Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Catat, Ini Karakter dan Kelakuan Kaum Sumbu Pendek Radikal Haters NU di Medsos

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Rabu, 12 April 2017
    A- A+

    DutaIslam.Com - Postingan Dutaislam.com yang berposisi sebagai striker kaum radikal calon teroris seringkali mendapatkan caci maki dan hinaan. Bagi redaksi Dutaislam.com, itu hal biasa yang memang bagian dari risiko melawan radikalisme dan terorisme sejak dari pikiran.

    Sayangnya, ketika redaksi Dutaislam.com memberitakan kebenaran dengan ciri khas yang memang sengaja dibuat langsung attack ideologis, kaum sumbu pendek banyak yang kebakaran jenggot, kepanasan lalu, karena kehabisan dalil dan akal sehat, langsung menuduh. Berikut ini cara mereka dalam bergumul di media sosial.

    1. Menuduh Tak Beraturan
    Jika ada postingan yang mereka tidak suka, tuduhan langsung ditembakkan. Tanpa membaca postingan lain, Dutaislam.com langsung disebut duta kafir, duta syiah, duta komunis, duta aseng, duta yahudi, duta ahok, duta demang, duta munafiq, duta kristen dan lainnya. Tuduhannya tidak beraturan. Kan repot kalau duta syiah disamakan dengan duta kristen. Syiah, atau Kristen? Ngawur kan?

    Bahkan ada yang langsung menuduh admin Dutaislam.com adalah non muslim yang ahokers. Mereka memang seperti penthol korek, digesek sedikit langsung menyala berapi-api, dan, tidak bisa berpikir. Namanya juga penthol korek jres, tidak ada sel otak yang tumbuh.

    2. Komentar Spam
    Acapkali mereka mendapatkan postingan yang menunjukkan kebenaran, berbasis dalil, fakta, baik berupa teks, video maupun komentar, mereka langsung nyampah spam di kotak komentar page. Bahkan komentar mereka tidak ada kaitannya dengan isi postingan.

    Misal, ketika Dutaislam.com memposting judul "Beragama Kok Seperti Mesin Potong Rumput, Semuanya Dibabat", malah diberi spam berita abal-abal soal Kiai Said yang dianggap menyesal menulis buku-bukunya.

    Kan tidak ada hubungannya antara postingan di atas dengan berita fitnah kepada Kiai Said Aqil Siraj. Intinya, mereka ini hanya ingin agar NU makin dijauhi masyarakat. Agar umat Islam yang moderat makin radikal. Komentar tidak nyambung pun dispam, yang penting nyepam. Beres urusan.

    3. Ngajak Gelut
    Ciri paling menonjol yang bisa dibaca dari kaum sumbu pendek kalau mereka kehabisan kecerdasan adalah ngajak gelut (berantem). Bukan secara fisik, tapi dalam bentuk propaganda. Itu bisa dilihat dari isi postingan yang disebarkan di akun media sosial mereka, bisa berupa Facebook, Twitter maupun Instagram.

    Mereka bukan mengkritik, tapi ngajak kita mengikuti arus kepentingan emosinya. Mereka tidak punya imajinasi politik jangka panjang. Norak lah intinya. Misal, ketika tidak setuju guyonan Ketum Ansor yang menyebut Ahok "Sunan Kalijodo", mereka langsung membuat gambar grafis menggunakan foto Pangeran Diponegoro diganti wajah Ahok dengan catatan, "satu-satunya sunan yang tidak sunat". Bahkan membikin gambar provokatif yang menyudutkan Ansor dengan memberi karonim Sunan sebagai "asu tenan".

    Jadi, mereka tidak punya cara cantik dan cerdas untuk menyampaikan pesan dan kritik kepada pembaca. Isinya memang ngajak bermusuhan. Hidupnya penuh dengan kedengkian. Begitu docunter oleh Tim Dutaislam.com, mereka seperti cacing kepanasan.

    4. Nantang Tapi Tak Berani Lawan
    Inbox page Dutaislam.com tidak jarang mendapatkan tantangan. Tapi begitu dilayani, dikasi kesempatan, mereka tidak pernah nongol. Karena tidak terima atas pemberitaan Dutaislam.com, ada yang mau menggeruduk dua bis ke redaksi. Tapi ditunggu lama, ternyata tidak datang.

    Jadi, mereka ini besar di mulut tapi ciut di nyali. Pernah juga ada yang mengancam salah satu viralis Dutaislam.com dengan melaporkannya ke polisi, tapi ditunggu ternyata malah ngilang dan minta maaf. Ini salah satu kelakukan sumbu pendek pembenci NU di dunia maya.

    5. Munafiq dan Penjilat
    Kalau ada postingan yang sesuai dengan nafsu mereka, komentar yang muncul adalah tiba-tiba mendadak membela. Dari yang awalnya menyebut tidak beraturan, berubah drastis beraturan mendekat dan "mendadak NU".

    Bisa dikatakan, mereka ini kaum munafik yang tidak pernah konsisten menyebut haram, tidak pernah konsisten juga menyebut, misalnya selamanya "tabur bunga haram", "selamanya rokok haram", "selamanya Pancasila thighut". Kalau suatu saat mereka mendapatkan tekanan, pendapat yang mrekentheng, keras, seketika jadi lunak. "Dibicarakan kekeluargaan saja lah," begitu dalihnya.

    Silakan ditambhi lagi jika Anda menemukan karakter mereka yang mudah ditebak. Capek nulisnya. Meladeni mereka sama dengan meladeni besi, tak punya otak untuk berpikir. [dutaislam.com/ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    1 komentar:

    Izin share,sahabat...!!!