Jumat, 10 Februari 2017

Menunggu Perang Barotoyudo Saat Sengkuni Bermain Merebut Jakarta. NU Dimana?

Ilustrasi para kontestan Cagub-Cawagub Pilkada DKI Jakarta 2017
Oleh Fajar Abdul Bashir

DutaIslam.Com - Saat ini para "sengkuni" sedang bermain mati-matian untuk menguasai DKI Jakarta. Setelah pembesar-pembesar FPI jatuh bergelimpangan, kini para "sengkuni" menyasar NU. Mulai dari diajukannya KH. Ma'ruf Amin sebagai saksi ahli di persidangan Ahok, Istightsah mendukung Ahok di rumah Djian Farid (PPP) yang memakai logo NU, dan yang baru ini demo atas nama Santri Indonesia yang tidak lucu di kantor PBNU.

Kita bahas satu-persatu. Kita tahu bahwa pertarungan gubernur DKI bukan hanya pertarungan para calon, tapi pertarungan tiga tokoh Nasional SBY, MGW, dan PBW. Kubu SBY dan Kubu PBW semula sepakat bahwa lawan mereka bukanlah lawan yang ringan. Selain didukung pertai penguasa, Ahok juga mmpunyai popularitas dan integritas yang cukup lumayan.

Jadi, pekerjaan pertama kubu SBY dan kubu PBW adalah meruntuhkan benteng takasi China. Dikobarkanlah "peperangan" melawan pasukan benteng takashi. Sebagai panglima perang adalah Imam Besar FPI dan punggawanya dengan berlindung di belakang MUI.

Gempuran demi gempuran dilancarkan. Akhirnya benteng takashi bisa dirobohkan dengan ending Ahok menjadi tersangka. Kukuatan kubu penguasa menjadi hancur tinggal sisa-sisa pasukan yang sudah mulai ragu dengan kekuatannya. Namun, dalam serangan pertama ini, ternyata memakan banyak korban juga, terutama "Panglima Besar", dan, punggawanya menjadi korban "tembak" di tempat.

Sang Imam Besar dan punggawanya juga menjadi tersangka, belum ditambah kasus-kasus lain yang siap ditembakkan ke arah Imam Besar yang tinggal menunggu waktu saja. Apalagi dengan ditemukannya senjata "nuklir" made in Firza Husein, hancur leburlah kekuatan sang komandan.

Setelah gempuran pertama dianggap berhasil, maka akan dilakukan lagi gempuran kedua, namun karena sang Imam Besar sudah tidak berdaya. Kubu SBY dan Kubu PRB diprediksi meminjam senjata NU dengan memanfaatkan ketua MUI dan juga Rais Aam PBNU.


Dalam kasus Ahok, NU disinyalir masih memihak ke kubu Ahok dengan indikasi menolak aksi-aksi bela Islam. Dihadirkanlah ketua MUI KH. Ma'ruf Amin ke majlis sidang Ahok, yang mana semua orang mengetahui bahwa dalam persidangan, semua orang berkedudukan sama di mata hukum. Tidak perduli ulama atau tentara atau polisi, semua boleh ditannya semaunya penanya. Inilah yang tidak diantisipasi oleh NU.

PBNU menurut saya kecolongan karena membiarkan Rais Aam hadir di majelis sidang Ahok. Seharusnya, NU menghalang-halangi beliau tidak hadir dengan alasan usia beliau sudah lanjut. Apalagi pertimbangan persidangan Ahok bukan murni kriminal, tapi persidangan "politik" yang tentunya akan dapat menyeret NU masuk ke dalam permainan para "sengkuni".

Ternyata benar, kesalahan yang dibuat kubu Ahok sangat fatal. Mereka tidak mengantisipasi bahwa hadirnya ketua MUI di persidangan adalah umpan besar. Terjadilah gelombang besar warga NU menghujat Ahok yang dianggap tidak sopan terhadap KH. Ma'ruf Amin. Serangan kedua ini juga dianggap berhasil oleh kubu SBY dan PBW. Sesuai keinginan, NU telah masuk ke kubangan mereka. Kubu Ahok klenger untuk kedua kalinya.

Namun, kubu Ahok tidak tinggal diam. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, mereka melakukan penyerangan. Kali ini juga menggunakan NU, yaitu dengan digelarnya istighotsah di rumah Djian Farid (PPP kubu Ahok) dengan memasang logo NU.

Media pun cepat merspon, dan gegerlah kembali bahwa seolah NU mendukung Ahok. Belum reda berita istighotsah, kembali NU dibingungkan oleh puluhan orang mengatas namanakan Aliansi Santri Indonesia yang berdemo ke kantor PBNU. Mereka menuntut Sekjen PBNU Helmy Faishal mundur karena jelas-jelas mendukung pasangan kubu SBY. Sungguh rumit politik ini, hingga memerlukan energi yang begitu besar.

Pertanyaannya adalah, "dimana sebenarnya NU mendukung?". Sesuai dengan khitthah, NU secara kelembagaan tidak boleh dijadikan mobil politik memilih salah satu pasangan calon (paslon) kepala daerah. NU tetaplah NU, cerdik, lincah, dan bergengsi.

Meskipun NU tidak boleh mendukung salah satu paslon, tapi orang-orang di NU boleh mendukung paslon yang dikehendaki secara pribadi bukan organisasi. Mau mendukung nomor 1 boleh, nomor 2 boleh, nomor tiga juga boleh. Asalkan tidak membawa-bawa bendera NU, ke manapun boleh.

NU ada di mana-mana, tapi tidak ke mana-mana. Itulah semboyan yang terkenal di kalangan warga nahdliyyin. Dengan demikian, maka siapaun yang menang nantinya, maka itu juga kemenangan NU secara keseluruhan karena orang-orang NU ada di mana-mana.

Untuk itu, kita jangan terlalu berlebih-lebihan menyikapi polemik dan pertarungan bengis Pilkada DKI. Peperangan lain masih panjang, jagalah amunisi dan tenaga! Masih ada putaraan kedua kayaknya. Jika nanti Ahok tumbang di putaran pertama, maka babak baru perang Barotoyudo akan kembali berkecamuk antara kubu SBY dan Kubu PBW. Salam NU Jaya. [dutaislam.com/ ab]

Fajar Abdul Bashir, khadim Ma'had Ar-Risalah Bantul, Yogyakarta

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini