Selasa, 11 April 2017

Ada Setan Kepanasan Lihat Jutaan Nahdliyyin Istighatsah Tanpa Jilidan Nomor Cantik


DutaIslam.Com - Melihat teduhnya istighatsah jutaan warga NU Jawa Timur yang berlangsung di Sidoarjo pada 9 April 2017 lalu, kalangan bumi datar penghamba tuduhan bid'ah bukannya bersyukur karena nahdliyyin terbukti tidak suka aksi bela-belaan, mereka malah nyinyir menuduh istighatsah sebagai kegiatan bid'ah.

Salah satu statemen kalangan cingkrang itu, ada yang menulis status begini,

--------------------
Kita doakan semoga saudara2 kita yang giat istighotsah kubro segera bertaubat dan berlepas diri dari amalan2 bid'ahnya. Karena seperti hadist Nabi bahwa setiap amalan ibadah bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka. Sungguh pelaku maksiat sadar akan kemaksiatan dosanya. Tapi pelaku bid'ah tidak. Mereka justru merasa sedang mengerjakan pahala. Inilah bisikan syaitan yang dahsyat. Semoga kita semua bukanlah tergolong Abwaja (Ahlul bid'ah wal jama'ah).
Na'udzubillah tsumma naudzubillah!
--------------------

Tuduhan di atas ditulis oleh admin page Hadis Shahih, page Facebook alumni 212 (mungkin) yang dulu juga sempat menuduh Shalawat Nariyah sebagai "pengikut neraka". Naudzubillah laknatullah alaih. Ini bukti kurangajar page tersebut:

Tuduhan Nariyah Pengikut Neraka
Kalangan pecinta rusuh dari golongan ekstrim wahabi, kala mendengar orang sholawatan dan juga berdoa, bak setan yang selalu kepanasan di tengah keteduhan yang sengaja diciptakan PWNU Jawa Timur di tengah aksi yang mendramatisir emosi demosntran seperti terjadi di Jakarta, yang selalu menunggu aksi dijalankan untuk mendapatkan nomor cantik 212, 411, 313.

Untuk mengumpulkan jutaan orang, NU tidak perlu mengumbar emosi dan provokasi. Lebih sulit mengumpulkan massa tanpa yang diundang tanpa besutan kemarahan dan teriak-teriak bunuh, penjara, negara kafir dan lainnya. Tidak perlu ada khutbah berapi-api hingga menyulap mimbar jumatan jadi kampanye anti aseng asong.

Mereka kepanasan melihat foto-foto dan dokumentasi video istighatsah yang tidak diwarnai hasutan dan caci maki. Lihat saja foto-foto di bawah ini! Jelas mereka minder, merinding, dan ketakutan, betapa NU yang selama ini dianggap diam, ternyata, senyata-nyatanya, masih peduli terhadap persatuan.

Istighatsah Mengetuk Pintu Langit (1)

Istighatsah Mengetuk Pintu Langit (2)

Istighatsah Mengetuk Pintu Langit (3)

Istighatsah Mengetuk Pintu Langit (4)

Istighatsah Mengetuk Pintu Langit (5)

Istighatsah Mengetuk Pintu Langit (6)
Setan kepanasan tersebut tidak mengetahui kalau kata istighatsah berasal dari susunan kalimat "Ghauts" yang artinya pertolongan dan diimbuhi huruf "Sin" yang artinya adalah permintaan.

Sementara huruf Ta' Ta'nits di bagian belakang (استغاثة) adalah tambahan yang lazim terdapat dalam kata benda, seperti dijelaskan dalam Nadzam Alfiyah Ibnu Malik. Jadi Istighatsah maknanya adalah permintaan tolong kepada Allah SWT.

Mereka juga tidak ngaji jika bacaan istighatsah bersumber dari hadis ini:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَرَبَهُ أَمْرٌ قَالَ « يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ

Anas berkata: “Jika Rasulullah menemukan kesulitan, beliau berdoa ‘Wahai Dzat yang maha hidup kekal dan maha mengurusi segala sesuatu, Dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan” (HR al-Turmudzi)

Kebanyakan doa yang dibaca dalam istighatsah adalah Asmaul Husna, seperti dalam perintah Allah:

 وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا - الأعراف/180

Artinya: “Hanya milik Allah asma-ul husna (bagus), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna...” (al-A’raf: 180)

Kata Kiai Ma'ruf Khozin, kalangan menolak mengamalkan doa istighatsah ini karena dianggap ada kalimat yang menjurus pada kesyirikan, yaitu seruan permintaan tolong kepada Rasulullah. Benarkah ini syirik?

Jawabannya, "Tidak benar", doa tawassul dengan menyebutkan atau berseru dengan nama Nabi bukan syirik, sebab hakikatnya yang diminta pertolongan hanya Allah dan hanya bertawassul dengan Nabi. Hal ini sudah pernah dilakukan oleh Sahabat Nabi, yaitu Ibnu Umar:

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺷﻌﺒﺔ، ﻗﺎﻝ: ﻛﻨﺖ ﺃﻣﺸﻲ ﻣﻊ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ، ﻓﺨﺪﺭﺕ ﺭﺟﻠﻪ، ﻓﺠﻠﺲ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺭﺟﻞ: اﺫﻛﺮ ﺃﺣﺐ اﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻴﻚ. ﻓﻘﺎﻝ: «ﻳﺎ ﻣﺤﻤﺪاﻩ ﻓﻘﺎﻡ ﻓﻤﺸﻰ

Artinya: Abu Syu'bah berkata, “Aku berjalan bersama Ibnu Umar, tiba-tiba kakinya mati rasa (tidak dapat digerakkan), sehingga ia duduk”. Lalu seorang laki-laki berkata kepadanya: “Panggil orang yang paling kamu cintai”. Lalu Ibn Umar berkata: “Ya Muhammad”. Maka iapun dapat berdiri dan berjalan. (HR al-Bukhari dalam Adab Al Mufrad, Ibnu As-Sunni dalam Amal Al-Yaum wa Al-Lailah dengan 2 jalur sanad)

Istighatsah, dzikir bersama sebagai pengamalan dari hadits berikut:

وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَيَبْعَثَنَّ اللهُ أَقْوَامًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي وُجُوْهِهِمُ النُّوْرُ عَلَى مَنَابِرِ اللُؤْلُؤِ يَغْبِطُهُمُ النَّاسُ لَيْسُوْا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ قَالَّ فَجَثَّى أَعْرَابِيٌ عَلَى رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ حِلَّهُمْ لَنَا نَعْرِفْهُمْ قَالَ هُمُ الْمُتَحَابُّوْنَ فِي اللهِ مِنْ قَبَائِلَ شَتَّى وَمِنْ بِلَادٍ شَتَّى يَجْتَمِعُوْنَ عَلَى ذِكْرِ اللهِ يَذْكُرُوْنَهُ. رواه الطبراني وإسناده حسن.

Artinya: “Sungguh Allah akan membangkitkan kaum di hari kiamat, wajahnya bersinar, dikelilingi umat manusia. Mereka bukan Nabi dan Syahid”. Lalu seorang sahabat bertanya: “Tunjukkan siapa mereka?”. Nabi menjawab: “Mereka orang yang saling cinta karena Allah, dari suku dan daerah berbeda, berkumpul untuk dzikir kepada Allah” (HR al-Thabrani, hadis hasan)

Dzikir bersama dengan suara keras juga dijelaskan dalam hadits berikut:

وعن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال قال الله تبارك وتعالى يا ابن آدم إذا ذكرتني خالياً ذكرتك خالياً وإذا ذكرتني في ملأ ذكرتك في ملأ خير من الذين ذكرتني فيهم رواه البزار ورجاله رجال الصحيح غير بشر بن معاذ العقدي وهو ثقة 

Artinya: Nabi bersabda bahwa Allah berfirman: “Wahai manusia, jika kamu mengebut-Ku menyendiri, maka Aku menyebutmu menyendiri. Jika kamu menyebut-Ku dalam perkumpulan mulia, maka Aku menyebutmu dalam perkumpulan mulia yang lebih baik” (HR al-Bazzar, perawinya sahih selain Bisyr bin Mu'adz ia terpercaya)

Hadis di bawah ini juga juga dalil bolehnya mengeraskan dzikir secara berjamaah seperti yang ditafsirkan oleh ulama ahli hadis terkemuka Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani:

ﻭاﻟﺘﻘﺪﻳﺮ ﺇﻥ ﺫﻛﺮﻧﻲ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻪ ﺫﻛﺮﺗﻪ ﺑﺜﻮاﺏ ﻻ ﺃﻃﻠﻊ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﺣﺪا ﻭﺇﻥ ﺫﻛﺮﻧﻲ ﺟﻬﺮا ﺫﻛﺮﺗﻪ ﺑﺜﻮاﺏ ﺃﻃﻠﻊ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﻤﻸ اﻷﻋﻠﻰ

Makna hadis itu adalah: "Jika ia menyebut-Ku dalam hatinya, maka Aku menyebut dia dengan pahala yang tidak Aku perlihatkan pada siapapun. Dan jika dia menyebut-Ku dengan suara keras (di hadapan jamaah) maka Aku menyebut dia dengan pahala yang Aku perlihatkan kepada sekelompok jamaah yang lebih tinggi"  (Lihat: Fathul Bari 13/386)

Setan-setan wahabi sebelah jadi kepanasan karena mungkin saja mereka tidak bisa memanfaatkan jutaan warga NU yang berkumpul untuk dzikir dan istighatsah demi kepentingan politik busuk di Jakarta. Maklumlah, acaranya kan di Jawa Timur, bukan di DKI Jakarta![dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini