang tamatan Ponpes dan Madin? Saya yakin seyakin-yakinnya, 99% bahkan lebih, adalah tamatan pendidikan umum murni. Bukan dari Madin/Pesantren.

    Kalau sisi keberhasilan mencetak pelaku-pelaku ekonomi yang tangguh, ayo disurvei, saya jamin 100% jebolan Madin dan Ponpes tidak ada yang jadi pengangguran apalagi GePeng (Gelandang dan Pengemis). Pendidikan Madin dan PonPes itu menanamkan kemandirian dan tanggung jawab hidup.

    Prinsipnya adalah wajib cari rejeki, yang penting halal. Tidak pilah pilih pekerjaan. Sebaliknya, silahkan tanya, jutaan para Gepeng itu pendidikanya apa? Pasti dia akan menjawab tamatan pendidikan umum tertentu. Bahkan, berapa juta Sarjana di Indonesia yang masih jadi pengangguran?

    Sebenarnya, siapa yang Anda ajak rembukan dan olah fikir sehingga muncul gagasan seperti itu? Di saat mulai ada Pemerintah Daerah (Gubernur) berusaha mati-matian mempertahankan TPQ dan Madin dengan progam Bos (Bantuan Operasional Sekolah), TPQ dan madin, bahkan puluhan Bupati dan Wali Kota sudah membuat Perda tentang kewajiban bagi setiap siswa sekolah umum untuk bersekolah juga di TPQ dan Madin, mengapa Anda justru sebaliknya? Ada apa dibalik semua itu Pak Menteri?

    Bapak Muhajir Efendi yang terhormat, saya yakin Anda tahu bagaimana kondisi TPQ, Madin dan Pondok Pesantren salaf di daerah-daerah. Mayoritas tidak punya gedung, masih numpang di serambi masjid, mushala dan emperan/rumah warga.

    Untuk beli papan tulis, bangku dan kapur, masih urunan dari wali santri. Kadang urunanya ditarik lewat hasil pertanian wali santri saat panen. Belum lagi ustadz dan ustadzahnya ikhlas dan telaten mengajar tanpa gaji. Ia relakan mengurangi waktu kerja demi anak didiknya.

    Di saat Umar Bakre Pendidikan raga dimanjakan dengan gaji ke 13, gaji ke 14, sertifikasi dan berbagai tunjangan lain, si Umar Bakre Pendidikan Jiwa tidak pernah meminta itu, apalagi ada gerakan demo. Seharusnya, kebijakan untuk memikirkan hal-hal semacam itu yang lebih maslahah. Sejak kapan bait "Bangunlah Jiwanya" dalam lagu Indonesia Raya hilang? Masih ada kan?

    Alokasi pendidikan 20% dari APBN itu tidak sedikit. Sekalipun TPQ, Madin dan Ponpes tidak masuk dalam sasaran alokasi itu, ia tidak pernah menuntut. Jadi sangat ironis bila Pendidikan berbasis akhlaq dan ukhrawi (yang notabene lebih penting dari pendidikan umum), ada yang mengganggu.

    Kini banyak tokoh negeri ini yang menolak rencana itu. Bahkan PBNU dan MUI sudah resmi mengeluarkan penolakanya. Dan pasti akan ada gerakan-gerakan masif lain bila kebijakan itu dilanjutkan.

    Kami tidak ingin nanti ada bahasa, "kebijakan ini masih uji coba" atau "kebijakan ini tidak mengikat", "boleh dilasanakan oleh sekolah-sekolah umun, boleh tidak". Satu yang kita minta, rencana itu wajib dibatalkan. Jangan ada tipu-tipu lagi. [dutaislam.com/ab]

    Kiai Zahro Wardi, Pengasuh PP Darussalam Sumberingin Trenggalek,
    alumnus Lirboyo Kediri

  • Apakah NU Ormas Ulama Jawa Pewaris Dinasti Majapahit? Ini Jawabnya

    Admin: Duta Islam →

    Oleh Nour Ahmed

    DutaIslam.Com - Tuduhan beberapa orang kalau ormas Nahdlatul Ulama (NU) adalah dinasti para kiai Jawa hanya dengan menyebut kalau tidak ada pemimpin struktural NU yang berasal dari luar Jawa adalah fitnah siang bolong. Fitnah itu makin mengarah kepada kebencian tatkala NU disebut sebagai ormas dinasti Majapahit. Innalilllah.

    Para pemfitnah tersebut sudah keblinger karena tidak membuka sejarah dan daftar nama tokoh NU, baik yang duduk sebagai Rais Aam atau Ketua Tanfidziyah. Karena itulah mereka melempar tuduhan kalau pucuk pimpinan NU tidak pernah dijabat oleh ulama selain Jawa. Mereka hanya mengumbar kebencian tanpa bukti sejarah.

    Faktanya, NU pernah memiliki Ketum PBNU KH Idham Chalid yang kelahiran Kalimantan Selatan. Begitu pula KH Ali Yafie, ulama kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah, yang pernah menjadi Rais Aam sebelum digantikan oleh KH Muhammad Ilyas Ruhiyat, kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat.

    Kini, Rais Aam PBNU juga diberikan kepada ulama kelahiran Tangerang, Banten, KH Ma'ruf Amin. Fakta ini menunjukkan tuduhan NU sebagai ormas ulama Jawa saja adalah propaganda semata. Menuduh NU sebagai dinasti pun, tidak bisa dibenarkan. Pasalnya, dinasti adalah sebuah wangsa atau kelanjutan kekuasaan yang harus diberikan kepada garus keturunan yang sama, sebagaimana tradisi dinasti di Arab Saudi (Wangsa Saud).

    Di NU, siapapun yang menjabat Rais Syuriah atau Ketua Tanfidziyah, ada masa akhir jabatan atau amanah. Tidak ada sejarah dimana pergantian pimpinan NU selalu diakhiri dengan kematian raja karena diracun, dibunuh atau dikudeta. NU anti tradisi demikian.

    Soal terpilihnya pucuk pimpinan Nahdlatul Ulama di Muktamar yang diadakan setiap lima tahun sekali, itu diputuskan bukan hanya oleh ulama Jawa saja, tapi ditentukan oleh musyawarah ala Nahdlatul Ulama dari pelbagai ulama di Nusantara, seluruhnya, bukan Jawa saja.

    Misalnya, pada Muktamar 2015 silam, sebanyak 496 Rais Syuriah NU diminta menyerahkan usulan nama-nama calon ulama yang akan menjadi anggota forum musyawarah mufakat yang disebut ahlul halli wal aqdi (Ahwa). Sembilan kiai yang mendapat suara terbanyak kemudian ditetapkan masuk dalam forum Ahwa.

    Inilah sembilan nama kiai sepuh yang menduduki peringkat teratas:

    KH Makruf Amin, Jakarta, (313 suara)
    KH Nawawi Abdul Jalil, Pasuruan, Jatim (302)
    TGH Turmudzi Badruddin, NTB (298)
    KH Kholilul Rahman, Martapura, Kalsel (273)
    KH Dimyati Rais, Jateng (236)
    KH Ali Akbar Marbun, Sumatra Utara (246)
    KH Maemun Zubeir, Jateng (156)
    KH Makhtum Hannan, Jabar (142)
    KH Mas Subadar, Pasuruan Jatim (135)

    (Sumber: NU Online)

    Setelah terpilih, para kiai sepuh itu akan bersidang untuk memilih Rais Aam PBNU yang akan memimpin NU periode 2015-2020. Siapakah Majlis Ahwa di atas? Apakah hanya berasal dari ulama di Jawa saja? Sekali lagi, lihatlah daftar nama-nama anggota Ahwa di atas.

    Setelah memilih pun, ada hal yang terjadi lagi. Biasanya, calon Ketum PBNU yang dicalonkan ada yang mengundurkan diri dan lalu memberikan amanat kepada ulama lain. Ini ciri Khas NU, entah karna ketawadhu'an, karna kezuhudan atau karena beratnya menanggung amanat yang disadari oleh calon Ketum atau Rais Aam.

    Setelah terpilih, apakah pengurus di setiap daerah didudukui oleh adalah ulama Jawa semua? Apakah pengurus PWNU Provinsi Aceh, Papua, NTB, Maluku, Sumatra, harus diambil dari ulama dari Jawa? Nyata tidaknya.

    Begitulah cara NU mendapatkan pemimpin. Siapapun akan dipilih jika dikehendaki oleh para ulama sepuh di Nusantara, bukan hanya oleh ulama Jawa saja. Terang betul yang menuduh NU sebagai dinasti Majapahit adalah olok-olok dan fitnah atas dasar kebencian semata. [dutaislam.com/ahna]

  • NUGL Fitnah Zain Sujai Sebagai Admin Muslimoderat

    Admin: Duta Islam → Selasa, 13 Juni 2017
    Keberatan atas postingan Muslimoderat dan klarifikasi tuduhan Zain Sujai
    DutaIslam.Com - Zain Sujai, santri Madura yang sekarang mukim di Jakarta, lagi-lagi difitnah oleh banyak orang sebagai admin website Muslimoderat.net sejak pro kontra antara gerombolan FPI yang memfitnah Banser Ansor Rembang, menyeruak ke media sosial. Ansor membantah melucuti seragam FPI saat berniat menghadiri acara Haul Mbah Zubair Sarang (konon) atas undangan Gus Wafi, tapi oleh santri Mbah Moen, baik FPI maupun Banser tidak ada undangan.

    Polemik itu kemudian ditanggapi Gus Mamak (dari Ponpes MUS Sarang) bahwa di Pondok Sarang tidak mengajarkan ke-NU-an. Lebih penting Aswaja daripada NU. Saling-sahutan komentar tersebut membuat suasana makin mudah digoreng, baik oleh situs wahabi maupun situs milik Hamim Musthofa, Muslimoderat.net (dulunya Muslimoderat.com).

    Di tengah konflik tersebut, akun Kanthongumur tidak terima dengan pemberitaan yang dianggap menambah rumit persoalan. Walau akhirnya diubah oleh admin situs tersebut, Zain Sujai jadi sasaran kejelekan oleh orang-orang yang selama ini selalu menuduhnya sebagai admin Muslimoderat.net. "Pokoknya bagian jeleknya ke saya semua," kata Zain Sujai kepada Dutaislam.com, Selasa (13/06/2017) malam.

    Menurutnya, seliweran tuduhan Zain sebagai admin Muslimoderat sudah lama beredar. Soal polemik Sarang, dia menyebut ada alumni sarang menyarankan Kantongumur (yang tidak terima atas potingan gorengan Muslimoderat) menghubungi dia, padahal Zain Sujai bukan admin website manapun. "Selama ini sebagian NU GL menganggap saya adalah admin MM," ujarnya.

    Kepada Dutaislam.com, Zain mengaku merasa terganggu atas tuduhan tersebut, yang dulunya disebarkan oleh kelompok pemecah belah macam NUGL, Adam dkk. Bahkan dia mengirim screenshoot klarifikasi kepada Hamim Musthofa agar dia mau memberikan nama-nama yang menjadi admin Muslimoderat. "Tapi saya diblokir," aku Zain.

    Chatingan Zain ke Hamim Musthofa
    Diketahui, admin Situs Muslimoderat memang tidak ada strukturnya. Banyak pihak menyayangkan berita-berita copasnya yang diambil dari situs-situs lain. Hamim Mustofa, menurut beberapa sumber Dutaislam.com, disebut-sebut mukim di Blitar dan nyantri. Namun hampir seluruh isi blognya full copas dan acap tidak menyebutkan sumber jelas dan link hidup sumber.

    Zain Sujai pun akhirnya jadi korban postingan kontroversial admin Muslimoderat tanpa dapat mengklarifikasi lebih jauh. Dia diblokir sang admin misterius itu. [dutaislam.com/ab]

  • Gara-Gara Kebelet Uang, Yahoo Meninggal Dunia Dengan Tenang!

    Admin: Duta Islam →

    Oleh Hilman Fajrian

    DutaIslam.Com - Tak ada alasan tak berterima kasih pada Yahoo. Yahoo adalah pusat gravitas di masa-masa awal bisnis internet merebak tahun 1990-an. Karena Yahoo kita mengenal email, chat room, dan mesin pencari. Perusahaan yang didirikan Jerry Yang dan David Filo ini adalah salah satu katalis terbesar dot com booming (dan bubble) di akhir 1990-an yang dampaknya kita rasakan hingga saat ini. 

    Sekarang Yahoo sudah selesai. Dijual $ 4,48 miliar kepada Verizon, jauh meninggalkan valuasinya di masa keemasan senilai lebih dari $ 100 miliar. Sang pelopor akan berganti nama menjadi Altaba, sebuah merk perusahaan holding milik Alibaba dimana Yahoo memiliki 15% saham di sana.

    Kematian Yahoo pada bulan ini sebenarnya hanya menegaskan tanda-tanda sekarat yang sudah lama tampak. Sementara, semestinya Yahoo menjadi Google yang kita kenal sekarang. Namun mengapa yang kita lihat justru sebaliknya?

    Disorientasi oleh Uang
    Paul Graham, co-founder venture capital Y Combinator, menceritakan pengalamannya bekerja di tahun-tahun awal kesuksesan Yahoo. Ia melihat sendiri betapa Yahoo menjadi sebuah keajaiban baru di dunia bisnis dengan mampu menciptakan kekayaan begitu besar dalam waktu cepat. Produk utamanya adalah banner ad (iklan banner) dan Yahoo menjadi pemain sentral di industri baru ini. Para staf penjualan kembali ke kantor membawa kontrak iklan bernilai jutaan dolar. Meski nilainya kecil dibandingkan nilai iklan media mainstream, namun jumlahnya fantastis untuk sebuah startup.

    Ketika IPO tahun 1996, Yahoo berhasil meraih dana $ 33,8 miliar di Nasdaq. Puncak dot com booing tahun 1998 tak hanya membuat valuasi Yahoo menggila. Tapi kesuksesan Yahoo membuat semua orang jadi menggilai bisnis internet dan bermimpi bisa menjadi Yahoo selanjutnya. Orang-orang berlomba mendirikan startup dan pendanaan berhamburan. Startup berlomba-lomba memasang iklan di Yahoo yang membuat dompet Yahoo makin gendut.

    Kesuksesan besar secara cepat ini membuat Yahoo mabuk — lebih tepatnya teler. Yang mereka fokuskan setiap hari hanya mengeksploitasi lini bisnis banner ad. Mereka tak menghiraukan kebutuhan untuk mengembangkan inti bisnis di mesin pencari. Yahoo merasa mereka too big to fail.

    Kita tahu kisah soal Larry Page dan Sergey Brin menawarkan alogaritma PageRank kepada Yahoo, dan kemudian ditolak. Tahun 1998 Paul Graham juga pernah menawarkan Revenue Loop; sebuah alogaritma di mesin pencari yang menyeleksi hasil hasil pencarian produk belanja — mirip dengan alogaritma yang kemudian digunakan Google untuk menyeleksi iklan. Tapi tidak ditanggapi, bahkan oleh Jerry Yang. Tahun 1999 David Filo disarankan membeli Google yang saat itu baru rilis dan kecil sekali. Namun Filo tak melihat ada yang penting pada Google yang pada saat itu baru memiliki trafik sebesar 6% dari keseluruhan trafik Yahoo yang tumbuh 10% per bulan.

    Hanya satu yang dikerjakan di Yahoo saat itu: mendapatkan uang, dan uang yang lebih banyak lagi. Selama pelanggan masih menuliskan cek bernilai besar, maka tak ada yang lebih penting daripada itu. Tahun 2000 adalah puncak valuasi Yahoo di bursa saham senilai $ 125 miliar dengan harga per lembar $ 475 atau 15 kali lebih tinggi dibandingkan ketika IPO 4 tahun sebelumnya.

    Krisis Identitas
    Yahoo lahir sebagai perusahaan mesin pencari, yang mendeklarasikan diri sebagai perusahaan media, menghasilkan pendapatan dari iklan, dan bertindak seperti perusahaan software. Semua ini membingungkan. Dan lebih parah lagi, Yahoo tampaknya tak punya misi besar apapun dan gamang memposisikan diri.

    Di era emasnya, mayoritas karyawan Yahoo adalah programmer — layaknya sebuah perusahaan software. Namun mereka bukan menjual software, melainkan iklan. Perusahaan software menjual software, perusahaan media menjual iklan. Pada masa itu konsep perusahaan teknologi adalah perusahaan software. Gagasan bahwa perusahaan teknologi menjual iklan masih tidak bisa diterima. 

    Karena itulah Yahoo bersikeras menyebut diri sebagai perusahaan media. Alasan lain, Yahoo khawatir bila mereka mendeklarasikan diri sebagai perusahaan teknologi maka membuat mereka rentan diserang oleh Microsoft — raja perusahaan teknologi ketika itu yang membunuh Netscape. Sementara lini bisnis mesin pencari sudah lama tak dihiraukan. Akhirnya, identitas Yahoo makin kabur dan membawa dampak lanjutan yang akut.

    Hilangnya Kultur
    Memposisikan diri sebagai perusahaan media ternyata berkonsekuensi serius. Yahoo tak lagi fokus pada pengembangan teknologi dan menganggapnya sebatas komoditas. Para programmer hanya dijadikan sekadar operator yang mengeksekusi keinginan para manajer ke dalam bahasa kode. Ketika Microsoft dan Google selalu terobsesi untuk mempekerjakan para programmer terbaik, tapi tidak dengan Yahoo.

    Programmer hebat hanya mau bekerja dengan programmer hebat pula. Di dunia bisnis teknologi ketika kita mempekerjakan programmer buruk artinya kiamat. Itu sebabnya kita tak pernah lagi melihat produk istimewa dari Yahoo setelah kesuksesan email, mesin pencari dan chat room di masa lalu. Semuanya menjadi biasa-biasa saja. Tidak berkembang dan makin ketinggalan zaman. Saya pengguna Yahoo Messanger dari tahun 1999 sampai 2008, ya begitu-begitu saja barangnya.

    Tak memposisikan diri sebagai perusahaan teknologi dan kehilangan para programmer andal membuat Yahoo tak punya tenaga dalam merawat inovasinya. Hacker-centric culture berubah menjadi suit-centric culture. Yahoo berubah dari perusahaan inovatif menjadi perusahaan kantoran medioker. Inovasi di Yahoo hanya mengalir satu arah dari para orang berdasi yang dinamakan manager dan producer kepada para bawahan termasuk programmer. Hampir tak ada ruang untuk mengelaborasi gagasan-gagasan baru dari akar rumput, bahkan untuk mempertanyakannya sekalipun.

    Perusahaan ini menjadi tua begitu cepat. Memposisikan diri sebagai perusahaan media membuat mereka harus mengelola perusahaan sebagaimana layaknya perusahaan media dijalankan: oleh para orang berdasi, bukan para hacker. Hacker tak boleh menjalankan perusahaan media. Hacker harus disupervisi oleh para orang berdasi. Mereka fokus merekut MBA. Sementara pesaing-pesaing mereka yang saat itu masih berukuran kecil sibuk merekrut para hacker dari berbagai bidang: teknologi, bisnis, marketing, sales, desain dsb. Mereka tak percaya pada hacker-centric culture. Meski itu mengingkari sejarah bahwa Yahoo lahir dari tech-hacker dan business-hacker bernama Jerry Yang dan David Filo.

    Gagal di Era Smartphone
    Ketika startup baru bermunculan, mengusung misi besar mengubah dunia dan menciptakan masa depan, kita tak melihat ada terobosan fenomenal apapun dari Yahoo di era 2000-an. Mereka gagal beradaptasi di era smart phone. Bahkan Marissa Mayer yang diangkat menjadi CEO tahun 2012 untuk memecahkan masalah ini pun gagal mengatasinya.

    Sebagai perusahaan media, Yahoo menjual iklan. Dengan masifnya adopsi smart phone pasca 2007, trafik internet meningkat luar biasa pesat yang membuat bisnis periklanan digital makin subur. Tapi Yahoo hanya bisa menonton dari luar lapangan. Karena mereka sama sekali tidak punya front door (pintu depan) dan ekosistem untuk mendatangkan trafik dari pengguna smart phone. Front door dan ekosistem hanya dikuasai 2 pemain: Google dengan Android dan Apple dengan iOS. Ekosistemnya dilengkapi dengan browser, mesin pencari, dan mampu membaca perilaku pengguna sehingga iklan lebih tertarget — sesuatu yang dari dulu tidak pernah dihiraukan Yahoo.

    Dua pemain ini sudah terlalu besar dan Yahoo tak punya kemampuan untuk menandinginya. Namun Yahoo masih punya basis jutaan user untuk dimanfaatkan. Sehingga mereka memutuskan membuat aplikasi yang superior. Banyaknya produk yang dimiliki Yahoo membuat mereka kehilangan fokus. Mana yang hendak diprioritaskan: email, media, cuaca, keuangan, mesin pencari, dan yang lain-lainnya? Yahoo setengah mati mencari cara mengatasi gap antar produk ini ke dalam satu-dua aplikasi unggulan.

    Ketika baru menjabat tahun 2012, Mayer langsung mengakui bahwa Yahoo kekurangan programmer mobile app dan langsung melakukan perekrutan besar-besaran sampai 500 orang. Akhirnya aplikasi itu dirilis dan berhasil mengakuisisi pengguna. Namun tidak berlangsung lama.

    Lansekap pada smart phone berubah lagi dari content-based service ke communication-based app. Orang-orang ramai-ramai meninggalkan aplikasi konten satu arah dan beralih ke media sosial serta messanger. Sementara di dua dunia tersebut Yahoo tak punya produk yang bisa diandalkan. 

    Tak mungkin lagi membuat produk social network seperti Facebook dan Twitter, apalagi membelinya. Flickr yang dibeli Yahoo tahun 2005 sudah kalah dengan Instagram. Yahoo Messanger sudah ketinggalan jauh dibanding Whatsapp, Line, dan BBM. Akhirnya mereka membeli Tumblr tahun 2013 yang akhirnya justru tidak tumbuh sesuai harapan meski Mayer sudah keluar uang begitu banyak untuk membayar para penulis.

    Yahoo Menularkan Kekalahan
    Syukurlah Sergey Brin dan Larry Page menolak menjual Google kepada Yahoo tahun 2002 yang ditawar $ 1 miliar. Syukurlah Mark Zuckerberg menolak Yahoo yang menyodori $ 1 miliar agar mau menjual Facebook. Karena kemungkinan besar kita tak akan melihat Google dan Facebook seperti saat ini bila dulu jatuh ke tangan Yahoo (Mark pernah ditentang habis-habisan oleh investor, co-founder, dan manajemen karena menolak menjual FB ke Yahoo). Nasibnya akan sama dengan Flickr, Tumblr, Geocities, Hotjob, Delicious, dan 114 hot startup lain yang diakuisisi Yahoo dan kini tak terdengar lagi namanya. Semua gagal. Miliaran uang yang dikeluarkan dalam akuisisi itu seakan-akan hanya demi menularkan kekalahan.

    Produk dan perusahaan bisa dibeli. Tapi tidak dengan kesuksesan. Karena di balik kesuksesan sebuah produk atau perusahaan selalu ada hal-hal yang tak tampak: visi, misi, kultur, spirit, manajerial, road map, hingga model bisnis. Yahoo bisa membeli Flickr sebagai produk sukses. Namun dengan cara kerja Yahoo, mereka tak akan bisa mengiterasi proses kesuksesan itu. Yahoo yang sudah rusak hanya akan menularkan kerusakan itu kepada startup-startup dengan produk hebatnya yang telah mereka akuisisi.

    Stewart Butterfield, co-founder Flickr, meski tak bilang menyesal telah menjual Flickr kepada Yahoo, namun ia mengaku mengambil banyak pelajaran berharga. Yang lebih penting dari akuisisi adalah apa yang akan terjadi setelahnya. Ia menyoroti faktor independensi perusahaan pasca akuisisi. Tanpa itu, sebuah produk akan kehilangan nilai yang ditempa oleh segala sesuatu yang tak tampak. 

    Begitu pula dengan siapa orang yang akan menjalankan perusahaan pasca akuisisi, dan apa target dan tujuan akuisisi itu. Butterfield mengeluh tentang pendapat yang cenderung menggampangkan mendirikan sebuah perusahaan — yang tampaknya kritik ini diarahkan ke Yahoo. Namun ia mengatakan, bila saja dulu tidak menjual ke Yahoo dan menahan diri dalam beberapa tahun, sangat mungkin Flickr terjual 10 kali lipat dari nilai akuisisi Yahoo $ 35 juta dan bisa terus berkembang sebagai produk fenomenal.

    Kita tak hanya harus berterima kasih kepada Yahoo karena telah memperkenalkan kita kepada internet. Namun juga memetik pelajaran tentang ilusi kesuksesan yang mampu meruntuhkan sebuah kerajaan besar internet yang menjadi pusat gravitasi pada suatu masa. Ilusi ini bahkan bisa hinggap dan membunuh sebuah perusahaan teknologi yang secara alamiah berdiri di atas semangat inovasi. Kita tengah menyaksikan sebuah perusahaan teknologi paling inovatif pada masanya harus mati karena mereka gagal berinovasi, lengah, pongah, dan menganggap dunia ini statis. Dunia berubah, dan Yahoo tidak.

    Lalu, bagaimana dengan perusahaan yang malah tidak mau berinovasi? Bila Yahoo bisa mati, maka begitu pun semua perusahaan di dunia ini. Sony, Kodak, Nokia, RIM, Panam, sampai Lehman Brothers, pastilah setuju. There is no such thing as too big to fail in a free market. Terima kasih, Yahoo. Selamat tinggal. [dutaislam.com/ab]

    Source: Faktabanten.co.id

  • Jawaban Bagi Yang Ngaku NU Tapi Suka Nyerang Kiai, NU dan Bela Haters NU

    Admin: Duta Islam → Senin, 12 Juni 2017

    Oleh Kiai Ahmad Dardiri Zubairi 

    DutaIslam.Com - Paska aksi 212, FPI sebagai motor aksi menyita perhatian umat Islam di Indonesia. Di media massa, apalagi di media sosial FPI nenjadi trending topik. Setiap hari nyaris tak ada pemberitaan  tanpa FPI. FPI sebagai motor aksi telah memunculkan banyak spekulasi yang mengakibatkan sikap pro-kontra.

    Sayup-sayup FPI tiba juga di Madura. Kebetulan organ yang memfasilitasi di Madura sudah siap, yaitu AUMA (Aliansi Ulama Madura), sebuah ormas baru yang yang lumayan keras. Karena itu dengan mudah FPI tinggal dikloning.

    Sebagai ormas baru AUMA, yang 2-3 tahun kemarin didirikan, sepertinya mau mengulang peran Bassra yang ketika pemerintah ORBA kritis kepada penguasa, terutama berkaitan dengan rencana pembangunan jembatan Suramadu, meski saya melihat perannya sangat beda. Di samping fokus isunya berbeda,  AUMA sepertinya memliki jaringan kuat dengan ormas senafas di Jakarta, makanya sangat mudah menfasilitasi berdirinya FPI di Madura. Ini berbeda dengan Bassra yang fokus pada isu lokal.

    Bagi saya kehadiran ormas apapun sah didirikan. Selama dibutuhkan dan bisa memperkuat cita kemerdekaan dan bisa diharapkan menjadi corong Islam rahmatal lil alamin tak jadi masalah. Cuma ketika kehadirannya mengusik NU dan warga Nahdiyin serta visi kebangsaanm maka penting ormas baru ini disikapi. Tulisan ini hanya  hendak merespon usikan terhadap NU tersebut.

    Setidaknya dalam usaha merekrut massa, ada tiga isu yang sengaja diwacanakan FPI dalam pertemuan-pertemuan umum yang mengusik NU. Tiga isu ini penting direspon agar tidak menimbulkan kesalahpahaman terutama kepada warga nahdliyin.

    Pertama soal isu bahwa petinggi FPI di Madura (setidaknya kasus di  Sumenep ) selalu mengatakan dalam ceramahnya, "saya ini ikut NU-nya kyai Hasyim Asy'ari, NU "se kona" (yang dulu)". Mafhum mukhalafahnya, sama NU sekarang kurang mengakui.

    Bagi saya pernyataan seperti itu patut direnungkan. Pertanyaannya, bagaimana mau ikut KH. Hasyim pada hal tidak sezaman? Dari mana kita bisa meyakini bahwa NU kita sama dengan kyai Hasyim? Barangkali bisa dijawab bahwa pengikut FPI berpegangan terhadap kitab peninggalan kyai Hasyim. Tapi kalau pun mengacu kepada kitab kyai Hasyim, bukankah kita tidak bisa sepenuhnya mengatakan bahwa penafsiran atas teks kitab kyai Hasyim  sama dengan kehendak kyai Hasyim?

    Dengan kasus beda, hal ini mirip dengan kelompok Islam yang mengatakan ikut Nabi dengan berpegangan kepada Alqur'an dan Hadis sambil nenolak ijma' dan qiyas. Dalam tradisi NU cara beragama seperti ini kurang bisa dipertanggungjawabkan karena tanpa sanad yang jelas.

    Sama dengan berNU, kalau mengikuti NUnya kyai Hasyim dengan menolak NU sekarang berarti NUnya kurang bisa dipertanggungjawabkan karena tanpa sanad yang jelas. Pada hal sanad inilah yang menbedakan NU dengan kelompok lain.

    Di samping sanad keilmuan, di NU juga dikenal sanad perjuangan. Secara kelembagaan, tentu saja sanad ini tak bisa diperoleh dengan meloncat ke masa kyai Hasyim tetapi bisa kita peroleh melalui sanad yang sudah terlembagakan melalui pesantren sekaligus NU dari masa ke masa hingga sekarang. Jadi, sanad ibarat mata rantai tak bisa digunting, tak bisa diputus.

    Saya faham, sikap seperti di atas salah satunya dipicu oleh sikap dislike sebagian tokoh NU terhadap kyai Said Aqil. Kebetulan ada skenario besar yang terus-menerus mengeroyok kyai Said dengan informasi hoax sejak isu liberal, syiah, Ahoker, dsb yang sayangnya tanpa bertabayyun langsung dianggap sebagai kebenaran oleh sebagian warga NU yang nyeberang ke FPI.

    Tetapi jika tidak suka ketua umum PBNU tak perlu menyerang NU. Apalagi sampai nyeberang ke organisasi lain. Apalagi lepas suka atau tidak kyai Said terpilih dalam muktamar NU, ini hasil ijma' pengurus NU se Nusantara, Jika beliau dianggap salah sekalipun, ada mekanisme organisasi yang mengatur bagaimana masalah ini bisa diselesaikan. Bukan malah gabung ke organisasi lain sambil terus memojokkan NU apalagi hanya untuk merebut hati warga NU.

    Dalam konteks inilah pernyataan bahwa " saya pengikut NUnya kyai Hasyim" tidak ada dasarnya dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimana mungkin bilang pengikut  NU kyai Hasyim, sementara pada saat bersamaan justru memojokkan jamiyah yang beliau dirikan?

    Isu kedua yang sering dinyatakan pendukung FPI adalah, "amar ma'ruf ikut NU, nahy munkarnya ikut FPI". Pernyataan ini seolah hendak menegaskan bahwa NU lembek, tidak tegas dan adem. Sementara FPI sebaliknya;  tegas, lantang, dan berani.

    Tapi ijinkan saya menjelaskan bahwa NU dalam menjalankan dakwahnya memiliki jalan dan cara sendiri, dan tentu saja NU tak perlu mengikuti jalan dan cara ormas lain. Jalan dan cara NU ini merupakan hasil dari endapan proses panjang yang sudah ditempuh sejak walisongo. Hasilnya bisa kita rasakan hingga sekarang.

    Setidaknya ada tiga ciri dakwah NU. Pertama, tadriji dimana dakwah ditempatkan dalam proses panjang, tidak buru - buru, perlahan dan bertahap. Kedua, taklitut taklif yaitu tidak memberatkan masyarakat atau tidak memaksa. Ketiga, 'adamul haraj yaitu tidak mengancam siapapun. Makanya dakwah wali songo yang menjadi sanad biologis NU selalu menempuh jalur kultural, sehingga dakwahnya berhasil, ibarat menangkap ikan, ikannya ditangkap tanpa mengeruhkan airnya.

    Kedua, amar ma'ruf nahi munkar ibarat 2 sisi mata uang yang tak bisa dipisah. Ketika NU lebih mengedepankan amar ma'ruf sebenarnya include di dalamnya juga ada nahi munkar. Jika secara gradual mengajak orang agar shalat, hakikatnya mengajak orang itu agar tidak meninggalkan shalat. Tentu sesuai langgam dakwah NU, ajakan agar shalat dilakukan dengan lembut sebagaimana prinsip di atas. Dalam konteks ini, fiqhul ahkam dimodifikasi secara cerdas menjadi fiqhuddakwah dan fiqhussiyasi.

    Sekali lagi NU memiliki jalan sendiri yang sering disebut "alaa thariqati Nahdlatil  Ulama". Jika tidak sama dengan ormas lain ya wajar. Nah, kalau ada orang NU mencampur aduk strategi dakwah NU dengan ormas lain menurut  saya  tidak tepat.

    Isu ketiga yang sering saya dengar  dihembuskan oleh pengikit FPI bahwa, "yang penting aswaja, meski tidak ikut NU". Pernyataan seperti di samping lemah, juga berbahaya. Persis seperti semboyan anak muda, "spirituality yes religion no" atau "spiritualitas yes, agama no".

    Kesalahan pertama menurut saya, pernyataan di atas ibarat seorang salik mau menggapai hakikat dan ma'rifat dengan melampaui syariat. Ia hanya butuh roh tanpa butuh jasad. Tentu dalam konteks Indonesia, apalagi pernyataan ini sengaja dihembuskan di lingkungan warga nahdliyin tentu sangat berbahaya.

    Kesalahan kedua, beraswaja dan berNU bagi warga nahdliyyin mutlak diperlukan. Karena aswaja tanpa ada organisasi yang menopangnya akan mudah dihancurkan. Ingat aswaja di timur tengah dengan mudah bisa dipecah belah oleh kelompok lain karena tidak ada wadahnya.

    NU dibangun oleh para kyai dulu dalam rangka "litauhidi shufufil ulama", menyatukan shaf para ulama dalam meneguhkan dan memperjuangkan aswaja sekaligus melawan para penjajah. Maka jika ada pengikut aswaja tidak berNU hakikatnya ia tidak mau merapat dalam barisan ulama. Dan saya meyakini mereka akan mudah menjadi santapan kelompok lain yang bahkan tidak senafas dengan aswaja, misalnya salafi-wahabi atau HTI.

    Mari rapatkan lagi barisan pengikut dan pendukung aswaja. Agar kuat masuklah kembali dalam barisan, beraswaja dan berNU. Jika ada yang tidak cocok baiknya tabayyun dan bermusyawarah. Bukan malah menyeberang ke organisasi lain sambil memojokkan NU. 

    Kalau misalnya tetap tidak mau berNU, jangan mengajak warga nahdliyin sambil menyebar berita tidak benar dan atau memprovokasi dengan alasan-alasan yang bisa menimbulkan pertentangan di masyarakat. Mari, stop menjadi setengah nahdliyyin. [dutaislam.com/ab]

  • Mbah Bisri Syansuri Diampuni oleh Allah Sebab Nahdlatul Ulama (NU)

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Ada salah satu seorang kiai, namanya Kiai Shodiq Ngoro Jombang. Tepat setelah tiga hari pasca kewafatan Kiai Bisri Syansuri, beliau pergi ke Denanyar untuk ziarah ke maqam Mbah Bisri yang memang ada di komplek pemakaman keluarga. 

    Di tengah melakukan ziarah, dalam kondisi setengah sadar, beliau bertemu dengan Mbah Bisri. terjadilah dialog. Mbah Kiai Shodiq, dalam kondisi setengah mimpi tersebut, bertanya kepada Mbah Bisri Syansuri:

    ما فعل ربك..؟   

    "Apa yang dikerjakan Tuhanmu?" Mbah Shodiq bertanya kepada Mbah Bisri. 

    غفرلي ربي

    "Tuhan mengampuniku!!"

    بما...؟؟

    "Sebab apa...??"

    Mbah Bisri tidak langsung menjawab. Namun beliau membuka membuka jaketnya. Atas kehendak Allah, setelah dibuka, di dada mbah bisri ada tulisan:

    نهضة العلماء

    Masyallah, Mbah Bisri Syansuri diampuni oleh Allah sebab Nahdlatul Ulama (NU). Maka dari itu, jangan ragu untuk menjadi pengikut setia NU. Terus berjuang bersama NU, warisan para wali Allah. [dutaislam.com/ab]

    Keterangan: 
    Cerita di atas disampaikan oleh KH. Taufiqurrahman Jombang ketika mengisi pengajian kilatan di serambi masjid Tebuireng, Kamis, 7 Romadhan 1438 H. 

  • Santuni 13 Ribu Yatim dan Duafa, Lazisnu Kudus Butuh Dana 1 Miliar. Yuk Bantu!

    Admin: Duta Islam → Kamis, 08 Juni 2017

    DutaIslam.Com - Tak tanggung-tanggung, Ramadhan tahun ini (1438 H/ 2017 M), 13 ribu lebih anak yatim akan mendapatkan santunan dari Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Kudus. Program "NU Berbagi" di bulan suci itu akan diselenggarakan di Masjid Agung Kudus, Sabtu (17/06/2017). Bertepatan dengan 22 Ramadhan 1438 H.

    Sekretaris Panitia, Azwar Anas, menerangkan, penerima adalah yatim dan fakir miskin dari ratusan sekolah dan ratusan ranting NU se Kabupaten Kudus. Sebanyak 6.750 anak yatim yang terdiri dari yatim murid sekolah sejumlah 1.350 ditambah dengan yatim dr ranting NU se Kabupaten Kudus sejumlah 6750 anak akan menerima santunan tersebut,  berserta 5.400 fakir miskin dari list daftar yang diberikan oleh Pengurus Ranting NU (PRNU) se Kabupaten Kudus.

    "Jika ditotal, jumlah penerima santunan baik yatim maupun fakir miskin, ada 13.500. Ada 135 ranting NU se Kudus yang mendaftarkan masing-masing 40 nama penerima miskin dan 50 penerima anak yatim. Per ranting, ada 90 penerima. Dari yatim murid sekolah, total jumlahnya 1.350 yatim," ujar Anas di Kudus, Rabu (07/06/2017) sore.

    Dana yang dibutuhkan, lanjutnya, adalah Rp. 1.387.300.000,- (satu miliar tiga ratus delapan puluh tujuh juta tiga ratus rupiah). Hingga laporan ini dibuat, penarikan dana masih dalam proses. "Kami pakai sistem tebar kupon ke madrasah se Kudus. Per kupon ada yang nilai santunannya 3 riu (MI/SD NU) dan 5 ribu (MTs, MA/SMK NU). Yang lain jelas mengandalkan santunan dermawan," terang Anas.

    Selain kupon ke sekolah, panitia juga membuat proposal untuk diberikan kepada aghniya' masing-masing ranting. Jumlah proposal yang di buat panitia ada 13.500 buah. Setiap ranting atau desa mendapat 100 proposal.

    Untuk menyukseskan acara NU Berbagi tersebut, Rais Syuriah KH M Ulil Albab Arwani memberikan support penuh dan insyallah dijadualkan hadir saat santunan. Karena itulah, PCNU Cabang Kudus memberikan kesempatan kepada Anda untuk ikut berbagi dengan sesama. Caranya, Anda bisa langsung transfer ke rekening Lazisnu berikut ini:

    1. BRI Syari’ah (Kode Bank: 422)
    - Untuk Zakat ke Nomor Rekening 1019352605 (BRIS) atas nama Lazisnu Kudus.
    - Infaq dan Sedekah ke Norek 1019352737 (BRIS) atas nama Lazisnu Kudus.

    2. Bank Syari’ah Mandiri (Kode Bank: 451)
    - Untuk Zakat ke Nomor Rekening 7074384212 (BSM) atas nama Lazisnu Kudus.
    - Infaq dan Sedekah ke Nomor Rekening 7064846013 (BSM) atas nama Lazisnu Kudus.

    Dana yang Anda sedekahkan nantinya bukan hanya untuk santunan yatim dan fakir miskin. Pasalnya, panitia juga akan menyelenggarakan Khatmil Qur’an yang dimulai pada jam 12.30 – 15.00 WIB di tempat yang sama.

    Peserta Khatmil Qur’an ditargetkan berjumlah 450 kader NU dari unsur Banom NU sekabupaten Kudus yaitu Ansor, Fatayat NU, IPNU dan IPPNU dengan target khataman hingga 21 kali. Tak tanggung-tanggung kan manfaatnya? [dutaislam.com/ab]

  • [Premanisme] Sweeping, Anggota FPI Mencak-Mencak di Rumah Anggota Banser Bangil

    Admin: Duta Islam → Selasa, 06 Juni 2017
    Banser Bangil pasuruan bentrok dengan FPI

    DutaIslam.Com - Nahi mungkar dengan cara yang mungkar, hasilnya memang makar. Itulah yang terjadi ketika anggota Front Pembela Islam (FPI) melakukan sweeping bebas kepada anggota Banser di rumah pribadinya, Bangil, Pasuruan, Senin (08/05/2017).

    Gara-gara tidak terima unggahan anggota Banser di Faceboonya tentang FPI dan sang imam besar anggota FPI yang berjumlah 14 orang langsung mensweeping tanpa tabayun, tanpa ngopi dan tanpa nasihat. Lagak seperti preman saja, mereka nantang-nantang seluruh anggota Banser yang ada di ruangan itu. Kebetulan hanya ada 4 orang.

    Terjadi bentrok dan saling tuding serta pelototan mata, padahal duduk perkara belum tuntas dibicarakan. Salah satu anggota Banser, teman tuan rumah yang disweeping sempat menimpali ancaman anggota FPI yang sedang tampil gagah bersedekap tangan itu dengan ucapan, "kalau caranya seperti ini, jangan salahkan kami melakukan hal yang sama," katanya.

    Dengan tenang, anggota FPI yang berpeci putih berpakaian hitam itu menjawab enteng, "silakan, silakan!". Karena jawabannya tidak meneduhkan, bahkan bernada menantang, tentu tuan rumah tidak terima. Di rumah orang lain, anggota FPI Bangil seperti binatang, tidak punya adab dan memang angkuh melawan.

    Akhirnya, tuan rumah pun geregetan atas jawaban anggota FPI yang kurangajar itu. Dia naik meja. Bukannya mundur, orang FPI itu tambah jumawa. Ia ikut naik meja di rumah tuan rumah sendiri. Dengan sedekap pula, kayak dia paling pandai gelut saja. Kurangajar tenan. Pemandangan ini di rumah orang loh, bukan rumah setan.

    Jelas saja si tuan rumah tidak terima dia ditantang di rumahnya sendiri. Pecahlah bentrok fisik di ruang tamu. Keduanya memulai duel dari atas meja hingga terjadi saling dorong, jatuh. Siapa juga yang terima rumahnya diinjak-injak oleh anggota front berkelakuan setan itu. Keroyokan dicegah.

    Usai keduanya dilerai, bukannya selesai malah di luar ruang tamu ada anggota FPI masih mancing gebuk-gebukan. "Sudah-sudah, ini rumah orang," kalimat itu tidak dihiraukan oleh anggota FPI lainnya. Namun, oleh situs kurangajar macam nugarisbengkong.com, video berdurasi 2:23 menit itu akhirnya dipelitir, seolah FPI jadi korban. Playing victim sudah biasa mereka lakukan, walau yang membuat keributan awal adalah FPI.

    Kabar yang diterima Dutaislam.com, keduanya akhirnya sepakat tidak boleh sweeping sembarangan ke rumah warga. FPI tidak berhak apapun di rumah warga. Apalagi main geruduk tanpa diterima oleh tuan rumah. Ajaran Kanjeng Nabi, jika masuk rumah orang lain, permisi dulu dengan assalamualaikum, bukan laktnatullah alaikum.

    Begitu ya Bib, anak buahnya ditata dengan akhlak. Jangan kayak Tufail, nyelonong ke rumah orang tanpa permisi lalu mencak-mencak sak kerepe dewe. Anak buahnya saja begitu, lalu pimpinannya kayak apa jadinya? Mau nyelonong mencak-mencak makar ke NKRI? Duh! [dutaislam.com/ab]

  • Indonesia Ini Sedang Bebal, Sedang Summun Bukmun Umyun kah?

    Admin: Duta Islam →

    Oleh Emha Ainun Nadjib

    DutaIslam.Com - Aku sangat percaya kepada Allah dengan hidayah-Nya di Al-Qur`an, sampai ke taraf – mohon maaf, istilah Bahasa Indonesianya: membabi-buta. Tentulah penggunaan idiom itu sangat tidak sopan dan terasa sangat mengotori. Tetapi kalau saya pakai kata total, absolut, sepenuhnya, atau mungkin harga mati – rasanya kurang mengandung emosi dan energi sebagaimana kata membabi-buta.

    Tapi sudahlah. Babi juga ciptaan Allah, dan ia merupakan salah satu makhluk yang toh kita bisa belajar darinya serta mempelajarinya. Masalahnya, menjelang menulis ini, saya merasa sangat “terganggu” oleh sejumlah firman Allah di Al-Qur`an. Saya berniat setiap sebelum sahur mempersembahkan tulisan kepada saudara-saudara saya, anak cucu, sahabat-sahabat dan handai tolan. Tetapi memasuki hari keempat, saya dicegat oleh ayat.

    Sebenarnya yang mengganggu adalah pikiran saya sendiri. Sebelum ini saya menulis: “Indonesia itu kebal. Saya menyuguhinya minuman kasih sayang, tidak membuatnya bersyukur. Saya kasih buah kearifan dan kebijaksanaan, tidak mengubah perangainya. Saya berikan tablet ilmu, thariqat, kaifiyat dan makhraj, tidak membuat sakitnya reda. Saya suntik dengan ijtihad, fenomenologi, alternatif dan innovasi: juga tidak mempan…”. Akhirnya saya merasa minder dan tidak percaya diri.

    Pada momentum psikologis seperti itu saya dihantam oleh Surat Al-Isra` 27: “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudaranya Setan, dan Setan itu pembangkang Tuhannya”. Saya merasa ditindih batu besar yang berupa rasa sia-sia. Saya mensedekahkan apapun, mubadzir bagi Indonesia.

    Apalagi Al-Qur`an menyusulkan pernyataan Allah yang lain dari Al-Baqarah 216: “Boleh jadi yang kamu benci itu baik bagimu, dan bisa juga yang kamu cintai itu buruk bagimu”. Saya sangat membenci penyakit-penyakit yang merasuki Indonesia: gara-gara ayat itu saya menjadi ragu apakah Indonesia ini sedang mengidap penyakit-penyakit, ataukah sebenarnya baik-baik saja.

    Tetapi faktanya saya tidak bisa mengelak dari pengetahuan dan pengalaman bahwa Indonesia memang sedang dirundung bermacam-macam sakit dan penyakit. Misalnya, ketidaktepatan ilmu dan pengetahuan. Kemelesetan pemetaan atas dirinya sendiri. Kekacauan mental. Dismanagemen berpikir. Terserimpet oleh pengkutuban-pengkutuban nilai yang ia khayalkan sendiri. Terbalik memperlakukan tujuan dengan jalan. Ketidak-seimbangan per-bagian urusan maupun ketidak-seimbangan dalam keseluruhan. Hidup bergelimang berhala. Terlalu banyak yang diTuhankan dan diNabikan sampai tak pernah usai bertengkar, bermusuhan dan saling membenci.

    Tetapi pengetahuan itu membuat saya merasa seperti Iblis, yang sebelumnya, sebagai Malaikat ia mempertanyakan kenapa Tuhan menciptakan Khalifah: “Toh pekerjaan mereka adalah merusak bumi dan menumpahkan darah”. Al-Baqarah 30. Bahkan ketika saya bertahan tidak mau membungkukkan badan kepada manusia, terutama Penguasa Negara, saya merasa seperti Iblis yang tidak mau memenuhi perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. 

    Ditambah lagi ada suara-suara yuwaswisu fi shudurinnas, membisik-bisiki telinga saya: Memangnya kamu siapa, kok merasa mampu melakukan sesuatu atas Indonesia yang dahsyat? Siapa yang memandati kamu untuk mengurusi Indonesia?

    Terbersit di benak: bahwa saya mungkin sekedar seekor semut yang berlari mengangkut setetes air, menuju tempat Nabi Ibrahim dibakar, dan bermaksud ikut memadamkannya. Setan mentertawakan saya. Saya menjawab sebagaimana semut itu: “Saya sekedar menunjukkan keberpihakan saya kepada Ibrahim”. Tetapi sebuah firman menghantam saya dari Al-Qashash 56: “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi. Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya”.

    Jari-jari saya menjadi kelu. Pikiran saya buntu. Saya bertanya: “Ya Allah, Indonesia ini sedang Engkau beri peringatan agar selamat. Ataukah Engkau uji supaya naik derajat. Ataukah engkau adzab karena berulang-ulang melakukan dosa serta memaksiati-Mu?” Dan firman-firman terus menyerbu.

    “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman. Padahal sebenarnya mereka sedang menipu diri mereka sendiri, namun mereka tidak sadar. Dalam hati mereka terdapat penyakit, dan Allah menambahi penyakit-penyakit mereka. Bagi mereka adzab yang dahsyat, disebabkan karena tak henti-henti mereka berbohong. 

    Bila dikatakan kepada mereka ‘Janganlah membuat kerusakan di bumi’, mereka menjawab ‘Kami sedang menyelenggarakan pembangunan’. Sesungguhnya merekalah pembuat kerusakan, tapi mereka tidak sadar”.

    “Allah memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan”. “Shummun bukmun ‘umyun fahum la yarji’un. Telinga mereka pekak, mulut mereka bisu, mata mereka buta, dan tak akan bisa kembali….”. Lumpuh tangan dan seluruh tubuh saya. [dutaislam.com/ab]

    Ditulis di Yogya, 30 Mei 2017/ 4 Ramadhan 1438 H.