Dutaislam.com mendukung gerakan deradikalisasi dan anti teror di media sosial!

  • Parah, Pasien yang Sakit Dilarang Nariyahan di Rumah Sakit dr. Soebandi Jember

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Selasa, 25 April 2017
    A- A+

    DutaIslam.Com - Namanya rumah sakit, tidak ada ketentuan agama bagi pasien. Siapapun yang sakit, masuk berobat, pasti akan diterima. Tapi, di luar itu, aturan ketat khas pemilik rumah sakit (terutama swasta) bisa jadi akan mengganggu pasien.

    Di RSD dr. Soebandi Jember, misalnya. Walaupun pengelola rumah sakit tersebut adalah pemerintah, namun, laporan yang diterima Dutaislam.com, praktik bimbingan keagamaan di dalam maupun di luar rumah sakit, dikuasi oleh kalangan yang anti Pancasila, yakni Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

    Rumah sakit yang yang beralamat di Jl. DR. Subandi No.124, Patrang, Kabupaten Jember, Jawa Timur itu, pada tiap bulan Ramadhan, kegiatan agamanya, -mulai dari penentuan khatib Jumatan, pengajian rutin tiap siang hari di masjid, bimbingan rohani buat pasien, penceramah Subuh, Maghrib dan Isya,- ditentukan semua oleh gerombolan HTI yang bersarang di rumah sakit itu.

    Menurut pengakuan WS (inisial), pelakunya dikomandani takmir masjid yang dikuasai HTI. "Nama aktor-aktor utamanya saya lupa, maklum, terakhir tugas di situ Desember 2015," ujarnya kepada Dutaislam.com, Selasa (25/04/2017).

    Merasa berkuasa, isi khutbah pun akhirnya disesuaikan dengan misi makar mereka. "Di khutbah Jumat yang pernah saya ikuti, khatibnya terang-terangan dakwah khilafah, meski khatibnya berlencana Korpri," terang WS.

    Karena merasa tidak nyaman atas khutbah provokasi anti NKRI itu, setiap Jumat WS hampir selalu Jumatan di luar masjid RSD dr. Soebandi, walau dulu, pada hari itu dia juga sering ngepam bertugas di sana.

    Dilarang Baca Nariyah
    Cerita tragis lain datang dari Maulana, yang neneknya pernah opname di RSD dr. Soebandi Jember karena terkena serangan stroke pada akhir tahun 2016 silam. Karena stroke, ingatan neneknya memang akhirnya ikut terganggu.

    "Mbah saya tanya waktu bimbingan rohani di kasur, 'kalau sholawat Nariyah gimana ya, bu? Saya lupa,'" cerita Maulana.

    "Mohon maaf ibu, saya tidak tahu tentang shalawat itu karena tidak diajarkan Nabi. Baca shalawat yang jelas-jelas saja," begitu jawaban yang diterima si nenek, sebagaimana ditirukan oleh Maulana.

    Pasien akhirnya potensial stres. Bukannya mendapatkan bimbingan malah mendapatakan kegelisahan yang akhirnya membuat dia tidak nyaman.

    Jumatan tidak nyaman karena diisi khutbah provokasi anti NKRI. Pasien tidak nyaman karena mendapatkan penceramah paling Maha Benar atas segala firmannya. Naudzubillah min dzalik! [dutaislam.com/ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    1 komentar:

    Pasien yang Sakit Dilarang Nariyahan di Rumah Sakit dr. Soebandi Jember hanyalah salah satu kasus dari ribuan kasus, ibarat puncak gunung es. terutama yang terjadi di kampus kampus, kegiatan RohIs di sekolah menengah, buku buku SD, pengajian Ibu ibu dsb dsb. Selama ini kita terlalu jumawa dan lengah karena merasa diri kita umat mayoritas. Kita merasa aman dan tertidur lelap atau mungkin terlalu asyik dengan diri sendiri sehingga tak mampu melihat apa yang telah terjadi di sekitar kita dan melalaikan kewajiban dakwah kita. Namun, Alhamdilillah, Saudaraku, Banser NU dan GP Anshor telah sadar dari tidur pulasnya. Mari kita bergandeng tangan dengan Aparat Hukum, melindungi dan menyelamatkan saudara2 kita dan lingkungan kita dari fitnah 'pasukan Dajjal'(berkedok pasukan Imam Mahdi) Selamat berjuang.