Kamis, 13 April 2017

Sebelum Pembatalan, FPI Semarang Sempat Nantang, Dialog Panas dan Saling Melototkan Mata

Pengamanan polisi di dekat Rumah Zainal Petir Semarang (Kamis, 13/04/2017)
DutaIslam.Com - Dialog antara para pemimpin ormas dan warga penolak dengan pengurus FPI sempat memanas ketika Zainal ngotot tidak setuju keputusan Kapolres tersebut. Massa berteriak-teriak agar Zainal jangan bicara. Karena Kapolrestabes sudah menyatakan membatalkan serta melarang FPI dikukuhkan.

Baca: Alhamdulillah, Akhirnya Kapolrestabes Semarang Batalkan Pembentukan FPI

"Ra sah kakehan omong. Batalke wae, Kapolres wis mutuske kok isih ngeyel," teriak seorang pemuda dari barisan penolak.

"Lha piye.. massa dikon nggeruduk rene po piye," sahut seorang lainnya.

"Semarang ki wis apik, aman. Nek ono FPI malah ora aman," tandas seorang lelaki berkaos hitam.

Juru bicara kelompok penolak pun meminta agar Zainal jangan memaksakan diri. Sebab itu berarti menantang.

"Dialog ini tidak perlu diteruskan. Mas Zainal saya minta jangan memaksakan diri. Kami jelas menolak. Tolong jangan menentang keinginan warga Semarang," ucap juru bicara massa penolak, disahuti pekik "Betuull..." oleh barisan penolak.

Dialog sangat alot karena masing-masing pihak tetap kukuh dengan pendiriannya. Baca: Semarang Bergejolak, Puluhan Ormas Malam Ini Geruduk Lokasi Muswil FPI Semarang.

Atas teriakan sahut-sahutan dan desakan tersebut Zainal tampak tersinggung. Dia berdiri mendelik matanya. Para pepimpin ormas penolak juga berdiri. Masing-masing tubuh sudah saling berdiri berhadapan. Mata dan mata saling menatap tajam.

"Kalo mas Zainal ngotot mau mendirikan FPI silakan. Silakan uji kami. Kami akan buktikan ketegasan penolakan kami. Jangan salahkan warga Kota Semarang jika nanti bereaksi," ucap kelompok penolak.

Melihat situasi semakin tegang, Kapolres dan sejumlah polisi langsung berdiri memisah. Abiyoso langsung menempatkan dirinya persis di depan tubuh Zainal Petir seraya tangannya merngkul dan tongkat komandonya dia jadikan alat pemisah ke kelompok penolak yang merangsek maju.

Situasi belum reda karena polisi tidak didengarkan. Pada akhirnya, Sutirto, Ketua RT 5 RW 6 Kelurahan Bulu Lor Semarang Utara yang menunggui dialog, akhirnya berdiri lalu berteriak keras.

"Semua bubar!. Bubar!. Semua yang bukan warga sini silakan pulang. Kami tidak rela ketenangan lingkungan kami diusik," ucap Sutirto kepada massa.

Suasana mediasi antara massa penolak FPI dengan peserta Muswil FPI Semarang
Sambil digandeng polisi, Zainal dan para tamunya masuk ke dalam rumahnya. Setelah berembug sebentar akhirnya para tamu menyatakan setuju pulang.

"Kami para tamunya Pak Zainal akan pulang," ucap juru bicara FPI.

"Alhamdulillaaaah.. tolong kasih jalan," seru Eko Cahyono, Juru Bicara PGN, kepada massa.

Lantunan sholawat lalu bergema, mengiringi kepergian para perwakilan FPI pusat dan propinsi itu. Massa penolak mengantarkan samai ujung gang.

Polisi yang tetap kuatir atas keselamatan mereka, mengevakuasi dengan mobil anti peluru Barracuda. Puluhan pasukan Brimob Polda Jateng bersenjata lengkap mengawal kepergian mereka. Sementara itu, puluhan santri Gus Nuril yang berdemo sejak jam 17.30 sore di samping lapangan depan Gang menuju rumah Zainal Petir pun membubarkan diri.

Pasukan Pengendali Massa Polrestabes Semarang berseragam anti huru hara dan dilengkapi tameng, pentungan dan senapan gas air mata juga turut bubar lalu menaiki truk untuk kembali ke markas mereka.

Tampak di barisan penolak, selain PGN ada GMNI, Banteng Muda Indonesia, Laskar Merah Putih, LBH Perjuangan, Ansor/Banser, dan sejumlah perwakilan ormas tanpa atribut atau seragam ormasnya.

Bagaimana? Belum pembentukan saja sudah geger, apa jadinya kalau mereka sudah terbentuk. Bukan tidak mungkin sikap saling hajar dan teriak bunuh bunuhan kian menjadi-jadi di Semarang? [dutaislam.com/ich]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini