Dutaislam.com mendukung gerakan deradikalisasi dan anti teror di media sosial!

  • Sadar Polemik Saham Freeport 51 Persen, Propaganda Al Maidah 51 Nyata Politisnya

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Rabu, 22 Februari 2017
    A- A+


    DutaIslam.Com - Banyak orang menyebutkan kalau Freeport diganggu, akan ada kekisruhan tingkat nasional terjadi. Sudah bukan rahasia umum lagi, politik SARA dijadikan mainan agar publik tidak fokus pada isu Freeport yang selama beberapa dekade selalu berakhir pada "diam" tanpa penyelesaian.

    Setelah Soekarno, presiden RI yang berani secara lantang melakukan renegosiasi PT Freeport adalah Gus Dur. Apa yang terjadi? Permusuhan di Ambon dan Maluku pun menjadi catatan sejarah kelam atas nama bela agama pada masa Gus Dur presiden.

    Isu permusuhan antar anak bangsa terbukti berhasil sebagai alat untuk membuat bulu kudu penguasa merinding menghadapi hantu-hantu Freeport agar terus dan bisa menancapkan "ketakutan" nya. (Baca: Setelah Menolak Perpanjangan Freeport, Gus Dur Dilengserkan)

    Sejak Freeport ingin memastikan lancarnya keberlangsungan kontrak karya sejak Orba kepada Presiden Jokowi, isu SARA muncul kembali. Tahun 2015, isu-isu tersebut sudah dimulai tipis-tipis. Penyesatan Syiah mulai diorganisir massif melalui Aliansi Nasional Anti Syiah (Annas). Ini muncul tiba-tiba tanpa kasus faktual yang menyita perhatian lo yah.

    Puncaknya adalah isu politisasi agama via video Buni Yani tentang Ahok yang dianggap menghina Al Maidah 51. Demo berjilid-jilid digelar hingga terakhir kali pada 21 Februari 2017 (second 212). Selama hampir tiga bulan, publik disibukkan dengan polemik fatwa MUI yang disinyalir beberapa pihak penuh kepentingan politik.

    Pada saat bersamaan, isu Freeport pun tenggelam hingga muncul Presiden Jokowi memberikan statemen ke media kalau Indonesia tidak akan takut kepada Freeport. Jadi hangat tahi ayam atau tidak nantinya, kita tunggu saja langkah penguasa, apa yang akan ditempuh. Analisisnya, baca: Membongkar Simalakam Perebutan 51 Persen Saham Freeport.

    Freeport itu kunci keamanan dan ekonomi Indonesia sejak Orba. Jakarta adalah pintu masuk. Jika ingin mengusai Indonesia, orang sudah banyak yang tahu, yakni harus mengusasi Jakarta dan Papua. Melihat hal ini, kasus Al Maidah 51 jadi semacam debu kecil tak berarti dibanding besarnya mudarat saham 51 persen Freeport, entah nanti akan jatuh ke BUMN, Swasta Nasional, atau Swasta LN.

    Al-Maidah 51 digunakan untuk menggeser kekuasaan Jokowi. Ini analisis dari kalangan yang melek politik tanpa mau terjebak politisasi agama. Jika Jakarta berhasil dikuasai, maka Papua dengan mudah akan ditakhlukkan. Freeport berjaya dan sumber daya alam akan terus dinikmati oleh mereka.

    Sayangnya, yang dimanfaatkan untuk membesarkan Al-Maidah 51 ke publik adalah kelompok radikal Islam. Alasan-alasan agama, politik maupun konstitusi disusun agar mudah ditangkap publik, sembari fitnah terus ditebarkan dalam rangka menjaga agar kegaduhan bisa melupakan publik dari kasus yang lebih besar di Papua.

    Penyesatan, pelabelan munafik, pengafiran, syiahisasi, komunisasi, dan lainnya, bertebaran sepanjang proses Pilkada DKI. Sementara, di seberang sana, ada "papa-papa" yang sedang sibuk mengegolkan target perpanjangan kontrak bernilai ribuan triliun.

    Barangkali, panglima FPI Munarman, paham tentang ini semua. Dia dulu adalah salah satu pengacara Freeport. Entah sekarang.

    Dutaislam.com akhirnya ingat pada pesan Kiai Said: target demo berjilid-jilid bukan Ahok, tapi Jokowi. Tak heran jika isu yang berkembang adalah memupuk ketidakpercayaan publik kepada pemerintah sekarang dengan stigma sebagai bolone asing, asong.


    Kami yakin, di kemudian hari, hingga 2019 nanti, isu SARA akan terus digoreng jika Papua belum stabil kendalinya. Wajar juga kalau ada order untuk menghacurkan NU pada 2020. Mengapa? NU lah yang selama ini secara terang-terangan ikut membela pemerintahan yang sah agar terus melawan kapitalisme Barat melalui counter isum deradikalisi dan anti terorisme.

    Tak pelak, GP Ansor pun sudah siaga satu jika sewaktu-waktu dibutuhkan oleh polisi dan TNI untuk membantu keamanan nasional. Dutaislam.com akan terus menjaga NU, Banser, Kiai, dan juga NKRI ini dengan countering issu di wilayah media online (melon). Risiko dibully sebagai pengkritik nalar cupet, sudah biasa diterima. Salam waras wiris! [dutaislam.com/ ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: