Selasa, 21 Maret 2017

Mengajar Anak Tanpa Calistung Justru Bisa Menguasai Tiga Bahasa Sekaligus

materi calistung dan pengertian calistung yang tidak perlu akan membuat anak tidak mudah percaya diri.

Oleh Rijal Mumazziq Z

DutaIslam.Com - Sejak Avisa anak saya mulai berjalan dan bisa berbicara, saya sudah bilang ke istri agar jangan sekali kali mengajari anak baca-tulis-hitung. Saya ingin fokus pada pendidikan karakter yang asasi: mengucapkan terimakasih, makan menggunakan tangan kanan, membuang sampah pada tempatnya, jujur, sayang adik, menghormati orang lain, mencium tangan orang yang lebih tua, berani ke kamar mandi, mulai diperkenalkan soal taharah dasar (minimal belajar mengenali sesuatu yang najis) dan beberapa pembentukan karakter dasar lainnya. Beberapa hal yang saya sebutkan tadi saya yakin juga dilakukan oleh panjenengan bagi balita, bukan?

Namun, soal calistung, saya termasuk konservatif garis keras. Hahaha. Saya nggak mau mengajari anak membaca-menulis-berhitung di usia balita. Apalagi mengkursuskan anak dan mengarahkan balita sesuai obsesi saya. Tidak, saya ingin mendidiknya sendiri sesuai dengan perkembangannya (istri saya termasuk telaten mencatat database perkembangan anak: kapan anak bilang ayah, usia anak bisa berjalan, kapan anak mulai disapih, semua dicatat sesuai tanggalnya).

Oleh karena itu, saya nggak malu ketika balita saya belum bisa berhitung dan membaca. Biarkan dia berkembang dengan imajinasinya, berkembang kemampuan motoriknya, dan tidak perlu memaksakan kehendak agar terlihat keren karena anak bisa calistung seperti anak-anak tetangga. Khusus terakhir ini biasanya godaannya pada para bunda yang ingin anaknya terlihat pinter dan keren lalu anak diikutkan kursus ini itu. Kekekeke, ya nggak?

Karena termasuk konservatif garis lucu, qiqiqi, saya sudah melarang istri saya mengajar calistung pada buah hati kecuali setelah Avisa secara naluriah tertarik berhitung melalui angka seperti yang dijumpai di kartun anak, maupun tertarik pada buku (karena bosen didongengi).

Akhirnya, istri saya mengajarkan membaca terlebih dulu karena melihat secara insting Avisa sudah tertarik dan mau diajari. Sejak TK A dia sudah lancar membaca dan setiap bulan saya jatah beli 4 buku komik (biasanya komik "Kecil Kecil Punya Karya" terbitan Mizan Grup itu).

Soal mengaji, Avisa juga belum selancar teman-teman seusianya. Tapi saya memang tidak menekan dan memaksanya harus puinter ngaji, melainkan mendampinginya belajar mengaji (padahal sing biasae ndampingi ya ibunya hahaha), agar perlahan lahan tumbuh kesukaan terhadap abjad hijaiyah sebagaimana proses yang saya lihat saat dia mulai mencintai aksara latin dan buku-komik ringan.

Namun, tidak ada yang lebih mengasyikkan selain mengajari anak-anak saya kromo inggil, berbahasa Jawa halus. Prinsip saya, dia harus diajar Kromo Inggil dan etiket Jawa. Saya tidak peduli kelihatan ndeso dan kampungan karena berbahasa Kromo Inggil dengan anak di tengah lingkungan Surabaya.

Saya ingin mendidiknya sebagai orang Jawa terlebih dulu (dengan bahasa  etiket dan pola pikirnya), agar ketika ia mengenal agama dia tidak beringas, kaku dan tidak kehilangan etikanya. Saya dan istri kukuh berbicara Jawa halus dengan anak-anak sebab kemampuan bahasa daerah jika tidak dilatih akan lupa.

Bagaimana dengan bahasa Indonesia? Saya percaya bahasa nasional ini termasuk bahasa yang paling mudah dipelajari, karena itu secara naluriah anak anak akan mempelajarinya dari kartun anak maupun lingkungan sekolah. Alhamdulillah untuk pendidikan berbahasa ini lumayan berhasil. Minimal avisa sekarang menguasai 3 bahasa: Indonesia, Kromo Inggil dan bahasa Suroboyoan hahahahaha.

Jadi, ada yang lebih penting dari calistung bagi balita. Apa itu? Pendidikan berbahasa dan pendidikan karakter. Ini menurut saya, lho. Panjenengan bisa setuju bisa tidak, monggo mawon, toh masing-masing punya independensi dalam mendidik buah hatinya.

"Anak-anak Belajar dari Kehidupannya"

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

(Puisi Karya Dorothy Law Nolte)

Sekadar berbagi pengalaman, dan status ini saya tulis untuk sahabat saya yang galau karena balitanya belum bisa calistung. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini