Jumat, 21 April 2017

[Tokoh yang Terlupa] Sosrokartono yang Memiliki Keramat 27 Bahasa Asing dan Air Doa

Foto Sosrokartono, kakak Kartini
DutaIslam.Com - Kartono, nama lengkapnya adalah RM Panji Sosrokartono. Lahir pada 1877. Kartono adalah kakak RA Kartini yang lahir pada 1898. Kartono merupakan pribumi pertama yang kuliah di luar Hindia-Belanda, Laiden. 

Kartono sosok yang cerdas hingga jadi kesayangan para dosen karena bisa  27 bahasa asing dan 10 bahasa Nusantara. Selain itu, Kartono adalah sosok pemuda tampan, pintar bergaul dan tentunya anak orang kaya. Terkenal dan juga merakyat. Para pemudi Eropa menyebut Sosrokartono, "de mooie sos." (sos yang ganteng).

Orang Eropa dan Amerika menyebut Sosrokartono dengan julukan penghormatan, "De Javanese Prins" (Pangeran Jawa). Namun pribumi memanggil Kartono saja.

Pada tahun 1917, Kartono pernah menjadi wartawan perang dunia 1 di sebuah koran Amerika bernama The New York Herald. Ia dianggap cekap menulis oleh orang Eropa sana karena ketika tes masuk jadi pewarta, bisa memadatkan artikel Bahasa Perancis sejumlah 30 kata ke dalam 4 bahasa (Ingggris, Spanyol, Rusia dan Perancis). Kartono akhirnya lulus dengan 27 kata. Para bule asli lulus lebih dari 30 kata.

Sebagai wartawan perang, ia diberi pangkat mayor oleh sekutu, tapi menolak bawa senjata. "Saya tak nyerang orang, krn itu saya pun tak akan di serang. Jadi apa perlunya bawa senjata?" kata Kartono. lumayan bisa disebut sebagai ahli diplomasi bukan? 

Ia pernah menggemparkan Eropa dan Amerika dengan artikel berisi perundingan Jerman dan Perancis yang rahasia, tertutup, dalam gerbong kereta api, tengah hutan, dijaga sangat ketat. Ia membuat geger karena semua wartawan yang mencari informasi tersebut tidak bisa. E e e,  Koran New York Herald, -tempat Kartono berkerja,- malah hasil perundingan tersebut.

Berikutnya, pada tahun 1919, Kartono menjadi penerjemah tunggal di Liga Bangsa Bangsa (LBB) sebelum pada 1921, LBB jadi PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa). Ia ketua penterjemah untuk segala bahasa mengalahkan para poliglot bule Eropa Amerika.

Pada tahun 1925, Pangeran Sos pulang ke tanah air. Oleh Ki Hajar Dewantara, Kartono lalu diangkat sebagai kepala sekolah menengah di Bandung. Rakyat berjejal temui si pintar ini. Bukannya belajar bahasam pribumi yang nememuinya malah minta air dan doa. Anehnya, banyak yang sembuh. 

Maka, antrian pun makin banyak, termasuk bule-bule Eropa. Karena banyak yang sembuh, akhirnya beliau dirikan Klinik Darussalam. Keramatnya, Kartono pernah menyembuhkan anak Eropa hanya dengan disentuh-sentuh (tuk...tuk...tuk) di hadapan para dokter yang angkat tangan tak mampu mengobati. Alhamdulillah, si anak sembuh dalam hitungan detik. Ampuh.

Ia juga pernah memotret kawah gunung dari udara. Hebatnya, tanpa pesawat. Soekarno muda sering diskusi dengan si jenuius Sosrokartono. Bung Hatta juga menyebut dia sebagai orang jenius.

Di rumahnya, berkibar bendera merah putih. Tapi Belanda, Jepang dan sekutunya seolah tak peduli. Jika orang lain yang begitu, pasti dihajar. Ampuh dan keramat. 

Sosrokartono wafat pada tahun 1951 wafat di Bandung namun dimakamkan di Kudus. Tak punya apa-apa. Rumah pun kontrak. Padalah. sebagai bangsawan dan cendekiawan, ia bisa hidup mewah.
Orang-orang pun tak menemukan pusaka dan jimat di rumahnya. Hartanya hanya kain bersulam huruf alif. hingga dikenal dengan julukan "Sang Alif".

Nisannya tertulis: "sugih tanpa bondo, digdaya tanpa aji/ kaya tanpa harta, berdaya tanpa mantra".

Beliau wartawan, tapi PWI tak pernah singgung namanya. Beliau tokoh pendidikan tapi kaum guru seolah lupa namanya. Sang zuhud itu hidup dalam kesederhanaan, walau kecerdasannya sebetulnya bisa membuat dia justru lebih kaya raya. Tapi ia tidak memilih itu. Wali Allah kah dia? Sebagaimana adiknya, Kartini? [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post

2 komentar

Menangis aku membaca kisah Pangeran Jawa ini. Kisah beliau mirip dengan putra Khalifah Harun Al Rasyid yang meninggal dalam kesederhanaan.

Kalau beliau memakai pakaian Jawa lengkap dengan blankon..wajahnya mirip Maulana Habib Luthfi bin Yahya dengan pakaian yang sama(sering dipakai Habib Luthfi).. Tidak heran menurut beberapa penelusuran nasabnya sampai ke Sunan Giri yang artinya Mbah Sosrokartono juga dari kaum Sayyid..
Dari kecil firasat beliau tajam..membereskan mainan beliau dengan alasan mau pindah rumah..beberapa bulan kemudian memang keluarga mereka pindah rumah Karena ayahandanya pindah tugas.

POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini