Dutaislam.com mendoakan sukses HUT RI ke-72 pada Kamis Wage, 17 Agustus 2017. NKRI Harga Hidup Dunia Akhirat!

  • Horor Pilkada DKI Jakarta: Segala Urusan Tidak Ada Nilainya

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Kamis, 09 Februari 2017
    A- A+

    Oleh AS Laksana

    DutaIslam.Com - Sudah lama saya tidak menonton film horor, yaitu jenis film yang disukai oleh para penakut; dan mereka menontonnya untuk menjadikan diri lebih penakut lagi. Meski demikian saya tekun mengikuti pemilihan presiden 2014 lalu, itu sejenis film horor juga. Dan sekarang ada sekuelnya--pemilihan gubernur DKI Jakarta.

    Dari kedua pertunjukan horor itu, kita bisa paham bahwa segala urusan menjadi tidak ada apa-apanya di hadapan politik. Hukum, perniagaan, kesalehan, dan sebagainya bertekuk lutut kepada politik. Bahkan agama juga. Kita bisa menuliskan persamaannya seperti ini: Agama + Politik = Politik.

    Politik melukai perkawanan dan membuat kita siap menerkam siapa saja, sembari mengembangkan khayalan bahwa kita sedang menegakkan kebenaran. Ia membuat kepala kita panas setiap hari dan tak ada yang bisa menghentikannya kecuali kabar mesum.

    Mengenai pertunjukan horor pemilihan gubernur DKI, saya ingin membahas satu demi satu para tokoh utamanya. Ini urusan sangat penting sebab nanti salah satu dari mereka akan menang dan menjadi gubernur. Baiklah, kita mulai saja dengan petahana.

    Ahok
    Sebagai warga negara Indonesia yang bertarung untuk pemilihan gubernur DKI, Ahok memiliki dua masalah besar: ia Tionghoa dan bukan muslim. Ada banyak muslim yang tetap memegang keyakinan bahwa sebejat-bejatnya orang Islam, ia tetap lebih baik dibandingkan sebaik-baiknya orang bukan Islam--apalagi bukan Islam dan Tionghoa.

    Iman semacam itu tentu saja bukan hak eksklusif orang Islam. Orang-orang kolot dari agama apa pun niscaya akan mengukuhi keyakinan serupa. Orang-orang Kristen yang kolot, misalnya, pasti akan berpendapat bahwa sebaik-baiknya orang Islam atau Hindu, apalagi penyembah batu akik, ia tetap lebih buruk dibandingkan orang Kristen yang biasa-biasa saja, atau Kristen yang buruk, atau bahkan Kristen yang paling buruk.

    Bagi Ahok, soal etnis sudah tidak bisa diapa-apakan lagi, sama halnya dengan saya tidak mungkin berganti etnis menjadi Tionghoa atau Bugis atau Dayak. Namun, ia bisa membereskan masalah agama secara mudah, yakni dengan menjadi mualaf.

    Banyak orang mudah terharu jika ada orang yang menjadi mualaf. Jika Ahok masuk Islam, ketionghoaannya tidak akan dilihat sebagai masalah lagi, dan apa saja yang tampak buruk di mata para penentangnya dalam sekejap akan menjadi bernilai positif--bisa-bisa ia malahan diberi julukan Umar bin Khatthab.

    Tetapi saya pikir Ahok tidak akan membereskan masalah dengan cara itu, kecuali ia bersedia membuat langkah politik yang nggilani.

    Penolakan terhadap Ahok sudah muncul sejak akhir 2014, saat ia memegang jabatan gubernur yang ditinggalkan oleh Jokowi. Orang-orang Islam garis keras membentangkan spanduk-spanduk "Ahok musuh Islam" dan kemudian Front Pembela Islam (FPI) mengangkat Fahrurrozi Ishaq sebagai gubernur tandingan--seorang gubernur yang tidak memiliki fungsi administratif sama sekali.

    Belakangan, kita membaca berita bahwa Fahrurrozi adalah sepupu jauh Sylviana Murni, pasangan kandidat Agus Harimurti Yudhoyono.

    Jadi, dengan penolakan berdasarkan agama dan etnis, apa pun yang dilakukan Ahok tidak ada nilainya di mata mereka. Tidak ada gunanya Ahok mengirimkan para marbot berangkat umroh, atau membuat tidak berkutik orang-orang seperti Haji Lulung, Daeng Aziz penguasa Kalijodo, atau membereskan birokrasi. Mubazir juga membela diri mati-matian bahwa ia tidak menggusur, tetapi memindahkan orang-orang ke tempat yang lebih layak.

    Satu hal lagi yang sering mendapatkan kecaman adalah gaya komunikasinya. Bagi para pembencinya, mulut Ahok lebih kotor ketimbang comberan. Beberapa preman dan politisi tentu saja perlu diguyur air comberan, tetapi memang tidak setiap orang harus diperlakukan seperti itu.

    Saya pikir banyak orang akan mendukung jika air comberan itu diguyurkan kepada orang-orang yang memang layak diguyur, dan dilakukan pada tempat dan waktu yang tepat.

    Anies Baswedan
    Masalah pertama Anies adalah ia menjadi kandidat karena diusung oleh Partai Gerindra, yang diketuai oleh Pak Prabowo Subianto, orang yang kerap ia cemooh selama masa kampanye pemilihan presiden 2014 lalu. Itu masalah Anies, bukan masalah Prabowo. Anies telanjur menjadi pengkritik keras Prabowo-Hatta dan Google menyimpan rapi semua pernyataannya tentang Prabowo.

    Pada tahun itu, ketika ia lekat dengan Jokowi, di matanya, Prabowo adalah orang yang paling keliru. Anies menyatakan bahwa Prabowo-Hatta didukung mafia. Ia juga meledek jawaban Prabowo terhadap pertanyaan Jokowi dalam debat kedua capres-cawapres sebagai omongan yang "nggak nyambung."

    Aspek lain dari Pak Prabowo yang menjadi sasaran kritik Anies pada waktu itu adalah soal iklan. "Kita tahu siapa Prabowo karena sudah beriklan selama 6 tahun di televisi terus-menerus. Cara berpolitik dengan biaya luar biasa mahal ini tidak membuat politik menjadi lebih sehat," katanya.

    Dengan latar belakang seperti itu, Anies tentu harus bekerja sangat keras untuk memberi alasan pembenar kenapa ia bersedia dicalonkan oleh orang yang dulu serba-keliru di matanya. Bagi para penentangnya, ada jawaban yang simpel: ia memang menginginkan kekuasaan setelah terdepak dari posisi menteri pendidikan. Namun Anies pasti menolak kesimpulan itu dan ia harus mampu menyampaikannya dalam kalimat yang bagus.

    Saya pernah mengagumi Anies karena ia pintar menyampaikan hal-hal biasa dalam kalimat yang terdengar cerdas. Pikir saya, politik Indonesia membutuhkan orang-orang yang mampu berbahasa bagus, agar wilayah ini tidak dihuni hanya oleh spesies yang menyalak serampangan dan bertingkah menjijikkan. Sampai sekarang saya masih tetap berharap seperti itu.

    Anies mungkin masih bisa menyusun kalimat-kalimat bagus, tetapi ia sudah merosot. Ia kini menjadi sekadar ilustrasi untuk membenarkan keyakinan orang bahwa tidak ada kawan dan lawan abadi dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan.


    Urusan pernyataannya ke Prabowo di waktu lalu sudah ia selesaikan. Anies mengaku khilaf dan meminta maaf. Mengenai hal itu, ketua Tim Pemenangan Anies-Sandiaga, Mardani Ali Sera, menjelaskan bahwa "dulu ada konteksnya, yang sekarang konteksnya baru."

    Kita sepenuhnya mafhum bahwa sejumlah perilaku memang memerlukan konteks. Anda tertawa atau menangis pun memerlukan konteks. Jika anda tertawa atau menangis tanpa konteks, orang akan menyebut anda kurang waras. Tetapi kualitas-kualitas terbaik dalam diri manusia mungkin tidak memerlukan konteks sebagai persyaratan.

    Tukang kayu yang jujur akan tetap jujur dalam sembarang konteks. Seseorang dengan kualitas negarawan akan menunjukkan dirinya sebagai negarawan dalam konteks apa pun.

    Yang dimaksudkan konteks dalam pernyataan Mardani mungkin akan lebih tepat kita sebut sebagai kepentingan. Dulu ada kepentingannya, yang sekarang kepentingannya baru. Seorang politisi buruk, dalam kepentingan tertentu, bisa saja tampak baik, tetapi karena mutu dasarnya adalah buruk, pada saatnya ia pasti membuka dirinya sendiri.

    Sekarang, sebagai calon gubernur, Anies Baswedan sedang berusaha keras mengambil hati dengan jalan apa saja: menyanyikan lagu Rindu Rasul, makan dan suap-suapan di mobil dengan Raffi Ahmad, berjoget dangdut, menyambangi tokoh-tokoh Islam yang mempunyai banyak pengikut--anda bisa dengan mudah membaca apa yang ia inginkan.

    Kawan baik saya Yusi Avianto Pareanom, penulis novel Raden Mandasia, mengatakan: "Jika ada yang memberinya gagasan bahwa berdagang ular bisa meningkatkan elektabilitas, saya yakin ia pasti melakukannya."

    Agus Harimurti Yudhoyono
    Modal politiknya yang terbesar adalah ia anak mantan presiden. Jika anda anak mantan presiden, entah anda pintar atau plonga-plongo, kehadiran anda di panggung politik akan cepat menarik perhatian. Karier politik anda akan semakin cemerlang jika ayah anda juga menjadi ketua umum partai politik dan adik anda sekjen partai.

    Keberuntungan seperti itu tidak dimiliki oleh Mas Tarno, seorang kenalan yang saya panggil dengan sebutan Mr. T, asal-muasalnya ialah Desa mBence. Meskipun ia mengaku pernah beberapa kali menjadi juara kelas ketika bersekolah di SD Inpres dan sekarang terampil membetulkan AC dan sudah lama menjadi kader partai, karier politik Mr. T mandek di posko relawan.

    Memang begitulah takdirnya. Karier politik yang paling lazim bagi kaum semak-semak semacam Mr. T adalah menjadi penghuni posko berani mati yang bercokol di ujung-ujung kampung.

    Apa masalah pada AHY? Tidak ada, karena itu catatan tentangnya akan ringkas saja. Rekam jejaknya seputih salju karena ia masih bayi merah di panggung politik dan sekarang baru dalam tahap belajar bicara. 

    Tetapi ada juga yang patut dicatat. Pencalonan Mas AHY telah membukakan jalan bagi kembalinya Pak SBY. Mengikuti cara yang disukai Mas AHY untuk menutup setiap presentasinya, kita bisa mengatakan dalam bahasa Inggris: the second coming of Pak Abdul Mantan--lengkap dengan metode curhatnya.

    Pak SBY sendiri sudah menyampaikan bahwa ia merasa perlu "turun gunung" lagi. Saya tidak tahu untuk apa. Tetapi mungkin ia merasa perlu meratap, untuk membuktikan bahwa di atas langit masih ada langit, dan di bawah tanah masih ada comberan.

    Nah, itulah aktor-aktor dari pementasan horor tahun ini. Salah satu dari mereka akan terpilih sebagai gubernur dan tidak ada satu pun dari ketiga orang itu yang menjanjikan kerja serius untuk membuat warga DKI menjadi masyarakat yang gemar membaca buku. Bagi saya, itu kelemahan terbesar dan mereka sama-sama tidak layak.[dutaislam.com/ ab]

    Source: beritagar.com

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: