Dutaislam.com mendukung gerakan deradikalisasi dan anti teror di media sosial!

  • Sebab Istighfar, Semua Hajat Penjual Roti Ini Dikabulkan, Kecuali Satu Hal

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Selasa, 21 Februari 2017
    A- A+
    Ilustrasi
    DutaIslam.Com - Imam Ahmad bin Hambal (murid Imam Syafi'i) dikenal juga sebagai Imam Hambali. Di masa akhir hidup, beliau bercerita, "pernah satu kali (ketika saya sudah usia tua), saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak". Padahal tidak ada janji dengan seseorang dan tidak ada hajat.

    Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashroh. Beliau bercerita, "pas tiba di sana waktu Isya', saya ikut shalat berjamaah isya' di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat".

    Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, Imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba merbot masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya, "kenapa syaikh, mau ngapain di sini?".

    (Kata "syaikh" bisa dipakai untuk 3 panggilan, orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu. Panggilan syaikh pada kisah ini adalah panggilan sebagai orang tua).

    Merbot tidak tahu kalau beliau adalah Imam Ahmad. Dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya. Di Irak, semua orang mengenal nama Imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat sholeh dan zuhud. Zaman itu tidak ada foto, sehingga orang tidak tahu wajahnya, hanya nama yang mudah terkenal jika ia seorang tokoh.

    "Saya ingin istirahat, saya musafir," jawab Imam Ahmad.

    "Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid," balas merbot.

    Imam Ahmad bercerita, "saya didorong-dorong oleh orang itu, disuruh keluar dari masjid. Setelah keluar masjid, pintu masjid pun dikunci. Lalu saya ingin tidur di teras masjid".

    Ketika sudah berbaring di teras masjid, merbot datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad, "mau ngapain lagi syaikh?" bentaknya.

    "Mau tidur, saya musafir," jawab Imam Ahmad datar.

    Lalu marbot berkata, "di dalam masjid nggak boleh, di teras masjid juga tidak diijinkan".

    Imam Ahmad pun diusir, "saya didorong-dorong sampai jalanan," tutur Imam Ahmad bercerita.

    Kebetulan, di samping masjid ada penjual roti (dengan rumah kecil yang sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti yang kala itu sedang membuat adonan ternyata melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi.

    Waktu Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti memanggil beliau dari jarak jauh, "mari syaikh, Anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat meskipun kecil".

    "Baik," kata Imam Ahmad.

    Akhirnya, Imam Ahmad rehat di rumah kecil penjual roti itu sambil duduk di belakang penjual roti yang sedang sibuk membuat dagangan (dengan tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

    Penjual roti ini punya perilaku tersendiri. Kalau Imam Ahmad mengajaknya ngomong, dijawab. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar, astaghfirullah. Saat menabur garam, astaghfirullah. Mecah telur, astaghfirullah. Menyampur gandum, astaghfirullah.

    Ia senantiasa mendawamkan istighfar. Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.
    Lalu Imam Ahmad bertanya, "sudah berapa lama kamu lakukan ini?".

    Orang itu menjawab, "sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan".


    Imam Ahmad bertanya "ma tsamarotu fi'luk/ apa hasil dari perbuatanmu ini?"

    "(Lantaran wasilah istighfar), tidak ada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta ya Allah (titik titik), langsung diterima," jawab penjual roti.

    (Memang Nabi Saw. pernah bersabda, "siapa yang menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya).

    "Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kasih syeikh," lanjut keterangan penjual roti.

    "Apa itu?" Imam Ahmad penasaran.

    "Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad".

    Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir, "Allahuakbar, Allah telah mendatangkan saya jauh-jauh dari Baghdad pergi ke Bashroh dan bahkan sampai didorong-dorong oleh merbot masjid itu sampai ke jalanan karena istighfarmu".

    Penjual roti itu terperanjat, memuji Allah, ternyata yang didepannya adalah Imam Ahmad. Maha Besar dan Maha Benar Allah subhanahu wa ta'ala. [dutaislam.com/ ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: