Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Masyaallah, Syaikhona Kholil Bangkalan Rela Makan Kulit Semangka Demi Gurunya

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Minggu, 19 Maret 2017
    A- A+
    Makam Syaikhona Kholil Bangkalan
    DutaIslam.Com - KH. Kholil Bangkalan, nama ulama yang begitu masyhur bagi umat muslim Indonesia. Keberhasilannya mencetak ulama-ulama besar membuat beliau layak dijuluki "Syaikhus-Syuyukh" Nusantara, Guru dari para guru ulama Nusantara.

    Beliau dikenal sebagai seorang yang faqih, mursyid dan seorang wali yang memiliki ribuan karomah.
    Namanya masih begitu harum sampai saat ini. Ribuan peziarah dari segala penjuru selalu memadati "pesarean/makam" Syaikhona tiap harinya.

    Namun banyak yang tidak tahu akan satu kunci yang membuatnya mendapatkan kemulian tanpa batas itu. "Kunci" kemuliaan itu adalah besarnya rasa hormat, adab dan ta'dhimnya terhadap guru-gurunya.

    Contoh misalnya, semasa belajar di Mekkah, tiap hari beliau menulis beberapa naskah kitab Alfiah Ibnu Malik lantas menjualnya, dan sepeserpun ia tak mengambilnya. Semua uang hasil jerih payahnya ia hadiahkan untuk para guru.

    Dan demi itu, ia lebih memilih kulit semangka sebagai makanan sehari-harinya. (Bayangkan, bukan semangkanya, tapi kulitnya)

    Salah satu Guru beliau Syaikh Muhammad Rahbini, seorang buta yang rajin bertahajjud di mushollanya setiap malam.

    Mengetahui itu, tiap malamnya, Syaikhona Kholil rela tidur di pintu musholla gurunya dengan harapan sang guru akan menginjaknya ketika  memasuki masjid, lantas ia akan terbangun dan menuntun gurunya menuju mihrab musolla!

    Kisah beliau ini lantas mengingatkan kisai sosok agung yang "kemuliaan" ilmunya terus mengalir di seluruh dunia hingga detik ini, yakni Imam Abu Hanifah, Imam Besar Madzhab Hanafi. Ketika mengenang gurunya, Al-Hanafi pernah berkata:

    "Ketika aku duduk di rumahku, aku tidak pernah menjulurkan kakiku ke arah rumah guruku Hammad Bin Salamah, sebagai bentuk rasa ta'dhimku kepadanya" (Jarak rumah Imam Hanafi dan Rumah gurunya adalah 7 rumah, masyaallah)

    Karena itu, Imam Madzhab kita, Imam Syafi'i pernah bertutur: "Jadikan ilmumu ibarat garam,dan
    adabmu ibarat tepung". Artinya, jangan sampek garamnya lebih banyak, bisa keasinan.

    Sekali lagi, seperti dikatakan guru dan orang-orang tua kita: "Ilmu boleh setinggi langit, sebesar gunung dan seluas lautan, tapi ingat, adab dan akhlak tetap harus dinomorsatukan!" [dutaislam.com/ab]

    Source: Muhammad Ismael Al-Kholile  

    Baca: Karomah Kiai Kholil Bangkalan             
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: