Dutaislam.com mendukung gerakan deradikalisasi dan anti teror di media sosial!

  • [Munafiqnya Aktivis HTI] Mangkir Undangan Dialog Khilafah, Ngoceh Nyerang di Belakang

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Minggu, 30 April 2017
    A- A+
    Susana kondusif acara dialog "Khilafah dan Wawasan Kebangsaan" di Malang, Jumat (28/04/2017)
    DutaIslam.Com - Rencana tim Harakatuna untuk mendatangkan pihak dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam acara dialog nasional dengan tema "Khilafah dan Wawasan Kebangsaan" di Malang, Jatim, ternyata menemui kegagalan.

    Padahal, sebagaimana dikatakan oleh panitia dari Harakatuna, Faizi, acara tersebut bertujuan untuk memberikan konfirmasi ilmiah dan penjelasan atas tanya, mengapa HTI mengampanyekan khilafah di Indonesia?

    Karena mereka menolak hadir, maka dialog hanya berjalan searah. Karena itulah, Faizi menyebut jika mengakibatkan topik bahasan acara itu justru bisa menyikat gagasan ideologi mereka tanpa bantahan yang memadahi.

    "Kami dari Haraktuna mohon maaf tidak bisa mewadahi jika ada kritik tajam dan lainnya (soal khilafah)," ujarnya saat memberikan sambutan pada acara yang berlangsung di Hotel Pelangi 2 Malang, Jumat (27/04/2017).

    Faizi menyatakan hal itu karena niat konfirmasi kepada HTI ternyata tidak diafirmasi balik dan baik oleh dedengkot HTI Malang, DPD I HTI Jawa Timur dan seorang aktivis mahasiswa HTI, yang sebelumnya juga diundang.

    Setelah acara, salah satu kurcacinya bernama Moh. Muhaimin, -mengaku sebagai mahasiswa Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,- malah menulis surat terbuka yang ditujukan kepada narasumber Dr. Aainur Rofiq al-Amin (mantan aktivis HTI yang tobat penulis buku Membongkar Proyek Khilafah ala HTI) dan Makmun Rasyid al-Hafidz (santri Al Hikam Depok penulis buku Gagal Paham Khilafah).

    Muhaimin, yang akunya hadir di dialog, menyebut acara itu sebagai "tidak lebih dari acara tukang fitnah dan tumpukan kesalahan". Dua kesalahan yang dihujamkan cheerleader HTI Malang kepada kedua narasumber itu adalah ihwal ijma' ulama atas wajibnya memilih khalifah serta bantahan kalau HTI suka mengafirkan orang lain.

    Andai saja si Muhaimin itu mau langsung counter di lokasi acara, tentu akan terjadi dinamika dan dialog dua arah. Sayangnya, dia malah menyatakan kalau catatan tiga lembarnya yang di bawa dari rumah tidak jadi digunakan sebagai counter saat acara berlangsung karena suasanya dianggap tidak kondusif. Entah ketakutan atau minder, wallahu a'lam!

    "Saya tidak jadi melakukan counter pemikiran, selain karena suasana yang tidak kondusif," demikian tuduhan di belakang layar yang dilancarkan Muhaimin al-HTI, sebagimana dikirimkan ke akun Facebook Makmun Rasyid pada Sabtu, 29 April 2017.

    Inilah yang sebetulnya tidak diinginkan oleh Faizi dari Harakatuna. Terjadinya bias ocehan dari pecinta khilafah itu karena dedengkotnya mangkir dari undangan panitia acara. Kepada Dutaislam.com, Makmun membantah. Pernyataan anak HTI Malang tersebut menurutnya sangat keliru tempat dan kalimat.

    Meskipun ada video yang mempertontonkan seorang tokoh HTI yang menyebut kafir tiap muslimin Indonesia yang tidak mengikuti jalan khilafah, namun Makmun tidak membantah menggunakan fakta video tersebut, "konteks anak HTI itu kepada saya soal penyebutan HTI yang mengafirkan muslim Indonesia, bukan video itu," ujarnya, Sabtu (29/04/2017).

    Baca juga:
    [HTI Halalkan Segala Cara] Bilang Ajak Warga NU Ziarah Wali, Ternyata Dikubuli Khilafah

    Makmun menerangkan, penjelasan Muhaiman tentang adanya dalil soal khilafah dalam Al-Qur'an adalah keliru, "padahal hanya kata khalifah yang ditemukan dia (di Al-Qur'an), bukan penjelasan soal khilafah ala HTI. Dia ngomong gitu ya sebetulnya malah membantah dirinya sendiri. Saya akan bantahan tulisannya, biar mereka mingkem," terangnya.

    Soal tuduhan Muhaimin kalau narsumber menyebut kelompok HTI suka mengafirkan orang lain, juga dianggap Makmun salah tangkap. Maklum, namanya ngoceh di belakang ya sesuka dia. Kalimat yang dibantah oleh anak HTI tersebut, lanjut Makmun, adalah dari statemen Dr. Ainur Rofiq di awal ceramah.

    Yang dikatakan Ainur Rofiq bukan mengafirkan semua muslim Indonesia, tapi menyebut kalau orang radikal itu bisa jadi mengafirkan orang Islam lainnya. "Itu Pak Rofiq yang ngomong, tapi dituduh dia pakai ngoceh dan menyerang di belakang," papar Makmun.

    Yang daftar online 500 orang
    Abdul Wahab, admin Santrionline.com yang saat itu menyiarkan langsung melalui pagenya menyebutkan lancarnnya acara dialog. Tuduhan kalau acara berjalan tidak kondusif jelas mengada-ada dan nihil dalil dari sumber manapun.

    Menurut Wahab, antusiasme peserta sangat tinggi. Terbukti dari jumlah pendaftar online yang mencapai 500 orang dan banyaknya peserta hingga meluber. Video live streaming nya juga ditonton hingga 13 ribu kali saat acara. Hingga laporan ini ditulis, sudah ditonton lebih dari 14 ribu kali.

    Biasanya, setiap acara, terang Wahab, tim panitia mengundang dua tokoh yang berbeda. Tapi sering mangkir tanpa alasan. "Mereka diundang ke sini (Malang) tidak hadir malah membuat acara dengan tema yang sama di Bandung," jelasnya kepada Dutaislam.com, Jumat (28/04/2017), usai acara.

    Acara itu, menurut Wahab merupakan tema yang lumayan baru di Malang. Tentu bertujuan untuk membentengi anak bangsa dari bahaya khilafah HTI. "Ini ada orang HTI yang sudah masuk mau tobat kok kita yang belum masuk malah mau gabung," terang Wahab.


    Oleh karena itulah, sebagaimana dinyatakan oleh Faizi, acara serupa sudah pernah digelar di Bogor, Bandung, Jakarta, Semarang, Yogyakarta dan Malang (terbaru). Harakatuna, kata Faizi, adalah media yang mewadahi kegiatan progresif anak muda semacam dialog ilmiah di Malang kemarin.

    Adanya buletin Harakatuna, majalah Harakatuna, website Harakatuna.com dan penerbitan Pustaka Harakatuna serta kegiatan seminar dan dialog di pelbagai kota adalah, sekali lagi, hanya untuk mengonfirmasi orang-orang HTI soal propaganda khilafahnya yang dikampanyekan di negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

    Jika acara keren itu disambut dengan nyinyir oleh pengasong khilafah, ya salah mereka tidak mau hadir tanpa konfirmasi, alias mangkir. Ini bukan pengadilan kriminal loh, akhi Muhaimin. Jangan beraninya di belakang doang! [dutaislam.com/ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    2 komentar

    Usul min, sekalian saja Ismail Yusanto HTInya yg diundang..undangan pampang juga di media nasional..selama ini mereka selalu monolog lewat orasi dan demo..kalau diajak dialog ya ngacir..

    Saran saya kalau dialog 2 pihak yg bersebrangan, selenggarakan oleh eo yg netral. Jadi eo nya yg non muslim sj biar netral. Trus masing2 pihak jangan bawa pengikut, krn bs mengganggu konsentrasi juga bikin takut. Setlah itu biarkan media meliput. Nanti biar masyarakat menilai sendiri hasil dialognya.