Jumat, 17 Februari 2017

Devide et Impera Pilkada DKI Menumbuhkan Semangat Paling Merasa Benar

Sumber foto: Okezone
Oleh Muhammad Imaduddin

DutaIslam.Com - Selama tiga bulan terakhir ini, kita disuguhi berbagai "drama" politik ala batman dan bermacam-macam tontonan aksi yang “menegangkan”. Ingatan kita masih sangat segar dengan lanjutan serial aksi "bela-belaan" yang terjadi berkali-kali menjelang pilkada DKI. 

Saya tak bisa menahan jari saya sendiri untuk tidak menuliskan tentang peristiwa ini. Gambaran maupun refleksi yang saya tangkap sangat mungkin berbeda dengan pendapat Anda sendiri. Saya mohon maaf, namun saya pastikan kepada Anda, bahwa saya sendiri termasuk orang yang tidak menghobi hoax maupun mudah terpengaruh oleh berbagai informasi palsu bernada kebencian dan hasutan.

Di hari kemarin, saya tidak mengikuti apalagi mencoblos Pilkada yang diselenggarakan di daerah kampung halaman saya sendiri, Pati. Saya ceritakan kepada Anda bahwa Pilkada di Pati "hanya" diikuti oleh calon tunggal tanpa ada lawannya sama sekali. 

Menurut saya, ceritanya menjadi tidak asik lagi. Anda boleh bilang saya golput karena mungkin saya itu "kere", tidak punya uang buat kembali pulang, males dan lain-lain (Anda boleh buat daftarnya sendiri). 

Meski begitu, saya selalu mengikuti info mengenai Pilkada DKI. Fenomena di DKI Ini mempunyai posisi yang sangat strategis bagi kondisi politik indonesia secara nasional. Buat saya, pertarungan di DKI berlangsung amat panas, "menegangkan", menggairahkan, dibumbui dengan berbagai fitnah dan hasutan kebencian. 

Saya kira aktor-aktor politik indonesia kelas kakap, semuanya ikut bermain, berakrobat,  dan "turun gunung", guna mengamankan dan meraih tiket untuk memuluskan jalan lapang yang mereka buat ke Pilpres 2019.

Bagi orang awam dan muslim moderat yang "tidak tahu menahu", mungkin juga termasuk Anda dan saya, sudah sangat jenuh, waleh, kewaregen, dan "mblenger" dengan ragam sajian drama dan fitnah terkini para politikus kita diatas. Iya, kan? 

Saya jelaskan kepada Anda, akan tetapi, "pliss", janganlah Anda terkaget-kaget dan kecewa, bahwa sebenarnya, pelbagai aksi "bela-belaan" mulai dari seri 411, 212, 112, yang terjadi beberapa bulan yang lalu, tak lebih dari upaya buatan para politisi yang memanfaatkan isu agama demi kemenangan Pilkada DKI dan Pilpres 2019. 

Dan, hasilnya sangat "luarbiasa" sekali, jutaan umat "atas nama Islam" berhasil dimobilisasi ke Jakarta dan digerakkan demi tujuan tersebut.

Akan tetapi, jika memang tujuan tersebut yang hendak dicapai, masalahnya, kenapa Ahok masih bisa menang meski digeruduk jutaan umat Islam? Kenapa jumlah umat islam Indonesia yang demo kemarin, sedemikian besarnya, namun masih tidak berpengaruh secara efektif? Kenapa juga masih banyak muslim lain yang memilih Ahok? 

Saya memahami "diamnya" pelbagai kalangan akibat peliknya persoalan di atas, namun itu tidak menutup kemungkinan bagi saya sendiri untuk memikirkan dan memberi saran maupun kritikan bagi kondisi umat Islam saat ini.

Saya berpendapat bahwa sangat mungkin berbagai info yang sampai kepada umat Islam hanyalah terdiri atas pelbagai serpihan dan potongan-potongan fakta yang tidak lengkap. Dan dari sinilah (menurut saya), kelemahan umat Islam yang pertama. 

Bagi orang-orang muslim perkotaan, dengan akses info yang lebih mudah dan cepat, membuat mereka lebih bisa tabayyun dan mengecek kebenaran berita yang bertebaran di berbagai media sosial secara tepat. 

Sebaliknya, bagi muslim pedesaan, mereka dengan mudahnya “dicekok-i” info-info hoax, hasutan dan kebencian dari potongan dan serpihan fakta tersebut. Mereka begitu percaya tanpa perlu mengecek dahulu kebenarannya. 

Akibat dari hal ini adalah umat Islam mudah dipengaruhi, dihasut dan dimanfaatkan secara tidak sadar oleh elit politik tertentu dengan cara membuat kekacauan, sehingga mereka bisa mengambil keuntungan di tengah kekacauan yang diciptakannya tersebut. Politik ini sudah dikenal sejak zaman Belanda, istilah bekennya "devide et impera", politik adu domba.

Cobalah Anda tengok konflik yang sekarang terjadi di Timur Tengah. Seperti halnya isu sektarian mengenai, misalnya konflik Sunni vs Syi’ah. Peperangan dan kekacauan di berbagai negara Timteng tersebut sengaja diciptakan oleh dunia Barat supaya dunia Islam tetap terpecah belah dan tidak mungkin bisa bersatu. 

Dengan begitu lemahnya kondisi negara, mereka sengaja mensponsori dan membiayai khilafah para teroris yang “berjihad” tersebut seraya mengambil keuntungan dengan cara membeli minyak bumi dari para pemberontak itu dengan harga yang sangat murah.


Yang kedua, rentetan aksi demo kemarin menunjukkan rasa kebangsaan dan ke-indonesiaan kita yang mulai pudar. Umat Islam mulai merasa paling benar sendiri dan tidak menghormati umat agama yang lain. Apabila umat Islam menghina agama lain hukumnya boleh, namun jika umat lain menghina umat Islam hukumnya haram dan wajib dihukum.  

Rasa kesatuan, kebinnekaan, kebangsaan dan cinta tanah air mulai hilang, terkikis dan diganti dengan rasa primordialisme atas nama ras, suku, agama yang berbeda. Alih-alih, daripada berpikir tentang pembangunan negara dan kemaslahatan bersama, umat Islam justru lebih menonjolkan perbedaannya daripada rasa kesatuaannya. 

Umat Islam tidak lagi berpikir bagaimana mencari dan membuat kehidupan bersama menjadi lebih baik. Mereka kini lebih disibukkan dengan info hoax, kebencian, dan hasutan.

Yang ketiga, suara mayoritas muslim moderat mulai tergantikan dengan golongan Islam radikal. Dengan meminjam fatwa MUI, para radikalis mulai bergerak dan memengaruhi golongan muslim mayoritas untuk mengikuti suara mereka. Para radikalis itu membentuk GNPF-MUI, organisasi tidak resmi yang bahkan tidak diakui oleh MUI sendiri. 

Kedudukan MUI menjadi rentan dan mudah terpengaruh secara politis dan dimanfaatkan betul oleh para politisi Pilkada musiman yang berkomplot dengan para radikalis tersebut. Akibatnya, sebagian umat Islam yang tidak tahu menjadi bingung akibat ulah mereka. Muslim moderat lebih suka "diam" dan akibat diamnya itu suara mereka menjadi kalah "kencang" dibanding para Islam radikal.

Saya teringat hadist Nabi yang pernah menjelaskan bahwa, suatu saat di akhir zaman kondisi umat Islam seperti halnya "buih" di lautan, jumlahnnya banyak, namun tidak berpengaruh apa-apa.

Sah-sah saja memilih pemimpin siapapun dengan berbagai latarbelakangnya selama masih dalam konteks ke-indonesiaan. Akan tetapi, dengan pandangan masyarakat muslim kita sekarang yang lebih modern, mereka lebih memilih mana saja calon pemimpin yang lebih bisa memajukan kehidupan mereka. 

Dengan berbagai suguhan drama dan aksi kemarin, kadangkala kita dibuat menjadi lupa dengan musuh kita yang sebenarnya, korupsi merajalela yang menghancurkan sendi kehidupan bernegara. Dan satu lagi yang lebih berbahaya, ia bersembunyi di dalam selimut kita sendiri: golongan Islam Radikal. [dutaislam.com/ ab]

Muhammad Imaduddin, warga Pati, sedang menyusun tesis

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini