Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

Browsing "Judul lain"

  • [Mati Gaya] Nyindir NU Pakai Puisi Khilafah, Ini Bantahan Puisinya Juga

    Admin: Duta Islam → Minggu, 30 April 2017

    DutaIslam.Com - Baru-baru ini beredar puisi sindiran untuk (mungkin) Ansor Banser dan Nahdliyyin umumnya. Ia menyindir kelompok moderat macam NU dan Muhammadiyah yang dianggap phobia terhadap HTI, FPI, PKS dan lainnya.

    Puisi berjudul "Mau Kamu Apa Sih?" itu dibuat oleh Ma'mun Murod Al-Barbasy (MMA). Karena isinya hanya provokasi dan tuduhan, kami meminta kepada salah satu santri NU untuk membuat bantahan dalam bentuk puisi juga, dari M Abdullah Badri (MAB). Diberi judul olehnya "Kami Mau Kau Pergi!". Puisi MMA mati gaya di hadapan puisi MAB. Silakan disimak!

    Puisi "Mau Kamu Apa Sih?" versus "Kami Mau Kau Pergi" 

    MMA:
    Perampok uang rakyat tak kau persoalkan.
    Penjarah kekayaan negara tak kau adukan,
    Pelacur negara tak kau basmi,
    Pengemplang pajak tak kau tuntut.
    Pembakar hutan tak kau meja hijaukan.
    Padahal itu yang manifes dari kejahatan yang anti-NKRI dan anti-Pancasila.
    Lalu mau kamu apa sih?

    MAB:
    Duh duh, pengasong khilafah mulai kumat khalifah.
    Kau kafirkan basis negara, kau soal kesepakatan NKRI yang berdarah-darah.
    Kau hidup dimana sih sampai tidak tahu ada TNI, Polisi dan KPK.
    Sudah berapa banyak koruptor yang kau tangkap? 
    Ups, pertanyaan itu konyol buat anti NKRI. 
    Antum tahunya kan demo dan khilafah. 
    Antum tak mau mengisi NKRI ini dengan membasmi kejahatan, tapi suka duitnya.
    Bukannya kau anggap ini negara thoghut yang kau benci? 
    Masih menganggap hukum NKRI sah membasmi korupsi?  
    Duh duh duh! Bingung aku buyung!

    MMA:
    Gerakan separatis di Papua tak kau lawan.
    Bendera-bendera Israel yang bertebaran di rumah-rumah penduduk di Papua tak kau cabut dan persoalkan.
    Gerakan separatis yang tersisa di Maluku tak juga kau libas.
    Padahal itu yang manifes dari kejahatan yang anti-NKRI dan anti-Pancasila.
    Lalu mau kamu apa sih?

    MAB:
    Hanya orang Indonesia yang tahu Papua ada Tentara
    Pengasong khilafah akan bangga jika ada pemberontak merajalela di NKRI ini. Bahkan akan didukung. 
    Mengambil alih tugas TNI di Papua dan Maluku bukan sifat kami. 
    Lalu kalian ngapain saja? Apa tugas kalian hanya merusak persatuan NKRI ini? 
    Maunya apa sih kalian hidup di negeri kami?

    MMA:
    Simbol PKI bertebaran di mana-mana tak kau persoalan.
    Kongres PKI yang sudah berlangsung berkali-kali kau tak bertindak apa-apa.
    Oknum-oknum PKI yang sudah mulai petentang petenteng tak pula kau merasa risau dan melawannya
    Oknum-oknum pejabat yang sudah berani terang-terangan menggunakan simbol-simbol komunis tak kau datangi dan kau pukuli.
    Padahal itu yang manifes dari kejahatan yang anti-NKRI dan anti-Pancasila.
    Lalu mau kamu apa sih?

    MAB:
    Simbol PKI bukannya situ yang kelabakan? 
    Kami diam saja selama TNI dan polisi bergerak? Toh semuanya juga tahu, PKI hanya komoditi.
    Mohon sebutkan oknum PKI? Kalau ada, kami sikat! Jangan asal omong!
    Bukan hanya kami yang sikat PKI, aparat juga sikat sudah! 
    Kau mau apa? Perang dengan mereka? Pasukanmu berani mati untuk NKRI? 
    Ups, salah lagi. NKRI kan tidak ada menurut antum!

    MMA:
    Terhadap LGBT kau lindungi dengan dalih HAM, padahal pelaku LGBT itu nyata-nyata pelanggar HAM.
    Terhadap penista agama kau bela, kau labeli simbol-simbol suci agama.
    Terhadap sekularis fundamentalis dan islamophobia kau tak berbuat apa-apa.
    Padahal itu yang manifes dari kejahatan yang anti-NKRI dan anti-Pancasila.
    Lalu mau kamu apa sih?

    MAB:
    Stop stop! Ini nuduh siapa? LGBT dan penista agama dibela siapa yang kau maksud? 
    Kok nuduh tidak jelas sih? Mau kamu apa? Harus mengikuti propaganda murahan kalian?
    Islam jadi dijauhi bukan karena kami, tapi karena ulah kalian bukan? 
    Teroris kau syahid kan. Ustadz pemaki kau viralkan!
    Kami berbuat di negera kami agar Islam tidak kau potong hanya untuk dirimu saja.
    Kau mau kami berbuat jahat kepada yang beda agama? 
    Itu jalan kalian, yang selalu menggunakan isu agama untuk nafsu kuasa! 

    MMA:
    Demen sekali teriak tasamuh dan tawasuth, tapi terhadap pikiran yang tak sejalan kau musuhi.
    Mudah meneriakan ukhuwah wathaniyah,ukhuwah basyariyah, ukhuwah insaniyah, tapi mempraktekkan ukhuwah Islamiyah saja masih kedodoran.
    Lalu mau kamu apa sih?

    MAB:
    Tasamuh dan tawassuth tidak semudah kau jalankan dengan tuduhan. 
    Musuh kami hanya satu, kedhaliman di depan mata. Tasamuh itu tahu tempat. 
    Jika kau paling tasamuh, akhiri semua tuduhan bid'ah tahayul mu serta thighutmu. 
    Ukhuwah Islamiyah tanpa ukhuwah basyariah dan wathaniyah itu bukan kami. 
    Kami jalankan semua ukhuwah, itulah rahmatan lil alamin. Bukan rahmatan lil muslimin saja.
    Kau tuduh kami tidak sayang sesama muslim? 
    Baik, kamu mau apa? Menuduh kami komunis, syiah dan liberal, yang mana? Pilih donk!

    MMA:
    HTI kau musuhi, kau minta bubarkan dengan dalih anti-Pancasila dan mau mendirikan negara khilafah.
    FPI kau perangi, kau halangi, kau kecam dengan dalih ekstrimis, radikalis, anti Pancasila dan anti NKRI.
    PKS kau serang habis, kau kuliti, kau sebut wahabi, kau juluki mau menghadirkan negara Islam.
    Padahal ketiganya sah secara konstitusional hidup di bumi Indonesia, di bumi Pancasila, di NKRI.
    Lalu mau kamu apa sih?

    MAB:
    Hahaha. HTI yang memusuhi negara kami. Apa harus diam? Kiai kami saja kau culik demi busuk misimu.
    Pancasila Jaya jelas bukan khilafah. Silakan bergerak, tragedi NII akan terulang di negeri ini
    FPI kami sayangi, kami malah dipenthungi. Bukankah itu penghianatan? 
    PKS hanya bagian darimu. Politik syariat Islam bukan tempat. 
    Ingatlah, di negeri ini, syariat Islam adalah suplemen, bukan supermind!
    Mereka hidup di negeri ini karena menumpang demokrasi yang kau anggap thoghut, akhi!
    Kami mau kau akhiri semua penyamaran itu!

    MMA:
    Kau selalu merasa paling NKRI,
    Kau selalu merasa paling Pancasila,
    Kau selalu merasa paling bhinneka,
    Kau seakan merasa paling Indonesia.
    Kau anggap di luar dirimu tak paham dan anti NKRI,
    Kau anggap di luar dirimu tak paham dan anti Pancasila.
    Kau anggap di luar dirimu tak paham dan anti kebhinnekaan.
    Lalu mau kamu apa sih?

    MAB:
    Kami hanya menjaga keutuhan NKRI, kau yang menuduh kami paling NKRI.
    Tidak, ada saudara kami yang tidak nyaman atas khilafah dan anti Pancasilamu. 
    Pancasila itu perjanjian, kau rusak itu, sikap kami terus melawan. 
    Apa kau paling Nyar'i?
    Apa di luar HTI paling Islami?
    Apakah NKRI hanya milik paling cinta Islam?
    Kami mau kau enyah dari bumi pertiwi ini? 

    Jika Anda ingin menjawab puisi MMA di atas, menambahi puisi MAB, silakan kirim ke email redaksi Dutaislam.com, di redaksidutaislam@gmail.com. Kami akan muat kembali jika itu karya Anda anti khilafah! [dutaislam.com/ab]

  • Dr. Ainur Rofiq al-Amin: Dulu Ikut HTI Karena Tidak Sabar Menunggu Imam Mahdi

    Admin: Duta Islam →
    Foto bersama setelah acara dialog "Khilafah dan Wawasan Kebangsaan" di Malang (28/04/2017)
    DutaIslam.Com - Dr. Ainur Rofiq al-Amin adalah salah satu santri yang dulu pernah masuk dan aktif di Hizbut Tahrir Indonedia (HTI). Kini, ia telah kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) setelah mendapatkan hidayah bahwa NKRI itu bukan simsalabim ujug-ujug ada dan membesar. NKRI adalah kesepakatan yang dibangun berdarah-darah.

    Jika dulu ia memiliki tugas bergerilya dari tokoh ke tokoh, untuk mempengaruhi agar mereka mendukung khilafah, kini dia justru jadi rujukan jawaban atas pertanyaan masyarakat umum yang acapkali dikampanyekan kalangan HTI untuk menggerus kemantapan warga negara Indonesia tetap berada di barisan Pancasila, lalu mengikuti propaganda mereka, yakni khilafah.

    Setidaknya, itulah yang terekam dalam dialog "Khilafah dan Wawasan Kebangsaan" yang diselenggarakan oleh tim Harakatuna di Hotel Pelangi 2 Malang, Jumat (28/04/2017). Ainur Rofiq didaulat jadi pembicara bersama Muhammad Sofi dan juga Makmun Rasyid.

    Kata Rofiq yang juga penulis buku "Membongkar Proyek Khilafah ala HTI" tersebut, orang-orang perindu khilafah itu sering melontar pertanyaan dungu, misalnya, "Pilih syariat Islam atau Pancasila?" Jika yang ditanya menjawab syariat Islam, maka, mereka akan lanjut "merazia pikiran" dengan kesimpulan ngawur, "berarti harus mendukung khilafah".

    Dua kalimat di atas, yakni syariat Islam dan khilafah, bagi Rofiq, merupakan duet maut bila digandengkan. "Jika mereka malu-malu pakai kata khilafah, mereka menggunakan (kata) syariat Islam," ujarnya kepada ratusan hadirin di ruangan itu, sebagaimana dikutip Dutaislam.com dari page Santrionline.

    Pertanyaan itu, menurut Rofiq, sama dikotomisnya dengan pertanyaan "pilih Qur'an Hadits atau kembali ke fiqih". Padahal, yang bertanya saja tidak bisa kembali kepada dua sumber utama umat Islam tersebut karena kebodohannya.

    Trik itulah yang digunakan HTI untuk mengelabui para santri. "Bahkan (para) santri banyak yang datang ke saya," terangnya. Dari pertanyaan bias itu, seolah-olah umat Islam Indonesia belum menerapkan syariat Islam dan harus menuju khilafah. "Banyak yang tanya begitu," tambahnya.

    Ainur Rofiq akhirnya menjelaskan tentang mengapa Mbah Wahab yang juga tokoh NU mau menerima Pancasila dan tidak diungkit-ungkit lagi hingga wafat. Mengenai hal ini, Anda bisa baca artikel Dr. Rofiq Al Amin: Membongkar Kebiasaan Buruk HTI yang Catut NU Untuk Dukung Argumen Khilafah.

    Kalaupun ingin tegaknya khilafah, Ainur Rofiq kembali menanyakan, HTI itu mau khilafah menurut konsep siapa? ISIS atau ala Hizbut Tahrir? Terus kalau mau bongkar NKRI diganti khilafah, apa jaminan baiknya untuk manusia?

    Jika orang-orang HTI ditanya begitu, lanjut Rofiq, jawaban mereka akan berkelit bahwa memperjuangkan khilafah adalah kewajiban umat Islam. Seakan-akan kalau mereka ikut dukung khilafah, langsung bebas dari dosa-dosa. "Aku juga bisa kalau hanya begitu," tutur Rofiq yang menyebut kalau umat Islam juga tidak boleh mengingkari kesepakatan terbentuknya NKRI.

    Karena ditolak dimana-mana, para pendukung HTI sering melempar isu bahwa sesama umat Islam itu harusnya tidak saling bermusuhan. Artinya, biarkan HTI memperjuangkan khilafahnya, toh sama-sama Islam.

    Wacana di atas hanyalah propaganda untuk menyetop penolakan gerakan Islam trannasional dimana-mana, sebagaimana marak terjadi akhir-akhir ini. Bagi Rofiq, perkara HTI ditolak bukanlah soal dia muslim atau tidak, melainkan soal sikap bernegara.

    Ia akhirnya mengajak peserta yang hadir untuk kembali membuka sejarah penumpasan tentara kepada NII (Negara Islam Indonesia), begitu juga tragedi perang yang terjadi antara Sayyidina Ali dan kaum khawarij dulu, "yang batuknya ireng, suka tahajud dan juga membaca al-Qur'an, apa itu bukan muslim juga?" Tanya Rofiq. Sejarah menunjukkan, para penganggu keutuhan negara harus diperangi.

    Menyerap Nilai-Nilai NU
    Tidak berhasil memperjuangkan agenda khilafah secara massif, HTI pun akhirnya menghaluskan cara dengan menyerap nilai-nilai yang berkembang di kalangan santri dan kiai NU, "saya tidak mau mengatakan taqiyah," terang Rofiq.

    Contoh yang diutarakan oleh doktor asal Jombang itu adalah, misalnya, mereka (HTI) sudah mau pakai bahasa rahmatan lil alamin untuk acara-acara publikasi. Kata "kumpulan para kiai" dan atribut "surban" juga dipakai untuk menghaluskan jalan terjal yang selama ini mendapatkan penolakan diman-mana,

    Agar HTI tidak dikejar-kejar, hidup enak bersama tanpa penghalusan cara, Rofiq menyarankan kepada HTI untuk bareng-bareng mengisi NKRI ini dengan misalnya, ikut masuk di parlemen dan atau menggunakan cara lainnya. Itulah cara praktis mengisi kehidupan politik dan berbangsa. Di sinilah, kata Rofiq, orang-orang HTI bisa ikut membuat aturan potong tangan, potong rabut, potong kuku hingga potong bulu kudu.

    "Tidak usah menunggu kepemimpinan tunggal, tidak usah mengafir-ngafirkan. Tunggu Imam Mahdi saja lah, bro-bro! Itu lebih enak. Kita tidak tukaran (bertengkar). Siapa dia (Imam Mahdi itu)? Terserah karepe Gusti Allah," timpalnya. '

    Ia mengajak kepada bolokurowo HTI agar jangan pakai cara-cara menuduh sistem ini kufur, sistem itu thaghut dan musyrik. "Kalau Allah menjanjikan khilafah tanpa syarat, ya sudah tunggu saja. Karena janji khilafah itu kan tidak bersyarat," terangnya.

    Kalau HTI itu menunggu khilafah tanpa tuduhan thoghut dan kafir, sebagaimana umat Islam menunggu kedatangan Imam Mahdi, penolakan tidak akan terjadi dimana-mana. Dan, kedatangan Imam Mahdi itu tidak ada syarat dari Allah, selaiknya persyaratan masuk surga.

    "Anda masuk surga, taatlah perintah, itu syarat. Kalau Imam Mahdi, syaratnya apa, kalau ada, tolong saya tunjukkan, wes ngono wae, tak pangan segane," ujarnya.

    Sayangnya, Dr. Rofiq Al Amin baru menyadari hal itu setelah sekian lama ikut di HTI hingga sering datang ke rumah-rumah kiai di Pasuruan dan Lamongan untuk mengajak berjuang menegakkan khilafah, yang sebetulnya ilusi dan delusi kuasa.

    "Aku ikut HTI kenapa? Aku bodoh waktu itu," ungkapnya. Ternyata, ia masuk HTI karena tidak sabar menunggu datangnya Imam Mahdi hingga terperosok dalam lubang prediksi "khilafah tegak setelah sekian tahun, setelah ini, setelah itu". Padahal, emboh! [dutaislam.com/ab]

  • Seolah Seluruh Dunia Adalah Tanggungjawab NU, Kalian Mau Digorok Mereka?

    Admin: Duta Islam →

    Oleh KH Yahya Staquf

    DutaIslam.Com - "Dengan banjir propaganda radikalisme di internet saat ini, apa yang bisa dilakukan oleh NU?" demikian wartawan itu bertanya.

    Saya tercekat karena tiba-tiba merasa ngenes. Saya tahu benar, bagaimana keadaan NU. Dan sekarang ada yang nanya macam itu. Demi pencitraan, saya masih bisa berusaha senyum-senyum, tapi kalimat yang keluar dari mulut susah dikendalikan,

    "Ya sini! Kasih kami peralatan dan biaya! Akan kami kerjakan semuanya untuk mengalahkan propaganda mereka!"

    Pertanyaan sejenis itu rupanya digemari wartawan, karena bisa menjadi bahan instan untuk berita yang beranak-pinak, yaitu dari polemik antar pihak yang berseberangan, baik beda ideologi atau beda strategi atau sekedar tanggapan remeh-temeh dari pihak-pihak yang nggak mau ketinggalan pengen masuk berita juga.

    "Ancaman radikalisme dan terorisme sudah sangat gawat. Apa yang akan dilakukan NU?"

    Mendengar pertanyaan itu dalam konferensi pers ISOMIL tahun lalu, saya nggak tahan lagi. Saya muntab,

    Baca: Isomil, Sarana Diplomasi Damaikan Konflik Timteng

    "Kamu tahu nggak?" saya menyalak, "Kamu! Iya! Kamu! Kalian semua ini! Semua adalah target serangan mereka juga! Kalau mereka menang, kalian juga akan digorok digantung di jalan-jalan! Ini bukan cuma ancaman terhadap NU. Ini ancaman terhadap seluruh peradaban umat manusia! Kenapa orang selalu bertanya NU mau apa NU mau apa? Lha kamu sendiri mau apa? Seolah-olah seluruh dunia ini tanggung jawabnya NU sendirian!" [dutaislam.com/ab]

  • (5) Sang Wali Beri Amalan Cepat "Cling" Naik Haji Tanpa Ijazah Doa Wirid

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Setelah beberapa hari bersama Wali Paidi, si murid thariqah tersebut menghadap kepada guru mursyidnya, melaporkan peristiwa yang dialaminya. 10 meter dari gerbang pondok, si murid sudah disambut kawannya yang juga mondok.

    "Sudah ditunggu Mas Yai di depan mushalla".

    "Lho, yai sudah menunggu tho"

    "Iya, tadi kira-kira 1,5 jam lalu aku disuruh Mas Yai membuat dua kopi dan beliau berpesan, setelah membuat kopi tolong taruh di depan mushalla dan cepat-cepat kamu ke pintu gerbang karena katanya dulur saya akan datang. Smapeyan ternyata kang".

    Mereka berdua memasuki pondok. Pintu gerbangnya sangat kecil, berukuran 1 x 2 meter persegi. Dibuat hanya cuma satu daun pintu dari kayu yang kemudian dilapisi seng. Orang yang tidak pernah ke pesantren ini, pasti tidak tahu pintu gerbangnya. Itu satu-satunya jalan masuk.

    Dulu, abahnya Mas Yai pernah berniat merenovasi pintu gerbang pesantren. Agar kelihatan lebih lebar dan bagus. Tapi, pada malamnya, ia bermimpi ketemu Mbah Yai, dan mengatakan

    "Jangan kau dipugar pintu gerbangnya. Biarlah seperti itu saja. Biarkan orang mengira kalau di sini tidak ada pondok". Pesan mimpi itu membuat urung Abah Yai merenovasi pintu gerbang pondok,

    Mas Yai sudah duduk sambil merokok di depan mushalla ditemani dua cangkir kopi hadapannya.

    Setelah mencium tangan, si murid ini duduk di depan Mas Yai. Kang pondok yang mengantar, balik arah, tidak ikut nimbung obrolan karena dia hanya bertugas mengantar (inilah adab seorang murid).

    "Yai, ketika shalat dengan Wali Paidi, saya mendengar bacaan Qur'annya tidak sempurna. Tapi lama kelamaan suara beliau ini kok berubah sangat merdu, apa maksud semua itu," tanya murid. Mas Yai kemudian menghisap rokoknya dalam-dalam.

    "Kamu kan jelas pernah mendengar sabda Nabi yang artinya bau mulut orang puasa itu wangi bagaikan minyak kesturi di hadapan Allah. Ketika kamu mendengar suara Kang Paidi jadi merdu, sesungguhnya kuping yang kamu pakai untuk mendengar itu kupingnya Gusti Allah. Kalau kupingmu sendiri, maka terdengar begitu. Terdengar tidak sempurna menurut kupingmu, tapi di hadapan Allah, bacaan Kang Paidi ini begitu merdu. Begitu juga dengan bau mulut orang yang berpuasa. Akan tercium sangat busuk kalau cara menciumnya pakai hidung kita sendiri".

    "Apakah Kang Paidi ini juga orang thariqah, kiai?"

    "Dia murid abahku (Abah Yai). Sebelum masuk thariqah, perilaku Kang Paidi sudah sangat berthariqah. Kalau kamu melihat tingkah polahnya yang awur-awuran, itu hanya untuk menutupi kesejatian dirinya. Setahu saya, Kang Paidi orang yang tidak punya su’udzan kepada orang lain, baik anak kecil maupun maling, dia tetap husnudzan. Inilah salah satu kelebihan Kang Paidi".

    "Tapi, kenapa bukan Yai sendiri yang mengatakan kepada saya kalau selama ini tempat yang saya kira Makkah itu sebenarnya adalah lokasi pembuangan sampah?"

    "Hahahaha, itu memang tugas Kang Paidi. Dan lagi, tempat pembuangan sampah itu kan dekat dengan mushallanya. Kalau aku yang menunjukkan, kamu akan bingung berada di mana. Sedangkan TPA itu jauh dari pondokmu ini".

    ***
    Sementara itu, di tempat lain, Wali Paidi sedang kedatangan seorang tamu yang ingin sekali berangkat haji.

    "Kang, saya ingin sekali bisa berangkat haji. Tolong dikasih amalan yang bisa membuat saya bisa berangkat haji," pinta orang tersebut.

    "Saya tidak bisa. Coba sampeyan minta kepada kiai yang lebih mengerti soal itu. Saya ini orang bodoh". jawab Ali Paidi

    "Tidak kang, saya tidak keliru karena saya bermimpi kalau sampeyanlah yang bisa menunjukkan jalan tersebut".

    "Baiklah, kalau sampeyan memaksa, begini saja, tiap habis shalat Shubuh sampeyan membaca Surat Yasin sebanyak 7 kali. Kalau ada apa-apa, sampeyan ke sini lagi".

    Setelah sebulan orang tersebut benar-benar melaksanakan ijazah Wali Paidi, namun tidak terjadi apa. Dia kembali menghadap.

    "Tidak ada apa-apa kang".

    "Kalau begitu, bacaan Surat Yasinnya ditambah Surat Al-Waqi'ah sebanyak 7 kali. Dan, kalau nanti terjadi sesuatu di tengah membaca kedua surat tersebut, kesini lagi. Jangan langsung daftar haji tanpa beri kabar saya lo yah".

    Setelah dibaca sebulan, tetap tidak mengeluarkan tanda apa-apa. Aneh, akhirnya orang ini kembali lagi menghadap Wali Paidi.

    "Masih belum ada tanda apa-apa, kang".

    Wali Paidi terdiam dan memejamkan matanya sebentar. Lalu ia menatap serius wajah orang yang ingin cepat naik haji ke Makkah itu.

    "Kalau begitu, tambah lagi dengan surat tanah, pasti sebentar lagi sampeyan akan berangkat haji".

    "Hahahahahaha"

    Orang itu terpingkal-pingkal mendapatkan amalan selanjutnya.

    "Anu kang, kata para kiai, haji itu tidak hanya ibadah ruhani saja, tapi juga ibadah jasadi, terutama ibadah dengan bondho atau duit," Wali Paidi menjawab serius tapi tetap terlihat lucu dan menggemaskan. [dutaislam.com/ab]

  • [Munafiqnya Aktivis HTI] Mangkir Undangan Dialog Khilafah, Ngoceh Nyerang di Belakang

    Admin: Duta Islam →
    Susana kondusif acara dialog "Khilafah dan Wawasan Kebangsaan" di Malang, Jumat (28/04/2017)
    DutaIslam.Com - Rencana tim Harakatuna untuk mendatangkan pihak dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam acara dialog nasional dengan tema "Khilafah dan Wawasan Kebangsaan" di Malang, Jatim, ternyata menemui kegagalan.

    Padahal, sebagaimana dikatakan oleh panitia dari Harakatuna, Faizi, acara tersebut bertujuan untuk memberikan konfirmasi ilmiah dan penjelasan atas tanya, mengapa HTI mengampanyekan khilafah di Indonesia?

    Karena mereka menolak hadir, maka dialog hanya berjalan searah. Karena itulah, Faizi menyebut jika mengakibatkan topik bahasan acara itu justru bisa menyikat gagasan ideologi mereka tanpa bantahan yang memadahi.

    "Kami dari Haraktuna mohon maaf tidak bisa mewadahi jika ada kritik tajam dan lainnya (soal khilafah)," ujarnya saat memberikan sambutan pada acara yang berlangsung di Hotel Pelangi 2 Malang, Jumat (27/04/2017).

    Faizi menyatakan hal itu karena niat konfirmasi kepada HTI ternyata tidak diafirmasi balik dan baik oleh dedengkot HTI Malang, DPD I HTI Jawa Timur dan seorang aktivis mahasiswa HTI, yang sebelumnya juga diundang.

    Setelah acara, salah satu kurcacinya bernama Moh. Muhaimin, -mengaku sebagai mahasiswa Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,- malah menulis surat terbuka yang ditujukan kepada narasumber Dr. Aainur Rofiq al-Amin (mantan aktivis HTI yang tobat penulis buku Membongkar Proyek Khilafah ala HTI) dan Makmun Rasyid al-Hafidz (santri Al Hikam Depok penulis buku Gagal Paham Khilafah).

    Muhaimin, yang akunya hadir di dialog, menyebut acara itu sebagai "tidak lebih dari acara tukang fitnah dan tumpukan kesalahan". Dua kesalahan yang dihujamkan cheerleader HTI Malang kepada kedua narasumber itu adalah ihwal ijma' ulama atas wajibnya memilih khalifah serta bantahan kalau HTI suka mengafirkan orang lain.

    Andai saja si Muhaimin itu mau langsung counter di lokasi acara, tentu akan terjadi dinamika dan dialog dua arah. Sayangnya, dia malah menyatakan kalau catatan tiga lembarnya yang di bawa dari rumah tidak jadi digunakan sebagai counter saat acara berlangsung karena suasanya dianggap tidak kondusif. Entah ketakutan atau minder, wallahu a'lam!

    "Saya tidak jadi melakukan counter pemikiran, selain karena suasana yang tidak kondusif," demikian tuduhan di belakang layar yang dilancarkan Muhaimin al-HTI, sebagimana dikirimkan ke akun Facebook Makmun Rasyid pada Sabtu, 29 April 2017.

    Inilah yang sebetulnya tidak diinginkan oleh Faizi dari Harakatuna. Terjadinya bias ocehan dari pecinta khilafah itu karena dedengkotnya mangkir dari undangan panitia acara. Kepada Dutaislam.com, Makmun membantah. Pernyataan anak HTI Malang tersebut menurutnya sangat keliru tempat dan kalimat.

    Meskipun ada video yang mempertontonkan seorang tokoh HTI yang menyebut kafir tiap muslimin Indonesia yang tidak mengikuti jalan khilafah, namun Makmun tidak membantah menggunakan fakta video tersebut, "konteks anak HTI itu kepada saya soal penyebutan HTI yang mengafirkan muslim Indonesia, bukan video itu," ujarnya, Sabtu (29/04/2017).

    Baca juga:
    [HTI Halalkan Segala Cara] Bilang Ajak Warga NU Ziarah Wali, Ternyata Dikubuli Khilafah

    Makmun menerangkan, penjelasan Muhaiman tentang adanya dalil soal khilafah dalam Al-Qur'an adalah keliru, "padahal hanya kata khalifah yang ditemukan dia (di Al-Qur'an), bukan penjelasan soal khilafah ala HTI. Dia ngomong gitu ya sebetulnya malah membantah dirinya sendiri. Saya akan bantahan tulisannya, biar mereka mingkem," terangnya.

    Soal tuduhan Muhaimin kalau narsumber menyebut kelompok HTI suka mengafirkan orang lain, juga dianggap Makmun salah tangkap. Maklum, namanya ngoceh di belakang ya sesuka dia. Kalimat yang dibantah oleh anak HTI tersebut, lanjut Makmun, adalah dari statemen Dr. Ainur Rofiq di awal ceramah.

    Yang dikatakan Ainur Rofiq bukan mengafirkan semua muslim Indonesia, tapi menyebut kalau orang radikal itu bisa jadi mengafirkan orang Islam lainnya. "Itu Pak Rofiq yang ngomong, tapi dituduh dia pakai ngoceh dan menyerang di belakang," papar Makmun.

    Yang daftar online 500 orang
    Abdul Wahab, admin Santrionline.com yang saat itu menyiarkan langsung melalui pagenya menyebutkan lancarnnya acara dialog. Tuduhan kalau acara berjalan tidak kondusif jelas mengada-ada dan nihil dalil dari sumber manapun.

    Menurut Wahab, antusiasme peserta sangat tinggi. Terbukti dari jumlah pendaftar online yang mencapai 500 orang dan banyaknya peserta hingga meluber. Video live streaming nya juga ditonton hingga 13 ribu kali saat acara. Hingga laporan ini ditulis, sudah ditonton lebih dari 14 ribu kali.

    Biasanya, setiap acara, terang Wahab, tim panitia mengundang dua tokoh yang berbeda. Tapi sering mangkir tanpa alasan. "Mereka diundang ke sini (Malang) tidak hadir malah membuat acara dengan tema yang sama di Bandung," jelasnya kepada Dutaislam.com, Jumat (28/04/2017), usai acara.

    Acara itu, menurut Wahab merupakan tema yang lumayan baru di Malang. Tentu bertujuan untuk membentengi anak bangsa dari bahaya khilafah HTI. "Ini ada orang HTI yang sudah masuk mau tobat kok kita yang belum masuk malah mau gabung," terang Wahab.


    Oleh karena itulah, sebagaimana dinyatakan oleh Faizi, acara serupa sudah pernah digelar di Bogor, Bandung, Jakarta, Semarang, Yogyakarta dan Malang (terbaru). Harakatuna, kata Faizi, adalah media yang mewadahi kegiatan progresif anak muda semacam dialog ilmiah di Malang kemarin.

    Adanya buletin Harakatuna, majalah Harakatuna, website Harakatuna.com dan penerbitan Pustaka Harakatuna serta kegiatan seminar dan dialog di pelbagai kota adalah, sekali lagi, hanya untuk mengonfirmasi orang-orang HTI soal propaganda khilafahnya yang dikampanyekan di negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

    Jika acara keren itu disambut dengan nyinyir oleh pengasong khilafah, ya salah mereka tidak mau hadir tanpa konfirmasi, alias mangkir. Ini bukan pengadilan kriminal loh, akhi Muhaimin. Jangan beraninya di belakang doang! [dutaislam.com/ab]

  • Mbah Liem Klaten: Pencetus Slogan NKRI Harga Mati Pancasila Jaya!

    Admin: Duta Islam →

    Oleh Ali Mahbub

    DutaIslam.Com - KH. Muslim Rifai Imampuro atau yang akrab dipanggil Mbah Liem adalah kiai yang bersahaja, nyentrik, sering berpenampilan nyeleneh dalam menghadiri acara-acara, dan saat menyampaikan pidatonya di muka umum sering berpakain ala tentara, memakai topi, berdasi, bersepatu tentara, tapi sarungan.

    Bahkan pada saat prosesi upacara pemakaman beliau pun juga tergolong tidak seperti umumnya. Saat jenazah dipikul dari rumah duka menuju makam di Joglo Perdamaian Ummat Manusia sedunia di komplek pesantren diarak dengan tabuhan hadroh "Shalawat Thola’al Badrun Alaina". Proses pemakamanya seperti tentara juga, menggunakan tembakan Salto yang dipimpin langsung oleh TNI/Polri. Hal ini dilaksanakan sesuai wasiatnya.

    Mbah Lim selalu menutup-nutupi indentitasnya, bahkan hingga kini putra-purtinya tidak mengetahui persis tanggal lahir beliau. Salah satu putra Mbah Lim, yakni Gus Muh mengatakan kalau Mbah Lim lahir pada tanggal 24 April 1924, namun Gus Muh sendiri belum begitu yakin.

    Soal identitas, Mbah Lim hanya sering mengatakan kalau beliau dulu bertugas sebagai Penjaga Rel Kereta Api. Tentang silsilah, pada akhir-akhir hayatnya, menurut informasi dari Gus Jazuli (putra menantu), Mbah Lim pernah menulis di kertas yang menyebut kalau ia masih keturunan Keraton Surakarta.

    Kiprah Mbah Lim di NU dan untuk NKRI belum banyak diketahui orang, apalagi mendokumentasikannya. Hanya saja, setelah beliau wafat, muncul orang-orang yang mulai menulis artikel atau cerita-cerita mengenai Mbah Lim di web/blog ataupun di medsos.

    KH. Muslim Rifai Imampuro atou Mbah Liem dikenal sangat dekat dengan Gus Dur. Bahkan jauh sebelum Gus Dur menjadi presiden, kedua kiai ini sudah saling akrab. Banyak orang mengatakan, Mbah Lim adalah guru spiritual Gus Dur.

    Dalam struktur NU, mulai tingkat bawah hingga pengurus besar, nama Mbah Lim tidak pernah tercatat sebagai pengurus. Namun kiprahnya menjaga dan membesarkan NU tidak pernah absen sedikitpun, Walaupun tidak pernah menjadi pengurus NU, Mbah Lim selalu mejadi rujukan para kiai dalam menahkodai NU. Bahkan Mbah Lim hampir pasti selalu hadir dalam setiap acara-acara PBNU, mulai dari Konbes, Munas hingga Muktamar.

    Setelah berkelana, nyantri ke berbagai pondok pesantren, terutama nyantri pada Kiai Shirot Solo,
    Mbah Liem akhirnya hijrah ke Klaten, tinggal di Dusun Sumberejo, Desa Troso, Kecamatan Karanganom. Di sana beliau mendirikan pondok pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti. Nama pesantrennya tergolong unik dan sudah pasti merupakan bukti konsistensi Mbah Liem dalam mencintai dan menjaga NKRI Pancasila.

    Pada kurun tahun 1983, kelompok Islam radikal atau bisa kita sebut Islam transnasional, sudah mulai mempersoalkan lagi Pancasila sebagai dasar negara. Mereka mempertanyakan lagi relevansi Pancasila dengan Islam.

    Gagasan mereka dipandang oleh para kiai NU sangat membahayakan keutuhan NKRI dan Pancasila. Maka, NU segera menyikapi dengan mengadakan Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama (Munas NU) di Sukorejo, Situbondo Jawa Timur dengan hasil sebagai berikut:

    1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan Agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan Agama.

    2. Sila ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila sila yang lain, mencerminkan tauhid menurutpengertian keimanan dalam Islam.

    3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah akidah dan syariat, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia.

    4. Penermaan dan pengalaman pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat ilsam Indonesia untuk menjalankan syariat agamannya.

    5. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pegertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

    Semenjak Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mulai dipersoalkan oleh kelompok radikal itulah, maka para kiai (terutama Mbah Lim) dalam setiap acara apapun terus mengatakan dan mendoakan agar "NKRI Pancasila aman makmur damai Harga Mati".

    Kalau berpidato judul utama Mbah Lim selalu tentang kebangsaan dan kenegaraan. Kurang lebih kalimat beliau begini:  "Mugo-mugo NKRI Pancasila Aman Makmur Damai Harga Mati".

    Di masjid pondok nya Mbah Lim, setiap setelah iqomat sebelum shalat berjama’ah dilaksanakan, para diwajibkan membaca do’a untuk umat Islam, bangsa dan negara Indonesia. Berikut doanya:

    "Subhanaka Allahumma wabihamdika tabaraka ismuka wa ta’ala jadduka. Laa ilaha ghoiruka. Duh Gusti Alloh Pangeran kulo. Kulo sedoyo mbenjang akhir dewoso dadosno lare ingkang sholeh, maslahah, manfaat dunyo akherat bekti wong tuo, agomo, bongso maedahe tonggo biso nggowo becik ing deso, soho negoro kesatuan Republik Indonesia Pancasila kaparingan aman, makmur, damai. Poro pengacau agomo lan poro koruptor kaparingono sadar sadar, Sumberejo wangiberkah ma’muman Mekah"

    Dalam buku "Fragmen Sejarah NU" ada kesaksian menarik dari Maulana Habib Lutfi Bin Yahya. Beliau mengatakan, pada saat Panglima TNI Jendral Benny Moerdani datang ke pesantrannya Mbah Lim Al Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Mbah Lim meneriakkan yel, NKRI Harga Mati! NKRI Harga Mati! NKRI Harga Mati! Pancasila Jaya.

    Maka sejak itulah yel yel NKRI Harga Mati menjadi jargon. Slogan itu tidak hanya dikenal di kalangan NU, tapi di beberapa pihak seperti di TNI. Jadi slogan atau jargon "NKRI Harga Mati! Pancasila Jaya!" dicetuskan oleh KH. Muslim Rifai Imampuro. Lahul Faatihah! [dutaislam.com/ab]

    Ali Mahbub, wakil Ketua PW GP Ansor Jateng

  • Indonesia dan Filipina akan Tersambung Jalur Kapal

    Admin: Duta Islam → Sabtu, 29 April 2017

    DutaIslam.Com - Konektivitas antara Indonesia dan Filipina sebagai perwujudan konektivitas ASEAN akan terealisasi akhir pekan ini. Presiden Joko Widodo dan Presiden Rodrigo Duterte akan membuka jalur pelayaran kapal Ro-Ro dari Davao/General Santos ke Bitung, Sulawesi Utara.

    Demikian salah satu komitmen kerja sama yang terungkap dalam pernyataan pers bersama Presiden Jokowi dan Presiden Duterte di Istana Malacanang, Jumat (28/04/2017).

    "Tanggal 30 April 2017, kami berdua akan meresmikan pembukaan jalur pelayaran Ro-Ro di Davao/General Santos ke Bitung yang merupakan bagian penting pembangunan konektivitas ASEAN," kata Presiden Jokowi.

    Selain kerja sama dalam bidang perhubungan, dalam pertemuan tersebut, kedua kepala negara juga menyaksikan penandatanganan kesepakatan kerja sama dalam bidang pertanian. Indonesia dan Filipina juga sepakat meningkatkan kerja sama di berbagai sektor, terutama bidang politik dan keamanan, ekonomi, keamanan maritime, dan people to people contact.

    Di bidang perdagangan, kedua negara mencatatkan nilai pertumbuhan yang positif pada tahun 2016. Perdagangan kedua negara meningkat sebesar 32 persen dari tahun 2015. "Kita sepakat untuk selenggarakan Joint Working Group on Trade Indonesia-Filipina pada tahun ini," ucap Presiden Jokowi.

    Di bidang investasi, Presiden Jokowi mengatakan bahwa ia akan akan terus mendorong perusahaan-perusahaan Indonesia berpartisipasi pada sektor retail dan pembangunan infrastruktur, khususnya pembangkit listrik, jalan tol, dan kereta api di Filipina.

    Sementara itu di bidang kerja sama maritim, khususnya Delitimitasi Maritim, kedua kepala negara juga sepakat untuk menyelesaikan ratifikasi Perjanjian Batas ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) pada tahun ini dan mendorong penyelesaian batas Landas Kontinen secepatnya.

    "Di bidang keamanan maritim, kita  sepakat untuk dapat meluncurkan Trilateral Maritime Patrol (TMP) Indomalphi dalam waktu dekat," imbuh Jokowi.

    Dalam upaya memerangi kejahatan lintas batas dan terorisme, kedua pemimpin juga sepakat untuk menyelenggarakan Joint Working Group on Counter Terorism pada tahun ini. "Kami sepakat untuk memperpanjang MoU Kerja Sama Pemberantasan Terorisme Tahun 2014 serta memperkuat kerja sama informasi intelijen," ujarnya.

    Adapun di bidang people to people contact, Presiden Jokowi mengatakan bahwa ia dan Presiden Duterte sepakat untuk memperkuat kerja sama perlindungan warga negara kedua negara dan para buruh migran ASEAN.

    Turut hadir mendampingi Presiden Jokowi dalam kesempatan tersebut antara lain Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Kepala BKPM Thomas Lembong, Kepala BIN Budi Gunawan dan Duta Besar Indonesia untuk Filipina Johny J. Lumintang. [dutaislam.com/bey]

  • Ijazah Doa Bahasa Jawa dari Nabi Khidzir

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Mengenai doa dengan bahasa daerah setempat, KH. Idris Marzuqie Lirboyo pernah berkata:

    "Kowe ki nek nompo dungo-dungo Jowo seko kiai sing mantep. Kae kiai-kiai ora ngarang dewe. Kiai-kiai kae nompo dungo-dungo Jowo seko wali-wali jaman mbiyen. Wali ora ngarang dewe kok. Wali nompo ijazah dungo Jowo seko Nabi Khidlir. Nabi Khidlir yen ketemu wali Jowo ngijazaji dungo nganggo boso Jowo. Ketemu wali Meduro nganggo boso Meduro."

    "Kamu itu kalau menerima doa-doa Jawa dari kiai harus yakin. Para kiai itu tidak asal ngarang. Kiai-kiai itu menerima doa-doa Jawa dari wali-walu zaman dulu. Wali tidak asal ngarang kok. Wali itu menerima ijazah doa dari Nabi Khidzir. Nabi Khidzir kalau ketemu wali Jawa memberi ijazah doa pakai bahasa Jawa. Ketemu wali Madura pakai bahasa Madura".

    Ada kisah unik mengenai doa bahasa Jawa ini. Suatu ketika di Tanah Arab terjadi kekeringan, lama sekali tidak turun hujan. Mengatasi masalah ini, Raja Hijaz mendatangkan ulama-ulama Makkah dan Madinah, mereka dimintakan doa di depan Ka’bah agar hujan turun segera.

    Usai seluruh ulama berdoa, hujan tak kunjung turun, malah semakin panas hingga beberapa bulan. Raja Hijaz pun tiba-tiba ingat ada satu ulama yang belum diundang untuk dimintai doa.

    Dicarilah ulama tersebut, setelah ketemu, ternyata perawakan ulama tersebut pendek, kecil dan kulitnya hitam. Ulama tersebut bernama Syaikh Nawawi bin Umar Tanara Al Bantani Al Jawi. Beliau ahli bahasa Arab dan mempunyai karya 40 judul, semuanya berbahas Arab.

    Kemudian, ulama asal dusun Tanara, Tirtayasa, Banten tersebut berangkat berdoa meminta hujan kepada Allah SWT di depan Ka’bah. Anehnya, meski Syaikh Nawawi Banten mampu berbahasa Arab dengan fasih, di depan Ka’bah beliau berdoa meminta hujan dengan memakai bahasa Jawa.

    Para ulama Makkah dan Madinah yang berdiri di belakangnya menyadongkan tangan sambil berkata "amin". Mbah Nawawi berdoa: "Ya Allah, sampun dangu mboten jawah, kawulo nyuwun jawah."

    Seketika hujan turun. Yang berdoa berbahasa Arab dengan fasihnya tidak mujarab, sedangkan dengan bahasa Jawa malah justru ampuh. Makanya, jangan sok meremehkan doa bahasa Jawa. [dutaislam.com/ab]

  • Mbah Rusmani, Kiai Berusia 100 Tahun Lebih Murid Langsung Mbah Hasyim Asyari

    Admin: Duta Islam →
    Mbah Rusmni, murid langsung KH Hasyim Asyari
    DutaIslam.Com - Baru-baru ini, beredar foto viral di dunia maya yang diberi keterangan kalau ia adalah murid langsung Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Namanya adalah Mbah Kiai Rusmani.

    Hingga Dutaislam.com menulis laporan ini, beliau masih sehat. Konon, usianya sudah melebihi 100 tahun dan tinggal di Wonogiri (Dukuh Miri, Desa Kedawung, Kecamatan Kismantoro), Jawa Tengah. Menurut keterangan salah satu sumber, Mbah Kiai Rusmani adalah saudara dari (alm) Kiai Irfan, Kalipare, Malang Selatan, Jawa Timur.

    Saat beliau disowani oleh Kiai Abdul Mun'im DZ dan membawa foto Mbah Hasyim, tiba-tiba beliau tidak bisa menahan tangis, "saya tidak bisa meneruskan perjuangannya," jawabnya ketika ditanya alasan mengapa tak bisa menahan air mata.

    Mbah Rusmani saat ditunjukkan foto Mbah Hasyim Asyari
    Meskipun begitu, Mbah Kiai Rusmani hingga kini masih terus mengasuh pondok pesantren dan majelis ta'limnya.

    Lain lagi, memori yang membekap murid kiai Hasyim yang juga masih hidup. KH Amin Badjuri, kini berusia 96 tahun dan tinggal di Purworejo (Desa Bruno, Kecamatan Bruno), populer dengan nama Mbah Abdurrahman.

    Di daerah itu jika bertanya tentang beliau, orang banyak yang mengenal. Pesan hadratusy syekh yang masih diingat betul, "Kowe suk luruo duit nggo agomo. Ojo agomo nggo luru duit". Perhatikan ijazahnya yang masih utuh di bawah ini. [dutaislam.com/ab]


  • Duh, Kasihan HTI, Dihujat Sana-Sini Tapi Belum Nemu Nama Khalifah yang Akan Diasong

    Admin: Duta Islam →

    Oleh Najwa Aulya

    DutaIslam.Com - Agak kasihan sebenarnya sama teman-teman aktivis HTI mendengar acara "International Khilafah Forum" yang rencananya diselenggarakan di Gedung Balai Sudirman dan Masjid Az-Zikra (dulu bernama Masjid Muammar Qaddafi) mendapat penolakan dimana-mana.

    Hidup memang kejam, setelah ditolak di sebagian besar negara muslim Timur Tengah (termasuk Saudi), di Indonesia pun mereka juga mendapat naga-naga yang sama.

    Saran saya untuk saudara-saudara Hizbut Tahrir Indonesia. Daripada sibuk mengusung ideologi Khilafah dan teriak-teriak di pinggir jalan pemerintah thoghut, demokrasi kafir dan hancurkan Neolib, lebih baik tunjukkan siapa sosok yang hendak kalian angkat sebagai Khalifah?

    Sepakati dulu dalam intern kalian Hizbut Tahrir se-dunia, baik HT Indonesia, HT London, HT Malaysia, HT India dan HT-HT sedunia yang konon anggotanya ada puluhan juta orang itu, siapa Khalifah yang hendak kalian usung?

    Dalam Islam tidak boleh hukumnya ada dua orang Khalifah Islam di muka bumi. Bahkan ada riwayat, jika sudah terpilih seorang Khalifah, maka bunuhlah Khalifah kedua (yang ngaku-ngaku).
    Masa' kalian kalah sama ISIS yang baru berdiri 2013 tapi sudah usung Khalifahnya duluan (Abu Bakar al Baghdadi) dan perang mati-matian di Suriah dan Iraq. Sedangkan kalian yang sudah berdiri sejak tahun 1953 sampai hari ini belum jelas Khalifahnya siapa?

    Jangan sampai setelah Khilafah berdiri, sesama kalian malah gontok-gontokan. Seleb medsos pendukung Khalifah yang satu, perang-perangan status sama seleb medsos pendukung Khalifah yang lain. Masing-masing ribut sendiri, facebook rame, dan akhirnya pemenangnya tetaplah Mark Zuckerberg.

    Kan gak lucu kalau nanti Felix Siauw perang status sama Jonru soal Khalifah junjungan. Belum lagi nanti kalian harus perang sama Imam demo 7 juta umat yang sudah memproklamirkan diri sebagai Imam Besar Umat Islam.

    Jadi harus jelas, spesifik dan konkrit ya, kalian itu mau angkat siapa? Misalkan kalian mau angkat Felix Siauw sebagai Khalifah, ya sudah, usunglah dia dan biarkan diuji di hadapan publik dan sejauh mana dia bisa diterima di hadapan umat. Umat Islam se-dunia lho ya, bukan hanya umat Hizbut Tahrir!

    Dan satu lagi. Jika sudah menang, tugas kalian akan sangat berat, yaitu mengalahkan ISIS yang Khilafahnya sudah berdiri duluan di Iraq wa Syam. Emang Felix Siauw berani?

    Haiyaaa... kalau ga berani mau ditaruh dimana kepala botak lu di hadapan si "kafir" Bashar al Assad? [dutaislam.com/ab]

  • (4) Sering Shalat di Atas Daun, Pemuda Ini Temui Kiai yang Biasa Jualan Minyak Wangi

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Habis dari Gunung Arjuna, Wali Paidi menjalankan aktifitas sebagaimana biasa di rumah. Tiap pagi Wali Paidi pergi ke pasar berjualan minyak wangi. Orang-orang pasar dan tetangga biasa memangilnya Kang Paidi tukang minyak.

    Tiap jam 1 siang, Wali Paidi menutup tokonya dan pulang. Waktu Ashar setelah istirahat siang, Wali Paidi mengajari anak-anak kecil di langgar, belajar membaca Al-Qur'an sampai waktu Maghrib. Dulu, langgar Wali Paidi yang sederhana ramai anak-anak kecil yang belajar ngaji. Namun setelah ada sistem Iqro' dan Qira'ati, jadi sepi. Mereka pindah ke TPQ sebelah yang di kampung makin banyak.

    Untuk mendapatkan syahadah (semacam ijazah) mengajar, Wali Paidi pernah mengikuti pelatihan ustdaz ala metode Iqro' maupun Qiro'ati yang memang diwajibkan. Tapi ia tidak lulus karena sering merokok dan bawa kopi ke dalam kelas.

    Karena itulah, panduan ngaji Qur'an di langgar Wali Paidi tetap pakai metode lama, yaitu Baghdadi (alif fathah A, alif kasroh I, alif dhommah U. A-I-U). Apa boleh buat, guru ngaji yang tidak punya syahadah tidak boleh mengajar pakai metode yang sudah tersusun praktis itu.

    Lama-lama murid Wali Paidi habis karena tidak mengikuti sistem. Kini hanya tinggal 5 anak saja yang tetap mau mengaji di langgarnya. Satu-satunya alasan kelima orangtua murid Wali Paidi ini tetap mengikutkan ngaji di langgar adalah ekonomi. Mereka anak orang-orang miskin yang tidak mampu membeli seragam TPQ beserta buku panduannya.

    Daripada tidak mengaji, para orangtua itu tetap mempercayakan dan menitipkan anak-anaknya kepada Wali Paidi. Di sana tidak ada tarikan uang, alias bebas dari biaya apapun. Kadang mereka malah sering dikasih uang jajan oleh Wali Paidi.

    ***
    Menjelang Magrib, seorang pemuda seumuran 35 tahun datang mencari Wali Paidi. Diketahui, ia adalah murid thariqah. Datang disuruh gurunya mencari Wali Paidi.

    "Nak, carilah kiai di daerah ini. Namanya Ali Firdaus. Tapi orang-orang biasa memanggil dengan sebutan Paidi (orang yang memberi faedah). Umurnya setara denganmu, dan hanya beliau satu-satunya laki-laki yang bernama Paidi di kampung itu. Kalau kamu ketemu dengannya, sampaikan salamku dan mintalah nasehat padanya," begitulah yang dikatakan guru kepada sang pemuda, waktu itu.

    Pemuda itu diminta mencari Wali Paidi karena ia sering mengalami hal-hal aneh. Misalnya, ketika shalat, tiba-tiba ia sudah berada di Makkah dan shalat di hadapan Ka'bah sana. Banyak orang mengaku sering melihat sang pemuda sedang shalat di atas daun, padahal dia ada di rumah. Karena merasa aneh, ia melaporkan semua kejadian yang dialaminya itu kepada guru thariqahnya. Disuruhlah ia mencari Kiai Ali atau Kiai Paidi.

    "Di sini tidak ada yang namanya Kiai Paidi. Yang ada Kang Paidi, penjual minyak wangi," jawab orang kampung dimana rumah Wali Paidi. Yang punya hape tahunya kalau nama Paidi ada di cerita wali berseri yang dimuat di Dutaislam.com. Hehe

    "Baiklah, di mana rumah Kang Paidi penjual minyak wangi itu?" Pemuda ini yakin bahwa Kang Paidi itu yang dimaksud gurunya. Hanya satu orang di kampung ini yang disebut Paidi.

    "Apakah benar ini rumah kang paidi penjualminyak wangi," tanya pemuda itu kepada seorang ibu di depan rumah Wali Paidi.

    "Benar nak, dia ada dilanggar itu, sedang ngimami shalat Maghrib," wanita itu menunjukkan langgar sebelah rumah. Berbegas pemuda itu menuju ke langgar, shalat Maghrib sekalian sowan kepada Kiai Paidi.

    Hanya 3 orang yang shalat di langgar. Saat maghriban, pemuda ini galau karena surat Al-Fatihah yang dibaca Wali Paidi, dianggap tidak sesuai ilmu Tajwid (padahal dia guru ngaji). Huruf "ain", dibaca Wali Paidi jadi "ngg". Kalimat "robbil 'alamin" pun dibaca salah sehingga jadi "robbil ngalamin". Khas Jawa medog.

    "Gimana mau khusyu' dan diterima shalatnya wong bacanya aja sudah keliru, apakah tidak salah guru menyuruh sowan kepadanya," pemuda itu menggerutu dalam hati.

    Setelah salam dan wirid seperti biasa, imam shalat melanjutkan shalat sunnah. Setelah itu, Wali Paidi keluar dari mihrab dan duduk diteras, merokok jedal jedul. Kesempatan dimanfaatkan sang pemuda untuk langsung menghadap.

    Setelah menyampaikan salam gurunya, pemuda ini menceritakan maksud kedatangannya, menceritakan kepada Wali Paidi ihwal perkara aneh yang dialaminya.

    "Hmm, saya juga heran, kok kamu sampai bisa mengalami hal-hal yang menakjubkan itu yah, padahal shalat kamu kayak tadi saja masih sibuk ngurusi Tajwid daripada ingat kepada Allah," terang Wali Paidi. Makjleb, wajah pemuda itu pucat pasi. Dalam hati, pemuda ini hanya berkata:

    "MasyaAllah, ternyata guruku tidak salah mengenai kiai muda ini". Ia kian menundukkan kepala di hadapan Wali Paidi, diam, tidak berani berkata banyak.

    Suasana jadi hening, hanya terdengar suara hisapan rokok Wali Paidi, santai.

    "Monggo kopine kang, dan ini rokoknya (Dji Sam Soe)". Akhirnya, mereka berdua merokok, nyingkrang sebentar. Mereka ngobrol santai, terlihat akrab hingga beberapa puluh menit.

    "Nanti sehabis shalat Isya’ kamu dzikir saja di mushalla sini. Kalau nanti kamu tiba-tiba berada di tempat yang asing, kamu baca La Haula wala Quwwata Illa Billah 3 kali".

    Tidak lama, suara adzan Isya terdengar. Tiga orang yang tadi ikut jamaah shalat Maghrib datang ke langgar lagi ikut Isya'an. Habis wudlu, Wali Paidi berdiri masuk ke musholla, mempersilakan pemuda thoriqot tersebut ngimami shalat, tapi ia menolak halus. Wali Paidi jadi imam seperti biasanya.

    Tepat di belakang Wali Paidi, pemuda itu ikut jamaah Isya'. Menuju sahlat, ia sudah berniat tidak akan mengulangi kesalahannya (suudzon) seperti di Maghrib tadi. Surat al-Fatihah ia baca untuk mengajak hatinya berdzikir Allah...Allah...Allah..!

    Pemuda ini mulai merasakan ketenangan di tengah shalatnya. Hiruk pikuk suara sekitar mushalla berangsur hilang. Suasana menjadi hening. Hanya suara Wali Paidi dan dzikir hatinya yang terdengar. Anehnya, suara Wali Paidi yang tadinya cemplang dan terdengar tidak bertajwid, kini kok menjadi sangat merdu dan fasih didengar oleh pemuda itu. Aneh, suara dan bacaan Wali Paidi mirip Imam Masjidil Haram. Ia baru sadar kalau suara Wali Paidi jelek sungguhan setelah salam.

    "Sampeyan disini saja, dan mulailah berdzikir seperti yang sampeyan biasa lakukan, ingat pesan saya tadi," pemuda itu hanya menganggukkan kepala.

    Lampu mushalla kemudian dimatikan setelah jamaah pulang. Pemuda itu sendirian. Ia duduk bersila, membaca fatihah, tawassul kepada Kanjeng Nabi Muhammad dan guru-gurunya. Itu adalah wadhifah (kebiasaan) sang pemuda sebelum meneruskan membaca wirid yang selama ini selalu istiqamah dia baca.

    Dan, wuuzzz, angin yang tadinya menghembus biasa berubah kencang. Benda-benda yang berada di dalam musholla mulai hilang satu persatu. Bahkan dirinya juga terasa ikut hilang. Saat merasakan tubuhnya hilang, tampak cahaya putih kecil dari arah mihrab.

    Hanya cahaya itu yang tampak di hadapan sang pemuda. Semuanya hilang. Ia mulai mendengar suara orang, lalu-lanang membaca takbir dan tahmid. Cahaya kecil itu terlihat mulai membesar hingga terang penglihatan matanya.

    Sang pemuda melihat bangunan segi empat tertutup kain hitam yang dikitari banyak orang. MasyaAllah, ternyata pemuda ini telah berada di Makkah, tepatnya di Masjidil Haram bagian dalam. Untuk meyakinkan diri, dia meletakkan tangan di atas marmer masjid. Ia merasakan semacam daya hangat mengalir ke nadi, tangannya.

    "Ya Allah, ini marmer sungguhan. Ini Makkah betulan!".

    Ratusan ribu orang berpakain ihram ia saksikan sedang berthawaf. Mereka bersahutan memuji Allah. Namun, buru pemuda ini teringat pesan Wali Paidi. Ia duduk dan mulai membaca,

    "La Haula wala Quwwata Illa Billah"

    Tiga kali kalimat itu ia baca. Bumi Makkah serasa bergoncang seperti gempa. Tubuhnya terguling. Dalam gelap, tubuhnya menabrak sesuatu yang ia tidak tahu. Angin kencang hilang, ia membuka mata. Deg, ternyata dia sekarang berada di atas tumpukkan sampah. Dikira Makkah, ternyata nyasar ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah. Hahaha. [dutaislam.com/ab]

    Apa yang dilakukan selanjutnya, bersambung ke Edisi (5) Sang Wali Beri Amalan Cepat "Cling" Naik Haji Tanpa Ijazah Doa Wirid

    Biar paham, baca edisi sebelumnya:
    1. Wali Paidi (Bag. 1) Hanya Wali Indonesia yang Kemana-Mana Bawa Rokok dan Kopi
    2. Wali Paidi (Bag. 2) Gagal Pakai "Doa Lipat Bumi", Wali Ini Balik Pulang Naik Pesawat
    3. Wali Paidi (Bag. 3) Hanya Karena Punya Rokok Tapi Tak Ada Korek, Kerajaan Jin Diobrak-Abrik Wali Sakti Ini
  • Membongkar Kebiasaan Buruk HTI yang Catut NU Untuk Dukung Argumen Khilafah

    Admin: Duta Islam →

    Oleh Dr. H. Ainur Rofiq Al-Amin, SH, M.Ag

    DutaIslam.Com - Ide tentang penegakan kembali khilafah, sebagaimana saya jelaskan dalam disertasi, disuarakan dengan sangat lantang dan nyaring oleh kelompok Islam kanan, utamanya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

    Secara berulang-ulang kelompok ini, lewat tulisan, orasi, dan lainnya, menyuarakan pentingnya menegakkan khilafah. Khilafah menjadi mainstream perjuangan, bahkan ideologi politiknya, dengan klaim sebagai solusi atas seluruh problem manusia di dunia ini.

    Kelompok ini dengan semangat militan berupaya merekrut kader sebanyak-banyaknya, tak terkecuali kader dari ormas-ormas keagamaan baik NU maupun Muhammadiyah. Dalam upaya merekrut kader dari kalangan NU, mereka menggunakan berbagai argumen yang diharapkan agar kader-kader NU yang tulus dan lugu ini tertarik menjadi pengikutnya.

    Nampaknya, argumen-argumen yang dikemukakan oleh aktivis HTI juga dapat memikat kader NU, terbukti beberapa kader NU menjadi anggota Hizbut Tahrir (termasuk penulis yang dulu juga pernah menjadi anggota Hizbut Tahrir).

    Argumen yang dijadikan pijakan oleh aktivis HTI untuk menundukkan kader dan warga NU paling tidak ada dua: pertama; argumen historis kelahiran NU. Salah seorang aktivis HTI, Irkham Fahmi dalam tulisannya, “Membongkar Proyek Demokrasi ala PBNU abad 21” menjelaskan bahwa cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama adalah cita-cita agung para ulama Nusantara yang tertuang dalam komite khilafah Indonesia.

    Selanjutnya, Irkham Fahmi menegaskan bahwa KH. Sholahuddin Wahid mengakui keabsahan sejarah ini, sekalipun Gus Sholah menolak relevansi khilafah dengan Indonesia.

    Masih banyak lagi tulisan-tulisan sejenis apabila kita berselancar di internet seperti judul, “KH. Abdul Wahab Hasbullah, Tokoh NU & Inisiator Konferensi Khilafah 1926,” atau judul, “NU, NKRI dan Khilafah,” demikian pula judul, “Warga NU Rindu Syariah dan Khilafah,” judul lain, “Respon NU atas Runtuhnya Khilafah,” bahkan tidak hanya mencatut NU, tapi juga ormas Islam lain seperti judul, “Generasi Awal Muhammadiyah & NU Ternyata Pendukung Khilafah.” Basis argumen dari semua judul di atas adalah masalah komite khilafah.

    Untuk menjawab argumen di atas, secara historis memang pernah terbentuk apa yang disebut komite khilafah atau CCC (Central Comite Chilafah). Namun yang perlu diklarifikasi adalah, komite ini bukan dibentuk Mbah Wahab, tapi bentukan berbagai kelompok Islam (SI, Muhammadiyah, al-Irsyad, PUI, dll) yang pada waktu itu mempunyai suara mayoritas.

    Sekalipun bisa jadi Mbah Wahab dan ulama lain dari kalangan pesantren pernah diajak untuk masuk komite ini. Bukti bahwa komite khilafah bukan bentukan Mbah Wahab dan para ulama pesantren adalah pada kongres-kongres selanjutnya para ulama ini tidak mengikutinya.

    Justru yang perlu ditegaskan, selain ada komite khilafah, terdapat komite Hijaz yang memang genuine atau asli bentukan para ulama pesantren yang nantinya bergabung dengan NU.

    Komite Hijaz ini lahir, selain tidak sepahamnya Mbah Wahab dengan misi komite khilafah, juga karena kurang aspiratifnya komite ini, juga semangat memperjuangkan tradisi ala ulama seperti ziarah kubur, merayakan maulid Nabi, berislam dengan cara bermazhab agar tidak diberangus oleh kelompok al-Saud atau Wahhabi yang saat itu sampai sekarang berkuasa di Hijaz dan sekitarnya.

    Komite Hijaz inilah salah satu cikal bakal kelahiran NU. Akhirnya menjadi tidak benar kalau cikal bakal kelahiran NU adalah dari komite khilafah yang berusaha melakukan pertemuan internasional untuk membahas runtuhnya Turki Utsmani.

    Argumen kedua diambilkan dari teks-teks khilafah dalam kitab kuning. Para aktivis HTI memahami bahwa ulama dan kader NU sangat mencintai kitab kuning yang ini dibuktikan dengan diajarkannya kitab-kitab tersebut di pesantren-pesantren NU, sekaligus kitab-kitab ini menjadi rujukan dalam bahtsul masail NU ketika menghadapi suatu masalah baru dalam keagamaan.

    Salah seorang penulis dan aktivis HTI, Musthafa A. Murtadlo menulis sebuah buku saku untuk memperkuat argumentasi khilafah dengan mengumpulkan pendapat-pendapat para ulama salaf tentang hal tersebut.

    Inti dari buku saku tersebut adalah semua ulama salaf dalam kitab kuning yang menjadi rujukan NU mendukung ide khilafah. Lihat Musthafa A. Murtadlo, Aqwal Para Ulama’ Tentang Wajibnya Imamah (Khilafah).

    Argumen kedua ini kalau tidak dicermati secara jeli, maka para kader NU yang tulus dan bergelut dengan kitab kuning akan sangat mempercayainya kemudian mengapresiasi atau bahkan ikut HTI. Namun yang perlu diketahui bahwa konsep atau pemikiran tentang kepemimpinan umat Islam dari para ulama salaf tersebut tidak sama persis dengan yang ditelorkan oleh Hizbut Tahrir.

    Selain itu, dalam kitab-kitab klasik tersebut hampir semua tema besarnya menyebut kata al-imamah atau al-imam al-a’zhom. Penyebutan khilafah lebih jarang, hal ini berbeda dengan Hizbut Tahrir yang lebih sering menyebut khilafah sebagai jargón perjuangannya.

    Bisa diambil contoh dalam kitab-kitab klasik mazhab al-Syafi’i seperti kitab al-Umm juz 1/188 karya al-Syafi’i, al-Ahkam al-Sulthaniyyah, hal. 5 karya al-Mawardi, Rawdhat al-Thalibin wa ‘Umdat al-Muttaqin juz 10/42 karya al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin juz 1/292 karya al-Nawawi, Asna al-Mathalib juz 19/352 karya Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahhab juz 2/187 karya Zakariya al-Anshari, Minhaj al-Thullab juz 1/157 karya Zakariya al-Anshari, Tuhfat al-Muhtaj juz 9/74 karya Ibn Hajar a-Haytami, Mughni al-Muhtaj juz 5/409 karya Ahmad al-Khathib al-Syarbini, Nihayat al-Muhtaj juz 7/409 karya al-Ramli.

    Terakhir dan yang terpenting, untuk menjawab argumen yang kedua sekaligus memperkuat bantahan untuk argumen yang pertama. Kalau para kader NU yang hidup sekarang ini ketika memahami teks-teks kitab kuning tentang imamah atau imam a’zhom tidak melewati model pemahaman sekaligus “bertawassul” lewat Mbah Wahab (KH. Wahab Hasbullah), maka akan mudah tertarik untuk ikut memperjuangkan khilafah ala HTI.

    Perlu diketahui, Mbah Wahab dalam pidatonya di parlemen pada tanggal 29 Maret 1954 yang dimuat dalam majalah Gema Muslimin (copy arsip ada di penulis) dengan judul, “Walijjul Amri Bissjaukah” mengatakan,

    “Saudara2, dalam hukum Islam jang pedomannja ialah Qur’an dan Hadits, maka di dalam kitab2 agama Islam Ahlussunnaah Waldjama’ah jang berlaku 12 abad di dunia Islam, di situ ada tertjantum empat hal tentang Imam A’dhom dalam Islam, jaitu bahwa Imam A’dhom di seluruh dunia Islam itu hanja satu.

    Seluruh dunia Islam jaitu Indonesia, Pakistan, Mesir, Arabia, Irak, mupakat mengangkat satu Imam. Itulah baru nama Imam jang sah, jaitu bukan Imam jang darurat. Sedang orang jang dipilih atau diangkat itu harus orang jang memiliki atau mempunyai pengetahuan Islam jang semartabat mudjtahid mutlak. Orang jang demikian ini sudah tidak ada dari semendjak 700 tahun sampai sekarang.

    Kemudian dalam keterangan dalam bab yang kedua, bilamana ummat dalam dunia Islam tidak mampu membentuk Imam A’dhom jang sedemikian kwaliteitnja, maka wadjib atas ummat Islam di-masing2 negara mengangkat Imam jang darurat. Segala Imam jang diangkat dalam keadaan darurat adalah Imam daruri……..Baik Imam A’dhom maupun daruri, seperti bung Karno misalnja, bisa kita anggap sah sebagai pemegang kekuasaan negara, ialah Walijjul Amri.”

    Pidato Mbah Wahab di atas setidaknya dapat ditarik tiga pemahaman: pertama, bahwa mengangkat kepemimpinan tunggal dalam dunia Islam baik yang disebut dengan imamah maupun khilafah sudah tidak mungkin lagi karena syarat seorang imam yang setingkat mujtahid mutlak menurut Mbah Wahab sudah tidak ada lagi semenjak 700 tahun sampai sekarang. Kedua, dari pidato tersebut juga dapat ditarik kesimpulan bahwa presiden Indonesia berikut NKRI adalah sah secara hukum Islam.

    Ketiga, pidato ini sekaligus menafikan pendapat bahwa Mbah Wahab bercita-cita menegakkan kembali khilafah dengan membentuk komite khilafah, karena terbukti Mbah Wahab menjelaskan bahwa sudah 700 tahun tidak ada orang yang setingkat mujtahid untuk menduduki kursi sebagai Imam atau khalifah.

    Lantas, apa ratio legis Mbah Wahab dengan mengajukan argumen bahwa khilafah sudah tidak mungkin lagi karena syarat seorang imam yang setingkat mujtahid mutlak sudah tidak ada lagi sejak 700 tahun.

    Kalau kita membuka lembaran kitab kuning semisal al-Ahkam al-Sulthaniyyah karya Imam al-Mawardi, di situ dijelaskan bahwa ahlul imamah (orang yang berkualifikasi menjadi imam) harus memenuhi syarat adil, berilmu yang mampu untuk berijtihad, selamatnya pancaindera dan fisik dari kekurangan, wawasan kepemimpinan yang luas, keberanian dan nasab Quraisy.

    Poin tentang berilmu yang mampu untuk berijtihad inilah nampaknya yang dijadikan pijakan Mbah Wahab.

    Menarikanya lagi, dalam pidato tersebut, Mbah Wahab menjelaskan lebih lanjut bahwa karena syarat menjadi imam a’dhom (seperti dalam al-Mawardi) sudah tidak terpenuhi, maka Soekarno absah menjadi pemimpin RI dengan gelar waliyyul amri ad-daruri bissyaukah. Artinya syarat pemimpin yang ideal diturunkan menjadi syarat minimal realistis.

    Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan lain bahwa Gus Dur yang mempunyai kekurangan fisik juga absah menjadi presiden, karena memang presiden tidak sama dengan imam a’dhom sehingga syarat ideal seperti dalam al-Mawardi tidak diperlukan.

    Dari uraian singkat di atas, warga dan kader NU sudah tidak perlu lagi terlibat dengan ikut memperjuangkan ide khilafah. Justru yang penting adalah mengisi NKRI supaya bersih dari korupsi dan menjadi negara yang adil dan sejahtera.

    Di luar itu, soal kepemimpinan akhir zaman yang mengglobal, kita serahkan saja kepada a waited savior yang dipercaya oleh semua agama dengan berbagai sebutannya: al-Mahdi (Islam), Christos/Christ (Kristen), Ha-Mashiah (Yahudi), Buddha Maytreya (Budha), Kalki Avatar (Hindu), atau Shousyant (Majusi/Zoroaster).

    Terlebih hadist yang menjelaskan tentang Imam Mahdi ini mutawatir, tidak seperti hadist tentang khilafah (Lihat kitab Nazhmul Mutanatsir minal Haditsil Mutawatir karya Syekh Muhammad bin Ja’far Al- Kattani, dan Asy-Syaukani yang berjudul At-Taudhih Fi Tawaturi Maa Ja-a Fil Mahdil Muntazhor wad-Dajjal wal-Masih).

    Dengan cara demikian, rakyat Indonesia tidak akan terpecah pikiran dan energinya untuk membongkar NKRI, tapi justru membangunnya demi keadilan, kesejahteraan, dan kedamaian untuk semua warga bangsa. Wallahu a’lam. [dutaislam.com/ab]

    Keterangan:
    Judul tulisan diadaptasi dari tulisan Dr. H. Ainur Rofiq Al-Amin, SH, M.Ag yang berjudul : Koreksi Argumentasi Sejarah Antara Khilafah, NU dan KH. Wahab Hasbulloh yang dimuat Muslimmedianews dan direlay oleh Ansorjabar.org

  • Sering Bikin Kisruh, Kapolri Beri Sinyal Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Belum lama ini, Polda Metro Jaya melarang kegiatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dianggap tak berizin. Ternyata hal serupa juga terjadi di daerah-daerah. Kepolisian melarang kegiatan itu karena konsep khilafah.

    Salah satu kegiatan yang batal digelar adalah, agenda HTI dengan tema "Khilafah Kewajiban Syar’i Jalan Kebangkitan Umat". Kegiatan itu awalnya direncanakan untuk digelar di Balai Sudirman Jakarta pada 23 April kemarin. Namun, batal karena tak diizinkan kepolisian.

    Menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian, kegiatan HTI dilarang dengan dikeluarkannya Surat Tanda Terima Pemberitahuan (STTP) oleh polisi. Penyebabnya, kata dia, tanpa STTP sebuah acara keramaian masyarakat dianggap tidak berizin sehingga bisa dibubarkan secara paksa jika tetap digelar.

    "Kami memang tidak keluarkan izin STTP-nya, karena banyak potensi konfliknya. Jadi lebih baik kami larang,’’ kata Tito di Mabes Polri, Jumat (28/04/2017).

    Adapun alasan utama tidak dikeluarkan STTP, karena banyaknya protes dari yang anti-HTI. "Karena banyak ancaman dari berbagai pihak yang tidak suka, yang anti," kata dia.

    Diketahui, beberapa pihak yang tak sejalan dengan HTI diantaranya adalah GP Ansor dan Banser NU. Mereka menolak HTI dengan alasan organisasi itu tidak sesuai dengan NKRI. "Polisi kan tugasnya untuk mencegah konflik, maka janganlah (digelar kegiatan HTI)," sambung lulusan Akpol 1987 itu.

    Bahkan dia menilai rekrutmen HTI di kampus-kampus memiliki indikasi yang bisa dianggap berbahaya. Sehingga perkara itu kata dia sedang dibahas.

    "Kalau seandainya itu dilakukan (menegakkan) khilafah, ya itu bertentangan dengan ideologi Pancasila. Kalau buat ideologi khilafah apa bisa (sesuai) Pancasila?" tambah dia.

    Mantan Kapolda Papua itu juga menegaskan, ke depan mereka akan upayakan agar HTI dihilangkan secara permanen. Dan hal itu akan mereka koordinasikan dengan Kementerian Koordinasi Politik, Hukum dan Keamanan. "Sedang dibicarakan di Polhukam," pungkas dia. [dutaislam.com/elf]

    Source: Jawapos.com

  • Kunjungi Tebuireng, Ini Komentar Dubes Inggris Soal Islam Radikal Indonesia

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik menilai, bangsa Indonesia lebih berhasil mengelola resiko munculnya ektremisme dan radikalisme dibanding negara-negara lain di dunia. Keberhasilan itu, menurut dia, tidak terlepas dari keberadaan Pancasila sebagai ideologi nasional serta peran lembaga keagamaan seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan kalangan pesantren.

    Hal itu diungkapkan oleh dubes muslim pertama dari Kerajaan Inggris itu saat berkunjung ke Pesantren Tebuireng, Jombang, Kamis (27/4/2017). Dalam kunjungan tersebut, Moazzam diterima langsung oleh pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) di Dalem Kasepuhan Tebuireng.

    Didampingi Country Director British Council Indonesia Paul Smith, pria berdarah Pakistan ini berharap, komunitas pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan muslim di Inggris bisa saling bekerja sama dan berbagi pengalaman untuk mengatasi ekstremisme dan radikalisme.

    "Saat ini, di Inggris ada tiga juta jiwa penduduk beragama Islam. Kira-kira lima persen dari total penduduk Inggris. Mereka masih punya hubungan yang erat dengan negara asalnya. Tapi, negara asalnya sering didera konflik dan masalah-masalah lain, seperti ekstremisme dan kemiskinan," ujarnya.

    Karena itu, pria yang ditugaskan menjadi duta besar di Indonesia, ASEAN dan Timor Leste ini merasa perlu untuk berkunjung ke beberapa pesantren ternama di Jawa Timur. Sebelum ke Tebuireng, Moazzam juga berkunjung ke Pesantren Gontor Ponorogo dan Pesantren Lirboyo Kediri.

    "Selama 2,5 tahun, saya hanya mendengar tentang Pesantren Tebuireng yang punya peran sangat penting dalam sejarah Indonesia, dan saya yakin akan punya peran penting untuk masa depan Indonesia ke depan. Jadi, saya di sini untuk mempelajari dan melihat bagaimana Indonesia bisa lebih berhasil (mengatasi ekstremisme dan radikalisme)," ujarnya.

    Ke depan, pihaknya berharap dapat membantu kalangan santri dalam meningkatkan kemampuan komunikasi dalam Bahasa Inggris. "Saya berpikir, salah satu keperluan ke depan adalah berkomunikasi dengan teman-teman di luar negeri. Karena semua masalah seperti ekstremisme dan radikalisme sudah melintasi batas negara, maka solusinya juga harus melintasi batas negara," ungkapnya.

    Menurut penggemar klub sepak bola Liverpool ini, pengalaman Indonesia sebagai negara yang beragam, demokratis dan maju, akan jauh lebih berguna bagi umat Islam di Inggris jika santri bisa berkomunikasi langsung dengan umat Islam di sana. Hal itu diharapkan menjadi jendela pembuka wawasan kaum santri agar dapat melihat kehidupan muslim dan nonmuslim di Inggris. Begitu juga sebaliknya.

    Muslim Inggris sudah melihat gaya hidup dan budaya masyarakat muslim Somalia atau Pakistan. Dengan melihat budaya muslim Indonesia, dia berharap akan dapat menyebarkan lebih luas tentang pengalaman tersebut di negaranya. "Jadi, kami ingin mempererat hubungan antara pesantren dengan sekolah-sekolah di sana," tegasnya.

    Secara berkelakar, pecinta olahraga kriket ini menuturkan, Indonesia beruntung karena posisinya secara geografis sedikit jauh dari negara-negara Arab. "Karena sedikit jauh, trend ekstrem yang muncul di Timur Tengah dan sudah menyebar ke mana-mana, jaraknya masih jauh. Sudah masuk, tapi kelompoknya masih terlalu kecil. Saya kira Indonesia bisa mengendalikan," tandasnya.

    Tapi dia mengingatkan bahwa Indonesia juga harus waspada terhadap ancaman dan risiko ektrimisme. "Ada kelompok-kelompok radikal di sini. Ada perdebatan keras juga. Jadi harus waspada," pesannya.

    Meski demikian, dia yakin para pemimpin politik, agamawan dan lembaga-lembaga keagamaan seperti Pesantren Tebuireng telah mengambil peran sangat penting untuk menjaga kerukunan dan perdamaian Indonesia. "Juga memastikan kemajuan ke depan, baik untuk umat muslim maupun nonmuslim," pungkasnya.

    Dalam kunjungan tersebut, Moazzam juga menyempatkan diri berziarah ke makam KH Hasyim Asy'ari, KH Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Didampingi Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz dan Nyai Hj. Farida Salahuddin, Moazzam tampak antusias menyimak penjelasan tentang sosok para tokoh yang dimakamkan di Kompleks Pesantren Tebuireng itu. [dutaislam.com/day]

  • Ini Dua Tugas Utama Pesantren Menurut Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Sudah saatnya arus ekonomi Indonesia beralih dari pendekatan atas ke bawah (top-down) menjadi sebaliknya (buttom-up). Pesantren yang memiliki akar kuat di masyarakat mesti mengambil peran aktif dalam bangkitnya arus baru ekonomi di Tanah Air.

    Demikian seruan Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma'ruf Amin saat menyampaikan tausiyah dalam rangkaian Seminar dan Rapat Kerja Rabithah Ma'ahid Islamiyah NU (RMINU) di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (27/04/2017).

    Menurut Kiai Ma'ruf, pembangunan ekonomi dari atas, yang diharapkan bakal "menetes" ke bawah, ternyata tak sesuai dengan dambaan. Kekayaan ekonomi berputar-putar pada kalangan elite saja dan kian menciptakan kesenjangan ekonomi yang kian menganga di antara masyarakat.

    Kiai Ma'ruf yang juga ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong RMINU sebagai wadah asososiasi pesantren untuk proaktif memfasilitasi pesantren agar turut memberdayakan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Ia mengaku sudah bergerak di level petinggi negara dan pengusaha, dan RMINU diharapkan menyambutnya dengan gerakan nyata.

    "Pesantren memiliki tugas banyak sekali, tetapi yang utama ada dua, yakni menyiapkan mufaqqih fiddin atau orang-orang yang ahli agama, dan rijalul ishlah atau tokoh-tokoh perubahan, tokoh-tokoh perbaikan," ujarnya.

    Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD) Kementerian Desa, Erani Ahmad Yustika yang menjadi salah satu narasumber dalam seminar itu berpendapat, pesantren telah memiliki beberapa modal dasar untuk melakukan kerja-kerja pemberdayaan.

    Menurutnya, pesantren mempunyai nilai-nilai yang selaras dengan etos pertumbuhan ekonomi. Semangat kemandirian, misalnya, sangat kuat di pesantren sehingga mempermudah pembangunan ekonomi khususnya di tingkat perdesaan.

    Erani juga menilai, jumlah santri yang mencapai nyaris empat juta adalah modal yang terelakkan. Dalam dimensi ekonomi, potensi ini tak hanya menunjukkan bahwa pesantren bisa menjadi produsen tapi juga memiliki pasar atau konsumen yang jelas.

    Modal lain yang juga Erani sebut adalah jaringan. Pesantren dianggap sebagai institusi yang memili rantai sosial, budaya, dan politik yang luas. Relasi tersebut sangat bermanfaat bagi kelangsungan aktivitas ekonomi yang dibangun. "Dalam teori-teori ekonomi, sekarang bukan modal ekonomi saja tapi yang terpenting sekarang justru adalah modal sosial," katanya.

    Narasumber lain yang hadir dalam seminar tersebut adalah Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN) M. Noor Marzuki, Direktur Pendidikan Agama Islam Kemenag RI Imam Safe’i, dan Staf Khusus Menteri BUMN Asmawi Syam. [dutaislam.com/ab]

  • KH Said Aqil Siroj Yakini Kalau Laksamana Cheng Ho Waliyullah

    Admin: Duta Islam →
    Ketua PBNU, M. Sulthon Fatoni. Dibelakangnya adalah makam Cheng Ho
    Oleh Kiai Sulthon Fatoni

    DutaIslam.Com - Dari kota Nanjing kami ke kota Quanzhou. Jaraknya 1087 km, cukup jauh karena itu kami putuskan naik pesawat. Nanjing dan Quanzhou harus kami datangi karena di Nanjing lah kami bisa mengunjungi kampung halaman Laksamana  Cheng Ho. Sedangkan di Quanzhou kami bisa berziarah ke makam Cheng Ho.

    Kemasyhuran Laksamana Cheng Ho di Indonesia tak lepas dari kiprahnya menyiarkan Islam. Di samping ikut serta membangun kota Semarang dan Surabaya, Laksamana Cheng Ho juga membangun komunikasi dengan para pendakwah Islam, salah satunya dengan Sunan Gunung Jati Cirebon.

    Cheng Ho (lahir 1371) merupakan panglima militer sekaligus diplomat kawakan era Dinasti Ming yang telah melakukan tujuh kali perjalanan keliling dunia dengan rombongan kapal dalam kurun waktu 28 tahun (1405-1433). 80 tahun sebelum Vasco de Gama menemukan India dan Columbus menemukan Amerika.

    Laksamana Cheng Ho menjadi tokoh berpengaruh di dunia Islam tidak lepas dari Kaisar Yongle, generasi ketiga Dinasti Ming. Di dalam negeri pun Kaisar Yongle menghormati komunitas muslim. Tak kurang sembilan jenderal beragama Islam. Di ruang museum masjid Jung Jue Nanjing, keakraban Dinasti Ming dengan komunitas muslim tercatat rapi.

    Laksamana Cheng Ho juga diperintah merevitalisasi situs-situs Islam, seperti merenovasi masjid kuno yang hancur, makam-makam muslim kuno bahkan membangun masjid baru. Tangan dingin Cheng Ho masih bisa mudah dilihat jejaknya di kota Nanjing dan Quanzhou, dua kota yang berjarak lebih dari seribu kilometer.

    Nama besar Laksamana Cheng Ho dikenang dan dihormati Pemerintah Cina. Kompleks makam Cheng Ho di Quanzhou, Provinsi Fujian saat ini tampak megah. Berbagai fasilitas publik dibangun sehingga menjadi daerah tujuan wisata religi, nyaman dikunjungi.

    Mirip dengan makam para sunan/wali di Indonesia, makam Laksamana Cheng Ho berada di luar kota. Dari kota Quanzhou sekitar satu jam perjalanan. Letaknya di dataran tinggi. Menujunya harus melewati jalan menanjak yang indah, lalu meniti lima puluh anak tangga. Sesampai di atas, posisi makam di tengah tanah datar segi empat yang  luasnya kira kira tiga puluh meter persegi. Di lokasi tersebut cuma ada makam Laksamana Cheng Ho.

    Kami menikmati ziarah tokoh besar muslim dunia ini. Kiai Said Aqil memimpin tahlil, kami mengikuti. Usai tahlil Kiai Said Aqil mengatakan, "Saya meyakini Laksamana Cheng Ho adalah waliyullah. Pengaruhnya tak hanya di Cina namun hingga ke Cirebon berkah hubungan baiknya dengan Sunan Gunung Jati," katanya.

    Menurut Kiai Said Aqil, saat masuk Cirebon, Laksamana Cheng Ho menemui Sunan Gunung Jati dan menyampaikan bahwa dalam rombongannya terdapat juga orang-orang yang beragama Islam. Kemudian rombongannya ia tempatkan di dua lokasi yang terpisah.

    Kiai Said Aqil pun berpesan agar pemerintah perlu bertanggung jawab dan merawat makam makam Walisongo. "Jangan dibiarkan hancur, kumuh, tak terawat, minim fasilitas. Kita ini mayoritas muslim masak kalah dengan China," ujarnya. [dutaislam.com/anw/ksf]

  • KH Said Aqil Siroj: Soal Rawat Makam Wali, Masak Kita Kalah Sama Cina

    Admin: Duta Islam →
    Ketum PBNU di komplek Pemakaman Cheng Ho, Cina
    DutaIslam.Com - Pemerintah perlu segera mengambil kebijakan merawat situs-situs Islam sehingga lebih terawat dan terlindungi. Menyerahkan secara total perawatan situs Islam kepada masyarakat sama saja dengan membiarkan situs-situs Islam tersebut tidak terlindungi dari kerusakan dan kepunahan.

    "Saya minta pemerintah sekarang merubah paradigmanya, rawatlah situs-situs Islam tersebut. Yang lalu biarlah berlalu. Ke depan mari kita rawat dengan baik," kata Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam rilisnya yang dikirim dari kompleks makam Laksamana Cheng Ho, Hangzhou, Cina.

    Kiai Said Aqil menambahkan, keterlibatan pemerintah bukan berarti menggeser peran serta masyarakat. Harus ada sinergi antara masyarakat dan pemerintah.

    "Keterlibatan pemerintah sangat penting karena perawatan situs-situs itu membutuhkan anggaran, karena itu penting dalam konteks ini pemerintah hadir," ujar Kiai Said Aqil.

    Menurut Kiai Said Aqil, pemerintah perlu meniru Cina yang memperhatikan situs-situs Islam dengan cara membangun dan menjaganya. Bahkan Pemerintah Cina mendaftarkannya ke PBB sebagai warisan budaya dunia.

    "Saya melihat kompleks pemakaman Laksamana Cheng Ho di Nanjing, makam dua sahabat Nabi di Quanzhou, dan situs lainnya, semuanya dibangun, terawat bagus. Masak kita kalah sama Cina," kata Kiai Said Aqil. [dutaislam.com/anw/ksf]

  • [Kesaksian] Tanpa Pandang Agama, Banser Menyelamatkan Aktivis 98 dari Amukan KISDI

    Admin: Duta Islam → Jumat, 28 April 2017

    Oleh Firman Hidayatullah

    DutaIslam.Com - Saat itu saya dan teman-teman sesama Mahasiswa sedang menduduki Gedung DPR/MPR. Tiba-tiba dari arah pintu belakang massa dalam jumlah besar merangsek masuk areal parkir Gedung DPR/MPR.

    Mereka membawa bendera bertuliskan KISDI (Komite Indonesia untuk Dunia Islam –AM), pimpinan "Ahmad Sumargono". 

    Kami (mahasiswa) membuat pagar dengan bergandengan satu sama lain sambil melangkah mundur, (menghindari gesekan). Massa KISDI maju dengan memukul, menendang, menunjuk ke arah kami sambil berteriak: kalian neo komunis!

    Massa KISDI terus maju hingga menduduki areal tangga Gedung DPR/MPR. Mereka teriak takbir sambil terus berteriak, "Perjuangan kalian mahasiswa tidak suci lagi! Kalian neo komunis!". Tak lama kemudian, berkumandang Adzan (Shalat Jumat). Mereka meninggalkan areal tangga DPR, menuju sebuah masjid di belakang gedung.

    Momen ini dimanfaatkan oleh Niko Adrian, ketua GMNU (Gerakan Muda NU) saat itu untuk menghubungi PBNU. Sekitar 15 menit setelah Jumatan, massa KISDI masih berada di masjid. Pada saat yang sama, datang massa dalam jumlah besar memasuki areal Gedung DPR/MPR dengan membawa bendera NU. Massa NU lalu menduduki areal Tangga DPR/MPR.

    Salah seorang dari mereka (belakangan diketahui dia adalah anggota Banser) membagikan rompi kain kepada kami mahasiswa yang berada di barisan depan, sambil berucap: "Kamu percaya Allah SWT?"

    "Iya, tapi tidak semua (beragama) Islam Bang".

    "Tapi percaya Tuhan kan?" tanya Banser lagi.

    "Iya Bang".

    "Cukup! Pakai ini (rompi), dan berdoa dengan cara kalian masing-masing. InsyaAllah mereka (KISDI) tidak bisa menyakiti kalian, Dengan izin Allah SWT!"

    Tak seberapa lama, massa KISDI datang dari arah masjid, mencoba merangsek lagi. Namun langkah mereka hanya sampai samping tangga DPR/MPR akibat tertahan oleh blokade Massa NU. Mayoritas dari mereka tampak terkejut melihat Bendera NU berkibar, dan berada di pihak mahasiswa. Dalam hitungan menit, satu demi satu massa KISDI meninggalkan areal Gedung DPR/MPR. 

    Harus diakui bahwa Exponen 98 saat menorehkan Sejarah dikawal oleh kawan-kawan Banser/NU. Sejarah yang bicara. Bukan saya, atau siapapun. Sejarah yang bicara!

    Atas nama nyawa kawan-kawan 98, ijinkan saya mengucapkan, "Matur suwun Banser!". Banser torehkan warna 98. [dutaislam.com/ab]

    Firman Hidayatullah, Exponen 98, mantan aktivis Forum Kota

    Keterangan:
    Teks di atas adalah kiriman Dr. Hasyim Asy’ari, Komandan Satkorwil Banser Jawa Tengah kepada Ahmad Mustain. Dimuat ulang Dutaislam.com dari pwansorjabar.org.