Dutaislam.com mendukung gerakan deradikalisasi dan anti teror di media sosial!

  • Gara-Gara Ahok, Kaum Wahabi bin Cingkrangers "Merajai" Mushalla Kompleks

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Rabu, 15 Februari 2017
    A- A+
    ilustrasi
    DutaIslam.Com - Saya pendukung Jokowi saat pilpres, saat Pilkada (DKI) ada Ahok, saya netral. Toh saya tinggal bukan di Jakarta, tidak punya hak pilih.

    Saat itu di WA ramai sekali soal Ahok. Caci maki kafir keluar semua. Berita hoax berserekan di grup. Saya diam. Tapi begitu ada yang komen soal keimanan, keislaman, bahkan sampai disebut memilih Ahok sama saja tak beriman dan kafir, saya mulai ikut berikan komentar.

    Tapi, baru satu saja komen sanggahan saya berikan, langsung saya diancam akan dibacok. Oleh siapa? Oleh Ketua RT saya sendiri! Setelah dia bilang akan bacok saya, dia keluar dari grup. Hening.

    Saya japri ketua RT saya itu, saya telepon, tapi segala monyet anjing babi keluar dari mulutnya. Bahkan saya ditunggu diajak berantem sampai mati jam 12 malam di Pos Ronda (dia kerja di pabrik, masuk shift siang). Naudzubillah.

    Saya tidak ladeni. Saya bahkan minta maaf kalau saya salah. tapi dia teriak teriak dan ngata ngatain saya dengan sumpah serapah. Betul-betul seperti anak kecil.

    Sejak itu beberapa hari dia tidak keluar rumah. Marah. Tidak nongkrong di pos ronda seperti biasanya. Saya bermaksud klarifikasi apa maksud dia seperti itu. Tapi dia tidak keluar juga. Ya sudah.

    Saya pikir kejadian selesai. Ternyata tidak. Saya punya anak perempuan, SD. Dia mengadu ke saya karena sejak itu sering dikata-katai "Ahok..Ahok...Ahok" oleh anak lelaki pak RT yang berusia SMP kelas 7.

    Di sini saya marah. Apa hubungan anak saya dengan urusan bapaknya? Urusan politik? Anak saya perempuan pula, dibully anak lelaki yang lebih besar.

    Saya adukan soal ini ke pengurus RT lain, soal kelakuan anak pak RT ini. Saya betul betul marah. Ingin rasanya menggampar mulut anak itu.


    Akhirnya, istri saya juga ikut marah. Pada kali kedua anak perempuan saya yang tidak mengerti apa apa itu dikatai katain Ahok (entah sebenarnya berapa kali sudah ia dikatai), istri saya marah.

    Istri saya langsung menghampiri rumah pak RT itu. Oleh istri saya, anak itu dimarahi habis habisan. Istri saya betul-betul sudah emosi. Tetangga pun ramai. Untungnya saat itu pak RT atau ibu RT tidak keluar. Entah sedang di rumah atau tidak. Kalo keluar, pasti lebih ramai.

    Saya, sejak itu, malas keluar rumah. Tak lagi ke mushalla. Shalat jamaah di rumah sama anak dan istri.

    Beberapa teman menyayangkan sikap saya karena sejak saya keluar, kelompok salafi wahabi bin cingkrangers seolah 'merajai' mushalla kompleks kami. [dutaislam.com/ ab]

    Keterangan:
    Demi menjaga privasi, nama penulis tidak disebutkan redaksi. Ini fakta, kejadian ada di Jawa Barat. Pokoknya dekat-dekat Jakarta situ lah. Ditulis di grup WhatsApps 14 Februari 2017. Diedit redaksi dari sisi ejaan saja. Tidak ada tambahan.  

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR:

    2 komentar

    Paling enak itu berseteru dgn sesama muslim, karena seorang muslim sudah terikat dgn perintah Allah, nggak akan bisa dan tega berlaku kejam. Coba bertengkar sama gembong narkoba, sama ketua preman, sama politikus busuk, sama kapitalis jahat, bisa dihabisi fisik dan non fisik. Jadi cobalah utk para aktifis Islam, jika anda memang berani mati dan rindu syahid, cobalah yg dilawan itu: gembong narkoba, ketua preman, politikus busuk, dan kapitalis jahat. Jangan yang diajak duel itu org-org mesjid, org-org sholat, ahli-ahli dzikir, itu kurang jantan krn yg anda tantang itu org-org yg sudah dilembutkan hatinya oleh Allah SWT.

    Rt itu kepanjangan tangan dari pemerintah pusat harusnya independen jangan membawa ego pemikiran yg bisa menjadi konplik dengan warganya