Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Agar Hoax Tidak Meluas, Perlu Kampanye Guyon dan Travel Piknik Harus Dimurahkan

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Kamis, 23 Maret 2017
    A- A+
    Septiaji Eko Nugroho dalam Workshop BNPT di Jakarta (23/03/2017)
    DutaIslam.Com - Hoax adalah wabah yang bukan hanya mewabah di Indonesia. Tapi juga dunia. Hoax mudah menyebar karena banyak orang-orang akademis bergelar sarjana, doktor
    bahkan profesor juga ikut menyebarkan.

    Hal itu dikatakan oleh aktivis Aktivitas di Komunitas Anti Hoax, Septiaji Eko Nugroho dalam Workshop Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme di Dunia Maya bertema
    "Perilaku Netizen Terhadap Isu Radikalisme dan Intoleransi" yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorsime (BNPT) bersama NU Online dan admin media Islam
    moderat di Hotel Millenium, Jakarta, Kamis (23/03/2017).

    Menurut Eko Nugroho, setidaknya disebabkan oleh, pertama, literasi Indonesia yang cukup rendah. "Indonesia nomor dua dunia (terendah soal literasi), budaya kita bukan membaca, tapi ngerumpi," kata Eko, yang dulu pernah dianggap Cyber Muslim gara-gara pernah terlalu
    reaktif melakukan perlawanan cyber pasca jadi muallaf beberapa tahun silam.

    Kedua, lanjut Eko, kurangnya tradisi guyon di tengah masyarakat kita. Akhirnya, semuanya dianggap serius. "Adanya media sosial tidak membuat orang berwawasan luas, tapi justru berkumpul dengan cyber mereka sendiri tanp mendengar cyber orang lain," imbuh Eko.

    "Bukan kebenaran, yang dicari adalah pembenaran," tambahnya.Eko berharap bisnis piknik semakin murah dan harganya terjangkau agar banyak yang menanggapi santai atas berita hoax yang sering provokatif.

    Eko menilai, pencarian pembenaran daripada kebenaran di dunia maya akibat kehendak sebagian oknum yang ingin memanfaatkan ruang privat diisi dengan ruang publik, "semua orang ingin di ajak ke ruang publik dan diajak berpartisipasi. Inilah fenomena postruts," tandas Eko.

    Selain dua hal di atas, sebab ketiga yang membuat hoax sangat murah dijadikan propaganda adalah karena massifnya penggunaan media sosial dan massaging (aplikasi kirim pesan semacam WhatsApp). Makanya banyak ibu-ibu yang terseret dalam propaganda hoax
    setelah dia dibelikan andorid anaknya. Niat awal ingin mempermudah komunikasi, tapi akhirnya masuk dalam grup WhatsApp yang isinya hoax.

    Namun, Eko memberi catatan bahwa tidak semua berita hoax disebut hoax. Kekhilafan redaktur Kompas yang pernah memuat berita foto putri Raja Salman misalnya, itu bukan hoax, namun hanya miskomunikasi. "Teledor itu bukan hoax. Disebut hoax jika ada unsur merekayasa dan mengelabui," jelas Eko. [dutaislam.com/ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: