Selasa, 25 April 2017

Peringatan Kartini Itu Sejarah Ciptaan Belanda (Terimakasih Ndan!)


Oleh Ichwan Azhari

DutaIslam.Com - Hari Kartini 21 April itu benar-benar 100 persen ciptaan Belanda, dikonstruksi dan diperingati untuk kepentingan Belanda. Jika kita bacai koran koran pada masa Belanda, ramai sekali peringatan hari Kartini yang dimobilisir pemerintah Belanda, nyaris dari Sabang sampai Merauke.

Pada 21 April 1940, di Orion Booskop Medan misalnya, berlangsung meriah Peringatan hari Kartini yang diselenggarakan oleh "Komite Perajaan R.A. Kartini". Dalam pidato yang disampaikan Nyonya F. Dasuki, pesan yang diutarakan adalah apresiasi pada surat surat Kartini, imajinasi tentang Kartini.

Kartini sebenarnya lebih layak diposisikan sebagai pujangga (yang merenung lewat surat) daripada pejuang. Kalau mau mengagumi Kartini, kagumilah surat-suratnya, juga tragedi hidup pribadinya. Bukan perjuangannya menentang kolonialisme. Anehnya, dalam pelajaran sejarah di  SMA, dalam pokok bahasan "tokoh tokoh perempuan Indonesia yang menentang kolonialisme", nama Kartini dimasukkan. Tentu ini menghina Belanda yang begitu menyayangi Kartini.

Lalu  Republik Indonesia yang lepas dari jajahan Belanda tanpa bermaksud (tak sengaja) melupakan   peran perempuan lain dalam sejarah bangsa, lalu meng"copypaste' bulat bulat konstruksi Belanda itu. Kartini yang semula dimanipulir untuk kepentingan pencitraan Belanda itu, lalu dijadikan ikon "perjuangan" perempuan Indonesia. Inilah kehebatan Belanda dan Indonesia.

Saat Indonesia sudah merdeka, koran Belanda terus melakukan agitasi betapa pentingnya Kartini yang dibahas di halaman 1 koran berbahasa Belanda. Kartini yang tidak menentang kolonialisme, benar-benar dijadikan Belanda sebagai anak emas dalam konstruksi narasi sejarah perempuan. Bagi mereka yang pernah belajar sejarah dengan benar, terutama bab "politik etis Belanda", tentu bisa menelusuri  kenapa Belanda melakukan ini. Untunglah bahan untuk ini sekarang sudah melimpah di internet. Sehingga orang dengan mudah bisa melacaknya.

Padahal 3 ikon Kartini yang diciptakan itu yakni: tokoh emansipasi, penulis buku Habis Gelap Terbitlah Terang dan pendiri sekolah perempuan sama sekali tidak dilakukan Kartini. Andai Kartini hidup, dia pasti menentang pencitraan yang tidak dilakukannya itu, sebagaimana dia menentang panggilan bangsawan untuk dirinya sebagai Raden yang dianggapnya berlebihan (Bacalah buku "Panggil Aku Kartini Saja" Pramoedya Ananta Toer).

Tapi seluruh bangsa yang "copy paste Kartini Belanda" ini melekatkan 3 citra itu ke sosok Kartini, terlebih sekitar tanggal 21 April.  Orang tak perlu mempertanyakannya lagi. Inilah yang dinamakan sejarah yang sudah menjadi  mitos, dan oleh karenannya mitos tidak boleh digugat, pantang atau bakal kualat jika menggugatnya.

Atau, paling tidak gugatan tidak berguna, tidak diperhatikan orang. Prof.Harsya Bachtiar mungkin cendekiawan kritis Indonesia yang pertama kali menggugat kepahlawanan Kartini dalam buku "Satu Abad Kartini". Siapa yang pernah membacanya?

Padahal Kartini dalam realitas bahkan dalam sejarah orang Jawa pun tidak begitu penting perannya. Apa pula peran Kartini bagi orang Sunda, Aceh, Minang, Menado, Melayu, Batak, Karo atau lainnya? Mereka ini punya sosok pahlawan perempuannya sendiri yang lebih dahsyat, namun jadi pahlawan yang ditenggelamkan narasi Belanda.

Republik Indonesia melanjutkan narasi kolonial itu, dan bahkan kini lebih seru. Tak kedengaran Indonesia berterimakasih pada Belanda yang "menemukan dan menciptakan" Kartini dalam konstruksi sejarah Indonesia. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini