Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Puisi Bantahan Santri Untuk yang Anti NU dan Anti NKRI Tapi Sok Islami

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Rabu, 03 Mei 2017
    A- A+
    Ilustrasi teriak ilusi
    DutaIslam.Com - Menjawab puisi Makmun Murod yang nyinyir kepada kelompok yang dia sebut sebagai paling NKRI dan paling Pancasila yakni NU dan Banser, redaksi Dutaislam.com memuat dua puisi yang membantah puisi murahan itu.

    Sebelumnya, puisi sindiran Makmun Murod sudah dikuliti dengan puisi jawaban dari M Abdullah Badri serta dibalas dalam bentuk narasi oelh Ahmad Saefudin. Jika Anda belum baca, silakan kunjungi:

    1. [Mati Gaya] Nyindir NU Pakai Puisi Khilafah, Ini Bantahan Puisinya Juga
    2. Tak Berani Hadapi Banser, Puisi Dibuat Amunisi Kaum Picik Bumi Datar Untuk Berkurangajar

    Berikut adalah puisi yang melengkapi dua judul di atas.

    Mau Kamu Apa Sih?
    Oleh Ismail Amin

    Kau ngotot mengaku diri membela Islam

    Tapi…

    Perampok dana haji tidak kau persoalkan
    Penilep uang pengadaan Al-Qur'an tidak kau adukan
    Pemerkosa santri-santriwati berkedok ustad tidak kau tuntut
    Penerima suap padahal presiden partai dakwah tidak kau kecam
    Penonton film tidak senonoh di gedung DPR padahal fraksi partai Islam, tidak kau gugat
    Politisi PKS yang berzina dengan anak sekolah di dalam mobil tidak kau risaukan
    Padahal mereka itulah yang menistakan Islam yang sebenarnya

    Lalu mau kamu apa sih?

    Gerakan teroris membawa bendera Islam tidak kau lawan 
    Bendera tauhid dibajak ISIS dan tidak kau persoalkan
    Ormas-ormas Islam bermunculan tapi kerjanya mengutuk, mengumpat dan menyebar kebencian, tidak pernah kau hiraukan bahkan kau dukung
    Padahal mereka itulah yang merusak citra Islam yang sebenarnya

    Lalu mau kamu apa sih?

    Kau musuhi China, kau sebut akan merusak Islam, tapi Raja Salman yang kau elu-elukan malah menginvestasi di China 10 kali lipat dari yang diinvestasikan di negaramu, dan kau diam saja

    Kau benci komunis, padahal Erdogan sendiri yang kau gadang-gadang sebagai khalifah, malah membangun aliansi dengan Rusia, dan kau bungkam 

    Kau kecam Densus dan menyebutnya musuh umat Islam, padahal Paduka Salman yang kau sanjung setinggi langit, justru menggelari syuhada bagi anggota Densus yang gugur dalam tugasnya, dan kau tutup mulut

    Kau klaim Islammu itu anti kekerasan dan teror, tapi kau puja-puja teroris yang tertembak sebagai syuhada dan mati syahid

    Lalu mau kamu apa sih? 

    Doyan sekali teriak-teriak bela Islam, bela ulama, bela Al-Qur'an tapi ulama-ulama yang tidak sependapat kau musuhi dan kecam sedemikian rupa, terhadap pikiran yang tidak sejalan dengan mudah kau musuhi, pengajian-pengajian kau bubarkan hanya karena bukan pengajian ustad-ustadmu, pada pemikiran Islam yang berbedamu dengan enteng kau cap Syiah, liberal, komunis, sesat dan kafir

    Lalu mau kamu apa sih?

    Demen sekali koar-koar ingin tegakkan khilafah Islamiyah, ingin dirikan negara Islam, mengapa tidak kau minta raja-raja Arab untuk bersatu dan tegakkan khilafah? mengapa tidak kau tuntut negara-negara Arab lebih dulu pake nama Islam, yang ada malah nama kabilah, satu-satunya di Timur Tengah yang menamakan negaranya Republik Islam dengan bangga hanya Iran, itupun kau nyinyiri dan kafir-kafirkan

    Lalu mau kamu apa sih?

    Kau selalu merasa paling benar
    kau selalu merasa paling Islami
    kau selalu merasa paling tahu Al-Qur'an
    Kau anggap diluar dirimu tidak paham Islam dan anti Islam
    Kau anggap diluar dirimu tidak paham Al-Qur'an dan anti Al-Qur'an
    Kau anggap diluar dirimu tidak paham syariat dan anti syariat

    Lalu mau kamu apa sih? 

    (Qom, 30/4/2017)

    _____________________________________

    "Enyah Kau dari Negeri Ini!"
    Oleh Abdur Rahman Hadi

    Eh, rupanya nyinyir lagi
    Penggemar khilafi yang khilaf, ya akhi
    Kau minta kami persoalkan pelaku kriminalisasi
    Sepertinya Anda lupa diri 
    Toh kalian sendiri anti demokrasi
    Ko minta kami berbuat dengan produk demokrasi
    Kau tanya kami, mau apa sih?
    Jawab kami, enyah kau dari negeri ini!

    Eh nyinyir lagi
    Sepertinya Anda kurang ngopi
    Jadi tak tahu TNI dan Polisi sudah beraksi di tanah dani
    Kami tahu tupoksi TNI dan Polri
    Dan tak senang main hakim sendiri
    Tak seperti Anda yang berpura-pura bisu dan tuli
    Yang kerap demonstrasi namun lupa diri
    Bahkan memprovokasi berbalut syar'i

    Teriak PKI di sana sini
    Kebakaran jenggot sendiri
    Semua bukti tak kau sodori
    Sekedar provokasi berbalut ilusi
    Eh khilaf, ya akhi
    Tuduh sana sini berdalih atas nama hak asasi
    Dimintai bukti engkau lari 
    Lalu nyinyir penuh arti

    Rupanya Anda benar-benar lupa diri, ya akhi 
    Kau pikir bersikap tasamuh dan tawasuth seperti menyeduh kopi
    Atau semudah mengkafir-kafiri
    Hobi yang begitu kau gemari
    Jalan kami adalah rahmatan lil 'alamin
    Bukan hanya rahmatan lil muslimin
    Tak mungkin ukhuwah islamiyah kami jalani
    Tanpa ukhuwah basyariyah dan wathaniyah mengiringi
    Karena kami sadar hidup di NKRI bukan negeri khilafi yang penuh ilusi
    Belum jelaskah sikap kami hingga kau tanyai
    Tak sudi kami jika ada negeri ilusi dalam NKRI

    Eling toh, akhi
    Jelas-jelas Anda tak sepaham dengan NKRI
    Jadi kami tak tinggal diam tanpa aksi
    FPI jelas kami awasi karna kami tak ingin dikhianati
    Lebih lagi PKS yang bersembunyi dalam bingkai demokrasi
    Ingat duhai akhi-akhi
    Kami tak sudi ada khilafi di negeri ini!
    Maka enyahlah dan pergi jangan kembali!

    Tak pernah kami merasa paling NKRI
    Paling Pancasilais, paling Bhineka atau palling Indonesiawi
    Itu hanyalah tuduhanmu yang tak suka kami beraksi
    Sikap putra-putri pertiwi yang menjaga dan memelihara pertiwi ini
    Menjaga dari daganganmu yang tak pernah terbukti 
    Baik naqli ataupun aqli
    Atau rongrongan mereka yang bersembunyi 
    Dalam bingkai-bingkai demokrasi

    Lalu pantaskah kau mempertanyakan kami
    Bukankah kami pantas untuk beraksi
    Menjaga NKRI dari rongronganmu hai khilafi
    Menjaga NKRI dari kroco-krocomu yang bersembunyi
    Yang tak berani membuka diri

    Maka inilah mau kami
    Enyahlah kau dari negeri ini
    Pergi dan jangan pernah kembali

    30/4/2017 

    Redakdsi Dutaislam.com hanya memuat tanpa memesan kedua puisi dan narasi di atas untuk membantah Makmun Murod yang sepertinya sudah tidak punya cara taktis untuk melunturkan legitimasi Banser menjaga persatuan dan keutuhan NKRI. [dutaislam.com/ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    1 komentar:

    Bagaimana bisa kalian mewakili suara kami
    Bila mulutmu menyemburkan ujar kebencian
    Bagaimana bisa kalian ada di Majlis terhormat itu
    Bila memfitnah,menghasut biasa kalian lakukan
    Bagaimana bisa kami menyebutmu ulama
    Meski sorban membungkus sekujur tubuh
    Bila kalian ingin menghancurkan negeri ini
    Mengganti sendi dan fondasi negeri
    Yang telah dibangun para Ulama
    Bagaimana bisa kalian menjamur di negeri kami
    Menularkan ludah api pada tunas bangsa ini
    Untuk membakar dan merobohkan rumahnya sendiri
    Bagaimana bisa kalian menusuk punggung negeri ini
    Yang telah memberimu makan,membiarkan kalian menghirup udaranya
    Bagaimana bisa kalian menahan malu tak menghargai
    Guru,orangtua dan pendahulu kalian
    Karena tanpa Wali Wali kami
    Kalian tetap Jahiliah
    Dan kini dengan lantangnya kalian Kafirkan
    Bagaimana bisa kalian tetap ada di negeti kami
    Pergilah dan sebarkan impian kalian
    Di negeri impian kalian
    Sekali lagi Bagaimana bisa kalian tetap di negeri ini
    Kami takut sudah tak tahan menunggu ketok palu
    Penguasa negeri
    Pergilah atau jangan koyak NKRI ini