Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • [Aneh] Dipuji Gantheng oleh Mbah Cholil Bisri, Banser Ini Pingsan

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Kamis, 25 Mei 2017
    A- A+

    DutaIslam.Com - KH Cholil Bisri semasa hidupnya terkenal pandai berpidato dan menulis. Putra pertama pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang KH Bisri Mustofa ini juga terkenal pintar berpolitik dan juga ahli ilmu hikmah.

    Khusus soal ilmu hikmah, Mbah  Cholil, sapaan akrab beliau ketika menggantikan sang ayah mengasuh pesantren, sejak muda sudah masyhur sebagai pendekar sakti. Banyak santri maupun masyarakat mengetahui kesaktian Mbah Cholil meskit tidak pernah sengaja dia tunjukkan.

    Kisah tentang ilmu kanuragan beliau bertebaran di khalayak melalui jalur tutur tinular. Yakni dari mulut ke mulut. Umumnya dibumbui cerita jenaka atau kejadian penuh tawa. Seperti kisah berikut ini.

    Suatu hari, pada masa PKB belum berdiri, Mbah Cholil diundang menjadi pembicara dalam suatu pengajian di Ponpes yang diasuh KH Dimyati Rois, di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah.

    Sebagaimana berlaku dalam aturan protokoler di pondok Kaliwungu tersebut, jika ada kiai naik panggung, harus dikawal anggota Banser sejak beranjak dari kursi tamu sampai ke atas pangung. Dan si Banser harus berdiri selama sang pembicara berpidato.

    Protokol itu pun berlaku kepada Mbah Cholil. Begitu pembaca acara mempersilakan beliau memberikan mauidhah hasanah, seorang Banser langsung berdiri tegap dengan sikap sempurna di depan beliau.

    Tangan diangkat ke kening, menghormat ala militer, lalu menawarkan tangannya untuk menggandeng Mbah Cholil. Yang ingin digandeng tidak bersedia. Mbah Cholil bangkit sendiri dan berjalan ringan menuju pangung.

    Si Banser pun berjalan di belakangnya dengan langkah formal khas militer. Lalu, begitu sang pembicara telah tepat berdiri di depan podium yang telah dipasangi microfon, si Banser pun berdiri dengan sikap istirahat di belakangnya. Badan tetap tegap, mata lurus menatap ke depan agak mendongak, tangan diselempangkan di belakang pinggang.

    Tanpa dinyana si Banser, Mbah Cholil yang telah memegang mic tidak mengucap salam untuk memulai pidatonya. Malah berbalik arah memandangi si Banser.

    Spontan hadirin tersenyum-senyum. Lalu meledak tawa saat melihat si Banser salah tingkah. Tubuhnya tetap tegak diam, tetapi raut mukanya tegang . Campur baur antara tersipu malu dan bangga dipandangi oleh kyai dalam jarak yang begitu dekat.

    Hadirin tambah terpingkal pingkal kala mbah Cholil tersenyum lalu menggelengkan kepala, tanda mengagumi si Banser. Tentu saja si Banser tambah tegang. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes deras di pipinya. Bahkan lalu mengalir dari dua pelipisnya, kanan kiiri. Jambang dan jenggotnya yang tipis pun jadi basah oleh lelehan keringat dingin itu.

    Tapi karena Banser sudah dilatih model disiplin militer, tubuhnya sama sekali tidak bergeming. Kepalanya juga tetap diam tak bergerak. Wajahnya tetap mendongak dengan mata tidak balas menatap orang yang sedang memandanginya.

    Situasi menjadi semakin rumit karena Mbah Cholil berlama-lama memandangi wajah di Banser. Blingsatan tak karuan dia. Suara hatinya mungkin ingin menundukkan kepala, lalu membungkukkan badan dan segera mencium tangan sang kyai di depannya itu. Tapi karena dia berposisi sebagai Banser yang menjalankan tugas protokoler, tak ada yg bisa dia lakukan selain tetap di posisinya tanpa bergerak.

    Di tengah derai tawa hadirin yang tak habis-habis, Mbah Cholil tambah semangat mengerjai si Banser. Beliau memandangi tidak hanya dari muka. Ditolah-toleh baret dan emlem si Banser, diamati baju seragamnya, diperhatikan pula sabuk dan celananya.

    Hadirin seolah lupa bahwa mbah Cholil akan berpidato. Mereka justru menikmati pemandangan jenaka itu, terpingkal pingkal menertawakan ketegangan yang dialami si Banser yang sedang dikerjai.
    Sampai akhirnya, Mbah Cholil berkata: “Gantheng tenan Banser iki”… (Tampan betul Banser ini).

    Seketika lunglailah tubuh si Banser. Di puncak ketegangannya itu, dia bagai disambar geledek kala dipuji ketampanannya, pingsan.

    Bukannya bergegas menolong, panitia maupun hadirin malah bertambah keras tertawanya.
    “Hahahaa…. Gerrr…Hahaha”…..

    Si Banser yang pingsan itu dibiarkan saja tergeletak, Mbah Cholil lantas pidato sesuai topik yang digelar malam itu.

    Tidak diceritakan, apakah si Banser segera siuman dan kembali berdiri di panggung mengawal kiai Cholil atau tidak. [dutaislam.com/ich]

    Keterangan:
    Sumber cerita ini adalah Gus Bisri Adib Hattani, keponakan KH Cholil Bisri. Diceritakan kepada Kang Ichwan (penulis) usai mengikuti Bahsul Masail PWNU Jateng di Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin Leteh, Rembang, Senin (01/05/2017) malam.
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: