Sabtu, 11 Februari 2017

Kisah Habib Muhammad Al-Aydrus Solo yang Menyembunyikan Amal Hingga Wafat


DutaIslam.Com - Di Solo, dulu ada seorang habib yang kaya tapi hidup sederhana. Ia tidak suka berpolitik, tetapi memilih hidup sederhana, menjalankan usaha pabrik batiknya, ibadah secara tawadhu’, dan membantu banyak orang secara diam-diam.

Namanya Muhammad bin Abdullah Alaydrus. Banyak tamu datang setiap hari, pagi sampai malam ke rumahnya, di seberang RS Kustati, Jalan Kapten Mulyadi, Pasar Kliwon. Habib selalu menjamu tetamunya makan minum. Banyak tamu lelaki dari luar kota sering menginap di rumahnya.

Saking seringnya tamu menginap, ia sengaja membangun paviliun kecil khusus buat tamu di bagian depan rumahnya. Bagian ‘rumah kecil’ itu dilengkapi kamar mandi yang terpisah dari bangunan utama, sehingga kaum wanita sohibul-bait tak akan terganggu oleh tetamu yang menginap.

Lokasi rumahnya hanya sekitar 300 meter dari Masjid Assegaf, tempat Habib Syech Abdulqadir Assegaf sejak kecil dulu sering mengaji. (Di Masjid itu dulu ayah Habib Syech, Habib Abdulkadir, yang menjadi Imam Masjid, wafat ketika sedang sujud).

Sang habib sendiri secara rajin melayani mereka saat makan siang, makan malam, atau kadang ketika ngopi ‘majlas‘ di sore hari, sambil bersama-sama mengkaji kitab agama seperti Diwan, dan sebagainya.

Selalu mengenakan sarung, pengusaha kaya dengan belasan anak itu tampil sangat bersahaja. Sehingga sepintas orang yang belum mengenalnya tidak akan menyangka bahwa Muhammad sebenarnya orang kaya. Tetapi bagi penduduk di Pasar Kliwon Solo itu, nyaris tidak ada yang tidak tahu bahwa pemilik pabrik tekstil itu sangat disegani karena sikapnya yang rendah hati.

Suatu ketika seorang miskin, sebutlah namanya Amir, datang meminta bantuan kepadanya. Saat itu sedang banyak tamu di rumah sang habib. Beliau menolak memberi Amir. Maka Amir pun uring-uringan, mengumpat sang habib. Kepada banyak orang di berbagai tempat ia terus menjelek-jelekkan Habib Muhammad sebagai “bachil, pelit, ” dan berbagai sumpah serapah lain.

Alkisah, Amir sendiri selama bertahun-tahun mendapat kiriman beras dari seseorang yang tidak pernah mau disebut namanya. Agen penyalur beras juga tidak mau mengatakan siapa sebenarnya yang mengirimkan beras kepada Amir pada tiap awal bulan.

Tiba-tiba iriman beras berhenti. Amir mendatangi agen penyalur beras, dia menagih, “Kenapa kok bulan ini tidak ada kiriman lagi?”

Penjual beras menjawab, “Karena yang biasa memberimu beras itu sudah meninggal dunia sebulan lalu.”


“Lho, memang siapa dia? Kenapa sejak dulu Sampeyan tidak pernah mau mengatakannya? “

“Dia adalah Habib Muhammad Alaydrus yang pernah kamu maki-maki tempo hari. Almarhum memang wanti-wanti agar menyembunyikan soal ini…”

Belakangan diketahui kalau almarhum juga mewakafkan banyak tanah lahan untuk berbagai keperluan masyarakat, seperti masjid, makam dan sebagainya.

Sang “dermawan tersembunyi” itu telah lama wafat dan dimakamkan di Tipes, Solo. Pekuburan yang dihuni ribuan orang itu sendiri ternyata juga wakaf dari habib.

Apa yang dilakukan Habib Muhammad itu sejalan dengan pesan Nabi saw mengenai amal yang dirahasiakan, yang hanya diketahui Tuhan sendiri. Imam Ali bin Abithalib (ra) juga pernah berpesan, bahwa, “sebaik-baik penyembahan kepada Allah adalah dengan (cara) merahasiakannya (dari orang lain).”

Habib Muhammad bukan saja mengirim beras kepada Amir dan banyak lainnya, tetapi ia sengaja menolak memberi sedekah di depan banyak orang, seperti ketika Amir datang saat banyak tamu di rumahnya.

Bila Anda menyukai keteladanan semacam itu, mari bacakan Al-Fatihah kepada almarhum, sambil berdoa semoga Allah menjadikan kita dan anak-anak kita bisa meniru kebaikan beliau. [dutaislam.com/ ed]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini