Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • [Dialog] Kiai Kudus yang Niat Hebat Ingin Men-Jaulahkan NU

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Jumat, 19 Mei 2017
    A- A+

    DutaIslam.Com - Di sebuah Gebyok Jawa yang biasa digunakan untuk lesehan para santri NU di Kudus, tiba-tiba Kiai Asna berujar, "sudah waktunya men-Jaulah-kan NU sekarang ini". Ia mengatakan hal itu sambil menatap puluhan santri lain yang ada di depannya.

    Di kampung, Kiai Asna dikenal sebagai penceramah yang isinya tajam dan enak didengarkan. Maklum, ia lulusan pesantren Sarang yang kondang ilmu fiqihnya. Pasca lulus dari madrasah di Kudus, ia nyantri ke ponpes KH Maimoen Zubair melanjutkan tafaqquh fi din hingga beberapa tahun lamanya.

    Murid Kiai Asna sangat banyak meski tanpa mengasuh pesantren. Konon, dia digadang Mbah Sunan Kudus sebagai pengganti rutinan ngaji KH Syaroni Ahmadi kelak di Masjid Menara Kudus. Namun, akhir-akhir ini, Kiai Asna membuat blunder di kalangan nahdliyyin karena dukungannya kepada FPI. Kabarnya, ia pernah dicalonkan sebagai dewan tertinggi di ormas itu.

    Ia dipuja karena kealiman, tapi dikritik juga karena semangat amar makruf dan berislamnya berbeda dari lingkungan sekitarnya yang dikenal berbasis kultur dan budaya serta toleran.

    Anas, Zuhri dan juga Arif yang saat itu menyiapkan hidangan tamu di Gebyok, ikut menyimak keterangan Kiai Asna.

    "Apa maksud menjaulahkan NU, Kiai?" Anas mulai meletakkan rokok di asbak, kopyahnya ditata, siap menyimak. Ia sudah tahu apa itu jaulah (keliling), tapi istilah dari Kiai Asna membuat dia harus memperhatikan lebih dalam, lebih jauh, lebih dalam lagi hingga tidak tertidur. [emangnya hipnotis].

    Kiai Asna meminta semua santri di Gebyok yang masih ada di luar agar ikut masuk ke ruangan, menyimak tausiyahnya, "yang di luar silakan diundang ke dalam biar sekalian saya terangkan," ucapnya kepada Anas yang juga diminta membuatkan kopi Jetak Kudus, buatan Kang Kaji yang sangat terkenal itu.

    "Jadi begini, selama ini NU kan memang kurang berdakwah ke pedalaman. Jarang warga Nahdliyyin yang sengaja untuk khuruj (keluar rumah) mengikuti anjuran nabi berdakwah kepada masyarakat luas. Padahal, itu perintah Al-Qur'an, sebagaimana ayat kuntum khoira ummatin ukhrijat lin nas (kalian adalah sebaik-baiknya umat yang keluar melakukan perjalanan [siyahah] untuk manusia). Artinya, ayat ini mewajibkan kita untuk terus keluar dari rumah, mendatangi manusia-manusia yang belum mendapatkan hidayah agar mereka istiqamah melaksanakan sunnah karena diingatkan oleh kita yang mau keluar rumah itu," jelas Kiai Asna.

    Kiai Shodiq yang sedari tadi jagongan dengan Mbah Dur di luar ruangan Gebyok, nyeletuk "Kae Asna ngomong opo sih kok ceramah ning Gebyok karo santri-santriku," ujar pengasuh pesantren Al Ghuroba' yang bangunannya memang jadi satu dengan Gebyok, -bikinan santri yang sekarang jadi politisi Golkar tersebut.

    Anas dan Arif sudah menyajikan kopi. Zuhri, Nawawi, Maghfuri dan juga puluhan santri lainnya, sudah disiapkan kopi. Kebiasaan ini memang sudah ada sejak Gebyok itu dijadikan pusat konsolidasi anak-anak NU di lingkungan Kudus. Habib Luthfi pun tiap tahun hadir isi ceramah kebangsaan di lokasi tersebut. Kopi dan rokok adalah suguhan wajib para santri menara di Kudus.

    "Saya kok baru mendengar tafsir surat Ali Imron 110 itu kayak begitu, kiai? Setahu saya, khoira ummatin itu artinya adalah ummatan washatan (umat yang tengah-tengah), sedangkan ukhrijat itu artinya bukan keluar, tapi dilahirkan. Jadi, kuntum khoira ummatin ukhrijat lin nas itu artinya adalah kalian umat terbaik (tengah-tengah) yang terlahir di kalangan manusia," Zuhri yang terkenal ngeyel mulai gregetan atas pengetahuan barunya. Ia hanya alumni madrasah TBS, tapi lumayan cakap jika penguasaan kitab tafsirnya.

    Zuhri sampai mengutip tafsir Imam Ibnu Katsir yang memberikan keterangan atas ayat tersebut dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang isinya "Durrah binti Abi Lahab berkata bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah saw sewaktu beliau berpidato di atas mimbar: "Siapakah orang yang terbaik, ya Rasulullah? Rasulullah saw menjawab bahwa manusia yang terbaik adalah manusia yang paling banyak membaca, paling bertaqwa kepada Allah SWT, paling giat melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan paling suka bersilaturrahmi".

    Dari sini, kata Zuhri, bisa kita pahami bahwa orang yang terbaik adalah yang banyak pengertiannya (karena aktivitas membacanya) dan paling memiliki sikap taqwa, yakni menjalankan perintah Allah SWT dan larangan-Nya. Itu secara pribadi. Secara komunal, dia berperanan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, yakni membentuk sistem agar perintah dan larangan Allah SWT menjadi standar umum di masyarakat dalam rangka mengatur interaksi antar individu anggota masyarakat. Juga ia paling gemar melakukan silaturrahmi, meningkatkan hubungkan antar karib kerabat yang merupakan salah satu kewajiban Islam.

    "Nah, itu kan nyambung?" Kiai Asna langsung menyahut.

    "Maksudnya, kiai?"

    "Tadi kan kamu menyebut kalau umat terbaik adalah yang paling banyak baca dan banyak bertaqwa serta amar makruf nahi munkar dan silaturrahim. Dalam konsep siyahah yang dikembangkan oleh Jamaah Tabligh di Indonesia, silaturrahim dilakukan dengan khuruj itu. Makanya pengikut Jamaah Tabligh itu diwajibkan minimal harus keluar rumah berdakwah seumur 4 bulan. Kalau dia rajin, sebulan wajib khuruj 3 hari, atau setahun minimal harus khuruj 40 hari," terang Kiai Asna.

    "Nyuwun sewu kiai, silaturrahim itu menurut jenengan bagaimana?"

    "Kalau ingin jawaban saya, silaturrahim itu menyambungkan kasih-sayang atau kekerabatan yang menghendaki kebaikan. Kalau menurut yang saya pahami dari Al Maraghi, silaturrahim itu sejatinya adalah menyambungkan kebaikan dan menolak sesuatu yang merugikan sesuai kemampuan. Karena itulah silaturahmi adalah kiasan tentang berbuat baik kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab dan kerabat, bersikap lembut, menyayangi dan memperhatikan kondisi mereka".

    "Tarus apa yang dilakukan dalam khuruj itu termasuk mendakwahi dan memperbaiki kerabat dekat?"

    "Jadi begini yah, menurut Imam Qurthuby, silaturahmi itu dibagi dua, umum dan khusus. Silaturahmi umum itu rahim dalam agama. Dari situ, silaturrahim wajib disambungkan dengan cara saling menasehati, berlaku adil, menunaikan hak-hak yang wajib dan yang sunnah. Sedangkan sulaturahmi khusus yaitu dengan cara memberi nafakah kepada kerabat. Khuruj itu dimaksudkan sebagai silturrahim dalam hal agama untuk menasehati dalam hal kebaikan".

    Sebagaimana diterangkan dalam pedoman doktrinnya, khuruj dilakukan pada tempat dan target dakwah yang sudah ditentukan. Biasanya orang yang khuruj berkelompok, terdiri atas 5-10 orang. Mereka diseleksi oleh anggota syura Jamaah Tabligh. Jadi, tidak semua bisa ikut khuruj.

    Mereka yang khuruj dikirim ke berbagai kampung yang telah ditentukan anggota syuro. Di kampung tempat berdakwah, para Jamaah Tabligh menjadikan masjid sebagai base camp. Kemudian mereka berpencar ke rumah-rumah penduduk untuk mengajak masyarakat lokal menghadiri pertemuan di masjid, dan mereka akan menyampaikan pesan-pesan keagamaan. "Inilah yang saya maksud silturrahim," terang Kiai Asna.

    "Nanti dulu kiai, saya sepakat soal silaturrahim dalam agama, lalu silturrahim kerabat dalam bentuk menafkahi keluarga, bagaimana? Apa dalam jaulah ala khuruj Jamaah Tabligh, hal itu dipikirkan? Lalu bagaimana kalau ternyata dalam silaturrahim tersebut malah menimbulkan keresahan masyarakat?"

    "Ketika khuruj, keluarga diserahkan kepada Allah. Dalam khuruj juga, para Jamaah Tabligh dilatih untuk bersikap faqir, dzikir, syukur dan sabar. Bukannya ini sesuai dengan konsep zuhud dalam tasawuf, kang Zuhri?" ungkap Kiai Asna. Santri lain terus menyimak dialog mereka berdua.

    "Cerdas juga Kang Zuhri, sampai Kiai Asna harus keluar kitab segala," Arif yang duduk di sampingnya makin terkesima.

    Kiai Asna melanjutkan keterangan bahwa kelompok jaulah ketika khuruj itu terbagi dua, yaitu pertama, kelompok di dalam masjid, yakni: (1) dzakirin/mudzakir, tugasnya berdzikir dengan khusyu’ dan berdoa hingga meneteskan air mata, dan baru berhenti bila jamaah yang di luar telah kembali, (2) muqarrar, tugasnya mengulang-ulang pembicaraan iman dan ‘amal shalih (taqrir), (3) mustami’, tawajjuh mendengar pembicaraan taqrir, dan (4) Istiqbal, tugasnya menyambut orang yang datang ke masjid lalu mempersilakan shalat Tahiyyatul Masjid, dipersilahkan duduk dalam majlis taqrir, juga menunggu dengan penuh kerisauan dan fikir kepada saudaranya yang belum datang ke masjid.

    "Sementara itu, kelompok kedua ada di luar masjid, mereka ini adalah: (1) dalil, sebagai penunjuk jalan, sebaiknya dalil adalah warga setempat untuk menunjukan mana rumah non muslim, muslim, ulama, umara, dan ahli masjid atau orang yang belum shalat berjamaah di masjid. Keutamaan seorang dalil adalah ia lebih dahulu masuk Jannah 500 tahun, (2) mutakallim, sebagai juru bicara, penyambung lidah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. (3) Makmur, tugasnya berdzikir (dalam hati), tidak berbicara, dan mengantarkan jamaah ke masjid, dan (4) amir jaulah, yang bertanggungjawab terhadap rombongan jaulah. Jika ada yang melanggar tertib maka amir mengucapkan subhanallah, dan masing-masing mengoreksi dirinya, bukan melihat orang lain. Jika masih tidak tertib juga, maka amir memberi targhib dan berhak memutuskan, apakah jaulah dilanjutkan atau kembali ke masjid," imbuh Kiai Asna.

    "Asyik juga ya ikut jaulah. Mereka tidak ikut membangun masjid tapi bisa menggunakan masjid, lalu amaliyah masjid yang dulu ada Qunut, Dziba'an, Barzanji, sejak ada mereka, lalu ditiadakan, itukah silturrahim kiai?"

    "Kok gitu?"

    "Ini fakta kiai, ada oknum yang dikeluhkan banyak masyarakat muslim. Dengan dalih silaturrahim, mereka datang ke masjid bawa perabotan rumah tangga dengan pakaian kumal atas nama faqir seperti yang jenengan sebutkan tadi. Tapi ia mengharamkan maulid. Mereka memang ikut i'tikaf di masjid, tapi ketika mahallul qiyam, mereka tidak ikut berdiri, apa itu yang disebut menasehati, kiai?"

    "Wah, kang, itu tidak mungkin terjadi!"

    "Nyuwun sewu kiai, fakta yang saya saksikan, para anggota Jamaah Tabligh itu walau mengikuti cara-cara sufi sampai pusat gerakan masjid mereka di Nidzammudin, Delhi, India dikelilingi oleh 4 makam wali, namun hingga kini mereka tidak tegas membatasi gerakan mereka dengan kalangan Islam radikal salafi wahabi. Lihat saja pusat gerakan Jamaah Tabligh di Masjid Kebon Jeruk Jl. Hayam Wuruk Jakarta Kota sana. Mereka lebih kental berkultur wahabi daripada aswaja. Banyak kalangan dari mereka, mulai artis, tentara hingga pengusaha, tampilannya serupa, yakni jenggotan, celana cingkrang, dahi hitam, minyak aroma cendana khas Timteng dan ada yang anti ziarah," kang Zuhri makin membuat kopi Jetak kian panas. Padahal sudah dingin.

    "Kopinya diserutup dulu kang Zuhri," ujar Anas. Tapi ia terus melanjutkan keterangan.

    "Di Masjid Kebon Jeruk sana, orang-orang yang berjaulah pernah membuat Kiai Syafii Hadzimy terpaksa menyingkir dari ruangan ngajinya gara-gara waktu beliau yang masih tengah mengajar di masjid baca kitab, orang-orang itu langsung iqomat shalat tanpa permisi. Harusnya, kalau niat silturrahim menjaga ukhuwwah, caranya tidak begitu. Mereka kudu menghormati kiai yang sudah usia senja tersebut. Minta ijin dulu agar jamaah dimulai, begitu kan adab bertamu, kiai? Dan masjid-masjid yang dijadikan tempat mukim sementara itu rata-rata kan bermadzhab Syafi'i, tapi lihatlah, kemunculan mereka justru meresahkan warga sekitar masjid karena ketika Subuh mereka tidak pakai Qunut, ketika shalat, basmalah disirri-kan, apa itu juga yang dimaksud silaturrahim, kiai?" Zuhri terus menanggapi.

    Menurut Zuhri, bagi anggota jaulah, masjid seakan jadi miliknya. Sering bicara sunnah, tapi lupa tatakrama yang justru lebih sunnah diamakan duluan. Masyarakat banyak mengeluhkan adanya paksaan orang-orang Jamaah Tabligh itu ketika mereka ingin berceramah. Tanpa konsultasi, habis jamaah shalat, mereka ujug-ujug ambil mic lalu ceramah seenak udelnya. Kalau mereka sedang jaulah, keliling dakwah, mereka seakan meminta harus dihormati, "mereka lupa kiai, kalau al dloif kal mayyit, tamu itu seperti mayat, yang harus tunduk kepada etika tuan rumah," lanjut Zuhri.

    Tamu, bagi Zuhri, juga seperti raja (kal malik) yang harus diberi tempat terhormat oleh tuan rumah. Tapi kalau mereka tidak sopan, "apa itu pantas disebut dakwah, kiai?" Zuhri makin tidak peduli kopinya makin dingin. Sementara, Kiai Asna hanya diam.

    "Lanjut lagi kiai, saya mengakui kalau Jamaah Tabligh itu memang mencintai sunnah, tapi banyak oknumnya tidak paham sunnah, inginnya hanya berdakwah. Madzhab akhirnya ditinggalkan. Akhirnya, banyak pemahaman mereka campur aduk. Ada yang wahabi diikuti, syiah dipakai, takfiri digunakan, dan mereka ini kok kebanyakan suka membid'ahkan amalan NU, sering berdalil kalau amalan itu tidak sesuai syariat. Karena itulah, di banyak negara, orang-orang pendamba jaulah ini, kiai, seringnya sangat mudah dimanfaatkan oleh kalangan Islam politik radikal. Itu tadi yang saya sebut kalau kelompok jaulah itu tidak bisa menarik tegas garis demarkasi antara sufisme dan wahabi. Runyam kiai, masak yang begitu mau dibawa ke NU?"

    "Karena bisa dimanfaatkan banyak kekuatan itulah, kiai, jamaah mereka pernah terlibat usaha kudeta militer di Pakistan pada tahun 1995. Di samping itu, beberapa anggotanya juga terlibat dalam organisasi Harakat ul-Mujahideen, kelompok Islam garis keras di Pakistan. Di Indonesia, yang jamaah non aktifnya sampai 15 ribu lebih, kiai, tidak pernah bersinggungan langsung dengan politik (apolitis). Namun lihatlah, ke mana afiliasi mereka ketika ada aksi-aksi yang mengatasnamakan Islam, apa ke NU? Jelas tidak kan, kiai? Mau menjaulahkan NU ya sama saja mengkudeta para ulama dan santri, kiai," penjelasan Zuhri makin membuat Kiai Asna tak bisa membantah.

    Tiba-tiba saja Kiai Shodiq yang sejak tadi mendengarkan dialog keduanya, datang bersama Mbah Dur, "wes wes, podo dakwahe, ojo padu, NU yo dakwah, Jamaah Tabligh yo dakwah," Zuhri diam, tapi disilakan lanjut keterangan oleh Kiai Shadiq yang diam-diam kagum argumentasinya.

    "Nyuwun sewu kiai, dakwah menurut saya harus kontinyu. Terus menerus. Misalnya adalah cara yang ditempuh Kiai Khoiron Syuiab di sekitar kawasan Dolly Surabaya. Beliau ini dakwah betulan menurut saya. Mengapa? Dia mukim di kawasan itu, bergaul dengan warga, mendidik warga, memberi pencerahan dengan akhlaknya terus menerus tanpa pindah domisili hingga Kang Gatot Subiantoro, pengusaha di kawasan hitam itu bertobat dan jadi santrinya. Ini fakta yang tidak mungkin diterapkan jika cara jaulah dipakai. Jaulah itu hanya onani dakwah, kiai. Mereka ceramah, bikin resah warga, lalu pergi," keterangan Zuhri hanya dikeploki kawan-kawan santri lainnya. Mbah Dur hanya mesem. "Cah iki metu uteke, padahal ning pondok gaweane lawoh terooong wae," gumamnya.

    Suasana Gebyok makin ramai karena Kiai Asna makin tak berbalas. Mbah Dur akhirnya meminta gorengan yang telah disediakan sejak tadi untuk dimakan semua santri yang hadir.

    Sambil ngudud, Zuhri melanjutkan lagi, "soal kewajiban khuruj kiai, menurut saya tidak pernah diperintahkan Kanjeng Nabi, apalagi ada batasan waktu 4 bulan atau 40 hari. Bukankah membatasi waktu dakwah itu bagian dari bid'ah menurut madzhab sana? Mereka juga berdalih membid'ahkan tahlilan 40 hari, 100 hari, nyewu dan lainnya karena alasan pembatasan waktu, kiai".

    "Sifat dakwah itu tidak memaksa, apalagi nyelonong serobot rutinan di masjid tanpa adab. Dakwah itu mengajak, bukan membuat orang terperanjat ujug-ujug ceramah begitu. Saya di sini juga dakwah, tapi hanya menyampaikan, entah Kiai Asna mengamini atau tidak, saya serahkan hidayahnya kepada Allah, innaka la tahdi man ahbabta," Zuhri menambahkan. Tapi Kiai Asna langsung pamit.

    Di rumah, Kiai Asna membuka-buka lembaran kitab kuningnya. Ia malah makin mantap ikut jaulah dan ingin menjaulahkan NU. Sudah dijewer oleh sesama alumni Sarang yang lebih senior. Bahkan guru besarnya di Rembang juga sudah memberikan warning.

    "Mbah Guru Kiai merestui langkah saya menjaulahkan NU," ucap Kiai Asna saat ceramah di tengah khuruj jaulahnya di kawasan seberang menara Kudus. Dia makin percaya diri. Dituturin seribu kali pun, Kiai Asna tetap bersama jaulah. Namanya juga jatuh cintrong!

    ***
    "Tangi kang, tangi," Zuhri dibangunkan Arif, teman sesama Ansor di Kudus. Ia tertidur pulas setelah kirim fatihah ke simbah guru KH Ma'mun Ahmad. Ia kecapekan karena seharian ikut menyiapkan acara pengajian di Gebyok itu. Tapi mimpinya bertemu Kiai Asna membuat dia tersenyum gagah.

    "Aku kok pinter ning ngipi yo," gumamnya, berharap tidak ada yang mengintip.

    Ia lalu mencari Kiai Asna, yang juga akan mengisi sambutan di acara pengajian nanti malam. Ia cium tangan Kiai Asna. "Matursuwun, kiai," ucap Zuhri. Kiai Asna cuma jawab, "Iyo nang, eh matursuwun soal opo?" Kiai Asna bingung atas ulah dadakan santri terong itu.

    Zuhri berlalu. Dia merasa percaya diri mampu mengimbangi Kiai Asna, walau kana na'iman (meski dalam mimpi). Padahal dia sadar gobloknya minta ampun. Baca kitab saja harus pakai makna jenggotan! Wali Mukidi sering membantu ngasah kitabnya! Hahaha. [dutaislam.com/ab]

    Keterangan:
    Cerita di atas murni fiksi, tidak pernah terjadi kecuali di alam mimpi Kang Zuhri. Bila ada kesamaan nama, tempat dan peristiwa, itu murni kebetulan semata. Cerita di atas, terinspirasi dari artikel Dutaislam.com yang pernah dimuat, antara lain:


    1. Blak-Blakan Soal Jaulah atau Jamaah Tabligh
    2. Sejarah dan Pemahaman Jamaah Tabligh
    3. Kiai Dolly dan Kisah Preman yang Tobat Jadi Relawan
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: