Minggu, 19 Maret 2017

Mari Belajar Gaya Hidup Cina [Refleksi Hadits Rasulullah] Bagian 1


Oleh KH. A. Hasyim Muzadi

DutaIslam.Com - Saya ingin menyampaikan sesuatu yang menarik tentang RRC (Tiongkok) kepada kamu semua. Dengan perjalanan ini, saya menjadi lebih mengerti kenapa Rasulullah SAW menganjurkan kita supaya mencari ilmu, sekalipun ke Negeri Cina. Saya perhatikan ada beberapa kekhususan dari Cina, yaitu:

1. Segi Historis (Sejarah)
Cina adalah bangsa yang tua karena beribu-ribu tahun sebelum masehi, Cina sudah menjadi bangsa yang besar bersama dengan Romawi, Yunani, Persia, India, dll. Ini adalah bangsa-bangsa tua yang ribuan tahun sebelum masehi sudah dikenal dalam sejarah.

2. Segi Geografis
Cina persis berada pada posisi tengah-tengah dari Benua Asia. Adapun selisih waktu antara Beijing dengan Jakarta hanya 1 jam sebagaimana selisih WIB dan WITA. Luas Negara Cina ini luar biasa, bahkan melampui luasnya Amerika Serikat dan hampir sama dengan luas Uni Sovyet sebelum pecah.

3. Segi Populasi
Negara Cina mempunyai jumlah populasi terbesar di dunia, yaitu mencapai 1,3 milyar jiwa. Ini jumlah penduduk yang ada di Cina daratan, belum lagi bangsa Cina berada di luar Cina (Overseas Cina). Di negara mana-mana pasti ada orang Cina, termasuk Kalpataru, Cengger Ayam, bahkan daerah yang nyelempit-nyelempit itu.

Jadi, tidak ada satu kota pun di dunia ini yang tidak ada orang Cinanya. Jumlah populasi orang Cina yang berada di luar RRC itu kalau ditotal sekitar 600 juta jiwa. Sehingga kalau ditotal secara keseluruhan, maka jumlah populasi warga Cina mencapai hampir 2 milyar jiwa.

4. Segi Ekonomi
Cina ini adalah bangsa yang mempunyai etos kerja tinggi dan pekerja keras. Dalam satu hari, orang Cina mampu bekerja selama 11 jam, padahal kita saja yang berkerja 8 jam sehari sudah merasa berat. Perhatikan orang Cina yang buka toko. Pada pukul 06.00 dia sudah membuka toko dan tutup menjelang Maghrib, kemudian malam harinya, dia totalan. Jadi, waktu yang tersisa itu hanya digunakan untuk tidur atau untuk keperluan yang berkaitan dengan usaha dagangnya.

Disamping sebagai pekerja keras, orang Cina adalah pekerja cerdas. Sekarang ini, tidak ada satu barang pun di dunia ini yang tidak ditiru oleh Negara Cina. Suatu saat saya pergi ke pasar malem. Di sana saya ditunjukkan jam tangan merk Rolex, mulai dari yang asli seharga 70 juta Rupiah, sampai Rolex yang seharga Rp. 70.000, dan kita sulit untuk membedakan antara yang asli dengan yang palsu.

Oleh karena itu, RRC mempunyai potensi luar biasa untuk menghancurkan Barat. Apalagi produksi-produksi di sana dibuat secara besar-besaran, yaitu kalau satu orang membuat 10 baju, maka dari RRC akan mengekspor sekirat 12-13 milyar baju.

5. Rasa Persaudaraan (Kecinaan)
Bangsa Cina mempunyai rasa “kecinaan” dunia. Jadi, kalau orang Cina ketemu sama orang Cina lainnya, perasaannya lain dibandingkan ketemu dengan kita.

6. Segi Politik
Dahulu Negara Cina diperintah oleh Kaisar. Tunduk kepada Kaisar adalah harga mati, sehingga pada zaman Kekaisaran, Kaisar menyuruh rakyat untuk membangun tembok besar Cina meski harus mengorbankan ratusan ribu jiwa. Tembok besar Cina ini dibangun di puncak-puncak bukit dan panjangnya sekita sepanjang 6000 KM. Kalau ada pekerja yang mati, maka langsung dikuburkan di dekat situ. Jadi, tembok besar Cina itu sebenarnya angker karena ada alam arwahnya.

Setelah itu, Cina dipimpin oleh Komunis. Pemerintahan Komunis ditambah dengan etos kerja bangsa Cina yang luar biasa, menjadikan Negara Cina memperoleh untung besar. Kenapa? Karena nilai yang dimakan oleh masing-masing orang Cina, lebih sedikit dari pada nilai hasil kerja mereka. Ibaratnya: kalau nilai kerjanya Rp. 20.000 perhari, maka dia hanya memakainya sebanyak Rp, 10.000 sehari, sedangkan yang Rp. 10.000 lainnya menjadi hak negara, sehingga yang semakin kuat adalah negaranya. Ini terjadi pada waktu pemerintahan Komunis dipimpin oleh tokoh bernama Mao Zedong.

Setelah Mao Zedong meninggal dunia, sistem ekonomi Cina diubah, namun politiknya tetap berhaluan Komunis. Artinya: orang Cina masih diperintahkan untuk kolektivitas, tapi ekonomi Cina mulai dibuka pelan-pelan. Dari situ, mulai ada ekspor dan impor, investasi, dsb. Bahkan lebih dari 4 juta anak-anak muda Cina, dikirim ke seluruh dunia untuk belajar membuat barang-barang yang dibuat di negara-negara yang mereka tempati. Semua itu dibiayai oleh negara.

Akhirnya ekonomi Cina meledak dan berkembang sangat pesat. Kenapa? Karena bangsa Cina itu tidak suka hidup mewah, disamping karena budaya, juga karena faktor politik Komunisme yang dianut. Jadi, Negara Cina itu dari Komunis, bergeser ke arah Sosialis yang agak longgar, bahkan sekarang menjadi Kapitalis, namun bukan “dikapitalisi” oleh orang lain.

Dalam tempo kurang dari 20 tahun, kota-kota besar di Cina disulap menjadi lebih hebat dari Washington dan New York. Jadi, di sana saya seperti memasuki daerah yang aneh, karena saya dulu pernah ke Cina, tapi tidak seperti yang sekarang ini. Sekarang ini Negara Cina luar biasa hebatnya dan mulai menggeser posisi ekonomi Barat. Kenapa itu bisa terjadi? Karena RRC tidak mau terikat dengan semua ikatan ekonomi internasional, baik itu IMF, ILO, WTO, dsb. Sehingga RRC ini berjalan tidak berdasarkan konsensus internasional, melainkan menggelinding sendirian dengan kekuatan raksasa yang mereka miliki.

Hidup bangsa Cina tetap sederhana, karena mereka mempunyai budaya yang mengacu kepada filsafat Konghucu. Sekalipun bangsa Cina adalah komunis yang menganut ajaran tidak bertuhan (atheisme), tapi sebenarnya mereka masih mendewakan Kongfuche sampai hari ini. Orang Cina yang beragama Kristen menganut Konghuchu, orang Cina yang beragama Islam juga menganut Konghuchu, dsb. Konghuchu sudah menjadi agama negara dan agama bangsa.

Umat Islam di Cina tidak besar, jumlah mereka kurang lebih sekitar 50 juta saja. Apa artinya 50 juta muslim di tengah-tengah 1.3 milyar penduduk RRC. Orang Islam di sana rata-rata sudah berusia tua yang kelasnya “Husnul khatimah”.

Nah, yang menarik bagi saya dan mungkin cocok dengan kandungan Hadits di atas adalah bahwa bangsa Cina itu selalu hidup di bawah jumlah penghasilannya. Saya kira, sikap ini perlu kamu tiru. Tidak ada orang Cina yang menghabiskan uang Rp. 10.000 sehari, kalau penghasilannya tidak mencapai Rp. 15.000. Ketika orang Cina masih berpenghasilan Rp. 5.000, maka dia hanya makan sebanyak Rp. 4.000 saja. Jadi, bangsa Cina itu pantang memakan habis hasil keringatnya dan harus ada sisa dari hasil keringatnya tadi. [dutaislam.com/ab]

KH. A. Hasyim Muzadi, pengasuh Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang

Bersambung ke:

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini