Selasa, 11 April 2017

Orang Banyak Konslet Karena Merasa Menjadi Murid Rasulullah Langsung


DutaIslam.Com - Dalam sebuah pengajian dalam rangka Harlah NU ke 51, KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq dari Yogyakarta menyebut banyaknya kaum muslimin yang konslet cara berpikirnya karena imajinasi politiknya terlalu kerdil dan tidak mau menjadi murid para ulama, sebagaimana warga NU.

"Sahabat jenggoten, ikut jenggotan, ya kacau akhirnya, padahal derajatnya beda," terang Gus Muwafiq. Kalau merasa murid Rasulullah, ia akan menggunakan ayat "dan orang-orang yang bersama dengan dia (Muhammad) adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka" (Q.S. Al-Fath: 29)" untuk menyatakan kalau orang yang bersama rasulullah itu galak kepada orang kafir, "akhirnya kalau ketemu orang kafir dikafir-kafirkan tapi kalau tidak ketemu orang kafir, orang Islam yang dikafir-kafirkan. Inilah yang menyebabkan radikalisme," lanjutnya.

Gus Muwafiq menyebut penyebab radikalisme itu adalah karena orang sudah lupa cara mengikuti Rasulullah. Maka dari, orang NU, imbuhnya, selalu menekankan untuk mengikuti ulama ahlussunnah wal jamaah, yakni cara mengikuti jejak Rasulullah bagi mereka yang jauh masa hidupnya dengan para sahabat, seperti kita sekarang.

"Ahli sunnahnya itu Rasulullah, wal jamaahnya adalah sahabat, waljamaahnya sahabat itu tabiin, wal jamaahnya tabibin itu tabiit tabi'in, wal jamaahnya tabibit tabiin, lha wal jamaahnya ulama ya sampeyan ini," terangnya.

Karena itulah cara ngajarnya beda. Sahabat tidak dituliskan pakai Al-Qur'an karena mereka hapal Al-Qur'an. "Saya hapal wajah istri saya makanya tidak pernah bawa-bawa fotonya," tandas Gus Muwafiq disambut tawa hadirin.

Begitu para sahabat ditinggal Rasulullah, mereka menulis Al-Qur'an untuk para tabi'in. Hingga pada masa tabibit-tabii'in memberikan harakat karena generasi dibawahnya tidak bisa membaca tanpa harakat. Yang memberi harakat itu namanya Syeikh Khalil bin Ahmad al Fara'idi. Sebelumnya, pada masa tabi'iin, Al-Qur'an sudah diberi titik-titik huruf, tepatnya oleh Abul Aswad Ad Du'ali pada tahun 65 hijriyah.

Abu Ubaidah Qasim bin Salam adalah yang menemukan metode tajwid fil Qur'an karena pengucapan ayat-ayat Qur'an di beberapa negara, sebagaimana telah disusun oleh para tabiit tabi'in itu, diucapkan sususai lahjah (ucapan bahasa keseharian) masing-masing bangsa.

Atas dasar itulah, cara mengajar para kiai kepada santri berbeda dengan cara mengajar Rasulullah kepada para sahabat. Shalatnya sama, tapi waktu yang diterapkan bisa berbeda dengan para sahabat. Jika para sahabat pada jam 11.30 sudah masuk masjid untuk shalat dhuhur karena di Makkah sana, pada zaman itu, iklimnya sudah panas.

Tapi kalau di sini, di Indonesia ini, jam setengah dua belas masih ada yang kebun sawit, di sawah, melaut, "maka kiai sini shalatnya biasanya setengah dua. Biasa itu, orang shalat (dhuhur setengah dua tidak apa-apa, wong ah sholatu ala waqtiha kok, shalat itu di atas waktu shalat, makna ala (di atas) itu jembar, situ ala, sini ala, tengah-tengah itu (bahasa Arabnya) fauqa, kalau di tengah persis (orang Arab menyebutnya) athraf," terang Gus Muwafiq, yang kemudian menyatakan kalau pelaksanaan shalat dhuhur itu bagus juga dilaksanakan di awal, tengah maupun belakang waktu.

Makanya ulama fiqih tidak ada masalah misalnya ketika baru Allahu Akbar mulai shalat dhuhur ternyata rakaat kedua sudah masuk Ahsar, "tidak apa-apa wong kepalanya masih di waktu dhuhur," ujar Gus Muwafiq.

Ketika istri minta suami shalat Dhuhur duluan dan sang istri janjian akan ikut jamaah dhuhur setelah mandi karena dia ngompol, itu sah jika istri menyusul sebagai jamaah sementara sang suaminya, pada rakaat kedua ternyata sudah ada bedug tanda waktu Ashar. "Secara Fiqih itu sah, karena sudah janjian jamaah dhuhur di waktu dhuhur, tapi jangan dipakai sering-sering," tutur Gus Muwafiq.

Cara-cara itulah yang ditempuh oleh ulama yang ada di Nahdlatul Ulama hingga menjadi organisasi yang paling mapan di dunia hingga saat ini, "karena ulama tahu kalau Anda semua ini adalah orang Indonesia. Ketemunya sama ulama (bukan sahabat), maka sampeyan itu cuma muridnya ulama, maka dibikinkan organisasi Islam hanya dikasi nama Nahdlatil Ulama, biar ndak konslet, sekarang banyak orang konslet karena lupa kalau dia muridnya ulama'," terang Gus Muwafiq.

Gus Muwafiq kemudian menyebutkan sanad ilmu orang Blitar, yang jadi muridnya Kiai Imam Hambali, yang muridnya KH Hasyim Asyari hingga kepada Sayyidina Ali yang tiada lain adalah murid Rasulullah Muhammad SAW. [dutaislam.com/ab]

Lihat Ceramah Gus Muwafiq di SINI (Menit ke 60 lebih)
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post

1 komentar:

Konslet akhire JEBLUG Gus ..

POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini