Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Di Tengah Krisis Ruh Dakwah, Pesan-Pesan Kiai Nafi' Abdillah Ini Perlu Disebarkan

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Senin, 27 Februari 2017
    A- A+

    DutaIslam.Com - Akhlak KH Nafi' Abdillah, Kajen, Margoyoso, Pati, yang meninggal pada Ahad (19/02/2017) lalu masih menyisakan memori laku dan teladan mulia bagi para santri, kerabat dan juga linkungan sekitar. Berikut ini adalah testimoni akhlak mulia Kiai Nafi' yang dikumpulkan Dutaislam.com dari beberapa sumber, baik santri maupun kiai. 

    Soal Perbedaan Pendapat
    KH Nafi' Abdillah pernah menyatakan kalau perbedaan pendapat antara ulama dahulu dengan orang sekarang itu berbeda cara penyelesaiannya. Dikisahkan oleh KH. Muadz Thohir, teman dekat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Kiai Nafi pernah mengurai akar perpecahan soal beda pendepat antar umat Islam. 

    Mengapa sekarang ini perpecahan makin seru dan menjadi-jadi? Kata Kiai Nafi', hal itu sebab sekarang ini setiap kali orang yang berbeda pendapat itu tidak mengikuti cara ulama dulu. Dulu, beliau-beliau kalau beda pendapat tidak mencari bolo (pengikut--Jw), ditandangi (dihadapi--Jw) sendiri dan tidak mencari pengikut apalagi dengan cara-cara memfitnah. 

    Imam madzahib dan para kiai bisa berbeda pendapat, tapi dengan tetap menghormati. Pada zaman dahulu, banyak gegeran, tapi ‘bar yo bar’ (tidak ada dendam--Jw), tidak mencari teman untuk berseteru. Lha sekarang, gegeran selalu diikuti dengan mencari pengikut dan pendukung, mengajari memfitnah maka tidak heran kalau gegeran itu semakin dalam dan ruwet.

    Pernah suatu ketika, Mbah Mahfudh Salam (Ayah KH Sahal Mahfudh Kajen Pati) menjamak shalat Dhuhur dan shalat Ashar hanya karena ingin mengkhatamkan sebuah pengajian kitab. Kajen pun geger. 

    Banyak kiai yang tidak sepakat, namun tetap menaruh hormat dengan apa yang dilakukan oleh Mbah Mahfudh Salam."Aku mengamalkan salah satu pendapat yang ada di dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin. Kalau tidak diamalkan, lantas siapa yang mau menggunakan?" begitu jawab Mbah Mahfudh saat ditanyai para kiai Kajen.

    Ulama yang benar-benar ulama cirinya itu ada 4:
    1. Yang senantiasa bersedekah baik dalam keadaan mudah maupun susah
    2. Yang mampu menahan emosi/amarah
    3. Yang mudah memaafkan orang lain
    4. Yang selalu ingat kepada Allah ketika melakukan kesalahan, kemudian beristighfar dan meminta maaf kepada yang bersangkutan, dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan.

    Rahasia Sehat Kiai Nafi' Abdillah
    Kenangan lain dari Kiai Nafi juga dituturkan oleh Ahsanul Fuad, santri beliau. Kali ini soal tips sehat ala Mbah KH. Nafi' Abdillah. Putra (alm) Mbah Abdullah Salam itu menyarankan kepada santri agar tidak terlalu banyak makan. 

    "Aku nek mangan iki sedino ping pindo, mau jam 7 isuk, jam 10 ngombe teh, lan sak wuse Ashar/ aku kalau makan itu sehari dua kali, jam 7 pagi tadi, lalu jam 10 baru minum teh dan juga habis Ashar," tutur beliau suatu kali kepada Fuad. 

    Ketika makan pun, Kiai Nafi menyarankan agar jangan disertai minum secara langsung, "salahmu dewe sereden, wong wis diwarahi yen ngunyah iki 27 kali/ salahmu sendiri sereden (tersendat makanan di tenggorokan), kan sudah diajari kalau ngunyah (makanan) itu 27 kali," tegur Kiai Nafi lain waktu. 

    Sarannya, minum sebaiknya dilakukan kurang lebih 2 jam setelah makan, "soale wektu bar mangan iki pencernaan lagi bekerja/ soalnya waktu makan itu pencernaan sedang bekerja," pesan itu masih diingat oleh Fuad. 

    Tawadzu dan Ta'dzim
    Santri lain bernama Abdullah Khoirzad juga menuturkan ihwal kerendahhatian (tawadlu) dan sikap ta'dhim Kiai Nafi' kepada guru. 

    "Saat aku di kelas 2 Aliyah, beliau mengampu Mustholah Hadist. Saat khataman di akhir tahun, beliau menangis di depan kelas, di hadapan kami, sembari dawuh dalam bahasa khas Jawa Kajen medok yang maksudnya, 'Aku tidak pantas mengajar kamu, karena aku tidak sesuai dengan kriteria sebagai seorang muallim karena itu, maafkan aku'," demikian kesaksian Khoirzad.   

    Peristiwa itu, kata Khoirzad, terjadi di era tahun 1980-an saat Kiai Nafi' masih masih relatif muda sebagai guru. "Waktu itu masih ada generasi sepuh, semisal Romo Kiai Rifa’i Nasuha, Romo Kiai Hasir, juga masih ada Mbah Abdullah Salam," imbuhnya. 

    Ia juga menjadi saksi cara hormat Kiai Nafi' kepada guru hingga tidak pernah dilupakan hingga kini. Walau sudah menjadi kiai yang punya amanat besar memimpin Mathali' di Kajen pasca Mbah Sahal Mahfidz wafat, Kiai Nafi' tetap santri bagi setiap gurunya, dan, sangat ta'dzim. Jabatan tidak menghilankan rasa hormat kepada guru. 

    "Masih gamblang dalam ingatan saya, saat acara 1000 hari mbah Sahal. Ketika Mbah Nafi’ rawuh di halaman depan rumah Mbah Sahal, beliau tidak mau pinarak (duduk) didalam rumah bersama para kiai yang lain. Aku (santri Abdullah Khoirzad) berusaha mendekati dan sungkem ta’dzim dengan cara mushofahah, sembari matur, diatur pinarak wonten lebet/dipersilakan duduk di dalam rumah (red)," ujar Khoirzad.  

    Jawaban beliau, bagi Zad, ternyata merupakan hadiah ilmu yang sulit dinilai harganya, "masak aku pinarak di dalam, sementara sebentar lagi guruku rawuh, Mbah Maemun Zubair Sarang, ora pantas Yak," kata Kiai Nafi' kepada Zad.

    Saking ta'dzimnya kepada guru, Kiai Nafi' beliau tetap berdiri di depan ndalem Mbah Sahal sebagai penerima tamu, berjajar dengan adiknya, Gus Zakki. Padahal Mbah Maemun -karena kondisi kesepuhannya,- tidak jadi hadir saat itu. 

    "Mbah Nafi’ tetap menunggu di depan ndalem, sebagai bentuk ta’dzim terhadap sang guru," terang Khoirzad.

    Nasihat Kiai Nafi Untuk Wanita Hamil
    KH Nafi' Abdillah juga pernah berpesan kepada para santrinya ketika mereka sudah berumah tangga. kepada para istri santri, Kiai Nafi' berwasiat membaca wirid dan dzikir agar diberikan kelancaran saat proses persalinan. Pesan beliau ini diriwayatkan oleh Nashiruddin Ahmad, santri Kajen juga. 

    "Nak arep lahiran iku akeh-akehi moco Laa Ilaha illa Anta Subkhanaka Inni Kuntu Minad Dholimin, insyaallah angger yakin bakale diparingi gampang lan lancar. Woco setiap bar sholat minimal peng 3. Iku dongane Nabi Yunus pas ono neg njero wetenge Iwak Paus. Terus nak bar lahiran ojo lali khataman neng makame Mbah Mutamakkin, tapi dibatasi waktune, misale sak wulan utowo rong wulan kudu khatam". 


    "Kalau akan melahirkan banyak-banyaklah membaca Laa Ilaha illa Anta Subkhanaka Inni Kuntu Minad Dholimin, insyaallah jika yakin akan diberi gampang dan mudah proses kelahiran. Bacalah setiap habis shalat 3 kali. Itu adalah doa Nabi Yunus ketika ada di dalam perut Ikan Paus. Lalu, kalau sudah melahirkan, jangan lupa khataman (Al-Quran 30 juz) di makam Mbah Mutamakkin, tapi dibatasi waktunya, misal harus khatam sebulan atau dua bulan sekali".  

    Nashiruddin juga pernah meriwayatkan dawuh Kiai Nafi' untuk para santri yang berharap mendapatkan kekayaan dari Allah Swt. 

    "Ojo langsung arep-arep sugeh, soale "kekarepan iku ora biso nembus ketetepane Gusti Allah". Nak kaidahe neng kitab Hikam kae (سوابق الہمم الخ). Disyukuri wae sitik-sitik gag po po seng penting halal".

    "Jangan langsung berharap kaya raya, soalnya keinginan itu tidak bisa menembus ketetapan Allah. Itu kaidah di Kitab Hikam. Disyukuri saja, sedikit tidak apa yang penting halal". 

    "Nak pas kerjo, meskipun kerjo opo wae, khususe dodolan, akeh-akehi moco sholawat. Pas nunggoni dagangan moco sholawat, nak ono wong tuku leren sek. Bar ngedoli moco sholawat neh insyaallah iso dadi tambah laris tur Barokah dodolanmu iku". 

    "Ketika sudah bekerja, apapun jenis pekerjaan itu, khususnya jualan, perbanyaklah membaca sholawat. Kala menunggu bacalah shalawat, tapi kalau ada pembeli datang, berhenti dulu. Habis melayani pembeli itu, shalawat lahi. Isnyallah bisa jadi tambah laris dan barokah daganganmu". 

    Pesan, kesan dan catatan para santri Kajen atas akhlaq KH Ahmad Nafi' Abdillah ini sengaja didokumentasikan oleh Redaksi Dutaislam.com sebagai bentuk ibrah (cermin) kepada umat Islam Nusantara agar tetap mencintai ulama, kiai dan santri yang saat ini sedang krisis contoh dalam berdakwah, sebagaimana pernah diutarakan oleh KH Mustofa Bisri. [dutaislam.com/ ab

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: