Rabu, 15 Maret 2017

Kepincut Arab yang Dikit Dikit Bid'ah, Padahal Ini Faktanya!


Oleh Robbi Gandamana

DutaIslam.Com - Membaca status soal kehidupan rakyat Arab Saudi di tetangga sebelah, aku cuman bisa ndlahom. Status yang menggambarkan kehidupan berbangsa dan bernegara di Arab Saudi yang memang joss gandos, emejing. Wajar kalau status itu sudah di-share hampir dua belas ribu orang.

Rata-rata komentarnya "Subhanalloh..". Padahal kata itu dipakai saat melihat keburukan, untuk mengingat kesucian Allah. Tapi gak popo, wis kadung gaul, sing penting niate.

Ada beberapa poin yang perlu kita tiru dari Arab, seperti mementingkan akhirat daripada dunia, memuliakan wanita dan ibu, anti riba, keamanannya yang canggih, ringan dalam bersedekah dan lainnya.

Tapi saya tidak mau menelan mentah-mentah begitu saja tulisan itu. Wacana yang datang harus diolah dulu. Seperti kata Simbah, Jangan jadi keranjang sampah, tapi jadilah mesin pengolah. Dan sepertinya ada beberapa yang 'nggak beres' dalam tulisan tersebut.

Soal Mengutamakan Shalat tapi Malas Bekerja
Dalam hal ibadah (shalat), orang sana sangat tertib dan tepat waktu. Toko langsung tutup saat mendengar adzan. Tapi anehnya orangnya malas-malas, sangat rileks dalam bekerja. Buat mereka, kerja hanyalah sesuatu yang dilakukan untuk menunggu waktu sholat. Statement itu seolah-olah benar, tapi sebenarnya nggak sepenuhnya benar (imho).

Oke, orang yang mendahulukan akhirat pasti akan mendapatkan dunia. Tapi shalat itu melatih orang agar tepat waktu, disiplin, yang outputnya kerja jadi lebih giat. Kalau sudah shalat tapi tidak merubah kebiasaan malas, berarti tujuan shalatnya gagal Ndes (shalatnya tetep sah).

Agama mana pun tidak membenarkan sifat malas. Karena malas itu kufur nikmat atas karunia yang diberikan Tuhan: tangan, kaki, akal pikiran, dan seterusnya.

Kita harus pahami latar belakang kenapa orang Arab Saudi begitu malas bekerja. Lha wong di sana pengangguran saja digaji, gajinya bisa menggaji seorang pembantu (TKW). Jadi mentalnya lain dengan kita yang sudah kerja keras pun gajinya nggak jauh beda dengan gaji pembantu.

Pengangguran saja gajine gede, apalagi yang kerja kantoran. Seandainya di Indonesia penggangguran dapat gaji, bisa jadi akan rileks dalam bekerja. Ibadah pun bisa lebih fokus seperti mereka. Dan mungkin tidak akan ada motto populer 'gantungkan cita-citamu setinggi PNS'.

Soal Memuliakan Wanita
Di Arab Saudi, wanita sangat dimuliakan. Tentu saja itu bagus, cuman sayang agak 'fals' penerapannya. Diceritakan, ada seorang wanita menyeberang ngawur dan mendadak, menyebabkan mobil yang lewat menginjak rem sekuatnya, hampir terjadi kecelakaan, tapi polisi tetap tidak akan menyalahkan si wanita hanya karena dia wanita!?

Memuliakan wanita itu tindakan mulia, tapi yo tetep harus proporsional. Kalau salah ya tetep salah.

Atas nama memuliakan, terus hak-hak perempuan Arab dibatasi. Itulah yang membuat banyak wanita Arab merasa terkekang. Ibarat burung hidup di dalam sangkar emas. Dimanjakan, dikasih makan enak, tapi terkekang. Apa enaknya.

Soal Menomersatukan Ibu
Di belahan bumi mana pun, ibu dimuliakan anaknya. Cuman di Arab Saudi agak kebablasan. Ada anak lelaki yang patuh pada ibunya. Dia tidak bekerja karena tidak diijinkan oleh ibunya. Itu baik atau tidak, tergantung kasusnya. Kalau ibunya memang sudah tua dan sakit-sakitan sehingga butuh ditemani, itu bagus. Tapi kalau ibunya sehat-sehat saja, itu khan ngajari anak malas. Ibunya yang salah.

Sepertinya masih ada kaitan dengan kesejahteraan di Arab, pengangguran digaji. Ketika ada kesempatan menyenangkan ibunya, diperintah nggak kerja pun bukan hal yang berat. Nganggur tetap dapat gaji kok.

Sebenarnya kita tidak diwajibkan taat pada orang tua, tapi diwajibkan berbuat baik, berbakti (birrul walidain). Walau salah satu wujud berbakti itu taat, tapi hakikatnya taat itu hanya pada Tuhan.

Ojok salah rek, aku gak ngajari durhaka. Tapi bertindaklah yang proporsional. Memuliakan Ibu itu perbuatan mulia, tapi ibu juga manusia biasa yang bisa salah. Jangan menabi-nabikan orang yang bukan Nabi atau metuhan-tuhankan orang yang bukan Tuhan.

Soal Riba
Negara ini sudah terlanjur basah dalam masalah riba. Kita sulit keluar dari lingkaran riba. Utang di bank, kredit motor, nyicil rumah..semua pasti ada bunganya (riba). lha terus ya'opo rek..mumet khan. Jadi menurutku boleh toleransi dikit-dikit, karena terpaksa. Semua tergantung niat dan konsep di dalam hatimu. Angel iki, aku dewe ngelu ndasku.

Sementara iku sing iso tak kritisi, soal yang lain sudah joss gandos. Percoyo karepmu, gak percoyo urusanmu.

***
Kalau saya mengkritisi Arab, bukan berarti saya anti atau benci Arab. Tapi mengajak ente semua mencintai bangsamu sendiri. Nggak gampang kepincut dengan gemerlap yang tampak dari fisik luarnya saja. Ada orang cerita enaknya hidup di Jerman yang sekolah gratis sampai perguruan tinggi, kesehatan gratis, angkot gratis..langsung ingin jadi orang Jerman.

Yang jelas jangan dipahami secara linear, kalau negara Arab makmur karena mereka rajin ibadah. Buanyak negara yang penduduknya jarang ibadah tapi lebih makmur dari Arab. Dulu Mesir di zaman Fir'aun yang kafir itu pun sangat makmur. Soal kenapa negara yang satu lebih makmur dari negara lain, itu rahasia Tuhan, bisa kita cuman mengira-ngira.

Banyak yang nggak sadar dan nggak mau meneliti bahwa kita adalah bangsa yang besar. Makane pelajari budayamu dan leluhurmu ojok dikit-dikit bid'ah. Sama budayanya sendiri nggak paham, tapi budaya bangsa lain diagung-agungkan. Kalau sekarang kita terpuruk itu karena manajemen negoromu koyok taek.

Menurutku kita tetap lebih istimewa dari mereka. Kesejahteraan nggak dijamin, cari makan susah, tapi kita masih semangat ibadah (shalat). Nabi bukan leluhur kita, tapi kita sangat mencintai dan mengikuti jejaknya sama dengan orang Arab yang masih satu ras dengan Nabinya. Kita bersusah payah menabung dan menunggu 10 tahun untuk berhaji. Sedangkan orang Arab berangkat haji tinggal naik angkot beberapa menit nyampai. Jadi lebih joss mana boss? [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post

2 komentar

Aku setuju sama sampean.

Di Indonesia org memuja-muja kerajaan Arab Saudi, tapi diluar negeri diungkap sesuatu yg mengejutkan terkait dgn Arab Saudi. Entah benar atau tidak deskripsi itu, silakan ditimbang sendiri. Berikut tautannya: https://islamreigns.wordpress.com/2017/03/13/saudi-bankruptcy/

POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini