Sabtu, 04 Februari 2017

Wahabi Mengawal Fatwa MUI, Kiai Diseret ke Lingkaran. Netizen NU: Genosida Ulama Sunni?


DutaIslam.Com - Fatwa MUI yang menyatakan Ahok menistakan agama adalah babak politik negeri ini yang sangat pilu. Diakui atau tidak, dalam tragedi fatwa penistaaan Al-Qur'an di Kepulauan Seribu, syarat dengan nuansa politik. Dutaislam.com, pada awal-awal fatwa itu terbit, tidak pernah fokus membahasnya.

Namun, sejak peristiwa pengawalan fatwa menyeret tokoh-tokoh Islam dalam bingkai fitnah, menyulut amarah pecinta kiai, MUI perlu dikritisi sebagai corong bicara bagi mereka yang punya kepentingan politik memenangkan Pilkada DKI Jakarta, terutama ketika GNPF-MUI menyatakan "jihad-pengawalan".

Fatwa MUI yang konon dikawal oleh gerakan pimpinan Ustadz Bachtiar Nasir itu bahkan sampai pada penggiringan opini, "menentang gerakan mereka adalah bukan Islam". Pendapat itu hampir menjadi gagasan umum di banyak pengguna media sosial. Gara-gara kritik fatwa itu, Gus Mus, Kiai Said, jadi bumbu hinaan sumbu pendek. Terjadi berkali-kali.

Kini, sejak KH Ma'ruf Amin diseret dalam problem lingkaran fatwa yak nah itu, mereka mengeroyok warga NU, memprovokasi agar Banser ikut dalam barisan Bela Ulama, sebuah propaganda gerakan GNPF yang selama ini digunakan untuk membela Habib Rizieq Shihab ketika ia merasa "dikriminalisasi". Begitulah. Fatwa yang tergesa-gesa itu kini bikin gaduh dan mengaduh.

Zain Sujai, salah satu Netizen NU di Jakarta merasa prihatin atas hal itu. Ia mengatakan, di belakang MUI ada sedikitnya tiga pentolan wahabi, yakni Kholil Ridhwan, Bachtiar Nasir dan Zaitun Rasmin. Ketiga orang inilah yang menurutnya gencar melakukan konsolidasi pembai'atan Imam Besar Umat Islam di berbagai daerah pasca aksi 212.

"Ketika mengeluarkan fatwa tidak konsultasi ke PBNU, malah berkoordinasi dengan wahabi, tapi ketika diterpa kasus, PBNU yang kena imbas," katanya, Jumat (03/02/2017). Semakin hari, lanjut Zain, isu bela ulama terus digoreng dan sepertinya nama NU akan dibentang oleh mereka pada aksi-aksi berikutnya.

Karena MUI sudah ditunggangi oleh gembong wahabi di GNPF itulah, para ulama, kiai, dan bahkan santri-santrinya dianggap bermain mata dengan kelompok pendukung salah satu pasangan calon. Citra ulama aswaja makin dikesankan politis, "mungkin mereka ingin melakukan genosida ulama sunni seperti sejarah sebelumnya di Mekah," timpal Ervi, salah satu Netizen NU, di Jakarta juga. [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post

1 komentar:

Solusinya satu..ulama2 NU putuskan koneksi dengan MUI, KH Ma'ruf Amin fokus saja di PBNU. Kemudian PKB tidak boleh merasa paling NU, jamaah NU moderat ada di segala parpol NU harus jadi payung semua.

POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini