Dutaislam.com mendoakan sukses HUT RI ke-72 pada Kamis Wage, 17 Agustus 2017. NKRI Harga Hidup Dunia Akhirat!

  • Kepada Kiai Salam Kajen, Mbah Hasyim Asy'ari Cerita Soal Cita-Cita yang Belum Tersampaikan

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Selasa, 07 Februari 2017
    A- A+

    Oleh Gus Yahya Cholil Staquf

    DutaIslam.Com - "Aku pengen ketemu Kiai Salam," kata pendiri NU, Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Nawawi pun mengantarkan.

    Kiai Abdussalam rahimahullah adalah ayahanda dari Kiai Abdullah Salam dan kakek dari Kiai Sahal Mahfudh.

    Sampai di kediaman Kiai Salam, didapati tuan rumah sedang mengajar anak-anak kecil mengaji. Kiai Hasyim serta-merta menahan langkah, menyembunyikan diri dari pandangan Kiai Salam, dan menunggu.

    Setelah semua anak-anak kecil itu selesai ngajinya, barulah Kiai Hasyim mengucap salam, yang lantas disambut dengan suka-cita luar biasa.

    Meninggalkan kediaman Kiai Salam, Kiai Hasyim kelihatan ngungun. Air matanya mengambang.

    "Ada apa, ‘Yai?" Kiai Nawawi keheranan. Kiai Hasyim mengendalikan tangisnya, menghela napas dalam-dalam.

    "Aku punya cita-cita sudah sejak sangat lama… tapi sampai sekarang belum mampu melaksanakan… Kiai Salam malah sudah istiqomah… Aku iri…"

    "Cita-cita apa, ‘Yai?"

    "Ta’liimush shibyaan…" (Mengajar anak-anak kecil).

    ****

    Kiai Ali Ma’shum seorang ‘allaamah (sangat banyak dan dalam ilmunya) dan adiib (ahli sastra Arab) sejak remaja. Beliau diambil menantu oleh Kiai Muhammad Munawwir, Krapyak, Yogya, yang mengkhususkan diri dengan pengajaran Al Quran.

    Kiai Abdullah Munawwir, kakak ipar Kiai Ali, mementingkan datang ke Lasem untuk memohon kepada Kiai Ma’shum agar Kiai Ali diijinkan tinggal di Krapyak. Mbah Ma’shum meluluskan.

    Tapi setelah tinggal di Krapyak, ternyata Kiai Ali sudah “tidak kebagian santri”. Semua santri sudah disibukkan dengan kegiatan mengaji kepada guru masing-masing sehingga tak ada waktu lagi untuk mengaji kepada Kiai Ali.

    Selama beberapa waktu Kiai Ali “menganggur”, dan alangkah tidak nyamannya itu bagi seorang yang menanggung begitu banyak ilmu dalam dirinya.

    Ditengah waktu-waktu kosong yang membosankan itu, Kiai Ali mengamati anak-anak kecil yang asyik bemain-main, berlarian di halaman Pondok.


    Kiai Ali memanggil anak-anak itu, mengajak mereka bercengkerama, membagi-bagikan penganan, lalu membujuk mereka agar mau diajari mengaji. Maka mulailah Kiai Ali dengan pelajaran membaca dan menulis huruf hija’iyyah.

    Seiring dengan perkembangan usia, lama-kelamaan mereka siap diajari berbagi macam ilmu dan kitab-kitab, hingga akhirnya anak-anak yang tadinya berkeliaran tak karuan itu menjadi orang-orang ‘alim yang unggul ilmunya.

    Di antara mereka adalah junjungan-junjunganku, adik-adik ipar Kiai Ali sendiri, yaitu Kiai Zainal Abidin Munawwir dan Kiai Ahmad Warson Munawwir.

    Menceritakan semua itu kepadaku dengan mata berkaca-kaca, Kiai Warson akhirnya berujar,
    "Berjuang, yang paling berat cobaannya itu mengajar. Sedangkan mengajar, yang paling berat cobaannya itu mengajar anak-anak kecil. Lha mengajar anak-anak kecil, yang paling berat cobaannya itu mengajar kamu!". [dutaislam.com/ ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: