Selasa, 14 Maret 2017

Mereka Berkumpul di Majid At-Tin dan Bangga Mempermalukan Djarot Sebagai Tamu


DutaIslam.Com - Seorang tentara pasukan Yazid ibn Muawiyah disersi. Dia dikejar oleh pemerintah untuk diberikan hukuman yang keras.

Di tengah pelariannya, dia mendatangi Imam Ali Zainal Abidin. Di rumah sang Imam dia diterima sebagai tamu.

Ia menginap selama tiga hari. Selama itupula dia diperlakukan dengan sangat baik. Segala kebutuhannya disiapkan. Tidak kurang makanannya. Dan amat nyenyak tidurnya. Dia mengira Imam Ali Zaenal Abidin tidak mengetahui siapa dirinya.

Tapi bathinnya tersiksa. Justru karena perlakuan tumah rumah yang begitu indah. Menjelang pergi, dia tidak tahan untuk mengungkapkan jati dirinya.

"Wahai Imam, tidakkah kau tahu siapa aku?"

"Aku mengenal engkau ya, akhi. Di padang Karbala, kamu ada di pasukan musuh yang membunuh ayahku Al Husein dan membantai semua keluargaku. Aku hapal wajahmu."

Mendengar jawaban itu, sang tamu menggigil. "Menggapa engkau perlakukan aku dengan baik? Padahal aku termasuk mereka yang membuat keluargamu terbunuh dengan keji."

"Datukku Muhammad Rasulullah memerintahkan seorang muslim untuk memuliakan tamunya. Itu juga yang diajarkan kakekku Ali bin Abu Thalib dan ayahku Al Husein. Jika aku memperlakukanmu dengan buruk, apa bedanya aku dengan kalian."

Imam Ali Zaenal Abidin sedang menggemakan ajaran Nabi. Meskipun dia tahu orang yang datang ke rumahnya adalah orang yang ikut membantai seluruh keluarganya termasuk memenggal kepala ayahnya secara biadab. Tapi menghargai tamu yang datang ke rumahnya adalah kewajiban. Melayaninya dengan baik adalah perintah Rasul.

Ketika membaca berita Wagub H. Djarot Sauful Hidayat dicemooh dalam acara pengajian Supersemar di masjid At Tin kemarin, saya mengingat lagi kisah itu.

Djarot datang sebagai tamu yang diundang di acara peringatan Supersemar. Dia bermaksud menghadiri undangan tersebut. Tapi apa yang dia dapat? Jemaah disana mempermalukannya. Menyoraki dan bahkan mengusirnya.

Padahal disana berkumpul para ustad, para ulama, para lelaki berjubah yang gemar menasehati umat. Tapi toh, mereka diam saja dengan perilaku buruk itu.


Tidak ada juga permohonan maaf dari tuan rumah.

Padahal para jemaah itu katanya sedang berzikir menggaungkan nama Allah. Sedang bersholawat memuji nama Nabi. Tapi sikap dan perlakuannya sama sekali berbeda dengan ajaran Nabi.

Bagaimana mungkin mereka bisa mempermalukan tamu yang diundangnya, padahal Rasul mencontohkan sebaliknya? Bagaimana bisa mereka tetap yakin sedang menjalankan perintah Nabi?

Semakin lama semakin jelas. Ada orang-orang yang menghiasi keindahan agama dengan akhlaknya. Ada juga orang yang mencoreng agama ini dengan perilaku buruknya.

Manusia memang cenderung berkumpul dengan orang-orang sejenisnya. Dan di masjid At Tin itulah mereka sedang berkumpul. [dutaislam.com/ ab]

Source: www.ekokuntadhi.com

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini