Selasa, 02 Mei 2017

Tak Berani Hadapi Banser, Puisi Dibuat Amunisi Kaum Picik Bumi Datar Untuk Berkurangajar


Oleh Ahmad Saefudin

DutaIslam.Com - Hobi kaum bumi datar kembali bertambah. Selain marah-marah, bawa fentung, koar-koar khilafah, maki-maki mamarika-wahyudi, rebonding jenggot, suka ngigau yang tidak jelas, sekarang mereka pandai berpuisi. 

Jika belum baca puisi dan bantahannya dalam bentuk puisi juga, silakan baca dulu: [Mati Gaya] Nyindir NU Pakai Puisi Khilafah, Ini Bantahan Puisinya Juga.

Tapi, puisi murahan yang digubah semakin menunjukkan kedunguan mereka. Maklum saja, mau berhadap-hadapan langsung dengan Banser NU tak ada nyali. Jadi, main "sindir" melalui puisi lebih aman.

Sayangnya, Banser dan santri NU sudah "ngeh" dengan propaganda antum. Propaganda usang dengan cara "saling membenturkan" dua hal yang seakan-akan bertentangan hanya untuk menunjukkan seolah kalian paling "benar" dan yang dilakukan Banser NU "salah". Semua itu sudah terbaca. Kalian kira, semudah itu Banser NU akan terhasut dan terpancing oleh "isu" murahan yang antum lempar ke publik? Gak lah coyyy..

Sini dech! Buka lebar-lebar itu antum punya kuping. Antum ingin persoalkan koruptor, "illegal logging", prostitusi, bandit pajak, pengusaha nakal, iya kan? Soal korupsi, semuanya sudah jelas. Tindakan ini termasuk kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Siapapun bisa menjadi pelaku. Asalkan ada kesempatan. 

Tidak hanya politisi dan birokrat, kyai atau ustadz pun bisa khilaf kalau lihat tumpukan "dollar" yang gak bertuan. Bahkan, oknum ustadz yang kalian dambakan, hafal al-Qur'an, dari Partai Islam yang visinya menyejahterakan, eh.. tak tahunya matanya "ijo" juga lihat duit. 

Menangkal perilaku koruptif menjadi tanggung jawab kita bersama. Kalian pikir NU diam? Banser "mlongo"? Anak-anak muda Nahdliyyin berpangku tangan? Picik sekali pikiran kalian. Apa kalian belum pernah baca buku "Jihad Nahdlatul Ulama Melawan Korupsi" yang disusun atas kerjasama antara Lakpesdam PBNU, Jaringan Gusdurian, dan KPK? Mbok ya mikir dulu sebelum ngomong. Jangan asal njeplak

Kalian bicara soal separatisme? Ok! Siapa bilang Banser NU pasif soal ini. Gerakan separatis apapun motifnya, merupakan musuh utama NU. "NKRI harga mati" bukan sekadar jargon bagi Banser NU. Ini adalah doktrin yang diajarkan kiai dan ulama Nusantara. Nasionalisme itu bagian dari pengamalan nilai-nilai agama. Cinta tanah air, berarti menerima Indonesia, lengkap dengan Pancasila, UUD 1945, dan keanekaragaman yang ada. Bukannya malah "ngasong" khilafah. 

Baru mimpi mengganti Pancasila dengan "hukum agama" saja sudah bisa dikatakan sparatis. Apalagi, antum mengidealkan khilafah, mendirikan negara Islam sebagai pengganti NKRI, itu lebih dari sparatisme. Namanya sudah makar. Wajib ditindak tegas sesuai konstitusi yang berlaku. Selama ini siapa yang berani melawan? Banser NU. Siapa lagi?

Pindah kepada isu komunisme dan PKI. Antum pikir Banser NU setuju? Baca itu buku-buku sejarah. Jangan hanya baca referensi Wahabi "tok". Biar tidak sempit cara berpikirnya. Nih! Ada rekomendasi buku bagus yang mengkaji secara mendalam soal NU-PKI. Judulnya, "Benturan NU-PKI 1948-1965." Yang nulis orang NU tulen, Abdul Mun'im Dz. 

Kalau sudah baca, baru dech! Kita diskusi hingga berbusa-busa. Meskipun sebenarnya, memunculkan isu komunisme sudah tidak lagi relevan. Apalagi jika komunisme sudah dimaknai secara eksklusif sebagai paham anti-Tuhan. Lepas dari aspek politik global. Aduh! Capek dech! Buang dulu sindrom paranoid antum tentang komunisme. Baru kita "ngopi" bareng.

Antum juga menyinggung HAM dan LGBT. Itu mah, makanan kaum muda NU sehari-hari. HAM yang kata antum lahir dari negara Barat sekuler yang kapir itu, sebenarnya sudah menjadi perbincangan lama alias "kuno" bagi santri NU. Istilahnya saja yang agak beda. 

Orang Barat menggunakan terminologi HAM, Santri NU lebih suka menyebutnya "Maqashid Asy-Syariah". Esensinya hampir sama. Imam Abu Ishaq al-Shatiby menjelaskan, tujuan pokok bersyariat ala Islam sekurang-kurangnya memenuhi 5 unsur pokok, 1) Hifdz Ad-Din (Memelihara Agama); 2) Hifdz An-Nafs (Memelihara Jiwa); 3) Hifdz Al’Aql (Memelihara Akal); 4) Hifdz An-Nasb (Memelihara Keturunan); dan 5. Hifdz Al-Maal (Memelihara Harta). Masih mau berdebat soal HAM? 

Tentang LGBT yang antum anggap najis, penyakit psikologis, sampah masyarakat, dan wajib dibumihanguskan, tentu semua itu ada mekanisme hukum yang mengaturnya. Serahkan semua pada mereka. Jangan mentang-mentang bawa "fentungan" terus bisa seenaknya menghajar komunitas LGBT. Kalau itu terjadi, Banser NU akan "pasang badan" bagi komunitas LGBT. Bukan karena sepakat dengan mereka, tapi semata untuk melindungi sisi-sisi kemanusiaan yang akan antum renggut. Dalilnya jelas, "maqashid al-syariah"-nya Imam Shatibi. 

Topik tawasuth dan ukhuwah yang kata antum masih dipraktikkan secara kedodoran oleh Banser NU, itu adalah tuduhan semu yang sama sekali tidak berdasar. Banser NU tidak pernah tidak sejalan dengan suatu pemikiran, asalkan masih dalam koridor "fikrah nahdliyyah" sebagaimana yang diwariskan oleh KH. Achmad Shiddiq sejak tahun 1969. Isinya (antum pantengin baik-baik ya), 1) Fikrah Tawassuthiyyah (pola pikir moderat), artinya NU senantiasa bersikap tawazun (seimbang) dan I’tidal (adil) dalam menyikapi berbagai persoalan. 

Kalau antum terlalu literalis alias "lenceng galeng" atau liberalis (bebas kebablasen), berarti keluar dari Fikrah Tawassuthiyyah. 2) Fikrah Tasamuhiyyah (pola pikir toleran), artinya NU dapat hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain walaupun aqidah, cara pikir, dan budayanya berbeda. Jika antum masih mudah mengkopar-kapirkan dan membid'ah-sesatkan kelompok lain, ya jangan salahkan jika Banser NU tidak sepakat dengan jalan pikir antum. 

3) Fikrah Ishlahiyyah (pola pikir reformatif), artinya NU senantiasa mengupayakan perbaikan menuju ke arah yang lebih baik (al-Ishlah ila ma huwa al-ashlah). Jika antum sukanya marah-marah, hobi mancing keributan, jauh dari potret kesantunan, ya jelas tidak sepaham dengan pemikiran Banser NU. Betul tidak? 

4) Fikrah Tathawwuriyyah (pola pikir dinamis), artinya NU mudah sekali melakukan kontekstualisasi dalam merespons berbagai persoalan. Jika antum masih "ngigau" ingin kembali hidup ke zaman Nabi di tengah era modernitas seperti sekarang ini, Banser NU hanya bisa mengucapkan, "selamat menikmati kejmudan!" 

5) Fikrah Manhajiyyah (pola pikir metodologis), artinya senantiasa menggunakan kerangka berpikir yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan oleh NU. Kalau antum pilih ideologi Wahabi, sama saja terang-terangan melawan Banser NU yang gigih melestarikan ajaran ulama dan para kiai. Begitu kira-kira.

Antum mulai mengkampanyekan HTI dan PKS, seakan-akan ormas dan partai itu yang paling Islam. Hello...!!! Ke mana saja antum selama ini? Terus antum anggap apa kesuksesan dakwah para wali sehingga Islam bisa menjadi agama mayoritas di bumi Nusantara? Apa ini sama sekali tidak ada nilainya? 

Bukankah antum yang sejauh ini paling kenceng membid'ah-sesatkan warisan ajaran wali seperti tahlilan, ziarah, manakib, al-barzanji, istighosah, qunut, dan tawassulan? Siapa yang mampu menjaga nilai-nilai luhur ini? Sudah pasti NU. Bukan HTI, apalagi PKS. Titik. Silakan dibantah.[dutaislam.com/ab

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini