Dutaislam.com mendukung gerakan deradikalisasi dan anti teror di media sosial!

  • Lucunya Orang Ini yang Mensyirikkan Penyebutan "Gusti" kepada Allah Swt

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Selasa, 02 Mei 2017
    A- A+

    DutaIslam.Com - Istilah "Gusti" yang disematkan untuk menyebut Allah Yang Maha Agung, ternyata dianggap orang Islam sebelah sana, (yang suka bid'ahkan itu), sebagai syirik. Dalam sebuah screenshoot yang beredar di kalangan pengguna WhatsAppa, ada kelompok yang nyinyir istilah Gusti Allah di sebuh grup DPP FJI.

    Ia mengatakana begini, "Islam yang bertauhid tidak mengenal istilah Gusti. Karena Gusti itu gelar raja Mataram Jawa. Dan Alloh tidak boleh disamakan dengan manusia walaupun raja. Panggilan atau kalimat Gusti disambungkan dengan Alloh Swt termasuk dalam mempersekutukan Alloh Swt. Naudzubillah min dzalik." begitu tulisnya. Ini bukti screenshoot yang didapatkan redaksi Dutaislam.com pada Senin (02/05/2017)

    Istilah Gusti adalah syirik bagi sumbu pendek
    Husnudzon saja kalau pembuat statemen ngawur itu bukan orang Jawa. Dalam kultur Jawa, istilah penghormatan kepada manusia yang memiliki kedudukan duniawi, bisa dipakai untuk mengabarkan Tuhan. Meskipun begitu, tidak ada yang menyamakan Tuhan kepada makhluknya. Orang Jawa sangat pintar memuji Allah Swt hingga masuk dalam pemahaman batin.

    Gusti bagi Allah Swt bukan bermakna menyamakan, tapi mengabarkan kemuliaan. Gusti memang sebutan khas Jawa kuno kepada para bangsawan, yang dimuliakan orang awam. Kamus Bahasa Indonesia bahkan menjadikan istilah Gusti sebagai "sebutan untuk Tuhan (atau yang dianggap Tuhan)".

    Gusti Kang Kuoso, jelas tidak tidak sama hakikatnya dengan Gusti untuk raja yang ia manusia. Yang berkuasa jelas Allah, tapi manusia yang memiliki kehormatan di mata manusia, bisa disebut Gusti. Jadi, orang Jawa itu tahu menempatkan istilah.

    Mereka yang menyebut syirik istilah Gusti yang disamping kata Allah, tidak mengenal istilah Jawa "ngono yo ngono tapi yo ora ngono (ya begitu, tapi tidak seperti itu)". Gusti memang begitu (untuk raja) tapi tidak seperti itu (akhirnya menyamakan dengan Tuhan). Orang Jawa sangat paham mengali substansi.

    Kalau cara berislamnya pakai kulit luar yang akan diketawain sama Wali Paidi. Ia bahkan bisa menemukan kenikmatan berdzikir di tengah manusia lain sedang dangdutan. Ngono yo ngono, tapi (nyatane) yo ora ngono. 

    Ada cerita, dulu Gus Dur menolak gelar pemberian gelar Gusti dari Keraton Solo. Bukan karena gelar itu tidak cocok. Konon, Gus Dur menolak gelar itu karena kalau ia pakai di depan sebutan mashurnya, tidak enak diucapkan, jadinya Gusti Dur (Gus Tidur). Hahaha. Guyon wae kang. Jangan dibawa ke mimpi. Gusti Allah mboten sare. Tuhan lebih tahu isi hati hambanya. [dutaislam.com/ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    1 komentar:

    Setuju dengan artikel ini. Dalam bhs Inggris salah satu terjemahan ayat memakai istilah Lord untuk Allah swt.

    Jesus said, "And indeed, Allah is my Lord and your Lord, so worship Him. That is a straight path." Qur'an 19:36.

    Istilah Lord kan juga digunakan untuk Bangsawan Inggris..misalnya Lord Rayleigh, Lord Kelvin..

    Di tanah Sunda lumrah terdengar "Gusti Allah, Pangeran abdi!"
    Orang yg mensyirikan diatas benar benar tercerabut dari apa yg dinamakan budaya..