Dutaislam.com mendukung gerakan deradikalisasi dan anti teror di media sosial!

  • Soal Larangan Jenazah Disholatkan, Gus Mus: Apa Ndak Menjijikkan Itu?

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Selasa, 14 Maret 2017
    A- A+

    DutaIslam.Com - Acara Gema Sholawat dan Muhasabah bersama KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yang diadakan oleh LDNU Jawa Barat di Masjid Raya Bandung, Alun-Alun Kota Bandung tadi malam (Senin, 13/03/2017), dibanjiri ribuan jamaah umat Islam.

    Hadir juga Kapolda Jabar (Anton Charliyan), Aster Pangdam Jabar, Walikota Bandung (Ridwan Kamil), Ketua PWNU Jabar, Mustasyar PWNU Jabar, seluruh PCNU Jabar, unsur-unsur NU (Banser, Fatayat, IPNU, Muslimat, dll) dan ribuan hadirin laiinya.

    Kapolda Jabar waktu memberikan sambutan menyampaikan harapannya pada NU, yang dalam sejarah selalu menjadi pembela terdepan keutuhan bangsa. Ketua PWNU Jabar juga menyampaikan tentang komitmen NU yang sejak dulu selalu menjadi tameng untuk kepentingan bangsa yang lebih besar, walaupun risikonya sering menjadi bulan-bulanan muslimin yang lain (kalau istilah sekarang siap di-bully ramai-ramai).

    Walikota Ridwan Kamil, selain menyampaikan harapan besarnya kepada NU, dia juga bilang bahwa dalam darahnya mengalir darah “hubbul wathan” nya NU. Dia mengharapkan NU bisa menjadi yang terdepan dalam menangkal zaman penuh fitnah dan hoax ini. Bisa menampilkan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah yang belakangan terlihat dimana-mana. Islam yang Rahmatan lil ‘alamiin, bukan Islam yang pandai kutip ayat untuk kepentingan kelompoknya (tepuk tangan hadirin bergemuruh).

    Beliau menghimbau, kita harusnya mensyukuri nikmat luar biasa yang dimiliki bangsa Indonesia ini, sambil mengutip ayat “Fa bi ayyi aalaaa’i rabbikuma tukadzibaan/ nikmat Tuhan kamu yang manakah yang engkau dustakan?" Kita bangsa Indonesia ini aman, sejahtera dan seterusnya. Coba lihat negara-negara Timur Tengah, lihat Iraq, Afghanistan, Yaman, Suriah, dll. Lalu lihat negara ini yang kita bisa tidur, ibadah, kerja dengan aman dan nyaman. Apakah kita rela untuk merusak nikmat ini?

    Selanjutnya, pembicara utama Gus Mus mengawali ceramahnya dengan mengatakan bahwa sebagaimana judul acara ini “Muhassabah”, maka saya akan lebih banyak mengkritik NU, bukan memuji-mujinya. Beberapa pesan penting dari Gus Mus antara lain terekam di bawah ini:

    Seperti disampaikan pembicara-pembicara sebelumnya, NU selalu bergerak paling depan untuk membela keutuhan bangsa. Saat ini bangsa sedang diancam oleh kelompok-kelompok yang berusaha memecah belah kerukunan bangsa, lalu dimana NU? Sedang tidurkah?

    Beliau menceritakan bahwa sehabis ini para kiai sepuh akan berkumpul di Rembang untuk membahas masalah mutakhir bangsa ini. Terpaksa kiai sepuh akan turun gunung, karena yang muda-muda banyak yang malah tertarik ikutan euphoria. Kenapa? Apa gentar sama takbir-takbirnya?

    Lalu Gus Mus melanjutkan dengan menjelaskan makna dari takbir dengan memberikan begitu kecilnya kita dibanding seluruh ciptaan Allah yang Maha Luas. Apa yang mau kita sombongkan? Allah yang Maha Besar itu kok diajak ikut kampanye, diajak ikut ke TPS urusan lima tahunan. Apa ndak kebangeten banget itu?

    Beliau cerita pengalamannya bicara berdua dengan Gus Dur sambil tiduran di lantai. Beliau bilang ke Gus Dur, kalau NU dari dulu itu tidak naik-naik pangkatnya, jadi satpam terus. Kalau ada sesuatu yang bahaya, maka NU maju ke depan (seperti sewaktu resolusi jihad, sewaktu DI/TII, PKI, dll).

    Tapi begitu bahayanya hilang, NU kembali duduk di pojokan sambil rokokan. Begitu terus, ini gimana Gus? Jawaban Gusdur seperti biasa langsung membuat diskusi berhenti. Allah yarham Gus Dur menjawab: "Apa masih kurang mulia kalau kita bisa jadi satpam nya bangsa ini?" Dan Gus Mus pun terdiam tidak bisa melanjutkan omongannya.

    Beliau juga berpesan untuk berhati-hati terhadap yang disebutnya ulama. Ulama memang pewaris para nabi, tapi ulama yang mana? Harus diteliti track record dari yang mengaku ulama tersebut. Umat ini dibingungkan dengan ulama yang ngeluarkan fatwa sembarangan tanpa ilmu dan tanpa mempertimbangkan dampaknya pada masyarakat luas.

    Perbedaan pendapat itu biasa, sejak dulu ada. Beliau cerita kalau dulu para kiai ketika berdebat, seberapapun tajamnya sebisa mungkin berusaha agar santri-santrinya tidak tahu. Sehingga sering kalau saling serang itu dengan menggunakan syair-syair berbahasa Arab dengan harapan santri masing-masing tidak ikutan panas.

    Lha sekarang ini, pimpinannya ribut, ngajak jamaahnya. Menyedihkan. Lalu saling sebut kubu yang berbeda dengan sebutan munafik, kafir dan lain-lain. Sampai-sampai belakangan ada yang melarang jenazahnya disholatkan. Apa ndak menjijikkan sekali itu? Lha kalau yang sudah meninggal ndak urusan. Itu kan kewajiban yang hidup, yang dosa ya yang hidup bukan yang sudah meninggal. Lalu Gus Mus juga menceritakan kemarahan besar Nabi Saw terhadap salah seorang sahabat yang membunuh seseorang yang mengucapkan La ilaha illa Allah karena mengatakannya munafik.

    Yang dibilang ulama jaman sekarang ini mau ikut-ikutan berpolitik, padahal sebenarnya tidak ngerti politik. Dan terus bawa-bawa agama, padahal ya nggak terlalu ngerti agama. Ya apa ndak kacau balau jadinya.

    Gusmus berpesan kepada jamaah untuk tidak mengungkapkan sesuatu, menulis sesuatu, atau menshare sesuatu yang dapat dipersepsikan mendukung kelompok pemecah belah itu. Kalau tidak mampu berhujjah melawan, lebih baik diam. Kalau mau tulis, ungkapkan yang baik-baik, hal-hal yang positif, tulis sendiri saja, tidak cuman share tulisan orang lain.

    Gus Mus menyampaikan bahwa apa yang terjadi sekarang ini adalah hanya pengulangan sejarah yang lampau sambil mencontohkan kejadian sewaktu zaman khalifah Utsman bin Affan, dimana fitnah-fitnah bertebaran, informasi hoax disampaikan dari mulut ke mulut yang akhirnya memuncak pemberontakan (makar) rakyat terhadap khalifah Utsman yang menyebabkan terbunuhnya beliau.

    Ingat beliau dulu juga dilarang oleh umat waktu itu untuk dishalatkan di Masjid Nabawi, sehingga akhirnya dishalatkan di rumah beliau sendiri. Karena itu, pelajarilah sejarah, karena seringkali sejarah itu berulang.

    Gus Mus juga berpesan bahwa pada setiap shalawatan, sebaiknya didahului dengan kisah Syama’il ar-Rasul Saw, dijelaskan tentang kepribadian beliau SAW. Jadi umat itu tahu bagaimana akhlaq Nabi saw. sehingga bisa jadi dasar untuk menilai apakah yang mengaku-ngaku ulama itu memang pantas disebut para pewaris Nabi atau tidak.

    Allah SWT dalam Al-Quran dari awal sampai akhir tidak pernah memuji fisik Rasulullah (walaupun fisik dan ketampanannya sempurna), tidak pernah memuji ilmu Rasul Saw (walaupun ilmunya tak ada yang menandingi). Allah hanya memuji keluhuran akhlaq beliau SAW (wa innaka la ‘alaa khuluqin adziem).

    Oleh karena itu jadikan akhlaq sebagai dasar utama penilaian. Karena itulah tujuan diutusnya Nabi kita shallahu alaihi wa sallam kepada kita semua. Jika Anda ingin melihat videonya, silakan langsung page Santrionline.net, tautan ada di bawah ini  [dutaislam.com/ ed]

    Video Ceramah Gus Mus, klik SINI. 
    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    2 komentar

    Semoga kiyai Gus Mus Sehat,Selamat dunia dan akhirat, serta diberi waktu lagi untuk membantu kami yang kehilangan ulama sepuh yang mulai langka..