Minggu, 12 Maret 2017

Harusnya Bangser dan Angsor Menikmati Kekuasaan Pasca G 30 S PKI, Mengapa Tidak?

Apel Bangser tempo doeloe
DutaIslam.Com - Saya masih ingat betul, saat itu digelar buat kali pertama Apel Banser se Jawa Timur tahun 1991, sejak berakhirnya peristiwa G 30/S PKI. Saya, mungkin salah satu Banser yang masih muda di antara ribuan Banser angkatan tahun 65-an setelah sekian lama Ansor Banser harus tiarap di tengah kekuatan Orde Baru.

Padahal, ketua umum PP GP Ansor saat itu adalah penguasa orde baru juga. Harusnya, Ansor, dan Banser, terlebih NU, sudah harus menjadi penguasa negara setelah berhasil, bersama ABRI (istilah TNI, saat itu), menyelamatkan negara dari rongrongan ideologi yang ingin memecah bela bangsa.

Sebagai organisasi yang merujuk pada sahabat Anshor di Madinah, di mana saat itu segolongan kaum muslimin pribumi Madinah menjadi penolong saudaranya yang hijrah dari Makkah dari siksaan dan intimidasi kaum kafir Qurays. termasuk Rasulullah.

Harusnya, ketika Rasulullah wafat, orang-orang Ansor inilah yang memegang tampuk kepemimpinan umat Islam, Anshor sebagai penduduk pribumi harusnya sudah menjadi penguasa atas umat Islam, namun yatanya tidak. Sekali lagi, Rasulullah menjadikan Anshor untuk menjadi penolong, bukan pemimpin.

Bahkan, konon dalam peristiwa peperangan, umat Islam bersama Rosulullah mendapatkan ghanimah yang jumlahnya panjang, hartanya antar gunung, dan saat pembagian ghanimah tersebut, seorang Abu Sufyan, yang pernah memusuhi Nabi mendapatkan bagian 100 ekor onta. Bagaimana dengan Anshor? Lagi-lagi Anshor tidak mendapatkan bagian.

Ketika kemudian Rasulullah bertanya, wahai sahabat Anshor, Anda pilih mana, pulang membawa harta ghanimah atau pulang bersama Rosulmu? Tentu pulang bersama dirimu, ya Rosul. Begitulah Anshor.

Ketika Indonesia merdeka, banyak kalangan Ansor yang saat itu bergabung menjadi faksi kelaskaran Hizbullah, kembali menjadi rakyat biasa lagi, menjadi santri untuk berjuang bersama rakyat membangun negeri ini.


Pasca peristiwa 65, harusnya Ansor menjadi pemegang kekuasaan, karena saat peristiwa itu, Banser bergandeng renteng bersama ABRI, dan yang jadi presiden adalah Jendral Tentara AD. Nyatanya justru Ansor berada di luaran, bahkan terkesan dimusuhi.

Apakah Ansor marah? Tidak.

Ansor tetap berkhidmah bersama rakyat lainnya untuk membangun negeri. Yang jadi guru ngaji tetap ngaji, yang jadi guru tetap mengajar, yang tani tetap bertani dan sebagainya. Melihat negeri aman tentram, ibadah lancar tampa gangguan, bagi Ansor sudah cukup.

Di acara Apel itu, seorang senior Ansor, sambil meneteskan air mata, berkata, "saya bahagia sekali, hari ini Bangser, Angsor dan Kentara, kembali rukun". [dutaislam.com/ ab]

Sahabat Rohim, Kencong, Jember

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini