Dutaislam.com mendukung gerakan deradikalisasi dan anti teror di media sosial!

  • Adakah Ramadhan Pasca Ramadhan?

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Minggu, 28 Mei 2017
    A- A+

    Oleh Faruq Hamdi

    DutaIslam.Com - Setiap manusia berdasarkan anatomi setidaknya terdapat tiga komponen penting, yakni hati, akal dan lisan. Tiga komponen ini akan menjadi baik ketika pemiliknya mampu merawatnya secara baik, tapi ketika tidak dirawat secara baik, tentu akan menimbulkan malapetaka dan bencana baik bagi dirinya sendiri maupun kepada orang lain.

    Oleh karena itu, setiap manusia penting untuk merehabilitasinya dari segala penyakit-penyakit berbahaya. Penyakit berbahaya bagi hati adalah menganggap rendah orang lain (takabbur), merasa dirinya adalah yang terbaik (ujub), riya’, pelit (bakhīl), hasud dan lain sebagainya.

    Penyakit berbahaya bagi lisan adalah berdusta, berkata kotor, menipu, mengejek, menghina, menggunjing, bersilat lidah, bertengkar, berdebat secara berlebihan dan lain sebagainya. Penyakit berbahaya bagi kecerdasan akal seperti percaya diri berlebihan sehingga meremehkan orang lain, kesombongan intelektual yang menghilangkan akhlāq al-karīmah, merasa superior dan berkualitas padahal dirinya adalah orang yang lemah dan tidak mempunyai apa-apa dan lain sebagainya.

    Adapun obat pamungkas yang paling ampuh setelah bertaubat untuk mengatasi segala penyakit tersebut adalah dengan berpuasa dan Al-Qur’an. Oleh karena itu, pada bulan suci Ramadhan yang penuh hikmah dan maghfirah ini, seyogyanya setiap manusia mensucikan dirinya dari segala penyakit-penyakit tersebut.

    Setiap manusia yang beriman senantiasa merindukan datangnya bulan Ramadhan ini dengan penuh suka-cita serta desahan harapan yang terucap melalui lisan “Ya Allah sampaikan kami pada bulan Ramadhan”.

    Puasa merupakan ibadah intim seorang hamba kepada Sang Pencipta. Puasa juga merupakan ibadah tertua dalam peradaban manusia, yakni sejak Nabi Adam AS sampai Nabi Muhammad SAW yang mana tujuan intinya adalah menggapai ketakwaan.

    Adapun hikmahnya adalah sebagai sarana untuk mensucikan hati dan jiwa agar taat kepada perintah-Nya, sekaligus mengobati dan menjadi terapi kesehatan manusia. Bulan mulia ini (Ramadhan) merupakan pendidikan rohani yang melatih keuletan, kejujuran, kesabaran serta menjadi pakem menahan gejolak nafsu yang mendorong hamba melakukan segala perbuatan keji.

    Bila ditinjau dari segi linguistik, al-Imam Abdurrahman al-Shafury dalam kitab “Nuzhah al-Majālis wa Muntakhab al-Nafā’is” menjelaskan bahwa kata Ramadhan terdiri dari 5 kata, yakni; (Ra) berarti (Riḍwānullāh) keridhaan Allāh, (Mim) berarti (Maghfirah) ampunan-Nya bagi yang melakukan maksiat, (Dhad) berarti (ḍhimānullāh) jaminan keamanan dari Allāh SWT, (alif) berarti (ulfah) Kelembutan dan (Nūn) berarti (Nawālullāh) Pemberian dari Allāh SWT.

    Terdapat banyak penjelasan dari Rasulullāh Muhammad SAW terkait keutamaan bulan Ramadhan ini, bahkan beliau pun seringkali memberikan isi pada bulan yang berkah ini agar umatnya senantiasa gemar untuk melaksanakannya. Di antara isi yang dimaksud adalah memperbanyak membaca Al-Qur’an, memahami dan merenungi kandungan al-Qur'an serta mengamalkan al-Qur'an.

    Betapa dahsyatnya balasan kebaikan bagi orang yang gemar membaca al-Qur’an, terlebih ia memperbanyaknya ketika di bulan Ramadhan yang mana semua amal kebaikan dilipat gandakan oleh Allāh SWT. Rasululullāh Muhammad SAW dalam sabda emasnya mengatakan;

    مَنْقَرَأَحَرْفاًمِنْكِتَابِاللهِفَلَهُبِهِحَسَنَة, وَالحَسَنَةُبِعَشْرِأَمْثَالِهَا, لاَأَقُوْلُآلمحَرْفٌ, وَلَكِنْأَلِفحَرْفٌ, وَلَاٌمحَرْفٌ, وَمِيْمٌحَرْفٌ

    Artinya: “Siapa saja yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam, mim itu satu huruf, tapi alif itu satu huruf,lam itu satu huruf, dan mim itu satu huruf”.

    Terkait memahami dan mengamalkan al-Qur’an, Rasulullah Muhammad Saw juga berucap dalam bahasa hadits yang lain;

    كُلُّعَمَلِابْنِآدَمَيُضَاعَفُالْحَسَنَةُعَشْرُأَمْثَالِهَاإِلَىسَبْعِمِائَةِضِعْفٍقَالَاللَّهُعَزَّوَجَلَّإِلاَّالصَّوْمَفَإِنَّهُلِىوَأَنَاأَجْزِىبِهِيَدَعُشَهْوَتَهُوَطَعَامَهُمِنْأَجْلِىلِلصَّائِمِفَرْحَتَانِفَرْحَةٌعِنْدَفِطْرِهِوَفَرْحَةٌعِنْدَلِقَاءِرَبِّهِ. وَلَخُلُوفُفِيهِأَطْيَبُعِنْدَاللَّهِمِنْرِيحِالْمِسْكِ

    Artinya: “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipat-gandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan ia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada bau minyak kasturi.”

    Terkait anjuran untuk merenungkan kandungan al-Qur’an, Rasulullah SAW berstatement;


    رُبَّتَالٍلِلْقُرْآنِوَالقُرْآنُيَلْعَنُهُ

    Artinya: “Banyak orang yang membaca al-Qur’an, tapi al-Qur’an justru melaknatnya”.

    Refleksi hadits tersebut seyogyanya harus direnungkan secara mendalam, karena ketika ditinjau dari segi tujuan haditsnya yaitu untuk membangun karakter (character building) dan merevolusi mental umatnya. Persoalan yang mendasari adalah antara realitas dan idealitas mengalami kesenjangan yang signifikan sebagaimana terpraktik dari zaman Rasulullah SAW dahulu sampai sekarang, sebagaimana yang sering kita temukan bahwa, para pedagang di pasar melakukan berbagai bentuk kecurangan, baik dengan mengurangi timbangan, membohongi pembeli, penipuan dan lain sebagainya.

    Demikian pula bagi para dai yang melantangkan ayat-ayat Tuhan dengan berjubah dakwah untuk kepentingan politik kekuasaan dan lain sebagainya. Padahal ditinjau dari segi aktivitasnya, mereka semua adalah orang-orang yang gemar membaca al-Qur’an, sedangkan pada hakikatnya al-Qur’anlah yang justru sedang mengkaji dirinya.

    Ketika seseorang menghendaki hati, lisan dan kecerdasan akalnya memiliki pancaran cahaya yang menyelamatkan, tentunya Al-Qur’an adalah pedoman dan pusaka yang paling tepat dan paling ampuh, sedangkan cara yang baik untuk merawat kesuciannya (hati, lisan dan kecerdasan akal), maka puasa adalah kunci utamanya. Sekali mendayung berapa pulau terlampaui, sekali beribadah dan mendapatkan pahala yang berlimpah, maka bulan Ramadhanlah momentum yang paling tepat untuk melaksanakannya. Wallahu a'lam. [dutaislam.com/ab]

    Faruq Hamdi, Sekretaris Lembaga Bahstul Masail PWNU DKI Jakarta & Staf Komisi Dakwah MUI Pusat

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: