Dutaislam.com mendukung gerakan deradikalisasi dan anti teror di media sosial!

  • Kisah Seorang Alim Kaya Raya yang Menangis Setelah Bangun Rumah Megah

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Rabu, 03 Mei 2017
    A- A+

    DutaIslam.Com - Seorang alim yang kaya dan dermawan sedang membangun rumah megah. Semua pintu, jendela, lantai dan sebagainya dibuat dari bahan yang berkualitas dan dipilih terbaik diantara material bangunan lainnya.

    Ketika rumah sudah jadi, ia mengajak setiap orang yang lewat untuk mampir ke rumah barunya itu. Mereka dijamu makan dan pulangnya diberi amplop berisi uang.

    Suatu hari, seorang miskin lewat rumah itu dan diajak mampir untuk makan. Dia juga ditanya pemilik rumah yang alim tersebut ihwal kekurangan bangunan rumahnya. Si miskin pun dengan jujur menjawab bahwa rumah itu telah sempurna semuanya. 

    Ia akhirnya diajak keliling lagi. Namun lagi-lagi tak ditemukan kekurangan pada rumah itu menurut si miskin. Si miskin pamit pulang. Tapi ketika sampai di luar pagar rumah, dia kembali lagi dan bertanya kepada pemilik rumah, mengapa ia tidak diberi amplop seperti tamu lainnya.
     
    Pemiluk rumah menjelaskan bahwa setiap orang yang bisa menunjukkan kekurangan bangunan rumahnya, akan diberi uang. Demi mendapatkan amplop, si miskin mengarang kekurangan rumah tersebut. Rumahnya yang reot amat jauh dibanding rumah megah tersebut. 

    "Rumah tuan sudah bagus tanpa kekurangan, hanya sayang, tanah tuan yang satunya belum dibangun," begitu kata si miskin. 

    Pemilik rumah senang atas uraiannya. Ia memberi amplop berisi uang kepada si miskin.

    Setrlah si miskin pulang orang alim sang empunya rumah memanggil pembantunya, 

    "Apakah ada tanahku yang lain atau ayahku meninggalkan warisan tanah yang lain untukku?" Pertanyaan itu hanya dijawab pembantu "Tidak ada tuan". 

    "Hanya tanah ini yang diwariskan oleh ayahanda Anda, Tuan," tambah sang pembantu. 

    "Lalu kenapa orang tadi bilang tentang tanahku yang lain, yang belum saya bangun?"

    "Barangkali tanah dimaksud si miskin tadi adalah tanah kuburan Anda kelak, Tuan". Ia teehenyak atas jawaban pembantunya. Tanpa tertahan, sang alim menangis. Padahal rumah barunya baru jadi. [dutaislam.com/ab]

    Rubrik:

    carita
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: