Selasa, 07 Februari 2017

Dilinggis Hingga Roboh di Tengah Ceramah, Ini yang Dikatakan KH Ali Makshum Krapyak


DutaIslam.Com - Pada Malam Jumat Kliwon, 08 Desember 1989, seiring matahari tenggelam di ufuk barat, KH. Ali Maksum menghadap kepada Sang Kholiq, innalillahi wainna ilahi roojiun.
Beliau adalah Putra Mbah KH Makshum Lasem yang pernah menjabat Rais Aam PBNU satu periode (1980-1984).

KH Ali Makshum adalah kepemimpinan Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, peninggalan pendirinya, almaghfurlahu waliyullah Simbah KH. Munawwir Krapyak, guru KH Arwani Amin Kudus. Banyak teladan kisah yang bisa dijadikan ibrah (cermin sejarah) untuk kita, terutama di tengah makin mudahnya umat Islam tersulut amarah dan kebencian.

Selain alim dan keramat, Kiai Ali Makshum dikenal sangat dermawan. Beliau mengikhlaskan semua barang-barangnya yang pernah diambil oleh para santri. Suatu kali, Kiai Ali Makshum dawuh begini, "Semua barangku yang diambil oleh santri, saya halalkan. Asalkan tidak ketahuan". Dawuh ini diriwayatkan dari Sakhowatin Nafsi, santriwati.

KH Ali Maksum ini lebih suka dipanggil Pak Ali daripada Mbah Yai, sebagaimana lazimnya di tradisi penghormatan santri kepada pengasuh pesantren. Beliau tidak berjumawa sebagai kiai besar yang punya posisi paling terhormat di Nahdlatul Ulama (NU), sebagai Rais Aam. Dan semua santri memang memanggilnya "Pak Ali" karena beliau lebih suka dianggap sebagai orang tua oleh santrinya. Sangat rendah hati sekali.

Kata santri-santri, beliau ini disebut kiai yang "m-bapak-i" (berperan laiknya bapak) dan tidak "ngiyaini" (menganggap dirinya kiai). Singkatnya, beliau adalah sosok kiai yang bersedia mendengar dan selalu melakukan tabayun ketika ada persoalan umat, Jarang sekali beliau menghakimi orang dari jarak jauh, Selalu melakukan tabayyun (klarifikasi) atas kabar yang diterima. Bijak dan tidak gegabah.

Dilinggis
Ketika KH Ali Makshum ceramah dalam sebuah acara haul, tiba-tiba muncul orang yang membawa sesuatu dibungkus kain surban berwarna putih. Ia naik ke panggung. Secara cepat pula, orang tersebut langsung memukulkan benda itu ke Kiai Ali membabi buta, ba bi bu!

Kiai Ali pun roboh karena benda tersebut sangat tajam dan berat, linggis. Sempat rawat inap di rumah sakit hingga dua bulan lamanya. Sungguh perbuatan yang tidak bisa dimaafkan. Beliau rubuh karena bukan pendekar sakti yang mudah pemer kekebalan.

Para santri pun marah tak karuan. Menurut mereka, laki-laki itu sudah layak dipenjara karena perbuatannya sangat sadis dan keterlaluan. Namun kiai meredam amarah para santrinya itu, "kabeh anak-anak ku lan santriku ora keno dendam lan ora keno anyel/ semua anakku dan para santriku, tidak boleh dendam dan benci," begitu pesan luhurnya.

Kekuatan sabar, meredam amarah dan tidak mendendam itulah yang nampaknya justru terlihat lebih sakti daripada kanuragan dan kekebalan. Beliau memaafkan pelaku pemukulan dengan linggis tersebut, tanpa balasan, tanpa dendam. Subhanallah bukan main sabarnya kiai kita ini. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini