Dutaislam.com mendoakan sukses HUT RI ke-72 pada Kamis Wage, 17 Agustus 2017. NKRI Harga Hidup Dunia Akhirat!

  • Kisah Tiga Orang Kecelik (Suka Pamer, Super Pelit dan Sok Jagoan)

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Senin, 06 Februari 2017
    A- A+
    Hanya islustrasi soal kepergok malu atau kecelik rugi
    DutaIslam.Com - Di pengajian, KH. Saerozi bercerita soal tiga orang yang kecelik. Kecelik adalah istilah Jawa yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang sangat diharapkan, akan tetapi hasilnya mengecewakan. Mereka adalah manusia yang suka pamer kebaikan, pelit dan sok jagoan.

    Kecelik Pertama
    Orang yang ingin mulia dengan ngetok-ngetokno keapikane, iku kecelik. "Sebab keapikan iku lek diketokno ora nggarai apik. Justru nggarai élék," tuturnya. Sebaliknya, keapikan kalau ditutupi, akan semakin kelihatan baik.

    "Sampean kenalan karo wong. Sampean takoni jenenge sopo? Kok deweke jawab, kulo almukarrom kiai haji Sholeh, yo malah diguyu. Kok ora ditambahi almarhum pisan," ucapnya disambut tawa jamaah.

    Pelok, isi buah mangga, jika ditanam di tanah dalam-dalam, justru akan menumbuhkan pohon dan buah. "Coba pelok iku delehen nduwur mejo. Yo sido garing," tambahnya. Hahaha.

    "Makanya ada maqolah, kun ardlon fî qodaminnâs. Jadilah kamu bumi bagi kaki-kaki manusia," tuturnya. "Bumi itu di bawah. Yo diinjak-injak. Yo diidoni. Tapi regane tambah suwi tambah larang. Padahal bumine ora lapo-lapo," ucapnya kembali disambut ger-geran jamaah.

    Makanya jika ngelakoni apik, sebaiknya disembunyikan atau ditutupi. Attawâdlu’u lâ tazîdu illâ rif’ah (Wong tawadlu' akan semakin mulia). "Orang yang berbuat baik dengan diketok-ketokno iku biasane gak eroh (tidak tahu) dalane berbuat apik. Utowo gak biasa ngelakoni apik," jelasnya.

    Kecelik Kedua
    Orang yang ingin kaya tapi enggan bersedekah. Bayangane duwek akeh iku lek disimpen, iku kecelik. Duwek akeh iku, katanya, lek disedekahno. Asshodaqotu lâ tazîdu illâ katsrotan.

    Setiap malam malaikat turun mendoakan orang-orang yang sedekah, "Ya Allah, gantilah yang lebih banyak kepada orang-orang yang sedekah".

    "Saya kemarin di Kediri ketemu konco yang setiap tahun gurune diberi motor. Saya tanya  kok iso ngono?" kata Kiai Saerozi.

    Salah satu pengurus cerita, awalnya dia hanya memberi satu motor. Lha kok rezekine tambah akeh tambah akeh. Akhire motor yang diberikan terus bertambah. "Kemarin yang dibagikan sudah 11 motor," bebernya.

    Uang sesungguhnya adalah pembantu. "Kalau disedekahkan, uang itu hidup. Golekno pahala sing sedekah," ujarnya. Misalnya uang itu dipakai mbayari guru ngaji. Maka orang yang sedekah dapat pahala ngajar ngaji tanpa susah payah ngajar ngaji.

    Sebaliknya, kalau hanya disimpan, uang itu turu. "Sampean seneng endi duwe pembantu turu karo pembantu sing kerjo?" ucap Kiai Saerozi. Hahaha!

    Orang yang medit (uangnya disimpan), sebenarnya loman. Sebab harta yang disimpannya, ketika meninggal, seluruhnya akan dinikmati pewarisnya, kata Kiai Saerozi. Sebaliknya, orang yang suka sedekah, sebenarnya pelit. Karena semua yang disedekahkan, kelak akan ia nikmati sendiri di akhirat.

    Kecelik Ketiga
    Orang mengira bahwa jagoan adalah yang bisa mengalahkan semua musuh, iku kecelik. Sebab musuh sing dikalahno, duwe bolo, duwe konco, duwe keluarga. "Masio kalah, koncone, bolone, keluargane pasti balas dendam. Musuhe tambah akeh," tuturnya.

    Menang yang sejati, kata Kiai Saerozi, adalah dengan memaafkan. Al 'afwu lâ tazîdu illâ 'izzan. (Memaafkan akan menambah kemenangan).

    "Musuh disepuro dadi bolo, dulur ora disepuro dadi musuh", tegasnya. Misalnya musuhan dengan tetangga kanan rumah. Ora gelem nyepuro, maka lewat depan rumahnya pasti segan. Musuhan dengan tetangga kiri rumah, kok ora mau nyepuro, lewat di depannya pasti juga segan, "akhire ngiri buntu, nganan yo buntu. Padahal asline ora buntu. Sing mbuntu atine dewe," jelasnya.

    Kalau punya musuh, mau ngapain juga pasti susah. "Mau masuk musholla kok di dalamnya ada musuhe. Pasti tidak mau masuk. Ora dikipatno ngipat-ngipat dewe", ucapnya disambut ger-geran jamaah

    "Mau naik angkot kok di dalam ada musuhe. Pasti ora sido naik," lanjutnya. Makanya yang paling baik adalah memaafkan. "Jagoan sejati iku nyepuroan (pemaaf)" lan "Ngeluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake". [dutaislam.com/ ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    1 komentar:

    Ini tulisan mantap sekali, sayangnya gambar ilustrasinya kayak gitu ... Bikin org lugu atau yg dalam hatinya ada penyakit jadi pingin tahu. Bukan kah sebaiknya kita menyembunyikan aib manusia? Kalau website ini blog pribadi atau website umum, tidak terlalu heran. Masalahnya ini kan website DUTA ISLAM. Maaf dikritik terus, harap maklum krn sudah bawa nama agama sih.