Jumat, 03 Februari 2017

Jika Ahok Menang Jadi Gubernur, Prediksi Gus Dur Tepat. Jika Kalah, Gitu Aja Kok Repot!


DutaIslam.Com - Saat haul keempat Gus Dur di Ciganjur tahun 2013, Ahok sempat mengisahkan apa yang pernah diucapkan presiden RI ke-4 itu padanya. "Siapa bilang orang turunan Tionghoa belum bisa jadi Gubernur? Jadi presiden, kamu aja bisa!".

Perkataan itu diucapkan pada tahun 2007 ketika maju sebagai Gubernur Bangka Belitung (Babel) berpasangan dengan Dr. Ir Eko Cahyono, namun kalah. Dalam penghitungan suara sementara (22/02/2007), pasangan Ahok-Eko menang, tapi di hasil akhir ia kalah. Kekalahan Ahok di Babel kemudian diajukan ke Mahkamah Agung (MA) karena merasa (konon) dicurangi lawan.

Saat rumit itulah, Gus Dur yang juga ikut kampanye untuk Ahok di Babel kala itu sempat mengatakan, "Kamu akan menjadi gubernur". Kini, posisi dia adalah Plt. Gubernur DKI Jakarta menggantikan Jokowi yang sekarang jadi presiden. Ahok jadi gubernur penuh setelah sah menggantikan Jokowi sebagai Gubernur DKI.

Sumber Dutaislam.com yang dipercaya memiliki kemampuan makrifat menyebut kalau kalimat Gus Dur ke Ahok tahun 2007 itu bukan ramalan, tapi sabda dan doa. Meramal artinya memprediksi apa yang dilihat mata batinnya, tapi kalau bersabda, itu artinya mengubah dari yang sebenarnya tidak terjadi, bisa dan akan terjadi. Itu bedanya.

Kata sumber tersebut, Gus Dur mengeluarkan sabda doa macam itu pasti ada hikmahnya. Baginya, Gus Dur adalah tipe waliyullah yang menggunakan cara obrak-abrik pikiran untuk penyadaran besar soal persatuan, nasionalisme dan kebhinnekaan. Kontroversinya terbukti banyak benar terjadi. Soal prediksi Ahok gubernur, lanjut sumber, masuk dalam bab ini.

Kini, Ahok belum menjabat secara utuh sebagai gubernur DKI Jakarta. Ia menang bersama Jokowi dalam posisi dia sebagai wakil gubernur. Hakikatnya, Gubernur DKI Jakarta masih ada di tahta Jokowi, walau posisinya sekarang sudah presiden.

Jika Ahok menang dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, maka, apa yang dikatakan Gus Dur sesuai sabdanya. Jika dia kalah, maka, yang repot adalah orang-orang yang selama ini menggunakan baju agama untuk mengalahkannya.

Situasi politik yang memanas, dalam iklim pertarungan yang makin tidak sehat mendekati momentum pemilihan kepada daerah di Jakarta adalah sejarah, betapa ambisi politik bengis bisa mengoyak persatuan dan kesatuan bangsa.

Banyak korban dalam Pilkada DKI. Lembaga-lembaga agama dan tokoh Islam dibuat mainan. Sayangnya, diatasnamakan bela Islam, bela Ulama, bela FPI, bela MUI, dan bela-bela lainnya. Tokoh dari lembaga agama dan ormas Islam sepertinya makin belepotan menghadapi serangan balik lawan politik masing-masing.

Anak bangsa pun mudah diprovokasi. Media tidak sulit menggoreng berita miring. Akibatnya, netizen mudah digiring seperti bebek yang akan disembelih secara massal. Siapa yang menyebabkan itu terjadi? Jawabannya: Ahok. Di sini, Ahok jadi korban dan sekaligus aktor. Itulah mengapa Gus Dur menyabda Ahok jadi gubernur.

Ahok akan masuk sebagai nama besar yang berpengaruh di negeri, dibesarkan oleh lawan politiknya di DKI Jakarta yang memanfaatkan isu SARA. Kontroversinya besar dan cukup menyita energi bangsa. Bukankah selama ini cara Gus Dur membesarkan nama santrinya seperti Muhaimin Iskandar, Saifullah Yusuf dan lainnya selalu pakai cara-cara yang terkesan "menciptakan konflik dan resolusinya"?

Orang besar harus dibenturkan dengan orang besar, agar masyarakat juga fokus besar kepadanya. Ahok, dalam sabda Gus Dur sebagai gubernur adalah titik balik sang wali menyadarkan makna persatuan negeri ini, tanpa tendensi suku, agama dan kepercayaan. [dutaislam.com/ ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini