Dutaislam.com mendukung gerakan deradikalisasi dan anti teror di media sosial!

  • Ini Alasan Warga Suriah Memilih Pindah ke Eropa Daripada Negara Arab Tetangga

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Senin, 22 Mei 2017
    A- A+

    Oleh Ustadz Mochamad Ihsan Ufiq

    DutaIslam.Com - Saya pernah mendengar Pak Said Aqil Siroj berkata bahwa banyak negara Islam hancur karena perang. Penyebabnya adalah para ulama di sana kurang mengajarkan nasionalisme. Meski tidak benar 100 persen, namun ucapan beliau ada benarnya berdasar fakta yang saya jumpai pada orang sekeliling saya saat ini. Saya di Qatar sudah 10 tahunan, sehingga saya hapal betul wajah-wajah setiap negara.

    Sering sekali saya kenalan dengan:
    - Wajah Pakistan tapi ngakunya warga Inggris,
    - Wajah Arab Iraq ngakunya berpasport Inggris,
    - Wajah Ethiopia (kulit hitam) ngakunya warga Australia,
    - Wajah Syria ngakunya Kanada,
    - Wajah India ngakunya Amerika, dan lainnya. 

    Iya, mereka ada di sekeliling saya, berinteraksi setiap hari dengan saya. Awalnya saya tidak percaya, namun setelah mengetahui realitas berikut ini, jelas sudah maksudnya. Keterangan tertulis di bawah ini sekaligus sebagai jawaban dari pertanyaan, "kenapa warga Syria lebih memilih hijrah ke Eropa dengan mempertaruhkan nyawa sekeluarga daripada hijrah ke negara Arab tetangga yang lebih dekat?"

    Berikut penjelasannya:
    Saya punya murid, namanya Ammar, asli turunan Syria. Namun ia lahir di Kanada dan sampai saat ini membawa pasport Kanada sekeluarganya. Kemarin sebelum mengaji, saya berhasil menginterogasinya, dan berikut hasilnya. Saya tuangkan dalam beberapa poin:

    1. Kakek Ammar adalah salah satu petinggi IM di Syria. Di masa pemerintahan Hafid Assad (Bapak Basyar Assad), IM diusir dari Syria beserta jajarannya, dan tidak diizinkan beroperasi. Bahkan semua yang berafiliasi dengan IM dicabut kewarganegaraannya. Akhirnya mereka banyak berhamburan pergi mencari suaka ke negara lain.

    2. Lebih tragis lagi, pencabutan kewarganegaraan tidak hanya terjadi pada korban yang bersangkutan saja, tapi seluruh anggota keluarga hingga 7 turunan. Mereka tidak dianggap warga Syria lagi. Kesimpulannya, tidak ada satu pun anggota keluarga Ammar yang menetap di Syria sejak tahun 80-an sampai sekarang. Semuanya menyebar ke beberapa negara lain.

    Saya bertanya, kenapa warga Syria sekarang lebih memilih ke Eropa daripada negara Arab sebelah dengan mengorbankan nyawa sekeluarga di tengah derasnya ombak laut? Jawabannya begini:

    3. Negara-negara Arab tetangga, benar mereka membantu kami. Namun para pengungsi akan tetap dalam keadaan susah menahan derita kemiskinan sampai masa yang tak menentu. Sangat kecil ada peluang bagi untuk bisa bangkit menata kehidupan mereka dan anak-anak mereka kedepannya secara layak dan sejahtera.

    4. Andai mereka beruntung bisa mendapatkan kewarganegaraan baru (inipun membutuhkan waktu puluhan tahun dan jerih payah), status mereka sebagai pendatang akan tetap diperlakukan, imigran. Beda dengan penduduk asli dengan segala fasilitas yang diberikan pemerintah. Dari hal di atas, para pengungsi lebih memilih mengungsi ke negara-negara Eropa dan sekitarnya.

    5. Di Eropa, kehidupannya lebih menjanjikan. Mereka sangat welcome dengan kedatangan siapa saja. Tidak ada diskriminasi dan pengecualian bernada SARA secara umum. Bahkan para imigran memiliki hak untuk bisa mendapatkan kewarganegaraan secara mudah. Cukup dengan kita tinggal di sana selama lima tahun, lalu kita bisa mengajukan diri untuk menjadi warga negara.

    6. Ketika sudah menjadi warga Eropa, hak yang diberikan persis seperti yang diberikan kepada penduduk asli. Tidak ada diskriminasi. Seluruh kebutuhan sekolah, pengobatan, dan pelbagai kebutuhan hidup, terjamin.

    7. Bahkan Imigran yang sudah berpassport baru pun, ia masih berhak dan bebas masuk instansi manapun, termasuk berkarir dalam bidang politik dan masuk di jajaran pejabat pemerintahan. Makanya tidak heran jika Walikota London sekarang dijabat oleh seorang muslim asli Pakistan.

    Berdasarkan fakta-fakta diatas, saya sangat bersyukur menjadi orang Indonesia. Pemerintah dan ulama sepakat menjaga keutuhan NKRI dengan peran masing-masing. Dengan demikian, tidak kaget jika Indonesia dilirik menjadi ikon negara perdamaian dengan pelbagai macam perbedaan etnis, suku, agama dan kebudayaan masing-masing.

    Kemarin ketika saya memperbaharui pasport, saya diminta mengisi blanko pernyataan bahwa selama di luar negeri, saya tidak akan pindah kewarganegaraan. Ini adalah usaha yang bagus dari pemerintah demi menjaga anak emas bangsa supaya tetap pada pangkuan ibu pertiwi. (Bukan berarti saya anak emas yaaa! Kerikil hitam iya....hehe). 

    Demikian catatan ringkas yang dapat saya sajikan. Semoga kita dapat termenung bersama dan menjadi semangat baru untuk mempertahankan keutuhan sesama anak bangsa sebelum tercerai-berai. Dan dengan lantang mari kita ucapkan:

    "Uhibbu Indonesia Liannani Anduuniasiy" sebagaimana Nabi Muhammad Saw bersabda: "Uhibbul 'Arab Liannani Arabiy". Salam persatuan bangsa! [dutaislam.com/ab]

    Keterangan:
    Laporan di atas ditulis di Doha, 21 Mei 2017, diedit bahasanya oleh Dutaislam.com, 22 Mei 2017

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    1 komentar:

    Intinya, agar negara aman dan tenteram tugas para pemimpin adalah jangan zhalim. Agar para pemimpin tidak zhalim maka tugas rakyat adalah menjalankan amar ma'ruf nahi munkar sesuai kapasitas masing-masing. Krn kalau amar ma'ruf nahi munkar tidak dijalankan maka pemimpin zhalim pasti akan naik dengan sendirinya, sekalipun rakyat tidak suka. Jadi baik pempimpin maupun rakyat sama-sama harus menjalankan tugas. Namanya juga dunia, semua manusia mendapatkan tugas masing-masing.