Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Mari, Jihad Akbar Melawan "Anarkhi" Freeport dan Bughot!

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Rabu, 22 Februari 2017
    A- A+
    Jokowi gandeng NU lawan Freeport
    DutaIslam.Com - "Indonesia Tidak Takut Ancaman Freeport". Begitu kira-kira ucapan pembawa acara salah satu stasiun televisi yang menayangkan kasus Freeport. Langkah freeport yang akan menggugat pemerintah Indonesia tidak perlu membuat pemerintah takut. Presiden Jokowi sudah mengantisipasinya dengan melakukan langkah-langkah cerdas sebelumnya.

    Pak Jokowi datang ke Putin di Moskow untuk bekerjasama dalam bidang pertahanan. Kita tahu bahwa Sang Beruang merah memiliki pertahanan kuat dengan berbagai senjata canggih. Pengembangan varian rudal S-400, S-500 tentu membuat negara manapun akan berpikir ulang saat berhadapan dgn Rusia.

    Jokowi datang ke Iran untuk bekerjasama dalam hal minyak. Jokowi juga bekerjasama dengan Cina dalam bidang transportasi.

    Merebaknya isu Syiah dan bangkitnya PKI yang berhaluan komunis itu tidak lain adalah cara pihak yang tak ingin Indonesia ini maju dengan menggandeng negara-negara Blok Timur, yaitu Rusia, China dan Iran. Sebab melawan PT. Freeport sama dengan melawan Amerika, negara adidaya yang tergabung dalam Blok Barat.

    Jokowi menunjuk Kapolri Tito Karnavian dan Panglima TNI Gatot agar negeri aman. Jokowi bertemu Abah Habib Luthfi dan berikrar bela negara. Jokowi juga mendatangi NU dan Muhammadiyah untuk bersama-sama mempertahankan NKRI dari terorisme dan radikalisme.

    Ternyata agenda Pak De ini toh, mengancam dinasti Freeport hingga marah-marah seperti ini hingga akan menggunggat Indonesia ke arbitrase Internasional akibat pemerintah berkeras mewajibkan PT. Freeport Indonesia mengubah jenis kontraknya menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dan membangun smelter dalam lima tahun.

    Persiapan Presiden Jokowi sudah matang sebelumnya. Jika Amerika menyerang, Indonesia sudah bekerjasama dengan Rusia.

    Jika Amerika mengembargo minyak dari Arab Saudi, Indonesia sudah punya minyak dari Iran. Jika mereka menggunakan isu Komunis dan Syiah, isu yang dipakai untuk menghancurkan Suriah, Indonesia dan Jokowi bersama NU dan Muhammadiyah akan mempertahankan bangsa ini.

    Bahkan secara tegas PBNU melaui Kiai Said tegas mendukung pemerintah Jokowi dan pasang badan dalam menghadapi Freeport. Begitu juga GP Ansor akan berjuang bersama pemerintah.


    Sebagaimana diketahui, selama beberapa dekade ini, hanya ada dua presiden yang berani melawan PT Freeport, yaitu Gusdur dan Pak De Jokowi. Dilengserkannya Gusdur dari bangku kepresidenan juga tak lepas dari masalah Freeport. Rahasia umum lah itu.

    Gusdur pada waktu itu bersikeras tidak menggadaikan masa depan Papua dengan membiarkan kekayaan alamnya terus menerus dikeruk tanpa memberikan manfaat lebih besar kepada rakyat Papua dan negeri ini sendiri.

    Inilah jihad sebenarnya, yakni melawan usaha asing dalam menguasai sumber daya Indonesia. Bukan malah berusaha menurunkan pemerintah demi tegaknya khilafah. Ini namanya bughat (pemberontakkan), bukan jihad. Jika Freeport jadi anarkhis dengan memanfaatkan para bughot, harus kita lawan! [dutaislam.com/ ab]

    Source: KataKita

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    1 komentar:

    Kekhalifahan itu butuh negara induk, sedari dulu memang begitu. Tanpa negara induk kekhalifahan spt pohon tanpa akar. Syarat menjadi negara induk adalah negara tersebut harus kuat. Para pengusung kekhalifahan tsb saat ini sebenarnya sedang mencari negara induk, sampai hari ini belum dapat. Belum ada contoh, sebuah negara yg menggunakan sistem kekhalifahan, berhasil menunjukkan wibawanya dihadapan masyarakat dunia. Jika belum ada contoh, maka kekhalifahan tingkat dunia masih diawang-awang, krn bagaimana mau mengelola dunia, jika mengelola satu negara pun belum berhasil. Mudah-mudahan Indonesia, yang di-khalifahi oleh umat Islam sbg mayoritas, bisa menjadi negara yang berwibawa dihadapan masyarakat dunia.